Berondong Manisku

Berondong Manisku
Rencana Ayah 3( Bernegosiasi)


__ADS_3

"Siapa yang mengirim pesan seperti ini?"


"Apa ada kaitannya dengan El,"


Metta mengacak-ngacak rambutnya,


"Ah, kenapa rumit sekali."


"Hei, kenapa lo?"


"Kenapa?" Metta menyerahkan ponsel pada sahabatnya Dinda.


"Maksudnya apa ini, siapa yang mengirimkannya?"


"Kalau gue tahu gue juga gak akan bingung kayak gini Din." menungkup kepala diatas Meja.


"Terus lo mau nemuin mereka?" Metta mengangguk, seluruh wajahnya dipenuhi rambut yang acak-acakan.


"Dugaan gue hanya satu, ini ada kaitannya dengan masalah restu yang mengganjal dihubungan gue sama Farrel," Metta melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Terus lo kesana dengan penampilan kayak gini? Oh My God, please dong Sha,!"


"Kalau bener ini yang ngirim pesan ada hubungannya dengan keluarga dia ... " Dinda menunjuk ke arah ruangan Farrel yang tertutup.


"Lo harus terlihat WOW, biar keluarganya gak memandang rendah lo Sha, lihat asta...ga..," Dinda menarik rambut Metta yang berantakan.


"Seenggaknya lo benerin tuh rambut, muka lo touch up, jangan polosan kayak bayi."


"Tapi dia ..." mengerling kearah pintu ruangan Farrel, "Gak masalah tuh sama penampilan gue."


"Ya... terserah lo aja, kali aja nanti pas mereka lihat lo kayak gini mereka langsung illfeel sama lo,"


"Terus mereka bayar mafia buat nyulik lo, lo di seret terus dibuang ke jurang, organ tubuh lo diambil buat dijual,"


Metta berdiri dan menjambak rambut sahabatnya, "Lo tuh ya ngehalu kira-kira dong,!"


Dinda mengaduh, namun dia juga terkikik, "Udah ayo, gue bantu!" Dinda menarik tangan sahabatnya itu ke toilet.


Dinda mulai mengeluarkan alat-alat make up nya, dan menyimpannya diatas wastafel, sementara Metta tengah merapihkan rambutnya.


"Nih, lo pake dress gue, baru sampai nih paket tadi pagi," Ucap Dinda membuka bag paper.


Metta mengernyit, "Gue sengaja pake alamat kantor, lo tau sendiri kan di Apartemen gue gak ada orang." ucap Dinda setelah menangkap gelagat Metta yang tengah mencurigainya.


"Ooo..." Metta mengerucutkan bibirnya.


"Jadi apa yang akan lo lakuin,?" tanya Dinda dengan Alis yang bertautan, dengan memandang kearah Metta yang sudah berganti pakaian


"Gue juga gak tau mesti ngapain, tapi gue gak mungkin ngebiarin dia berjuang sendirian. Din."


Dinda memeluk sahabatnya " Aaah, Sha kok gue yang terharu,"


"Andai saja gue punya seseorang yang mau perjuangin gue!" Dinda merengut.

__ADS_1


"Sudah, kalau lo berjodoh juga pasti bakal ketemu kok. Lambat laun juga dia pasti kembali!"


"Gue sih gak yakin, tapi yah sudah lah gue nungguin My hot my ice Alan aja."


"Apaan sih my hot, my ice, my pret sekalian."


"Tuh lo kan selalu gitu, gak bisa ngabiarin gue bahagia bentar aja!"


"Yang ada halu lo, bukan bahagia. Kalau lo berani lo kejar sana My hot, hot ice pop ice lo itu." Metta menahan tawanya.


"Jodoh gue susah digapai!"menatap langit-langit.


"Sabar, mungkin jodoh lo baru lahir." ucap Metta terkikik, menyembunyikan rasa khawatir yang menderanya.


"Kebangetan lo, mentang-mentang pacaran sama berondong, masa gue sama berondong baru netas,"


"Nih udah dikit lagi, tinggal pake lipstik doang, sempurna!" tangan Dinda memberikan sentuhan terakhir.


"Ya udah gue pergi dulu yaa," Metta beranjak dari duduknya.


"Gue temenin yah, gue takut lo kenapa-napa."


"Gak usah, gue bisa sendiri! lo tenang aja, gue pasti baik-baik aja."


"Tapi kan ....Gue pengen mastiin lo gak kenapa-napa."


"Udah lo gak usah khawatirkan gue, doain gue ya..."


"Pasti Sha, gue selalu doain lo kok"


Dinda kemudian mengirim pesan pada seseorang, setelah itu dia baru keluar dari toilet.


Metta akhirnya keluar dari kantor, dia menuju tempat parkir dan memasangkan helm nya. Tak lama dia melajukan motornya ketempat sesuai dengan pesan yang dia terima. Jaraknya lumayan jauh, butuh waktu 30 menit untuk sampai kesana, tak lama kemudian Metta akhirnya sampai.


Dia masuk kedalam cafe yang dimaksud, manik hitam miliknya menyapu ruangan yang cukup besar itu, terdapat sofa besar menghadap View pegunungan di depannya, suasana yang tenang dengan gemericik air dari kolam ikan koi berada di tengahnya. Hanya ada beberapa pengunjung disana, tak ada satu pun dari mereka yang terlihat mencurigakan ataupun terlihat menunggunya.


Seorang waiters melangkah mendekatinya, "Apa anda yang bernama Mettasha?"


Metta mengangguk, "Iya, saya Mettasha."


"Syukurlah, Ayo mbak ikut saya, ada seseorang yang tengah menunggu mbak."


Waiters cafe itu berjalan mendahului Metta, dia kemudian masuk kedalam ruangan yang terlihat berbeda, VIP ROOM, tulisan yang sekilas Metta baca ketika melewati lorong yang lebar namun juga tampak sepi itu.


Dia sudah menduga- duga dari awal, mungkin ini adalah Ayah dan ibunya Farrel, lalu jika benar, apa yang harus dikatakan? apa yang harus dia perbuat.?


"Astaga ...."


Jantungnya semakin berdetak dengan kencang, seiring dengan menggemanya suara high heels yang menghentak lantai keramik.


Semakin panjang lorong yang dia lewati semakin kencang pula detak jantungnya, silih beradu dengan nafas yang serasa akan habis. "Astaga, gak nyampe -nyampe!"


"Maaf mas apa masih jauh,"

__ADS_1


"Sebentar lagi Mbak, kita tinggal belok saja didepan." Metta mengangguk.


"Rasanya kok lama, gak sampai-sampai ya Mas." Waiters itu hanya tersenyum dan mengangguk.


Hingga akhirnya mereka sampai ditempat yang dituju. Waitres itu mengetuk pintu, dan masuk setelah ada jawaban dari dalam.


"Maaf, orang nya sudah datang,"


"Heem, suruh dia masuk!"


"Baik ..."


Waiters tersebut keluar lagi dan menyuruh Metta untuk masuk,


"Silahkan mbak, sudah ditunggu di dalam."


" Terima kasih." Waiters tersebut mengangguk lalu berlalu.


Dengan gugup Metta akhirnya masuk kedalam ruangan, ruangan luas bernuansa gold dengan stand bunga di sudut keduanya, Manik hitamnya kini beradu dengan si pengirim pesan, dugaannya benar. Mereka adalah orang tua dari Farrel, Ayu duduk dengan kepercaya dirian tinggi dan angkuh. sementara Arya duduk dengan tegap, wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Om, Tante. Apa kabar?" Metta mendekat hendak menyalami keduanya.


"Duduklah, kami tidak punya banyak waktu!"


Metta mengangguk lalu menghempaskan tubuhnya dengan ragu di kursi tepat berada didepan mereka.


"Apa peringatanku masih kurang tempo hari? kenapa kamu masih menjalin hubungan dengan anak saya?" tanya Ayu tanpa berbasa-basi.


"Saya ...."


"Jika kamu menginginkan uang, katakan sekarang!"


Tubuh Metta bergetar, darahnya mendesir menahan marah. Merasa dirinya terhina sekali,


"Kami sedang berbaik hati, maka kami akan tawarkan kamu sejumlah uang atau apapun yang kamu mau!"


Arya menyerahkan beberapa lembar kertas dihadapan Metta, "Pilih apapun yang kamu mau, Pabrik, proferty, atau perkebunan."


"Aku akan memberikannya padamu, asal kamu tinggalkan anak saya!"Ucap Arya dengan tegas.


Metta justru berseringai, mengambil satu persatu kertas-kertas yang diberikan Arya lalu mengangguk-ngangguk.


"Pilihan yang sangat murah, kalian tengah bernegosiasi dengan orang yang salah." ucapnya tanpa melihat wajah mereka.


"Aku berada di perusahaan kalian, tepatnya bagian mengecek barang pengadaan dan seluruh keuangan, maka dengan mudah aku dapat mentaksir harga tempat-tempat ini." Metta mengetuk-ngetukkan jarinya diatas kertas-kertas itu.


"Apa Om dan Tante tahu harga semuanya?" menatap tajam keduanya.


"Dan Om dan Tante menawarkan pada saya? saya kira ini tidak sepadan, terlalu murah!"


.


.

__ADS_1


Dukung aku terus dengan klik Fav, like, komen dan rate 5nya yaa..Gift nya juga boleh, 🤭


Makasih kalian ❤


__ADS_2