Berondong Manisku

Berondong Manisku
Gantungan inisial


__ADS_3

Farrel menjemput Metta sepulang kerja, sudah dari semalam dia mewanti wanti agar Metta tidak usah membawa motor, " Aku tidak mau" ujar Metta saat Farrel melarangnya membawa motor.


" Kakak, sudah kubilang aku akan mengantar dan menjemput kakak" suara nya meninggi di ujung sambungan telepon.


" Sudahlah, aku pergi seperti biasa saja"


" Kakak menurutlah" rengek Farrel yang membuat Mwtta mengalah dan menghela nafas.


" Baiklah,"


Dan benar saja, sejak dari pagi sekali Farrel sudah datang, kehangatan keluarga Metta yang dia rindukan juga, diterima dengan baik disana membuat Farrel semakin mantap. Dapat merasakan rasanya mempunyai adik yang merepotkan namun juga menyenangkan.


" Kak, Berikan ponsel kakak" Tukas Farrel menepikan mobilnya dengan tangan Farrel menengadah.


" Buat apa?" merekatkan tas nya ke dalam dada.


" Pinjam sebentar" ucap Farrel dengan tangan yang masih menunggu.


" Cx mau ngapain sih"


" Sebentar saja, memangnya kakak menyembunyikan apa di dalam ponsel?" dengan mata yang mulai memicing sipit, melihat tingkah Metta yang mencurigakan.


" Tidak ada yang aku sembunyikan" menggelengkan kepalanya.


" Kalo begitu yaa sudah mana sini" menggerak gerakkan tangannya.


Metta akhirnya mengalah dia berikan ponsel nya pada Farrel.


Farrel terlihat fokus " Nihh aku mau pasang gantungan ini pada ponsel kakak," Farrel menunjukan gantungan inisial F yang sudah terpasang diponsel Metta.


Metta terperangah, "Pppftt..ngapain kamu pasang benda begituan segala?" ucap Metta menahan tawa.


" Ini sangat trend kak, jangan tertawa"


" Ppfft, kata siapa?" Metta masih menahan tawa nya.


" Banyak, aku liat pasangan pasangan yang memakainya, ini sangat lucu kan" Mengangkat ponsel keatas.


Metta menutup mulut dengan tangan nya.


"Coba aku lihat ponselmu" giliran Metta menengadahkan tangannya, benar saja diponselnya sudah tergantung gantungan kecil berinsial S, Metta tak kuat menahan tawanya pun kini terpingkal.


" Kakak, sudah kukatakan jangan tertawa" Farrel memicingkan matanya keaeah Metta.


" Jadi kamu menjemputku hanya ingin memberikan gantungan ponsel insial itu? Kamu tuh lucu banget siih," Metta menguyel uyel kedua pipi Farrel.


" Kakak minta dicium yaa, ngeselin banget" gumamnya dengan jelas.


" Jadi kamu menjemputku hanya ingin memberikan gantungan ponsel insial itu?"


Seketika tangan Metta terlepas, namun Farrel dengan cepat menahan nya, mereka saling beradu pandang, wajah Farrel semakin mendekat.

__ADS_1


Deg..


Jantung Metta berpacu dengan cepat, saat tatapan menggemaskan berubah menjadi tatapan liar terlihat dari Farrel," kondisikan wajahmu kak " Farrel meraup wajah Metta dengan tangannya lalu tertawa terpingkal.


Metta pun memukul bahu Farrel dengan keras "Kamu tuh ngeselin banget siih" ucapnya.


" Memangnya kakak benar benar sedang menunggu ciumanku yaa" bisik farrel tepat ditelinga Metta.


" Apa sih kau ini!" sungut Metta dengan tersipu.


" Apa yang kau fikirkan Mettasha" batinnya.


Metta berbalik, namun dengan cepat Farrel manarik bahu Metta dan,


Cup..


Bibir Farrel menyambar bibirnya dengan lembut, namun tanpa adanya aba aba membuat Metta kaget. Dengan nafas memburu dikedua nya saat kedua benda kenyal saling menempel, Farrel memejamkan matanya, meraih pinggang Metta hingga merapat dengan tubuhnya. Begitu juga dengan Metta, buaian lembut dari Farrel yang nyatanya belum terlihat lihai namun membuat Metta begitu terlena.


" Bernafas Farrel" ucap Metta melepaskan tautan bibirnya saat Farrel terlihat terengah engah.


" Kakak, jangan mulai deh" gumamnya malu.


" Gemes banget siih pacar aku ini" kembali menguyel uyel wajah Farrel.


Mereka pun tertawa terpingkal.


Farrel memeluk Metta yang masih tertawa " Kakak, tetap lah bersamaku walau apapun yang terjadi kedepan nanti" bisiknya ditelinga Metta.


Metta yang sudah bisa mengerti mengarah kemana ucapan Farrel, terlintas difikiran nya ini ada hubungannya dengan rubah kecil itu, Tasya?. Namun Metta dengan segera menepis fikiran itu.


Metta hanya bermain dengan fikiran nya sendiri, tidak mampu menjawab Farrel.


Farrel mengurai pelukannya dan memegang kedua bahu Metta dan menatap dengan nanar " Kakak percaya padaku kan?"


Tak ada jawaban apapun dari Metta, " Aku masih belum bisa percaya sepenuhnya pada ucapan seorang pria" Batinnya.


Metta hanya sekilas tersenyum kearah Farrel,


Farrel memeluk kembali kekasihnya itu, serasa mendapat kekuatan tambahan dalam dirinya, membuat Farrel semakin yakin akan perjuangan cintanya untuk mendapat restu Bunda.


Bunda..ah iya bunda masih saja bersikeras ingin agar Farrel menjauh dari Metta, yang bahkan bunda saja belum pernah melihat Metta. Setiap kali mereka sedang bersama Farrel selalu menghindar ketika membahas hubungan nya dengan Metta, bukan apa Farrel hanya tidak ingin menambah masalah dngan bunda yang sangat dia cintai itu.


" El, dengarkan apa yang bunda bilang kemaren!" ucap Ayu sambil mengusap pucuk kepala Farrel.


" Sudah lah bun," ujar Arya saat melihat gelagat tidak menyenangkan dari Ayu.


" Bunda hanya ingin melihat Farrel bahagia, dan bukan dengan wanita seperti itu yah" sahut Ayu.


Farrel hanya bisa diam, bukan tidak ingin melawan perkataan sang ibu, atau membela diri, namun Farrel tidak ingin menyakiti perempuan yang sudah melahirkan nya itu.


Sementara Arya, dia tidak menolak namun tisak juga menerima, baginya siapaapun wanita itu yang pasti membuat Farrel bahagia, tentu saja dengan menyelidiki nya dulu.

__ADS_1


Dengan langkah terburu buru Farrel memilih pergi dari sana, menghindar saat bunda mencercanya dengan banyak pertanyaan.


.


.


Tak terasa hari sudah berganti menjadi minggu, selama itu pula Farrel dan Ayu sang bunda masih berdiri kokoh dengan pendirian nya masing masing, Ayu melindungi anaknya dengan caranya sendiri, sementara Farrel semakin berjuang akan cintanya pada Metta. Sering kali mereka terlihat menghindari perbedaan pendapatnya.


Kehidupan pun terus berjalan, Metta bekerja seperti biasa. Namun kini ada yang berubah, Farrel kerap menjemput Metta sepulang bekerja. Tentu saja Farrel akan berjalan memutar jika dia hendak ke pergi ke kantor.


Farrel mampu membuktikan diri nya menjalani semua dengan baik, membagi waktu nya kuliah dan dia semakin serius menjalankan pekerjaan nya di kantor.


" Tuan muda sekarang sudah dewasa yaa, pekerjaannku terasa ringan sekarang" ucap Alan dengan terkekeh.


" Semakin lama kau semakin menyebalkan lan"Farrel mendaratkan tubuhnya di kursi sofa seusai meeting dengan klien disebuah resto.


Alan tergelak, dengan memberikan setumbuk berkas dihadapan Farrel " Nih tugas lo sekarang ."


" Dan lo sekarang semakin ngelunjak lo Alan Ardiansyah" tatapan tajam kini mengarah pada Alan yang berlalu hendak keluar.


Alan terkekeh," Lo yang ngelunjak Farrel Adhinata" menaik turunkan alis tebalnya.


" Gue disini sebagai kakak lo, bukan lo" Alan terkekeh.


" Sialan emang lo" sungut Farrel.


Alan melangkah membuka pintu,


" Mau kemana lo"


" Cari pacar" tukasnya sambil berlalu.


.


.


Farrel hanyut didalam pekerjaan yang membosankan menurutnya. "Ah, kakak lagi apa yaa, jadi kangen!"


Farrel merogoh ponsel di dalam saku nya, " Bahkan kakak tidak menghubungiku sama sekali" gumamnya pelan.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen setiap babnya yaa❤ satu like dan komen dari kalian lebih berarti dari apapun untuk aku 🤭( cieh lebay)


Serius deh gak bohong, bikin aku semangat pake banget bangeet( lebay lagi deh)


Semoga suka yaa baca karya remahan aku

__ADS_1


Makasih😘


__ADS_2