
"Aku merindukanmu El, sangat." Farrel menarik bibirnya keatas.
"Aku tahu...."
Farrel menatap lekat wajah Metta, tangannya membelai pipi gadis yang begitu dia rindukan setengah mati, lalu dengan ibu jari dan jari telunjuk yang mengjimpit dagunya.
"Aku lebih, lebih, dan lebih merindukanmu dari apapun sayang," ucapnya.
Farrel tersenyum, dengan sesekali menatap bibir Metta yang tipis menggoda, membuat sosok yang terus ditatapnya itu merona, wajah Metta sedikit menunduk, namun Farrel mengangkatnya lagi hingga netra kembali beradu.
Perlahan Farrel mendekat, dia menyapu wajahnya dengan hembusan nafasnya yang lembut, pertanda Farrel tengah menahan gejolak yang menggebu dalam dirinya.
"Kakak semakin cantik saja!" gumamnya, namun Metta masih dapat mendengarnya, dia hanya menyunggingkan bibirnya.
Farrel menarik pelan wajah Metta hingga semakin mendekat, tak menunggu lama dia menyapu bibirnya dengan lembut. Begitupun Metta yang menyambut benda kenyal itu dengan hangat, ciuman kerinduan itu berubah menjadi lu'matan, saling menyisir dan mengabsen setiap bagian didalamnya, menautkan lidah yang bergerak dengan perlahan serta beriringan dengan decakan.
"I love You...." bisik Farrel disela ciuman mereka. Lalu kembali melu'matnya dengan lembut.
Tangan Farrel menyusup dileher Metta, menahan tengkuknya sementara lidahnya semakin dalam menari-nari, dengan mata terpejam mencecap manisnya saliva.
"Mmmpphh, ssshh...."
Metta perlahan mengerang, mengalungkan tangannya dileher Farrel, suara erangan yang keluar begitu saja tanpa diperintah semakin memancing gairah Farrel, dia mendorong dengan perlahan tubuh Metta hingga beradu dengan meja, semakin menekannya dengan mencondongkan tubuhnya kedepan, menindih tubuh Metta yang sudah setengah terbaring diatas meja. Membuat berkas yang sudah rapi itu kembali berantakan.
Dengan tangan yang bertaut, saling menggenggam. Farrel menarik genggaman tangan nya melebihi kepala Metta, tubuhnya semakin menumpuk dengan satu tangan lainnya yang menyisir perut Metta.
Membuat dada Metta semakin turun naik, saat tangan Farrel yang kini perlahan bergerak naik dengan lembut, membuat aliran darahnya mendesir, tanpa melepaskan tautan lidahnya.
"El...."
Suaranya melandai menahan gelanyar aneh yang sama besarnya, namun masih bisa menahan has'rat mengingat mereka masih di tempat umum.
Farrel pun menghentikan setelah melihat kekasihnya itu berulang kali menggelengkan kepalanya. Dia beranjak dan menarik tangan Metta dari meja, dengan terkekeh menyeka bibir Metta dengan ibu jarinya,
"Tubuhku selalu bisa di kontrol oleh kakak, tapi saat nanti, gelengan kepala kakak tidak akan menghentikan aku!"
Metta menepuk lengan Farrel, "Ish ... kamu ini bicara apa?"
Farrel tergelak, "Benarkan, nanti aku akan menghabiskan kakak sampai bergeleng minta jangan berhenti!"
"Astaga, kau makan apa disana hem? Sampai isi kepalamu mesum begitu!" Metta memutar meja dan membereskan kembali berkas-berkas yang berantakan akibat ulah mereka.
Farrel memeluk Metta dari belakang, "Disana tidak ada yang aku makan, karena makananku ada disini."
"Dasar mesum!"
Metta berbalik, membenarkan kemeja Farrel, "Bagaimana rancangannya? Aku yakin kamu berhasil, iya kan?"
"Begitulah ... aku tidak merasa tertantang," Farrel mengerdikkan bahunya.
Metta mendecak, "Iya... iya... tuan jenius!"
__ADS_1
"Satu-satunya yang menantang di hidupku adalah kaa...mu," mencuil ujung hidung Metta.
"Ternyata belajar kata-kata gombal juga disana... hem? Tuan jenius yang gombal,"
Farrel tergelak, "Bukan hanya pria yang gombal disana, wanita juga banyak!"
Metta membulatkan matanya seketika, Farrel terkekeh melihatnya, "Tidak... tentu saja aku tidak termakan rayuan mereka,"
"Pasti disana banyak gadis- gadis cantik,"
Farrel mengangguk, "Sangat cantik, hidung mancung seperti perosotan, tubuh ramping dengan mata yang indah, ram-"
Seketika Metta meraup mulut Farrel, "Iiiiih....Diem!"
Farrel tergelak, "Kakak jangan khawatir, di mataku hanya kakak yang paling cantik!"
"Terima kasih tapi aku tidak tersanjung sedikitpun!" Metta melepaskan tangan Farrel yang masih melingkar dipinggangnya, dia kemudian kembali membereskan berkas dan menumpuknya.
Menyebalkan, dengan bangganya memuji gadis lain sedetail itu.
Astaga, kenapa lagi ... Aku kan hanya berbicara jujur dan apa adanya. Memang kenyataan nya disana begitu. Kenapa kakak terlihat kesal. Batin Farrel.
"Aku mau kembali ke kantor!" ketus Metta.
"Ayo, aku juga mau bertemu dengan Alan."
Metta membuka pintu dengan kasar, sementara Farrel dengan polos nya mengekor di belakang.
.
.
"Gak apa-apa, hanya ingin diam saja! memangnya kenapa gak boleh?" Metta kembali menatap jalanan.
Farrel menarik bibirnya keatas, "Sepertinya ada yang tengah kepanasan, aku nyalakan AC mobil lebih besar ya."
Metta diam, dia terlihat menggemaskan dengan mencebikkan bibirnya, Farrel semakin ingin menggodanya.
"Ah, panas sekali hari ini, tapi diluar mendung kok!"
Farrel berpura-pura melihat keluar, dan tanpa sadar Metta ikut menatap awan yang katanya mendung, Farrel terkikik.
"Iya kan.... mendung! Gerah sekali? apa jangan-jangan ...ada yang ce--" Farrel menggantungkan perkataannya.
Metta menatap jengah ke arah Farrel, "Iiiiiih, nyebelin, nyebelin...." mencubit lengan dan pinggang Farrel.
Farrel tertawa, "Iya, apa...aku tidak mengatakan kakak cemburu kan, Aku tidak berkata apa-apa. Aw... sayang sakit!"
"Kenapa kau tertawa? kamu mentertawakan aku kan, iiihh ngeselin." ucap Metta dengan memukul bahu Farrel berulang kali.
Farrel tak henti-hentinya tertawa, dengan menggoda Metta hingga kesal. Karena selama 3 bulan tidak melihatnya menggemaskan seperti itu.
__ADS_1
Farrel dengan cepat menangkap tangan Metta, dengan satu tangan, sementara tangan satunya masih di kemudi.
"Maafkan aku ya, aku hanya berkata jujur! Tapi melihat kakak menggemaskan begini, Aku jadi selalu ingin menggoda kakak."
Iya perkataanmu terlalu jujur itu membuat aku terbakar cemburu, dasar tidak peka. Jujur apanya mengatakan kecantikan gadis lain pada tunangannya sendiri. Batin Metta.
Farrel mengecup tangan Metta, "Secantik apapun gadis diluar sana, mau itu bidadari yang turun dari langit, aku tidak peduli ... Aku hanya melihat kakak saja, hanya kakak! Kakak faham? Kalau perlu kakak bisa tanya teman ku yang payah itu... dia selalu satu tim dengan ku dan selalu bersama ku kemana pun, kecuali ke kamar mandi," kelakarnya panjang lebar.
Metta menghela nafas, "Nyebelin, ngeselin... baru juga bertemu lagi setelah sekian lama!" gumamnya.
"Iya...maaf yaa, Aku selalu rindu melihat kakak yang menggemaskan begini," ucap Farrel menautkan jarinya di jari Metta.
Metta memutar- muter cincin yang melingkar di jari manis Farrel, membuat Farrel tersenyum simpul.
"Aku tahu, aku sudah bertunangan, aku juga tidak akan berbuat macam-macam, hanya satu macam saja," ucapnya kemudian seolah tahu apa yang tengah difikirkan Metta.
"Aku tidak mengatakan apa-apa!" gumam Metta namun senyum tipis terbit dari bibirnya.
"Tidak mengatakannya pun aku tahu! jadi kakak jangan kesal lagi yah." Metta mengangguk.
Semakin lama semakin manis kamu El, dan hanya kamu El yang bisa mengerti isi hati aku tanpa aku harus mengatakan apapun. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika gadis lain mengalihkan perhatianmu pada ku. Batin Metta.
.
.
Farrel kembali melajukan mobilnya, membelah jalanan yang cukup ramai, dan berhenti saat di Lampu merah.
Metta kembali menatap rekonstruksi bangunan yang belum sama sekali rampung itu, lalu kembali menatap Jalan di depannya.
Sesaat kemudian lampu rambu lalu lintas itu berubah warna, Farrel kembali melajukan kendaran nya menuju kantornya.
"Kakak ingin ikut aku ke kantorku atau ke divisi?"
"Aku ke divisi saja, masih ada yang harus aku kerjakan,"
"Jika kita sudah menikah, aku tidak akan membiarkan kakak terus bekerja nanti! kalaupun harus bekerja, kakak hanya akan bekerja denganku diatas," Farrel terkikik.
Metta membulatkan matanya "Di atas?"
"Iya diatas, memangnya kakak mau terus berada dibawah?"
"Dibawah?"
Tiba-tiba saja otak Metta seolah tidak bekerja dengan baik.
Farrel menyipitkan matanya, "Apa yang kakak fikirkan?"
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yaa❤