
Farrel mengemudikan mobil nya dengan pelan, menyisir jalan jalan yang mungkin saja Metta lalui, dia juga mencari Metta ke tempat lain, hatinya sungguh gusar, fikiran nya kalut memikirkan Metta.
Dia sudah mengecek rumah Metta dan Metta ternyata belum pulang kerumah, lantas kemana dia.
Satu satunya cara adalah meminta bantuan Alan untuk membantunya.
Farrel merogoh ponsel disaku celana nya, mendial nomor Alan,
" Halo, Lan aku butuh bantuanmu!"
" Kakak hilang"
" Apa, hilang memangnya dia anak kecil bisa hilang segala"
" Cx, bukan saat nya bercanda, bantuin cariin"
" Tenang Rel, tenang"
" Tenang tenang, bagaimana bisa tenang sementara kakak hilang"
" Kau apakan dia, sampai dia menghilang begitu." terdengar Alan terkekeh.
" Berhentilah tertawa Alan Alfiansyah,"
" Hahaaha" Alan semakin tertawa.
" Coba ingat ingat kalo kamu jadi dia, kamu akan pergi kemana?"
Farrel tengah berfikir sejenak, " S hit aku bahkan lupa tempat itu"
Farrel membanting stir kemudinya memutar arah laju menuju tempat kemungkinan terbesar Metta pergi kesana.
" Hei, tenang lah jangan gegabah"
" Aku sudah tau kakak pergi kemana."
Bip..
Farrel memutuskan sambungan telponnya sepihak.
Sementara Alan berdecak heran.
" Dasar anak nakal, jatuh cinta membuat repot saja"
.
.
.
Sementara disuatu tempat, Metta terduduk termenung dihamparan rumput, menghela nafasnya kasar. Dia marah pada dirinya sendiri, berfikir betapa bodoh dirinya yang terlena oleh sikap Farrel yang manis, menyalahkan diri nya karena percaya begitu saja pada Farrel.
Semua perkataan yang diucapkan Farrel kembali terlintas dibenaknya, raut wajahnya, senyum nya , semua yang Farrel lakukan untuknya.
" Bodohnya lo Sha, percaya pada perkataan manis seorang bocah"
" Aaaaa..Farrel brengsek" Metta berteriak , memukul mukul tembok pembatas.
" Brengsek sialan...harusnya loe gak hadir di hidup gue, kalo kehadiran loe malah bikin gue semakin hancur " Teriaknya lagi.
" Harusnya gue gak percaya sama lo,"
" Dasar laki laki brengsek,"
Hiks..Hiks..
" Aku mencintai kamu"
.
.
Farrel tersenyum mendengar apa yang baru saja di ucapkan Metta.
" Jadi kakak juga mencintaiku?"ucap Farrel dari belakang tubuh Metta.
Metta tersentak, " Sedang apa kau disini?"
" Aku mencari kakak kemana mana, ternyata kakak disini sedang mengumpatku yaa" ucap Farrel.
__ADS_1
" Pergilah " Mett menepis tangan Farrel yang mengulur padanya.
" Kakak" tukas Farrel memegang tangan Metta.
" Kau yang pergi atau aku yang pergi ?" ucap Metta dengan ketus, menepis tangannya.
" Bisakah kakak mendengar penjelasanku?"
" Untuk apa?, aku tidak perduli" Metta membalikkan badan membelakangi Farrel.
" Kalo kakak memang tidak perduli, lantas kenapa kakak pergi?" tukas Farrel.
" Sialan, memang benar juga, ngapain aku harus pergi dari sana!". batin Metta.
" Bodoh"
" Benar kan ?"
" Pergilah, aku tidak ingin melihatmu!"
" Wah kakak bahkan lupa, kalo tempat ini adalah tempat rahasia ku"
"Hentikan bualan mu, aku sudah tidak akan mempercayaimu lagi."
Farrel memegang lengan Metta.
" Lepas, atau aku akan berteriak!"
" Kakak " panggil Farrel dengan lembut.
" Aku hanya cinta kakak, tidak ada yang lain!"
" Sudah pergilah, aku sudah tidak ingin percaya dengan apa yang kau katakan."
" Benarkah?".
" Hem"
" Kakak memang pandai berbohong" Farrel terkekeh.
" Sudahlah sana pergilah, jangan pernah menemui ku lagi."
" Bisakah kakak mendengar penjelasan ku?"
" Tasya berfikir aku menyukainya, padahal yang ku maksud adalah kakak"
Metta mengernyit, " Benarkah" batin Metta.
" Kakak percaya lah padaku, aku hanya menyukai kakak, kakak salah paham"
" Sudahlah aku mau pulang!"
" Kakak, kalo kakak tidak percaya aku akan mengirimkan cctv saat aku dan Doni mengobrol, dan kakak akan mengetahui kalo yang ku maksud adalah kakak"
" Kau gila," Metta membalikkan tubuhnya kembali melihat Farrel.
"Tidak mungkin ku biarkan dia melakukan hal seperti itu, mau ditaro dimana muka ku" batin Metta.
" Jadi sekarang kakak percaya padaku?"
" Tidak, aku tidak mengatakan aku percaya padamu"
" Oke, aku akan menyuruh Tasya dan Doni kesini unyuk menjelaskan."
" Tidak usah, tidak perlu " sahut Metta.
" Astaga, gue sudah seperti bocah jika menyetujui rencana dia" batin Metta.
" Jadi benar, kakak mencintaiku juga"
Metta tertunduk, entah apa yang harus dikatakannya.
" Katakanlah kak,"
" Tidak,"
" Kakak bohong"
" Sudah kukatakan aku tidak mencintaimu"
__ADS_1
" Terus yang baru saja kakak katakan itu apa?"
Metta terlihat salah tingkah, sementara Farrel menaikkan sudut bibirnya ke atas.
Grep..
Farrel berhambur memeluk Metta dan memutarkan tubuh mungil Metta, membuat Metta tersentak kaget.
" Aaaa....Farrel apa yang kamu lakukan, turunkan aku"
ucap Metta memukul mukul punggung Farrel.
" Hah..uuuh kau benar benar sudah gila" Metta memukul dada bidang Farrel.
Farrel terkekeh, " Kakak tau bagaimana perasaanku sekarang?" ucap Farrel dengan mata berbinar.
" AKU SANGAT BAHAGIA" Farrel berteriak dengan merentangkan kedua tangannya.
" Farrel kau sudah gila," Metta menutup mulut Farrel dengan kedua tangannya.
" Bagaimana kalau nanti ada security datang kesini mendengar mu berteriak seperti itu?" ucap Metta sambil mengedarkan pandangannya.
" Biarin, biar ketahuan sekalian terus kita akan digiring ubtuk di nikahkan" ujar Farrel dengan terkekeh.
Metta memukul bahu Farrel dengan keras.
" Kau gila"
Farrel terkekeh melihat Metta yang sudah hampir kesal itu.
Dengan nafas tersengal Farrel meraih tangan Metta, menatap perempuan bertubuh mungil itu dengan nanar.
" Aku tau kakak juga mempunyai perasaan yang sama terhadap ku, jadi mengakulah"
Metta terdiam saat Farrel mengatakannya.
" Karena aku bisa melihatnya" ujar nya lagi.
Metta akhirnya menggangguk, hatinya benar benar melemah dan runtuh seketika.
" Benarkah?" Farrel tersentak tak percaya.
Metta mengangguk lagi.
Dan Farrel meraih tubuh Metta ke dalam pelukannya.Tak bisa dibayangkan perasaan nya begitu bahagia, wajahnya yang tampan tampak semakin berseri dan senyum sumringah terukir di bibir tipisnya.
Metta merasakan hal yang sama, perasaan yang sudah lama tidak Metta rasakan, seketika hatinya terasa ringan. Ada perasaan yang menguap dan berubah menjadi titik titik mengelitik di hatinya.
Bersama dengan itu masih ada juga perasaan takut, takut akan rasa kecewa yang mungkin saja terjadi suatu hari nanti.
" Kakak tidak usah risau dengan perbedaan kita" ucap Farrel tepat ditelinga Metta. Seolah tau apa yang tengah difikirkan nya itu.
" Kenapa dia tau fikiran ku?" batin Metta.
" Apa yang kaka risaukan tidak akan mengubah perasaan ku, percayalah tidak akan merubah keadaan apapun." Farrel mendekap Metta dengan erat.
Diciumnya pucuk kepala Metta dengan lembut.
" Apa sekarang kita jadian?" ucao Farrel mengurai pelukannya.
Metta tersentak, namun juga menahan tawa.baru saja lupa bahwa yang sekarang ada dihadapan nya itu adalah anak dewasa yang tanggung, yang masih perlu dengan kata kata seperti itu.
" Jawab aku kak, apa kita jadian sekarang, pacaran gitu?" Farrel mengulang pertanyaannya lagi.
" Terserah lah itu namanya apa," ucap Metta dengan berlalu.
" Hei..tidak bisa begitu kak, itu ada namanya" sahut Farrel dengan langkah menyusul perempuan yang sekarang katanya menjadi pacarnya.
.
.
.
Jangan lupa like dan komennya yaa..
Semoga novel ini tidak membosankanš¤£
Terima kasih buat yang udah setia nungguin aku up š
__ADS_1
.