Berondong Manisku

Berondong Manisku
Rapuh ( Jangan pergi)


__ADS_3

Kakak..." masih tidak ada jawaban.


Farrel mendekati Metta yang tengah bergelung didalam ranjangnya. Terbelalak kaget dan mengguncang guncangkan tubuh Metta.


" Kakak.."


Farrel bahkan menempelkan jari telunjuknya tepat di hidung Metta, merasakan hempusan hangat dari nafasnya. Memikirkan hal yang ditakutinya.


Syukurlah...


Farrel menghela nafas, memandang Metta yang terlelap karena lelah menangis. Merapikan anak rambut yang memenuhi dahinya. Entah apa yang terjadi jika dia tidak ada disana pada saat itu. Membayangkan nya saja sudah enggan.


Tak seorangpun tahu sisi lemah kita jika kita tidak pernah memperlihatkannya. Farrel merasakan betapa rapuh sebenarnya diri Metta.


Dalam lelapnya pun masih terdengar isak yang menyayat hatinya.


Farrel terduduk di sofa yang berada di sudut kamar tersebut, masih dengan memandang Metta yang masih bergelung dibawah selimut.


Hingga rasa kantuk pun menyerangnya.


Metta mengerang, dahinya dipenuhi oleh keringat dingin, tubuhnya bergetar, bahkan gumaman gumaman tak jelas terdengar dari bibirnya yang mungil. Serangkaian kejadian beberapa part sebelumnya terbayang jelas di ingatan nya.


Tangan itu..Tangan yang menyentuh bagian bagian tubuhnya dengan paksa. Metta menangis dalam lelapnya. Tak pernah dia merasa terhina seperti ini, menjijikan.


Tiba tiba terperanjat bangun dengan peluh membasahi tubuhnya dan seluruh wajahnya. Dadanya bergemuruh dengan hebat. Metta meraup wajah dengan kedua tangan nya, kemudian berjalan lunglai ke arah kamar mandi.


Air mata pun jatuh bersamaan dengan air yang mengalir dari shower yang mengguyur tubuhnya, bahkan tak perduli pakaian nya yang ikut basah kuyup.


............


Sementara ditempat lain


" Cx..kemana perginya tuh bocah " Seru Alan mengotak ngatik ponselnya, entah sudah berapa kali dia menghubungi Farrel namun tetap sama, tidak diangkatnya dan bahkan sekarang nomornya sudah tidak aktif.


Alan segera menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Farrel, dengan menerka nerka apa yang terjadi.


Alan segera keluar dari sana menuju hotel tempat menginap. " Kufikir dia akan senang setelah kubuat perempuan itu berada disini"


Alan mengetuk pintu kamar,


Tok..


tok..


Tak ada jawaban dari dalam, " Cx kemana dia pergi"


" Ambil kuncinya cepat.." titahnya pada anak buah yang pergi bersamanya.


Sesaat kemudian pengawal itu datang dengan kunci cadangan, meskipun harus berdebat terlebih dahulu dengan pihak hotel.


Alan segera menerobos langsung ke dalam kamar yang Farrel tempati, kosong.


Mencari barang Farrel , tak ada satupun yang terlihat.


" Astaga kenapa dia "


Alan meraup wajahnya, berfikir apa yang telah terjadi pada farrel.


.

__ADS_1


.


.


Farrel terbangun dari tidurnya karena isak tangis yang masih terdengar didalam kamar mandi. Cukup lama dia menunggu namun Metta tak kunjung keluar.


" Kak.." Farrel mengetuk pelan pintu kamar mandi.


" Kakak " kali ini dengan suara lebih keras.


Terdengar shower yang di matikan, namun Metta belum juga beranjak dari sana.


" Kak ayo keluar " Farrel mulai mengetuk dengan kencang.


Ceklek..


Pintu terbuka, Metta berdiri dengan tubuh yang basah kuyup.


" Astaga apa yang kakak lakukan" Farrel menggiring Metta keluar dari kamar mandi, mengambil handuk yang ada dilemari hotel.


Menggosok pelan rambut basah Metta. membelitkan tubuhnya dengan handuk lainnya.


" Kakak ganti lah dulu baju kakak, nanti kakak masuk angin " ucap Farrel.


" Nih pake pakaian punya ku dulu "


Farrel memberikan pakaian nya namun


Metta malah mematung, melihat heran pakaian yang disodorkan Farrel.


" Tenang, pakaian ini " Farrel meyakinkan Metta yang masih ragu 9


Metta menurut, dia mengangguk dan mengambil pakaian yang diberikan oleh Farrel. kemudian masuk ke kamar mandi tanpa kata.


" Kakak bahkan menjadi sangat penurut "


Bukankah harus nya senang?


Tidak, Farrel sama sekali tidak senang dengan perubahan Metta, lebih baik dia mendengar makian makian yang biasa dari Metta, wajah angkuhnya ketika sedang bersama, pukulan keras d bahunya ketika dia kesal, nada bicara yang tidak ada lembutnya. Dari pada harus begini, tak ada satu kata yang terdengar dari mulutnya.


Metta keluar dari kamar mandi dengan baju yang dikenakannya. Benar saja tubuh yang kecil memudahkan Metta mengenakan baju Farrel yang juga tidaklah besar itu. Namun setidaknya dapat menutupi tubuhnya sampe paha.


Untung saja kaos itu berwarna hitam, hingga dadanya tak terlihas jelas, karena Metta tidak mengenakan tidak menggunakan pakaian dalam.


" Sudah selesai kak" Farrel mendekat.


" Jangan, jangan mendekat "


" Kenapa ka " Farrel penasaran, dia malah semakin mendekat.


" Apa ada yang salah "


" Ku bilang jangan mendekat, aku...aku tdak memakai " Ucapan nya terbata bata.


Farrel mengernyit, melihat Metta dari ujung rambut hingga ujung kaki. Berfikir apa yang kurang.


" Ah....ituuu.. " Farrel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Baru kali ini dia menyesal menolak tawaran yang diberikan oleh Alan mengenai anak buah yang akan memudahkan Farrel dalam keadaan seperti ini, dia tak mungkin meminta bantuan pada Alan masalah seperti ini, pasti akan berfikir macam macam tentangnya.


" Sudah tidak apa, besok pagi akan kusiapkan "

__ADS_1


" Sudah ayo tak apa, aku tak akan macam macam juga" Farrel menampilkan giginya yang putih berjejer.


Farrel mendudukan Metta didepan meja rias, menyisir rambut hitam ikalnya dengan lembut, lagi lagi tanpa penolakan dan rasa kesal dari Metta.


" Apa kakak sudah merasa lebih baik?" masih menyisiri rambutnya dengan lembut.


" Hem.." ujar Metta mengangguk.


Farrel membaringkan Metta kembali kedalam ranjang, menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal hingga ke lehernya.


" Kakak tidur lah, aku akan keluar dulu sebentar" ucap Farrel.


Seketika Metta mencekal tangan Farrel yang hendak beranjak dari ranjang.


" Jangan..jangan pergi, temani aku disini "


" Aku hanya akan mengambil minum untuk kakak"


Metta menggelengkan kepalanya dan tak melepaskan tangan Farrel.


" Disini aja, aku takut jangan tinggalin aku "


Farrel mengalah, dia kembali terduduk ditepi ranjang, kembali merapikan selimut di tubuh Metta.


" Kakak tidur lah, aku tak akan kemana mana" ucap Farrel dengan belaian dikepala Metta.


Metta mengangguk, dan mulai memejamkan matanya. Sementara Farrel terus membelai kepala Metta hingga benar benar terlelap.


Begitupun dengan Farrel, rasa kantuk pun menyerangnya. Tak sadar Farrel terlelap di tepi ranjang.


Sayup nafas lembut terdengar memenuhi seluruh sudut kamar hotel itu, dua insan manusia tengah menyelami alam mimpi.


Tanpa sadar Farrel naik keatas ranjang, dengan kantuk yang hebat dia memasuki selimut yang sama dengan Metta. Farrel memeluk Metta bak sebuah guling, pun dengan Metta, aroma maskulin menyeruak kedalam penciumannya, menenangkan jiwa yang tengah tersesat di alam bawah sadar. Menyandarkan kepalanya dilengan Farrel, udara malam yang dingin ditambah pendingin ruangan membuat tubuh mereka semakin rapat. Menghasilkan kehangatan dikedua nya.


Setengah sadar metta mengerdipkan mata, dilihatnya wajah Farrel sekarang, dengan hembusan nafas mengenai wajahnya.


" Terima kasih " hanya suara hati yang mengucapkannya, sedangkan bibirnya tersenyum tipis, membenamkan kepalanya lebih dalam lagi hingga terlelap kembali.


.


.


.


.


.


.


🍁🍁🍁


Segini dulu takut kebablasanπŸ˜‚πŸ˜‚..


Jangan lupa like dan komen nya


Semoga pada sukaa πŸ€—


Saran dan kritik yang membangun dipersilahkan.

__ADS_1


__ADS_2