Berondong Manisku

Berondong Manisku
Cinta dan Cita


__ADS_3

"Kau....?"


Farrel terkekeh menatap Metta yang kaget. "Hai ...sayang,"


Metta mengedarkan kepalanya, "Sejak kapan kau berada disini?"


Farrel masih terkekeh, "Baru saja sampai, bukankah kakak ingin ke toilet? ayo ku antar,"


"Iiihh, nyebelin! Nissa ayo sini ...." Teriaknya.


Farrel tergelak, melihat kekasihnya turun menuju toilet dengan tersungut menarik tangan adiknya,


"Kak, pelan-pelan tanganku sakit ini."


Namun Metta yang kesal terus melangkah menarik adiknya dengan paksa. Kehadiran Farrel yang tidak disangkanya membuatnya kesal namun juga senang, pertanyaan kini bertebaran didalam kepalanya.


Sebegitu posesifnya dia hingga mengikuti aku, apa dia memata-matai, untuk apa dia ada disini, darimana dia tahu padahal aku tidak memberitahunya, ah membuatku pusing.


Hingga Metta keluar dari bilik toilet, dia lantas memandangi kaca toilet dan merogoh tissu dan juga lipstik dari dalam tasnya, perlahan dia oleskan tipis di bibirnya.


Astaga, kenapa juga merapikan wajahku, benar-benar gila. Kenapa aku bisa senang dia ada disini.


"Kak Sha kenapa?" selidik Nissa yang melihat kakaknya melamun didepan kaca.


"Gak apa-apa, kamu udah selesai?" Nissa menjawab dengan anggukan.


Mereka keluar dari toilet dan kembali ke tempat duduk mereka, namun melihat ibu dan juga Farrel tidak ada disana,


"Kak, Ibu kemana? kok gak ada."


Hingga suara MC yang menyambut para Sponsor dan juga menjadi penutup turnamen bergema diseluruh Studio. Dan yang lebih mencengangkan Farrel berada dijajaran para Sponsor yang telah disebutkan oleh Mc, bahkan menjadi Sponsor terbesar dan akan menjadi e-commerce partner bagi Tim yang telah memenangkan turnamen tersebut.


Ibu yang berada disamping Andra menitikkan air mata saat MC dan juri mengumumkan tim yang memenangkan turnamen ini adalah tim dimana Andra termasuk didalamnya.


Rasa haru dan bangga dirasakan Metta yang melihat dari bangku penonton, riuh tepuk tangan terdengar saat tim yang menang telah naik podium.


"Kak, itu ibu didepan," ujar Nissa menunjuk sang ibu.


Sementara Metta yang menitikkan air mata hanya mengangguk dan memeluk Nissa dengan penuh keharuan.


Hingga acara selesai, namun Andra masih melakukan sesi wawancara juga pemotretan, sedangkan Sri terus berada disampingnya, meskipun Sri ingin turun namun Andra tidak mengijinkan.


Doni melangkah kearah Metta dan juga Nissa yang masih terduduk ditempatnya.


"Selamat ya kak, tim Andra telah menang, dan akan direkrut langsung menjadi atlet," ucap Doni menyalami Metta.


"Makasih ya Don, berkat kamu juga yang melatih Andra!" Metta hendak menyambut tangan Doni yang sudah terulur kearahnya.


Namun tiba-tiba Farrel yang menyalaminya duluan, "Terima kasih ya Don, sudah bekerja keras!" ucapnya merekatkan tangannya pada Doni.


Doni memutar malas matanya dan melepaskan tangannya, " Baru juga mau salaman, udah nyamber aja!" gumam Doni.

__ADS_1


"Jangan sembarangan menyentuh milik orang lain." bisik Farrel padanya.


Metta memukul bahu Farrel, " Memangnya aku guci di rumahmu?"


Doni menatap jengah kearah mereka, lalu beralih menatap Nissa yang tengah menatap podium dimana semua juri dan panitia berkumpul,


"Hai adik manis...." ujarnya dengan melambaikan tangan.


Metta dan Farrel serempak berseru. "Jangan sembarangan memanggil!!"


Doni terkekeh, "Kalian sama-sama posesif!"


"Nanti bakal ngerasain sendiri!" delik Farrel kearahnya.


"Ayo sayang kita tunggu disana,"


Farrel meraih tangan Metta untuk mengikutinya, sementara Metta ikut menarik Nissa, meninggalkan Doni yang menggelengkan kepalanya lalu kembali bergabung dengan bersama juri yang lain.


Mereka menunggu diruangan Staff, dan lagi-lagi Metta tercengang, Farrel mempunyai akses untuk masuk kemanapun dia mau.


"Terima kasih ya," ucap Metta mendudukan bokongnya dikursi.


"Untuk apa hem ...?" Farrel merapikan anak rambut Metta yang menutupi dahinya.


Metta menatap pria kecilnya dengan sendu, "Untuk semua bantuannya, juga membantu Andra,"


"Bukan aku yang membantunya, Andra memang mempunyai potensi yang bagus, jadi dia memang layak mendapatkannya, dan kakak tahu? Semua Tim yang menang hari ini akan dikirim ke negara M untuk mengikuti pelatihan kembali,"


"Benarkah?" Kedua matanya terlihat berbinar, namun ada sedikit kecemasan juga disana.


Farrel meraih tangan Metta, "Kakak tenang saja, Andra akan baik-baik saja dan aku akan ikut membantu mengawasinya jika kakak ijinkan," lalu Farrel mengecup tangan Metta dengan lembut.


"Tapi kalau kakak tidak mengijinkan aku membantu, aku hanya akan membantunya sebagai Sponsor saja,"


Manik hitam yang lentik dengan bulu mata itu mulai memanas, "Terima kasih El,"


"Jangan terus berterima kasih, tapi kasih aku hadiah," menunjuk pipinya sendiri.


Metta menepuk pipi yang ditunjuk Farrel, "Iiih, kamu tuh!" sementara Farrel terkikik.


"Lalu kamu menjadi Sponsornya sebelum turnamen ini?"


Farrel menggelengkan kepalanya, "Aku sudah menjadi Sponsor tahunan dalam ajang esport ini, dan ini tahun ke 4,"


Metta terbelalak tak percaya, " Benarkah, berarti waktu umurmu berapa saat itu?"


Farrel mendecak, "Jangan membahas umur sayang! Tidak ada bedanya tua maupun muda bagiku, semua bisa melakukannya!" Metta mengangguk.


"Apa ini cita-citamu?" Farrel menggeleng.


"Lalu apa cita-citamu? Menjadi seorang pebisnis?" Farrel menggeleng lagi, dia bangkit dan melihat kaca yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit.

__ADS_1


Farrel menghela nafasnya berat, "Aku ingin membuat gedung pencakar langitku sendiri!"


Metta melangkah mendekatinya, "Kenapa tidak kau lakukan?"


"Aku sedang cuti! Dalam waktu dekat ini aku belum bisa mengatur waktuku," Metta mengangguk.


"Kau terlalu sibuk mengurus kantor, benarkan?" selidik Metta.


Farrel mengangguk, "Aku memang harus melakukannya, membuat mereka melihatku sebagai Farrel, bukan Adhinata."


Metta mengangguk-anggukan kepalanya lagi, baru hari ini mereka membahas hal yang serius diluar kantor.


"Apa kakak sekarang bangga padaku?" tanyanya kemudian.


"Hm... bangga tidak yaa?" Jari telunjuknya dia tusuk-tusukkan seolah tengah berfikir.


"Hais... sayang! Jangan mencoba memancingku...."


Metta kembali mendelik dan meraup wajah kekasihnya itu.


"Kondisikan wajahmu! Kau ini kebiasaan, kita sedang membicarakan hal serius, selalu saja bercanda!"


"Tidak ada yang aku kerjakan dengan tidak serius, semuanya, bahkan dengan kakak sekalipun!"


Sesuatu menghangat kembali menjalari hatinya, kembali mengucapkan satu persatu keraguan dalam dirinya.


"Bahkan jika aku hanya punya pilihan antara kakak atau gedung itu, aku akan tetap memilih kakak!"


Metta menarik satu alisnya keatas, "Kenapa? bukankah itu cita-citamu?"


Farrel menggeleng. "Karena aku mampu membuat gedung seperti itu bahkan lebih bagus, jika kakak berada disampingku, dan menemani perjalananku."


Metta menarik bibirnya melengkung, "Mari kita buat gedung pencakar langitmu!"


Farrel tergelak, "Akan aku buktikan, kakak cukup lihat dan rasakan!" mengapit tubuh Metta.


"Aku akan membuat gedung F&M Corps, sebesar ini," Farrel merentangkan tangannya.


"Pfftt apa F&M Corps?"


"Farrel dan Mettasha Corps ka--kak," jelas Farrel.


Metta tergelak, "Kenapa gak Farrel dan Mettasha sekeluarga beserta anak cucu! Aneh sekali,"


Farrel menyipitkan matanya, "Kakak makin menjadi ya sekarang!" menarik tubuh Metta, dan memeluknya.


"El lepas, itu Nissa dibelakang,"


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen nya yaa,


Terima kasih buat semua dukungannya.


__ADS_2