Berondong Manisku

Berondong Manisku
Ini kenyataan bukan mimpi 2


__ADS_3

Doni masuk kedalam mobil, sementara Farrel menggantikannya menyetir, karena kejadian yang baru saja terjadi, mungkin Doni terlalu lelah. Menganggap klien mereka itu adalah Tiwi, yang jelas -jelas Tiwi sudah tidak ada lagi.


Memang benar, banyak yang menyayangkan atas kepergian Tiwi, dibalik banyaknya cela dalam hidupnya, namun ternyata Tiwi menyimpan pula kebaikan-kebaikan yang tidak semua orang tahu.


Dan begitu mereka tahu, rasa iba dan simpati terus bermunculan, bahkan menjadi perbincangan hangat di gedung utama. Dibalik kejahatan dan sifatnya, Tiwi menyimpan banyak luka, beribu kesedihan yang tidak dia bagi pada siapapun. Bersikap angkuh hanya untuk menutupi betapa rapuh dirinya,


"Apa lebih baik kau pulang dulu, sepertinya kamu harus istirahat." ujar Farrel yang melajukan mobilnya.


Doni berdecak, "Aku tidak apa-apa, tapi wanita tadi itu memang mirip sekali dengan Tiwi. Apa mereka orang yang sama atau mereka kembar."


Farrel menolehkan kepalanya, "Sepertinya kau terlalu banyak menonton sinetron,"


"Rel, kamu tidak melihatnya dengan jelas? Mereka itu mirip sekali, bentuk wajahnya, caranya berbicara, sorot matanya." Doni meraup wajahnya dengan kasar.


"Sadarlah Doni, relakan Tiwi, dia sudah tenang dan bahagia di sana, jangan justru membuatnya tidak tenang dan kamu menyiksa diri sendiri seperti ini,"


"Entahlah Rel, rasa penyesalan ini terus aku ingat, bahkan saat melihat wanita hamil pun aku bisa langsung memikirkannya."


Farrel menepuk bahu Doni, sementara tangan satunya menempel erat di atas kemudi.


Doni menggelengkan kepalanya berulang kali,


"Aku bisa gila jika begini terus Rel."


"Aku mengerti, kau hanya perlu mengiklaskannya pergi."


Penyesalan Doni tidak terbatas hanya pada perasaan yang bahkan dia tidak tahu perasaan apa itu, namun juga rasa bersalah yang teramat besar atas perbuatan dan perlakuannya terhadap Tiwi selama beberapa bulan hingga akhir hayatnya.


Tidak ada satu kebetulan yang terjadi didalam hidup ini, semua terjadi karena ada alasannya, bahkan pertemuan dengan orang tertentu, dan juga perasaan yang tidak menentu.


Tapi Doni masih bersikekeh, wanita tadi adalah Tiwi, meski berkali-kali Farrel menyuruhnya untuk sadar. Hati kecilnya terus mengatakan hal itu berulang-ulang.


Farrel melajukan kendaraannya menuju kantor, namun mereka kembali terjebak macet. Dan kali ini lebih parah dari pada saat mereka berangkat. Hampir sekitar empat puluh lima menit mereka terjebak, membuat Farrel menjadi uring-uringan, begitu juga dengan Doni.


Beberapa anak jalanan yang tampak sedang berkumpul dilampu merah, mereka ada yang sedang bernyanyi, memainkan biola, bahkan ada yang dari mereka sedang beratraksi pada saat lambu rambu lalu lintas tengah berwarna merah.


Doni membuka seat beltnya lalu keluar dari mobil, Farrel terperangah saat tahu Doni menghampiri mereka,


"Kak Doni?" sapa mereka saat melihat Doni tiba-tiba.


"Lama tidak bertemu kak," ujar salah satu dari mereka.


Doni mengangguk, "Apa akhir-akhir ini ada yang datang ke sanggar dan wajahnya mirip dengan Tiwi?"


Mereka saling memandang satu sama lain."Apa yang Kak Doni maksud? Kami tidak mengerti."


Tin


Tin


Tak terasa kendaraan yang sudah mengurai itu kembali bergerak, karena lampu sudah berganti warna.

__ADS_1


"Don ... Doni! Cepatlah!!"


Doni menengok kearah Farrel, lalu kembali menatap anak-anak itu.


"Kak Doni harus pergi," ucapnya dengan berlalu.


"Hubungi Kak Doni! jika kalian membutuhkan sesuatu, apapun! jangan sungkan,"


.


Tak berapa lama mereka tiba di pelataran kantor, Doni keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Farrel yang baru saja turun,


"Aku pinjam mobil, aku harus pergi dulu kesuatu tempat!"


Farrel mengangguk, "Kau mau pergi kemana, biar Mac yang menemanimu."


"Tidak usah, aku tidak akan lama." ucap Doni yang kemudian masuk kedalam mobil dan melaju dari sana.


Doni ingin memastikan sesuatu, selalu ingin memastikan hingga tuntas, dengan mata kepalanya sendiri.


Doni melajukan mobilnya keperusahaan tempat dimana CEO wanita itu bekerja. Siang itu langit terasa menyengat, membuatnya terus mengipas-ngipaskan tangannya, tidak ada satupun botol mineral yang dia temukan di mobil.


Fara, wanita yang disinyalir oleh Doni adalah Tiwi, keluar dari gedung perusahaan bersama dengan asisten wanita yang bersamanya juga tadi.


Mereka masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya, Doni pun menyalakan mesin kendaraan nya dan mengikuti mereka. Namun saat di persimpangan, Doni kehilangan jejak,


"Aaaahkkk ...!!"


Setelah beberapa saat, dengan berat hati, Doni harus kembali ke kantor.


Doni pun kembali dengan kekecewaan, entah kenapa dia terus berharap Fara adalah Tiwi, Tiwi adalah Fara.


Doni kembali mengarah kan kendaraan menuju kantor, namun saat dia hendak berbelok, dia melihat mobil hitam yang tengah menepi dipinggir jalan.


"Itu seperti mobil yang tadi dinaiki oleh Fara." gumamnya dengan ikut menepi.


Doni keluar dari mobil dan langsung mengetuk kaca mobil di kursi belakang.


Tok


Tok


"Bisakah kita bicara sebentar? Ada yang aku tanyakan padamu." ucap Doni saat mengetuk kaca.


Seerrrtt


Kaca mobil berwarna hitam itu turun dengan perlahan, Fara yang duduk dibelakang itu menolehkan kepalanya.


"Ada apa? Apakah yang kau bicarakan itu hal penting?" ucapnya dengan melirik jam tangan.


Deg

__ADS_1


Doni yang melihat Fara dari arah samping itu nyaris tidak mengedipkan matanya, persis sekali dengannya.


Fara mengetuk-ngetuk jam tangannya, "Tikk- tok tik tok cepatlah, aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu selesai melamun."


Doni mengerjapkan mata, "Maaf ... aku hanya teringat seseorang saat melihatmu."


Fara mengangguk-anggukan kepalanya, "Lantas apa ada hubungan nya denganku?"


"Bisakah kita bicara di tempat lain?"


Asisten wanita itu turun dari mobil dan mendorong tubuh Doni hingga ke arah bahu jalan, "Aku sudah bilang padamu, jangan mengganggu bu Fara, apa kau tidak paham dengan bahasa manusia?"


"Tia...!" serunya pada asisten wanita itu.


Dia pun kembali masuk, dan Fara menutup kaca mobilnya kembali. Tak lama kemudian Mobil kembali melaju, meninggalkan Doni begitu saja.


Doni menatap mobil itu, hingga menghilang dari pandangan.


"Sial...!"


.


.


Doni masuk kedalam ruangan kerja Farrel, dan melihat Farrel yang juga tengah menatapnya.


"Kau dari mana saja? Dua jam lebih kau pergi, apa yang kau cari sebenarnya Doni? Aku meneleponmu berkali-kali,"


"Maaf, ponselku mati! Aku tidak sempat mengisi dayanya tadi."


Farrel menggelengkan kepalanya seraya bergumam, "Kau fikir aku bodoh."


Doni mengambil botol air mineral dan meminumnya hingga tandas. Lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja di sofa.


"Aku melihatnya lagi, dia sangat mirip sekali dengannya!"


Farrel memijat keningnya perlahan,


"Kau bodoh!"


Namun Doni tidak menggubris apa yang sudah dikatakan Farrel padanya. Ada secercah harapan untuknya memperbaiki hidupnya, dan tentu saja penyesalannya juga.


"Mau sampai kapan kamu terus begini?"


.


.


Hai -hai, hari senin nih boleh dong minta vote nya. oiya jangan lupa like, komen, rate 5, gift yaa.. jangan di loncat loncat juga, giliran yang kipas tipis rame beeeud😂😂(nackal yaa)


Maaf kalau telat balas komen yaa..

__ADS_1


Makasih ...


__ADS_2