
"Hai...."
"Ricko...?
"Eric?
Metta menatap Farrel yang memanggil Ricko dengan panggilan Eric, begitupun sebaliknya. Namun sosok yang mereka bingung kan namanya hanya terkekeh melihat kedua pasangan itu terlihat kebingungan.
"Ya...Aku Federicko Fernandez, ah aku benci nama itu! Orang-orang selalu bilang aku bule nyasar, aku lebih suka orang memanggilku Ricko atau Eric," kelakar nya.
"Ayo duduk, kalian gak pegel apa?"Imbuhnya lagi.
Kedua orang yang dilanda kebingungan kemudian tersadar, Farrel menarik kursi untuk Metta duduki, " Makasih...."
"Pantesan ...." gumam Farrel dengan anggukan kepala saat Metta telah duduk, dia pun menarik kursi dia duduki.
"Sorry tapi gak tahu nama lengkapmu, yang aku tahu hanya Eric saja." ungkap Metta yang menggeser kursinya yang terasa tidak nyaman.
"Iyalah...Dulu kan kamu sibuk pacaran sama Faiz ...upps sorry Sha," ucapnya sambil terkekeh.
Metta melirik Farrel yang hanya tersenyum, Lalu mengangguk kearah Metta seolah memberi jawaban, 'Gak apa-apa, santai aja'
"Jadi Pak Eric ini satu almamater juga sama kakak dan Faiz?"
"Hmm... begitulah!Kita satu angkatan, meskipun Faiz lebih tua dari kita karena dia sempat berhenti dulu setahun, kan Sha?" tanyanya memastikan.
Metta hanya mengangguk, sungguh dia merasa tak nyaman membicarakan Faiz sedangkan Farrel ada disampingnya. Sementara Farrel terlihat datar saja, bahkan ikut berkelakar namun dengan tangan yang dilingkarkan disandaran kursi yang diduduki Metta.
"Jadi gak nih meeting nya?" Metta mulai mengakhiri percakapan basa-basi diantara mereka.
"Santai aja Sha, kita ngopi-ngopi dulu. Perasaan aku udah lama sih gak main kesini!"
"Gimana kondisi Faiz sekarang?" tanya Farrel tanpa sengaja.
"EL...." gumam Metta dengan menatap Farrel.
Ih kenapa sih harus ditanyain segala. batin Metta.
"Baik...semakin baik! Dokter rekomendasi dari mu benar-bener bagus. Apalagi setelah kasusnya kamu cabut, dia bisa konsentrasi pada penyakitnya."
Apa...Tunggu?Rekomendasi... kasus dicabut? Metta menoleh pada Farrel yang mendengarkan Eric bicara.
"Saat ini dia tengah pemulihan, memang harus bertahap, dan mungkin akan lama juga, tapi terakhir bertemu dia sudah lebih baik."
"Syukurlah!"
__ADS_1
Hingga waiters datang menanyakan menu apa yang akan mereka pesan.
"Aku Cold brew( kopi hitam yang disajikan dingin)" ucap Eric.
"Matcha latte dan hot choclate," ucap Farrel.
"Makasih El..." Metta mengusap lengan Farrel karena lebih dulu memesan minuman kesukaannya, Farrel mengangguk.
"Jadi kalian kapan nih marriage?"
"Secepatnya, Iya kan sayang?" Farrel menggenggam tangan Metta yang sekarang malah merasa kikuk, dan hanya mengangguk kecil.
Pembicaraan pun mulai merambah kemana-mana, candaan juga kelakar Eric yang membuat Farrel tertawa, namun tetap saja Metta merasa tidak nyaman. Semua yang berkaitan dengan Faiz dan masa lalu.
"Bagaimana kalau kita mulai langsung membicarakan meeting saja?" ucap Farrel yang melihat Metta hanya diam walau pun ikut bicara hanya,
Oh iya?
Masa
Ooh
"Baiklah, sepertinya juga aku kebanyakan bicara hal tidak penting, ayo kita mulai dari mana?" menggosokkan kedua telapak tangannya.
Farrel menarik bibirnya saat melihat Metta tersenyum sambil membuka file yang sudah disiapkan, dan mereka hanyut dalam perbincangan tentang misi, visi, dan juga rincian lainnya.
"Bagaimana? deal...?"
"Tentu saja setelah kami mendapat persetujuan manager kami, nanti kami akan menghubungimu lagi,"
"Astaga, kenapa tidak kau minta persetujuan CEO termuda ini," kelakar Eric menunjuk Farrel dengan matanya.
Farrel terkekeh,"Biar itu jadi tanggung jawab manager dimana kerja sama ini mendarat, aku disini hanya menemani gadisku saja, iya kan sayang."
Ucapan nya membuat Metta menjadi seperti kepiting rebus, sementara Eric terbahak serta mengangguk-anggukan kepalanya.
Pantas saja Faiz dulu tidak bisa lagi membuat Metta kembali padanya, bocah ini mencintainya sedalam ini, aku bisa lihat cara dia memperlakukannya dengan sangat baik, dan kamu memang pantas mendapatkannya Sha. Berbahagialah. Batin Eric.
"Wah...kalian bikin aku mengiri saja! nasib seorang jomblo, hanya bisa gigit jari * melihat kalian ini,"
"Sebagai hadiah nya aku beri voucher VVIP." ucap Eric dengan mengeluarkan dua lembar voucher dari balik jasnya. "Mohon diterima, dan sampai ketemu disana oke,"
Eric meletakkan Voucher itu diatas meja, setelah itu Eric pamit dan meninggalkan mereka berdua.
"Voucher apa itu?" tanya Metta penasaran saat Farrel mengamatinya.
__ADS_1
"Voucher masuk dan free drink 100 % di Bar miliknya," ucap Farrel tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bar...? Club gitu....?"
"Hmm... kakak pernah kesana?"
"Mana mungkin, masuk club aja belum kecuali saat dulu di... lupakan! Aku tidak ingin mengingatnya."
Namun Farrel terlihat menyunggingkan bibirnya karena mengingat kejadian bodoh saat dia membawa Metta ke hotel dan teringat mimpi bodoh itu.
"Kakak, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi"
Dengan gairah yang membuncah Farrel semakin mendekat, tangannya meraih leher jenjang Metta hingga dengan mudah langsung memajukan wajahnya menyambar bibir mungil milik Metta, sementara tangan satunya memegang erat pinggang Metta.
Ciuman yang awalnya hanya sekilas berubah menjadi semakin bergairah, mereka bertukar saliva. Dengan nafas berderu keduanya, lenguhan demi lenguhan terdengar, Farrel mendorong mundur pelan tubuh Metta hingga ke tembok, semakin lama ciuman itu semakin lembut, tangan Farrel mulai menyusuri leher dan turun ke bawah, Metta semakin melenguh.
" Aaaahh..." Erangan itu lolos begitu saja dari mulut Metta, perasaan yang begitu dirindukannya. Metta mencengkram kuat baju Farrel, saat tangan Farrel menyusup di balik jubah mandi nya, hingga mendesir hebat, bulu bulu halus dipermukaan kulit seketika meremang, tak disadari Metta sangat menginginkannya pula. Farrel bermain dengan
dua benda kenyal yang membuat Metta semakin mengerang, tanpa melepaskan tautan pertukaran saliva mereka.
Erangan demi erangan keluar begitu saja dari bibir mereka, kian lama kian membuncah. Nafas terengah engah dari keduanya memenuhi ruangan. Tak cukup sampai disitu Farrel membalikkan tubuh Metta hingga menghadap belakang, dengan tangan bertumpuk menempel di tembok.
Bibir Farrel menyusuri leher belakang, kemudian turun menyusuri licinnya kulit punggung Metta. Sementara tangannya masih betah bergerilya di depan kedua benda bulat milik Metta.
Dalam satu hentakan Farrel mengangkat tubuh Metta yang terbungkus jubah mandi yang sudah tak karuan itu. Mendaratkan tubuh setengah polos nya ke dalam ranjang dengan lembut bak barang antik mudah pecah.
" Apa kakak yakin melakukan nya denganku"
" Hentikan aku sekarang, atau tuntaskan sampai selesai, karena aku tak akan berhenti setelah ini " Farrel berseringai.
" Aaahh....Farrel " de sahnya saat Farrel menyusuri tubuhnya.
" Lakukan sekarang, kau sungguh menyiksa ku"
Farrel bergidik saat mengingatnya, Lalu tersenyum menatap Metta yang tengah membereskan berkas yang tercecer diatas meja.
Sebentar lagi Farrel mimpi bodohmu itu akan menjadi kenyataan, bersabarlah...sabar kau akan membuatnya melayang ke angkasa dan letupan-letupan kecil itu berubah, hingga kita akan meledak bersama diatas nirwana. batin Farrel dan terkekeh sendiri.
"Kenapa?"
"Ng--ngga...yuk pulang,"
.
.
__ADS_1
* Ide keren yang aku dapat di kolom komentar, with lope lope aku