
"Aku sedang mengejar seorang wanita yang kabur bersama seorang pria, hahhaha..., bukan kah itu lucu?"
Farrel hanya memasang senyum yang dipaksakan, "Ooh...."
Ternyata banyak sekali orang berbuat nekat seperti itu.
"Haissh, kenapa juga aku ini! Bagaimana kondisi mobil mu?"
"Tidak apa, hanya tergores sedikit."Jawabnya.
"Oh iya, kau belum memakai voucher yang aku berikan? Padahal aku menunggu mu dan juga Metta datang kesana!"
Farrel terkekeh, "Mungkin lain hari, kami sibuk mempersiapkan pernikahan."
"Wow, bergerak cepat juga ternyata ya!"
"Baiklah, aku harus segera pergi, seperti aku kehilangan jejak mereka kali ini, aku akan kembali ke club saja."
"Baiklah kalau begitu sampai jumpa Erik...."
Farrel kembali masuk kedalam mobil nya dan melaju dari sana. Sementara Erik yang kehilangan jejak itu kembali melajukan mobilnya kearah berlawanan.
"Urusan kita belum selesai Tiwi...."
.
.
"Jadi kamu beneran hamil Sya?" lirih Doni
Tasya mengangguk, "Kalian saling kenal?"
"Tidak...."
"Iya...."
Jawaban tidak serupa keluar dari mulut mereka, dan memancing gelak tawa Tasya, "Aduh kalian ini...."
Jackpot sih ini, tugas pertama yang mesti aku lakukan. Tidak perlu dicari, melainkan datang sendiri. Apartemen baru I'm coming. Batin Doni.
"Kita memang tidak saling kenal," ketus Tiwi.
"Iya...Terserah lah, yang pasti aku mengenalmu." sahut Doni.
"Bahkan aku tahu tahi lalat yang ada di pangkal paha mu." ujarnya berbisik pada Tiwi, dengan bola mata mengarah pada pangkal pahanya, hingga Tiwi membulatkan matanya sempurna.
"Perlu aku katakan padanya?"imbuhnya lagi dengan seringaian licik.
"Diam kau tidak usah banyak bicara!" delik Tiwi.
Membuat Doni tergelak, "Atau aku ceritakan saja semua, but the way, aku lebih suka delik mata mu yang tadi."
"Saat memohon...." Ucapnya kemudian.
Pluk
Tiwi memukul wajahnya dengan bantal, membuat Tasya tersentak namun sedetik kemudian tertawa, "Kalian seperti orang yang sedang berkencan?" ujarnya disela gelak tawa.
"Dia tidak penting,"
"Jadi Sya kamu beneran hamil?"
"Bodoh, dia sudah menjawabnya tadi..., bahkan dengan sekali lihat saja kau tahu dia sedang hamil!" sentak Tiwi.
__ADS_1
"Aku kan tidak bertanya padamu, aku bertanya pada Tasya."
"Jadi kalian kesini cuma mau bertengkar, kalau gitu aku tidur saja deh," Tasya bangkit dari kursinya.
"Kalau kalian mau, menginap lah. Nanti aku suruh bibi membereskan kamar tamu." imbuhnya lagi dengan berlalu.
"Gara-gara kau!"
"Lebih baik aku pulang saja, gak enak sama tetangga."
"Cih, gak enak sama tetangga... Lalu yang kau lakukan di jalan tadi apa? Urat malu mu hilang-timbul?" ujar Tiwi yang ikut bangkit,
Doni hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Namun sedetik kemudian menyusul Tiwi dan merangkulkan tangan dibahunya.
"Aku menginap saja disini, bersamamu!" ucapnya dengan kedipan mata.
Sementara Tiwi menghembuskan nafas, lalu tersenyum kecut. "Kau tidur lah disana, aku mau ke kamar Tasya."
"Lalu untuk apa aku menginap?"
Tiwi menatap jengah, "Nanti aku menyusul mu!"
Doni sontak kaget dengan respon cepat dari gadis yang murahan ini. "Hm... aku menunggu mu!"
Doni masuk kedalam kamar tamu, dia merutuki diri nya sendiri bahkan memukul udara, "Dasar bodoh kau ini... Malah akan semakin terjerat, Astaga...."
Sementara Tiwi yang mengetuk pintu kamar Tasya dan masuk kedalam karena pintu setengah terbuka, "Sya...."
Tidak ada jawaban, hanya ada gemericik air di kamar mandi, dan mungkin Tasya berada didalam kamar mandi. Tiwi mendudukkan dirinya di sofa single yang ada disudut ruangan,
Tasya memang beruntung, berada dilingkungan kaum **borjui**s dari kecil dengan segala kemewahan nya, namun juga sama seperti dirinya, kurang kasih sayang. Karena kedua orang tua Tasya sibuk dengan dunia mereka sendiri.
"Setidaknya kamu lebih beruntung, walau kurang kasih sayang, masih bisa menghabiskan uang tanpa berfikir dulu, sementara aku...Hah aku bahkan harus jual diri." gumamnya dengan menghembuskan nafas panjang.
"Astaga kau membuatku kaget!" ujarnya.
Tiwi mendesis," Aku tadi bicara dengan Eric...."
Tasya menoleh, "Untuk apa bicara lagi dengan nya? Kau membuang waktu mu Tiwi...."
"Lalu kau bagaimana? Bukan kah kau seharusnya bilang padanya...?"
"Untuk apa aku bilang padanya, dia tidak akan mengakuinya, bahkan bisa-bisa dia menyuruhku melenyapkannya." ujar Tasya dengan mengusap perut yang mulai membuncit. Meskipun tidak terlalu terlihat.
"Tapi dia harus tahu dan bertanggung jawab Sya! memangnya kamu mau membesarkannya sendirian?"
"Hm...lebih baik aku membesarkannya sendirian!"
"Lalu ibumu, ayahmu... mereka pasti marah besar jika tahu putri kesayangan mereka hamil dan melahirkan tanpa adanya suami yang seharusnya bertanggung jawab."
"Cih...bicara mu seperti bukan dirimu sendiri! Asal kau tahu, mereka tidak akan pulang ke sini selama 2 tahun, dan aku akan mengatakan bahwa anak ini aku adopsi untuk menemaniku. Bukankah itu ide bagus! mereka tidak akan tahu, yang mereka tahu hanya kerja dan kerja saja, selalu sibuk dengan dunianya sampai lupa yang aku butuhkan bukan hanya uang saja." ungkapnya kemudian.
"Ya terserah kau saja, tapi aku sarankan dia harus tahu! Bagaimanapun juga dia ayahnya,"
"Hm...aku fikirkan nanti! Lalu kau sendiri kenapa bisa berkencan dengan Doni?"
"Panjang cerita nya Sya, saking panjangnya aku bingung dari mana mulai." Tiwi terkekeh.
"Kau ini...."
"Padahal yang aku incar itu bosnya dia, malah curut itu yang terus mengganggu ku," pungkas Tiwi lalu merebahkan dirinya di atas kasur.
Tasya yang mengernyit heran hanya bisa menggelengkan kepalanya,
__ADS_1
"Setidaknya kau punya seseorang yang mengejarmu Wi." batinnya melengos,
Karena Tasya merasa gagal jika berkaitan dengan cinta, sosok Farrel yang tidak mudah tergantikan oleh siapa pun, sekalipun dengan Ayah bayi yang dikandungnya sekarang, yaang terjadi karena sebuah kesalahan atau bahkan karma yang harus dia bayar seumur hidupnya.
Tasya menghela nafas, "Aku mencintai seseorang yang sampai detik ini tak bisa aku lupakan, meski aku sudsh berusaha." ikut merebahkan diri nya di ranjang.
"Nasib kita sama Sya, bedanya kau kaya. Aku tidak ... maka dari itu aku mengincar pria-pria kaya yang akan membawaku dari kemiskinan.
"Heh ...kau selalu saja tidak bersyukur!"
"Kau sudah benar-benar bertaubat Sya, bicara mu saja sudah seperti ibu-ibu pengajian!"
Tasya menepuk lengan Tiwi lalu terkekeh. Tiwi mengusap perut Tasya, "Semoga ayahmu yang tidak tahu diri itu segera mengetahui kalau kamu ada yaa,"
"Makasih Aunty, tapi aku tidak membutuhkan ayahku, karena aku punya Mommy juga Aunty." Ucap Tasya dengan menirukan suara anak kecil.
Lalu mereka tergelak bersama. "Mommy sangat muda, lebih muda dari pada aunty."
Sementara sepasang mata memicing di sela pintu kamar dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Mereka membicarakannya panjang lebar, tapi tidak menyebutkan nama ayah bayi yang dikandung, sialan. Masa aku kan terus menempel pada Tiwi untuk mengorek informasi tentang hal itu. Sial- sial. Doni merutuki diri sendiri.
Lalu dia berlalu dari sana untuk kembali masuk ke kamar tamu yang ditunjuk oleh Tiwi, dan merebahkan dirinya di ranjang, menatap langit-langit kamar, lalu memejamkan matanya perlahan.
.
.
Sementara di apartemen Alan.
Kedua mata sipit itu mengerjap seketika, mengingat apa yang dikatakan Farrel,
Apa kau yang membuatnya hamil? Katakan saja....
Lalu dia mencari ponselnya yang entah ada dimana, hingga dia turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi. Memenuhi bathtube dengan air lalu memasukkan diri nya didalam sana.
Dengan menyandarkan kepalanya, Alan memejamkan matanya, fikirannya merambah kemana-mana, kisah cintanya yang rumit bak benang kusut yang seakan tidak bisa diuraikan. Sementara sekarang, masalah baru datang dan menambah benang kusut itu semakin kusut.
Alan menghela nafas, Cinta itu hanya memberiku luka.
Sebagaimana dia mencintai kedua orang tua nya namun mereka harus pergi dengan tragis, sahabat yang dicintainya pula pergi dengan tragis, gadis yang dicintainya pun,
Alan tiba-tiba membuka mata, apa yang kau katakan, "Apa aku mencintai gadis itu?"
"Aaagghhkk...."
Alan memukul air yang telah penuh itu, lalu beranjak dengan cepat dari sana. Mengingatnya saja membuat aku marah.
Alan keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya. Berjalan menuju lemari baju dan memakai baju santai. Lalu keluar dari kamarnya dan menuruni tangga, namun dia dikejutkan dengan kehadiran Farrel yang baru saja masuk.
"Hei ... kenapa kau kembali kesini, ini sudah tengah malam, dasar anak nakal!
"Aku tidak bisa tidur sendirian di apartemen, tadinya aku mau pulang, tapi aku urungkan kan malah kembali kesini."
"Sialan, harus nya kau tidak usah pulang tadi. Bagaimana jika ada sesuatu terjadi dijalan. Mac mana? Kau menyuruhnya pulang lagi...." Farrel mengangguk.
"Bodoh, aku mengurusnya untuk menjagamu!"
"Kekhawatiran kau ini sudah melebihi bunda, aku ini baik-baik saja. Bahkan sebentar lagi akan menikah,"
Alan menatap jengah, "Sombong sekali, terus saja mengatakan hal itu."
Farrel terkekeh, "Aku memang sudah tidak sabar ...kalau bisa besok pun aku lakukan,"
__ADS_1
Alan membuang wajah, lalu meninggalkan Farrel dan kembali ke kamarnya, "Lebih baik aku tidur...."