
Farrel menyipitkan matanya, "Apa yang kakak fikirkan?"
"Apa...?" Metta malah balik bertanya pada Farrel.
"Sayang kenapa malah tanya aku? Apa kakak memikirkan hal lain?" Farrel terkikik dengan meraup wajah Metta yang masih mencerna perkataan Farrel tadi.
"Astaga, tunanganku ini kenapa hem?"
Metta membelakak tersadar, "Itu karena ucapan mu yang ambigu!Diatas ... dibawah,"
Farrel tergelak, menatap wajah Metta yang mendelik kepadanya. "Sayang, sumpah wajahmu itu...hahaha"
"Iiihh...nyebelin banget!" Metta mencubit lengan Farrel dengan gemas.
Farrel meringis, "Kenapa malah aku yang nyebelin, memang aku bicara apa? Ruangan kantorku kan memang diatas, bahkan paling atas. Minggu ini aku kan sudah harus disana, apa kakak lupa? Sementara ruangan kakak ada dibawah, bahkan tidak perlu naik tangga ataupun lift, benar-benar dibawah kan!" jelas Farrel.
Metta dibuatnya gelagapan, Memang aku memikirkan apa, astaga....
"Ternyata kakak mesum juga! hahahah." Farrel terbahak, sementara Metta menunduk sekilas dengan telinga yang memerah karena malu.
"Itu karena ucapan mu itu membuat orang berfikir ke arah sana!"
Mereka berdua tergelak, membuat suasana hati Metta kembali baik. Tingkah Farrel yang terkadang konyol tapi juga manis, namun juga sejng kali membuatnya kesal.
Metta menatap lekat Farrel yang sedang menyetir, sampai saat ini dia tak menyangka akan jatuh hati pada pria yang bertaut usia cukup jauh dibawahnya, keraguan demi keraguan yang terpatahkan oleh tindakan demi tindakan yang dilakukan Farrel terhadapnya.
"Aku semakin tampan bukan, sampai segitunya ngelihatin aku," seru Farrel tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan nya pada ruas jalan.
Tanpa sadar Metta mengangguk, Iya kamu memang semakin tampan saja, dan tumbuh lebih cepat dari pada yang aku fikir.
Tak lama mobil pun berhenti tepat di depan gedung divisi. Mereka keluar beriringan, Tak lupa Farrel menggenggam tangan Metta saat masuk. Membuat para karyawan yang melihatnya membelalak.
"Duh mereka bikin iri!"
"Diam-diam memghanyutkan ya, sekali nya bertindak, dapat CEO,"
"Aku harus mengikuti jejaknya." Timpal yang lain.
Farrel tak melepasnya sedikitpun Metta, dia semakin ingin membuat orang-orang mengetahui Metta maupun dirinya telah bertunangan. Sementara Metta merasa malu, berkali-kali menunduk dan berusaha melepas kan tangan.
Mereka berjalan menuju ruangannya, "Sudah sana bukankah kau akan bertemu Alan?"
"Hm, setelah aku mengantarmu,"
"Ini sudah diruanganku sudah sana! aku tidak enak sama yang lain,"
Namun Farrel tidak menggubris perkataan Metta, dia mengantarkannya sampai ke meja kerjanya.
"Selamat kerja sayang!" ucapnya mengecup pucuk kepala Metta hingga dia membulatkan matanya dengan sempurna, lalu Farrel kembali keluar.
Dinda yang melihat Metta menghampirinya, "Heh, mentang-mentang sudah resmi, apa kalian tidak memikirkan nasib para jomblowati yang ada disini?"
"Benarkah? siapa yang jomblo disini? kamu....?" cibir Metta.
__ADS_1
"Iya aku, siapa lagi!" Dinda mendekap tangannya didada.
"Pppfftt...iya iya maaf, itu karena dia yang selalu berlebihan," Metta menahan tawanya,
"Tapi kau juga menyukai sikap nya yang berlebihan begitu kan? ayo ngaku....?"
"Apa sih ...." Menduduki kursinya.
"Lalu bagaimana dengan mu? Apa ada kemajuan?
Dinda tiba-tiba mencebikkan bibirnya, "Kemajuan yang rumit!" kemudian berlalu kembali ke meja kerjanya.
.
.
Farrel berjalan menuju ruangannya dengan bersiul, suasana hati nya tengah senang bak memenangkan hadiah lotere, bahkan rasa lelah sehabis perjalanannya tadi pagi tidak berasa apa-apa.
Ting
Farrel masuk ke dalam lift karyawan, dia enggan memakai lift khusus, dia masuk dengan beberapa karyan yang tampak menganggukkan kepala padanya.
Dengan berbisik-bisik mereka bergumam membicarakan ketampanan Farrel dan juga kepintaran yang disembunyikannya, mereka semakin terpesona saat tahu semuanya.
"Sayang sekali dia sudah bertunangan," bisik karyawan perempuan yang berdiri paling belakang bersama rekannya.
"Memang kau mau apa? Kalau pun dia belum bertunangan pun, belum tentu melihatmu." ucap rekannya itu dengan berbisik pula.
Ting
Bruk
"Aw... sakit sekali!"
"Kau...Sedang apa kau disini?" ucap Farrel.
Tiwi memegangi kakinya yang terkilir, dengan tertatih-tatih dia berjalan. Hingga Farrel memegang bahunya.
"Duduklah, aku akan menyuruh orang kesehatan memeriksamu,"
Dengan cepat Tiwi memegang tangan nya, "Tidak... tidak aku tidak mau ke ruang kesehatan,"
Farrel melepaskan tangan Tiwi dari lengannya, "Bukankah kau kesakitan, kalau tidak mau aku akan menyuruh dokter jaga dari ruang kesehatan untuk kesini."
Tiwi bergeleng kepala, dia mulai menangis menahan nyeri di kakinya. Farrel merogoh ponsel dari saku celananya, dia menghubungi Doni untuk segera datang.
Sial... dia malah memanggil si curut itu yang datang! Kenapa bukan dia yang menolongku. Batin Tiwi.
Tak lama kemudian Doni datang kearah mereka, dia berseringai melihat Tiwi yang menatapnya jengah.
"Kenapa dia?"
"Mungkin kakinya terkilir, kau lihatlah dia. Kalau perlu bawa dia untuk berobat, Aku harus menemui Alan." ucap Farrel yang kembali berjalan.
__ADS_1
Doni mencondongkan tubuhnya kearah Tiwi, " Kau masih tidak jera kakak?"
"Sialan aku benar-benar terkilir, kaki ku sakit!" teriak Tiwi.
Doni berdesis, "Benar-benar jago akting, kenapa tidak menjadi artis saja,"
Tiwi memukul udara, "Sudah sana pergi, Aku juga tidak ingin kau menolongku!"
Aku memang berniat mendekati Farrel, mencari ide agar bisa mendapat perhatiannya, bahkan aku sengaja menghampirinya saat aku melihatnya tadi, tapi sepatu sialan ini malah membuatku tersiksa begini! Batin Tiwi.
Doni mengerdikkan bahu, "Ya sudah kalau tidak ingin aku bantu, aku kembali saja."
Tiwi akhirnya menyerah, karena kaki nya benar-benar sakit, "Tunggu..."
Doni yang sudah berbalik menjadi berhenti lalu berseringai,
"Kaki ku benar-benar sakit, tolong aku!" ucap Tiwi terbata bata.
Doni memapah Tiwi berjalan menuju Ruang kesehatan, "Kau kuat kan, bukankah ide terselubung di otakmu banyak sekali, lantas kenapa bisa kesakitan begini!" Doni terkekeh.
"Lebih baik kau diam saja!"
Doni berhenti melangkah, membuat tubuh Tiwi limbung, "Aaaww...." Tiwi menatap tajam kearah Doni.
"Kau menyuruhku diam tadi," sambil terkekeh.
"Kurang ajar!"
"Kalau kau terus mengumpat, Aku tidak akan menolongmu lagi!" ancam Doni.
Tiwi menatap Doni dengan tajam, dia tidak ada pilihan selain bersabar sampai dia tiba di ruang kesehatan.
"Cepatlah kau tidak lihat kaki ku semakin bengkak."
"Katakan tolong, Too...long!" ucap Doni, dengan seringaian.
Tiwi kembali berdecak, "Cepatlah jangan banyak bicara! Ini semakin sakit."
"T-o-l-o-n-g... " ucap Doni mengeja huruf satu persatu.
"Oke...oke..., tolong!! Puas?"
Doni tergelak, " Ayo kita ke ruang kesehatan, jangan-jangan kau hanya bersandiwara lagi!" dengan tangan kembali memapah Tiwi.
Flash Back on
Tiwi yang melihat Farrel dari jauh, dia tersenyum licik. Dengan menyibakkan rambut ikalnya kebelakang, lalu dia meraih lipstik dari laci mejanya, memoles sedikit lipstik itu diatas bibir sensualnya. Lalu dia bangkit dari duduknya, dan berjalan kearah Farrel.
Saat jarak mereka semakin dekat, Tiwi tersenyum. Berharap Farrel melihatnya, dengan memasang wajahnya secantik mungkin. Hingga tak sadar ada seorang cleaning service yang tengah mengepel lantai. Dan sudah meletakkan papan tanda agar tidak berjalan di area itu, karena masih basah.
Namun Tiwi yang terus melihat kearah Farrel tidak melihat papan tanda itu, hingga dirinya terpeleset.
Saat itulah Farrel melihatnya dan menghampirinya. Karena koridor itu memang diberi tanda sehingga tidak ada yang lewat saat itu.
__ADS_1