
Brug..
Metta dan Farrel bertabrakan, Metta terhuyung kebelakang, dan seketika tangan Farrel merengkuh pinggang kecil Metta. Metta yang kaget refleks mengalungkan tangannya keceruk Farrel, hingga mereka berpelukan. kedua manik hitam mereka bertemu. Saling menatap satu sama lain, merasakan desir demi desir di permukaan kulit dan berkumpul di hati yang bergerak semakin cepat.
"Kakak "
" Farrel "
Ucap mereka bersamaan.
" Kenapa ada disini " ucap Metta menarik tangannya dari leher Farrel.
Metta Berjalan mundur menjauhkan diri. Namun bukan nya menjauh, dia malah terhuyung kembali, kakinya yang tak siap menahan beban tubuhnya sendiri. Metta meringis, pergelangan kaki nya terasa sakit.
" Kakak.."
Dengan sigap Farrel merengkuh tubuh mungil Metta.
" Apa kakimu sakit" ucap Farrel dengan menggopoh tubuh kecil Metta.
Metta mengangguk,
" Pertanyaan konyol yang tak seharusnya dipertanyakan, tentu saja sakit" Metta memegang pergelangan kakina yang terkilir.
Tangan Farrel mengulur dengan lembut menyentuh kaki Metta.
" Biar ku lihat" Farrel menuntun Metta untuk duduk undakan anak tangga.
" Tidak usah, ini tidak apa apa" Metta menghempaskan tangan Farrel yang hendak memeriksa pergelangan kakinya.
" Diam lah sebentar kak " Farrel tak menggubris perkataan Metta yang sudah jelas terlihat kesakitan saat melangkahkan kakinya.
" Aku hanya ingin memastikan kakak baik baik saja, dan kedepannya aku tidak akan membiarkan kakak terluka sedikitpun" Ucapnya lembut.
Farrel melepaskan sepatu yang dikenakan Metta, terlihat titik kemerahan dipergelangan kaki dan dipastikan akan membengkak jika dibiarkan, sadar betul jika Farrel sedang berjalan menikmati area perkebunan ketika Metta juga berjalan dengan cepat hingga tidak memperhatikan jalan dan tidak melihat Farrel.
"Maaf yaa kak, aku gak sengaja. aku gak liat kakak" ucap Farrel
Metta meringis, menahan sakit ketika jemari Farrel mulai menyentuh titik yang mulai
terlihat kemerahan itu.
" Pelan pelan "
" Iyaa aku akan lakukan dengan pelan kak" Farrel terkekeh.
sementara Metta mendelikkan manik hitamnya.
" Aaaww...jangan terlalu ditekan"
" Kakak aku bahkan belum mulai"
Dengan lembut Farrel memijat pergelangan kaki Metta yang terkilir itu. Sementara Metta menatap nanar pria muda yang kini tengah berjongjok dihadapannya, lagi lagi perlakuan manis ini membuat hatinya menghangat.
Menatap pria yang bahkan terpaut usia cukup jauh dengan nya. Namun entah kenapa ada hal yang dirasakan berbeda saat sedang bersamanya.
" Kamu memang manis" ucap Metta dalam hati.
" Apa masih sakit?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Metta, dia masih tetap menatap Farrel yang tengah menunduk.
" kak.." panggilnya lagi.
" Hah..apa?"Ucap Metta
" Kakak melamun ?" ujar Farrel menarik sudut bibirnya keatas.
" Tidak" Jawaban Metta menutupi kekagetannya.
Metta menggerakkan kakinya, terasa lebih baik daripada tadi.
" Sudah lebih baik" Ucap Metta.
" Baik lah ayoo aku akan mengantar kakak "
Metta berdiri tertatih, mencari pegangan untuk menahan beban tubuhnya sendiri. melangkahkan kaki yang terasa sulit.
Farrel sadar Metta masih berusaha menahan sakitnya. Dia berjongkok membelakangi Metta.
" Kakak Ayoo naik" ucapnya.
Metta mengernyit, saat Farrel menyuruhnya naek ke punggungnya.
" Ayoo kak aku gendong" ucap Farrel sekali lagi.
" Tidak aku masih kuat berjalan"
" Kakak meremehkan kekuatanku" Farrel mengangkat tangannya, memperlihatkan otot otot ditangannya.
" Bu...bukan begitu"
Namun Metta jelas perempuan yang tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain itu menolaknya. Dia tetap bersikeras untuk berjalan saja meski sulit.
Dan Farrel kerap lupa jika metta adalah perempuan dengan tingkat kedewasaan yang matang, karena jelas tubuh Metta yang ramping dan mungil itu terlihat lebih muda bahkan seperti seusia Farrel.
"Yaa sudah kalau membuatmu rumit, tak usah menggendongku.. gendong gendong!!.. sudah jangan mempersulit dirimu sendiri." tukas Metta angkuh sambil melangkah walau masih terasa sakit.
" kau pikir aku akan meleleh begitu saja, seperti anak ABG saja" ucapnya dalam hati.
" Kakak memang keras kepala" ucap Farrel menyusul langkah Metta.
Dan bukannya kesal, Farrel malah semakin kagum pada sosok Metta, perempuan yang kuat, perempuan yang tidak mudah luluh begitu saja dengan sikap manis seseorang terhadapnya.
Setelah beberapa lama Metta berjalan dengan perlahan, dengan langkah tertatih menahan sakit. Egonya terlalu tinggi yang selalu tidak ingin terlihat lemah oleh orang lain.
Grep...
Tanpa menunggu lebih lama Farrel mengangkat tubuh mungil Metta, menggendongnya ala bridal style. Dan membuat Metta terhenyak.
" Aaaakk turunkan aku Farrel " ujar Metta dengan berteriak, bahkan meronta dengan memukul bahu Farrel.
" Sialan turunkan aku.."
" Kakak diamlah, kita bisa jatuh"
" Yaa sudah turunkan aku"
Langkah Farrel terhenti karena berpapasan dengan beberapa karyawan perkebunan yang membawa keranjang besar dipunggungnya, jalan setapak yang dilaluinya tidak akan muat dilalui bersamaan hingga salah satunya harus berhenti, membiarkan satu lainnya lewat terlebih dahulu.
__ADS_1
" Menurutlah sekali saja padaku, apa kakak ingin mereka menganggap pria baik hati ini sedang berbuat jahat padamu"
Metta menenggelamkan wajahnya di bahu Farrel dan mengalungkan tangannya dileher.
" Cx dasar anak muda zaman sekarang" ujar seorang ibu yang berhasil melewatinya.
" gak tau malu"
" Hei jangan melakukan hal hal yang tidak baik disini" sarkas yang lainnya.
Mereka mungkin tidak ikut dalam pertemuan tadi, hingga mereka tidak tau siapa Farrel.
" Cepatlah sedikit " bisiknya tepat ditelinga Farrel. Metta mendengar apa yang dikatakan beberapa karyawan perkebunan yang melewatinya. Mendadak malu karena ada orang yang melihat kearah nya dengan tajam.
Sementara Farel menarik sudut bibirnya keatas melihat apa yang dilakukan Metta, berharap bertemu banyak karyawan lainnya hingga membuat keadaan ini akan menjadi lebih lama.
Farrel dengan sengaja memutar jalan kearah lainnya hanya untuk berlama-lama. Tak perduli lengannya mulai terasa pegal.
Metta mengintip dari bahu Farrel, melihat apa sudah tidak ada orang yang melihatnya. Merasa perjalanan mereka terasa lama.
" Kenapa belum juga sampai? " ujarnya
" Sebentar lagi, bersabarlah kak" ucap Farrel
" Tetaplah begitu, masih ada orang yang melihat kita"
Metta tak menjawab, dia kembali menenggelamkan wajahnya, bersembunyi agar orang lain tidak melihat wajahnya.
Sementara Farrel tersenyum dengan kemenangan karena berhasil mengelabui Metta. padahal tak ada orang sama sekali didepannya.
Setelah beberapa lama, mereka akhirnya sampai dikantor managemen perkebunan.
" Kakak istirahat saja, tidak perlu mengurusi pekerjaan" tukas Farrel.
Metta mengernyit, dia bahkan tidak mengatakan apa apa pada Farrel.
" Kamu tau aku kesini untuk bekerja?"
" Apa kau sengaja mengikutiku"
Farrel terhenyak, tanpa sadar mengatakan hal yang sudah pasti diketahuinya
" Bukan..bukan aku hanya menerka saja"
.........
" Pak Farrel semua orang sudah menunggu, ayoo masuk "
🍁🍁
Dukung aku selalu yaa😘😘, jangan lupa kasih jejaknya, comeng, likenya, vote nya, apalagi hadiahnya😂😂
🤔ngarep wei.. dah ada yang setia baca aja udah syukur..
🐸Hooh dikasih hati minta ampela.
🍁 Yaaela.. hati sama ampela dah sepaket btw.
💕💖lope lope buat yang setia 😚jangan lupa ajak manteman, sodara, suami, pacar, selingkuhan...eeh
__ADS_1
Salam geje😚