
Cinta memang aneh, bisa tumbuh tanpa alasan. Hanya butuh waktu beberapa saat untuk mencintai seseorang, bersemanyam, tumbuh dan bersemi dengan cepat.
Seperti saat ini, Farrel bisa mencintai sosok Metta tanpa alasan, walaupun terpaut usia yang cukup jauh. Tak menjadikan hal itu menjadi halangan,
Metta? tentu saja masih ragu meski kini cinta hadir dan dia mengakuinya. Jarak usia itu lah yang menjadi momok menakutkan bagi sebagian orang, perbedaan pemikiran, cara pandang terhadap sesuatu hal, emosi yang berbeda, meski memang dewasa tidak dapat dilihat hanya dari umur saja, namun tetap saja mungkin rintangan kedepan nanti akan terus muncul dari perbedaan yang satu ini.
Tak pernah terlintas dibenaknya untuk membuka hati untuk cinta yang baru, apalagi cinta dari seseorang yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Namun itu lah cinta, kita tidak pernah bisa menduganya.
.
.
.
" Hei..tidak bisa begitu kak, itu ada namanya" sahut Farrel dengan langkah menyusul perempuan yang sekarang katanya menjadi pacarnya.
" Memang harus?" Metta membalikkan tubuhnya dengan berkacak pinggang.
" Ya harus, teman teman ku bilang seperti itu." tukas Farrel.
" Cx kau ini, sudah kubilang jadilah diri sendiri " Metta kembali melangkah.
" Jangan pernah bilang kamu belum pernah punya pacar?" Metta kembali menoleh ke arah Farrel.
" Memang gak pernah, kakak yang pertama "
" Gak mungkin,"
" Kenapa? kakak mau bilang pria ganteng sepertiku belum pernah pacaran?" Tukas Farrel yang sekarang berjalan sejajar dengan Metta.
" Hem, masa sih?" sahut Metta tidak percaya.
" Aku harus apa supaya kakak bisa percaya aku belum pernah pacaran?" Farrel menggenggam tangan Metta.
namun Metta menepisnya dengan halus.
"Coba kamu melompat ke sana" Metta menunjuk pada undakan kecil yang terdapat lubangan pasir dibawahnya.
Dengan langkah cepat Farrel berlari dan terjun ke sana.
" Aaaaaa..." Farrel melompat sambil berteriak.
Bleb..
Metta tersentak dan berlari menyusul farrel yang sudah terjun dibawah sana.
" Astaga... Farrel,"
Farrel tertawa dengan posisi terduduk ditumpukan pasir.
"Kau ini..." Metta memukul bahu Farrel yang masih tertawa.
" Kau ini bodoh atau apa, mau membuatku jantungan hah, kenapa kamu malah melompat" cerocos Metta tanpa menghentikan pukulan nya pada bahu Farrel.
" Aw ..Kak sakit" Farrel mengusap bahu nya pelan dan masih saja tertawa.
__ADS_1
" Ayoo bangun, baju mu kotor semua"
" Kakak tenang saja" Farrel mencuil lembut hidung Metta.
" Tenang bagaimana, gimana kalau kaki atau tangan kamu patah,?
" Apa kakak khawatir padaku?"
" Tidak, dasar nakal" Metta kembali memukul lengan Farrel.
" Kakak tidak usah khawatir, aku sudah mengenal tempat ini dengan baik dari kecil." Farrel beranjak dan menepuk nepuk bajunya yang kotor.
" Dan aku sering melakukan hal tadi jika aku sedang kesal, dan rasanya kekesalan ku itu bisa hilang seiring teriakanku ketika melompat dan langsung terjerembab pada pasir dibawah sini" Farrel tertawa.
" Apa sekarang kakak percaya padaku??" Ucap Farrel dengan wajah yang menggemaskan.
" Harusnya aku menyuruhmu melompat kedalam jurang sekalian" tukas Metta yang kesal dengan berlalu begitu saja meninggalkan Farrel yang tengah tertawa.
" Kak, jangan marah"
" Kita kan baru saja jadian!"
" Terserah" tukas Metta kesal.
" Kak, tunggu"
Metta berjalan dengan kesal meninggalkan Farrel.
" Baru juga sehari udah bikin kesel aja" gumam Metta sambil berlalu.
" Cepet banget si jalan nya" gumam Farrel yang setengah berlari mengejar Metta.
.
.
" Ternyata begini yaa rasanya punya seorang kekasih?" ucap Farrel yang melirik intens ke arah Metta yang membuat Metta tersipu.
"Perasaan ku malah persis seperti pertama kalinya jatuh cinta saat sekolah dulu" batin Metta.
Perasaan malu malu terlihat kentara diantara mereka, Hingga terdengar suara deheman yang cukup keras, Farrel segera menarik tangan Metta dan bergegas bersembunyi di balik rimbunan pohon pohon.
Suasana yang meremang memudahkan mereka karena nyaris tidak terlihat.
Farrel mendekap tubuh Metta kedalam dekapannya, tangannya meraih pinggang Metta dengan erat, jantung Metta pun berpacu dengan cepat tatkala hembusan nafas Farrel terasa hangat mengenai wajahnya.
" Stthh, Kakak diam lah" bisik Farrel pelan tepat di telinganya, membuat bulu halus dikulitnya meremang.
Sementara security tersebut memeriksa dengan mengedarkan lampu dari senternya ke segala arah.
" Mundurlah sedikit, aku sesak! ucap Metta.
" Tahanlah sebentar lagi" jawab Farrel dengan suara berat.
Begitu pun dengan Farrel, seluruh tubuh nya bergetar tatkala tubuh mungil Metta berada dipelukannya. Ditambah dua benda bulat milik Metta yang terasa menghantam dadanya. Mengingatkan pada mimpi yang pernah dialaminya. Farrel memejamkan matanya, menahan sesuatu yang mulai bergejolak dibawah sana.
__ADS_1
Berkali kali menelan ludah nya sendiri,
Hingga kilauan cahaya senter terlihat menjauh, mereka mengurai pelukannya dengan penuh kecanggungan. bak 2 orang asing yang baru saja bertemu.
" Emmpt, kita harus cepat pergi sebelum security itu kembali ke sini lagi." ucap Metta dengan gelagapan.
Namun Farrel menarik tubuh Metta yang mengurai kembali hingga saling menabrak.
Dug.
" Aapaa...?" tukas Metta kaget dengan tarikan.
Farrel yang tanpa menatap tanpa berkedip itu berseringai, " Boleh kah aku mencium kakak," bisiknya lembut.
" Astaga kenapa harus ngomong segala" batin metta.
Farrel meraih tengkuk Metta dengan lembut lalu menariknya hingga Farrel mencium bibir Metta, perlahan lahan ******* bibir yang tipis itu.
" Udah ini apa astaga, hanya menempel saja?" batin Farrel dengan bibir yang masih menempel.
Perlahan namun pasti lidah Farrel memasuki rongga mulut Metta dengan lembut, menyisir setiap bagian didalamnya, dan Metta membalasnya saling menautkan lidah yang saling menari didalam sana. namun masih terlihat kaku, suara decapan demi decapan terdengar dari pertemuan dua benda kenyal itu. Metta memejamkan mata, terbuai dengan lembutnya ciuman Farrel, begitupun dengan Farrel.
Kemudian saling menempelkan dahi sesudah ciumannitu terurai, dengan nafas yang saling berburu dikeduanya.
" Rasanya tidak segampang melakukannya didalam mimpi" batin Farrel.
Rasa gugup menyerangnya karena ini pertama kali Farrel melakukannya. "Terima kasih" ucap Farrel menyapu bibir Metta yang sedikit basah oleh ulahnyadengan ibu jarinya.
" Heh..."
Farrel menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena rasa canggung yang terlihat jelas, dan Metta melihatnya, menarik tipis bibirnya keatas.
" Euuh...kakak benar!, ayoo kita pergi, sebelum security itu kembali."
Mereka kembali menyusuri jalan dengan berpegangan tangan. Mereka pun akhirnya sampai juga ketempat Farrel memarkirkan mobilnya. Dengan cepat mereka masuk kedalam mobil, dan melajukannya dengan segera setelah memasangkan self belt. Dirasa sudah jauh dari tempat itu, mereka berdua tertawa dengan kekonyolan mereka sendiri.
" Bagimana bisa selama ini kamu pernah ketahuan kalau pergi kesana." tukas Metta
"Jantungku saja hampir mau lepas tadi"
" Benarkah?"
" Jantungku juga berdebar debar karena itu tadi."
Metta menoleh kearah Farrel " Itu tadi ?"
" Hem," Farrel mengangguk.
.
.
.
Jangan lupa Like dan komen nya yaa,
__ADS_1
Semoga suka dan tetap jadikan novel remahan renginang sisa lebaran ini berada di favorit kalian,
Terima kasih yang selalu setia nunggu 😘🤗