
Doni dan Tia semakin kompak dalam urusan pekerjaan, mereka dapat saling menyesuaikan diri dengan cepat dan tak lagi meninggikan ego masing-masing, hingga beberapa kali Farrel mau pun Fara memuji hasil kerja mereka.
"Nih, gue bilang juga apa? Berhasil kan!" ujar Doni yang menyerahkan berkasnya pada Tia.
"Yes, jadi besok kita sudah bisa pulang!" ucap Tia dengan tangan dikepal ke udara.
Doni mengangguk, "Hari ini perkerjaan kita juga sudah selesai."
"Benarkah?"
Doni mengangguk lagi, tangan nya sibuk membereskan berkas diatas meja, sementara Tia memperhatikannya diam-diam.
"Gue ingin pergi jalan-jalan kalau gitu! Lo mau temenin gue kan?"
"Gue?" Doni menunjuk wajah nya sendiri.
"Huum, memang siapa lagi, disini yang gue kenal kan cuma lo." ucapnya dengan bangkit dari duduk.
"Yuk buruan!"
Doni menghela nafas, namun juga menurutinya, Baiklah anggap ini mengisi liburan tipis-tipis, dia juga ternyata tidak semenyebalkan yang gue fikir. Batin Doni.
Mereka lantas keluar dari kantor, dan berjalan menuju pelataran parkir yang lumayan cukup jauh, sesekali Tia melirik ke arah Doni, memperhatikannya walau hanya dalam diam. Doni bukannya tidak tahu, dengan ekor mata Doni selalu tahu jika Tia selalu memperhatikannya.
Namun Doni memang masih enggan untuk membuka hati pada wanita manapun.
"Biar gue yang bawa mobil!"
Doni melempar kunci mobil,
"Lo pernah kesini?" tanya Tia saat menghentikan laju mobilnya.
"Belum pernah ... lo kan tahu gue waktu study tour sekolah saja tidak pernah ikutan kalau gak sama Farrel."
Tia hanya beroh-ria, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Itu sebabnya lo suka nyemilin bekal makan gue?" Tia mengulum senyum.
Doni menoleh, "Heh ... lo masih inget aja! Heran gue, masih saja di bahas!"
Tia tergelak, "Sorry, gue inget hal itu begitu saja!"
Doni mendengus kasar, "Oke gue traktir lo makan kali ini, sebagai perminta maafan gue yang udah nyemilin bekal makan siang lo dulu!"
"Oke deal." jawab Tia kemudian dengan senyum yang melengkung.
.
.
Mobil berhenti di sebuah jalanan, terdapat banyak angkringan makanan khas kota tersebut, berjajar rapi disepanjang jalan, mereka harus memarkirkan mobil mereka lalu berjalan kaki.
"Wah rame banget," ujar Doni saat mereka mulai memasuki kerumunan orang yang juga tengah menikmati kehidupan yang mulai bergerak naik menjadi malam hari.
"Ini belum seberapa! Lo harus lihat nanti, semakin malam semakin penuh."
__ADS_1
Doni mengangguk, dengan mata yang beredar melihat macam-macam jajanan angkringan.
"Gue mau itu!" tunjuk Tia pada sebuah stand makanan khas yang rasanya manis.
"Apa itu?"
"Ini gudeg, lo harus cobain. Makanan khas kota ini!"
Doni mengangguk, "Oke ... kita coba!"
Mereka pun akhirnya memesan menu makanan yang biasa di sebut nasi kucing, dengan menu yang bisa kita pilih, bisa juga dicampur.
"Ini enak juga ya." ujarnya dengan berkali-kali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Iya kan, recomended banget kan!"
Setelah selesai mereka kembali menyusuri sepanjang jalanan yang dipenuhi banyak penjual macam-macam makanan khasnya. Dan benar saja, semakin larut tapi semakin banyak orang-orang yang datang.
Mereka berjalan berdampingan, membeli camilan, dan makan berdua. Tertawa karena hal yang lucu, sesekali saling menatap yang kemudian saling membuang wajah dengan cepat.
Sesekali Tia mengambil foto menggunakan ponselnya. Doni yang membelakanginya, Doni yang sedang memilih cemilan atau Doni yang hanya dia berdiri.
"Lo ngapain?" tanya Doni saat melihat Tia tersenyum dengan mengotak-ngatik ponselnya.
"Gak ngapa-ngapain." dengan cepat Tia memasukkan kembali ponselnya.
Hingga mereka tiba di ujung jalan, dan harus berjalan kembali. Mereka pun akhirnya menyusuri jalan sebelahnya, dan kembali lagi.
"Lo capek?"
Brukk
Seseorang menabrak tubuh Tia hingga terhuyung, namun Doni menahan tubuhnya dari belakang, dengan memegangi pinggangnya.
"Woi ... jalan pake mata!" seru Tia.
"Maaf Mbak saya tidak sengaja." ujar orang yang menabrak itu pada Tia.
"Lo gak apa-apa kan?"
Tia melepaskan pelukannya pada Doni, "Gue. gak apa-apa." Sungutnya.
"Kita jalan lagi?"
"Huum...."
Mereka pun melanjutkan acara jalan-jalannya.
.
.
Dreet
Dreet
__ADS_1
Ponsel Doni berdering, dia lantas merogoh ponsel miliknya di dalam saku celana.
"Nissa?"
Doni pun mengangkat panggilan dari Nissa.
'Halo Nis? Kenapa?'
'Kak Doni jahat ih, jalan-jalan gak ajak Nissa!'
'Siapa yang jalan-jalan, Kak Doni lagi kerja Nissa."
'Kerja sambil jalan-jalan kan? Nissa Lihat postingan kak Tia Di Enstagram kok, baru saja kak Tia posting foto kalian berdua."
Doni sontak kaget, dia bahkan tidak tahu Tia mengambil foto dirinya. Dia menoleh pada Tia yang tengah membeli camilan, lalu menghembuskan nafasnya.
"Iya kan Kak Doni dan kak Tia memang pacaran, jadi wajar kalau kak Tia posting fotonya kak Doni."
"Kak Doni ..., Nissa tahu kalian pacaran, tapi yang bakal jadi jodoh kak Doni kan Nissa. Jadi kak Doni jangan melakukan hal itu dengannya ya!"
"Hal itu apa Nissa, astaga, udah ah Kak Tia manggil Kak Doni tuh! Kakak Pergi dulu ya."
"Bye Nissa!"
Doni menutup sambungan teleponnya, lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.
"Tia ... lain kali, jangan mengambil foto gue sembarangan, lo harus minta ijin terlebih dahulu."
"Memangnya kenapa? Pacar bocil lo ngambek?" Tia mendengus.
"Bukan, tapi gue gak suka lo seenaknya ngambil-ngambil foto gue."
"Gue pasang foto lo jadi wallpaper ponsel gue juga lo gak ngomong, gak keberatan, terus kenapa sekarang lo keberatan?"
Doni menghela nafas,
"Maksud gue--"
"Lo sebenarnya menghindari Nissa karena ancaman kakak-kakaknya, atau lo yang menghindari perasaan lo sendiri."
"Gue---"
"Kita pulang saja, gue udh gak mood jalan-jalannya." ujar Tia dengan kembali berjalan meninggalkan Doni.
Doni membasuh wajahnya kasar,
Lo sebenarnya menghindari Nissa karena ancaman kakak-kakaknya, atau lo yang menghindari perasaan lo sendiri?
Kata-kata Tia bagai sembilu yang menancap tepat pada hatinya.
"Aaagghkkk ... Gue gak tahu!" gumamnya.
"Ih kak Doni benar-benar jahat! Tidak menjaga perasaan Nissa sebagai jodoh nanti."
Nissa melemparkan ponselnya di atas ranjang.
__ADS_1