Berondong Manisku

Berondong Manisku
Gosip Tetangga 3


__ADS_3

Begitu juga Metta, dengan mulut sedikit menganga lalu ditutupnya dengan tangan, "Astaga, apa maksudnya ini?"


"Kak ini kan....?"


Nissa membekap mulutnya sendiri, sementara Sri menatap Metta dengan sama kaget dengannya. Mereka silih menatap satu sama lain, namun mereka pun tidak menyangka apa yang tengah terjadi.


Para ibu-ibu yang menyadari adanya Metta kini menatapnya, termasuk ibu- ibu yang menggunjingnya tempo hari.


Banyak yang masih tidak percaya, seolah wanita yang ada di video itu bukanlah Metta yang mereka kenal. Hingga video itu berakhir, namun kini layarnya berubah, memperlihatkan latar suatu kota nun jauh disana.


Paris


Dada Metta kini berdetak lebih cepat, membayangkan apa yang paling dia takutkan.


El ... jangan melakukan hal yang aneh! Aku mohon....


Tebakannya benar, kini layar itu menampilkan seseorang yang dia rindukan, dengan senyum menawan yang menghiasi wajahnya. Iris mata cokelat itu terpancar jelas oleh cahaya dari jendela disampingnya.


"Selamat sore semua, emmmphh maksud ku pagi, aah pokoknya apapun itu aku ingin berterima kasih atas kedatangannya, sebelumnya perkenalkan saya Farrel Adhinata dan video yang baru saja kalian tonton adalah benar video pertunangan saya dengan seseorang yang mungkin saat ini juga tengah bersama-sama kalian ikut menonton. Hai sayang... jangan kaget ya!" Terlihat Farrel melambaikan tangan dengan terkekeh.


"Aku disini hanya ingin menyampaikan bahwa tunanganku itu bukan simpanan suami orang atau menjadi istri seseorang apapun itu namanya, Dia adalah tunanganku. Dan kami baru saja bertunangan beberapa minggu yang lalu. Maaf jika kalian tidak diundang ke acara kami. Dan karena aku sedang tidak berada di tanah air, aku belum sempat memperkenalkan diri secara langsung pada kalian. Inilah aku, masih muda dan tampan, bukan pria tua seperti yang beredar diantara kalian. Benarkan sayang!" Farrel menarik bibirnya tipis yang dipastikan membuat hati wanita yang melihatnya luluh lantah.


Sesaat kemudian wajahnya berubah menjadi datar, dengan tangan yang mengetuk-ngetuk meja.


"1×24 jam aku tunggu laporan permintaan maafan kalian, dan orang-orangku akan mengawasi kalian."


"Baiklah itu saja mungkin dariku ... Jangan lupa ambil hadiah yang aku berikan sebagai suvenir pertunangan kami. Terima kasih."


Sesaat kemudian layar itu memperlihatkan foto candid mereka berdua setelah acara pertunangan selesai, sementara Metta sendiri tidak mengetahui kapan foto itu diambil. Lalu proyektor pun berakhir.


Semburat merah merona mewarnai wajah Metta, serta kekesalan yang membuncah, berbeda dengan Nissa yang memang sebelumnya mengetahui secara langsung kakaknya tengah jadi gunjingan tertawa puas melihat mereka yang tertunduk malu. Menatap dengan takut-takut kearah keluarganya terutama Metta.


"Syukurin, makan tuh gosip murahan! bang Farrel emang Teope begete." Nissa berkacak pinggang dengan jari jempol yang mencuil hidungnya sendiri.


Semua yang hadir benar- benar diberikan hadiah oleh Farrel, Mac benar-benar menyiapkan nya dengan sempurna.


"Sekarang siapa yang tidak tahu malu, kemarin bergunjing hari ini dengan tidak tahu malunya menjinjing hadiah!" Nissa terlihat kesal.


Metta menatap adik bungsunya. "Nissa... diem!"


"Biar saja kak, biar tahu rasa mereka itu." sela Andra yang ikut menimpali.

__ADS_1


Nissa mengangguk, "Ini baru abangku!" menepuk bahu Andra.


Astaga, Farrel bener-bener kelewatan! Dia membuat aku malu banget....


Tak lama ponselnya berdering, Metta merogoh ponsel itu dari celananya.


"Apa... sudah main-mainnya?"


"Salam dulu baru marah-marah!" Farrel terkekeh, membuat Metta mendesis.


Metta langsung mengakhiri sambungan teleponnya, dia berbalik kembali pulang kerumah dengan tersungut-sungut.


"Sialan, menyebalkan, selalu berbuat seenaknya, sekarang malah membuat aku malu! Apa kata mereka, nanti aku dikira mengadu padanya. Mac, pasti Mac yang sudah melapor, kalau bisa aku ingin memecatnya sekarang juga." gumamnya sambil berjalan.


Metta tiba dirumah, dengan kesal dia masuk kedalam rumahnya, langsung menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya,


"Tenang Sha, bukankah kamu sudah tahu tunanganmu itu sering melakukan hal konyol?" gumamnya menatap cermin.


Tak lama kemudian ibu dan kedua adiknya sampai kerumah, Metta yang baru keluar dari kamar mandi langsung mendudukkan dirinya di sofa, menenggak segelas air yang telah dituangkan oleh Andra.


Andra mendecih. "Hei, ambil sendiri kak...."


"Ibu lihat yang dia lakukan? astaga aku tidak percaya bu...dia sampai melakukan hal seperti itu!" Metta memijit pelan pelipisnya berbicara dengan Sri.


"Kamu malah mendukungnya Nis...."


"Aku juga dukung bang Farrel, kakak juga harus nya senang, pria memang akan selalu sigap untuk melindungi orang yang dia sayangi," Andra menepuk dadanya dengan bangga.


"Kalian ini adikku apa adiknya sih? kalian lihat sebentar lagi rumah kita akan ramai oleh orang- orang,"


"Bukannya bagus, aku akan mengamankan tissu dirumah ini!" Andra terkekeh disusul oleh Nissa juga, lalu mereka menepukkan satu tangan mereka.


Beberapa saat kemudian Mac datang, dengan wajah datarnya mengetuk pintu. Metta membukanya dengan mendelikkan bola mata kearah nya.


"Mbak ...." sapanya, lalu menyuruh 2 pria berseragam dibelakangnya untuk masuk kedalam, menyiapkan kamera yang akan digunakan untuk merekam orang-orang yang akan datang meminta maaf.


"Mac, sudah lah! Masalah ini tidak usah lagi diperbesar." Mac hanya diam.


"Mac ... Apa kau tuli? sentak Metta.


"Maaf Mbak, segala sesuatu yang berkaitan dengan mbak dan keluarga mbak, sekecil apapun akan menjadi masalah besar bagi Mas Farrel." jawabnya menohok.

__ADS_1


Aku jadi ingin tahu berapa Farrel memberi mu gaji, sampai sebegitu setianya, Batin Metta.


Benar saja, orang berdatangan untuk meminta maaf, membuat Metta merasa bersalah. Diantara mereka bahkan ada yang menangis, entah menangis tulus ataupun tidak, dan sungguh Metta yang masih kesal terhadap Farrel itu tidaklah peduli.


"Iya... aku maafkan!" Satu jawaban untuk semua orang.


Sementara Farrel terbahak-bahak, menyaksikan video yang dikirim oleh Mac, orang-orang yang hampir semua terlihat melongo tak percaya,


"Siapa suruh berani mengusik pacarnya aku, eh bukan, dia My lady." ucapnya lalu memasukkan puzzle terakhir untuk miniatur gedung pencakar langitnya.


"Binggo...."


Dreet


Dreet


Farrel menatap layar ponsel yang kini berdering.


Nama Alan terlihat diatasnya, Farrel berseringai.


"Yang benar saja, kau menyuruh mereka melakukannya?"


"Seperti yang kau tahu,"Farrel terkekeh.


Alan berdecih "Cih, kalau saja dekat aku ingin sekali menghajarmu!"


Farrel mendecak, "Urus saja urusanmu, dan kau awasi pekerjaanku disana!


"Hey, seenaknya saja kau bicara! Pekerjaanmu kali ini membuatku kesulitan," Ketus Alan.


"Aku tidak mau tahu, jangka waktu 3 bulan harus selesai!"


"Kau gila, mana mungkin...."Bentak Alan.


"Atur saja, kau kan seorang Alan!?"


"Aku memang Alan, dan pekerjaan itu bukan bidangku bodoh!" cibir Alan, dan seketika terdengar tawa dari keduanya.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yang banyak yaa.


__ADS_2