
"Kak Doni, awas yaa ingkar janji terus! Pokoknya nanti siang, wajib ...." ucap Nissa dengan penuh penekanan saat Doni baru saja mengangkat teleponnya.
Aduh, bagaimana ini!Hari ini sudah dipastikan aku akan sibuk dikantor, mana sempat melakukan hal itu.
"Nanti kak Doni lihat jadwal dulu yaa, kalau kak Doni tidak sempat, bagaimana kalau kita mengganti hari lain saja?" ujar Doni.
"Ahk... kak Doni payah!"
Tut
Nissa menutup sambungan teleponnya sepihak. Membuat Doni terkejut.
"Bukankah aku bilang kau terlalu gegabah dalam bertindak!" ujar Mac setelah Doni menutup sambungan ponselnya.
"Tidak perlu kau fikirkan, dia hanya anak kecil. Sebentar lagi juga lupa," Gumam Doni dengan menggerakkan bahunya naik turun.
"Cih, memang kau sendiri?"
Sementara Farrel dan Metta yang berjalan didepan mereka, saling menggenggam, dengan Farrel yang terus melempar senyum padanya.
"Apa...?" Tanya Metta.
Farrel menggelengkan kepala, "Enggak...."
Keduanya berjalan menuju lift khusus, diikuti oleh Mac serta Doni yang terlihat mengkerut.
Ting
Pintu lift terbuka, Farrel dan Metta masuk kedalamnya Mac menekan tombol dan Doni yang juga masuk.
"Don, apa jadwal ku hari ini?"
Doni memeriksa ipad, "Hari ini ada meeting bersama beberapa klien di luar, terus ada undangan makan siang, oh iya 3 meeting yang sudah tidak bisa di reschedul lagi."
"Wah, hari ini kamu akan sibuk sekali," Ucap Metta yang melingkarkan tangannya pada lengan Farrel.
Dia menghembuskan nafas panjang, "Hmm ... kakak tidak apa-apa, kalau menunggu lama? atau nanti Mac antar kakak pulang yaa."
"Aku kan mau bertemu Dinda," rungut Metta.
"Baiklah, tapi nanti kembali ke ruanganku yaa."
Metta mengangguk kecil, dengan bibir yang mengerucut, "Iya bawel...."
Ting
Pintu lift terbuka, mereka keluar dan langsung menuju ruangan Farrel, beberapa orang yang melintas didepannya menganggukkan kepalanya dengan berbagai sapaan pada Farrel maupun Metta.
Namun Farrel hanya membalasnya dengan anggukan saja. Sementara Metta acap kali menundukkan kepalanya namun juga tersenyum tipis.
"Jangan terlalu ramah, apalagi pada karyawan pria!" gumam Farrel.
"Astaga... aku hanya senyum!"
Farrel menjumput hidung mancung istrinya, "Tetap saja, senyuman kakak mengandung banyak gula! Akan membuat mereka salah paham."
Metta mendesis, "El udah deh!? Gula- gula apa coba!"
"Dasar pengantin baru." Desis Doni
__ADS_1
Mac membuka pintu ruangan milik Farrel, lalu mereka masuk kedalam,
"Pokoknya Mac nanti akan menemani kakak kemanapun pergi,"
"Sayang, kenapa begitu! Aku hanya pergi menemui Dinda, dia disini juga kan? Kenapa ditemenin Mac segala, dia kan pasti juga akan sibuk!" sungut Dinda.
"Tidak apa-apa! Kebetulan saya harus menemui Alan." ujar Mac dari arah belakang.
Metta mendelik kearah Mac, "Kau sama saja dengannya!"
Sementara, Doni menutup mulut menahan tawa.
"Kau jangan tertawa!?" Sentaknya pada Doni.
"Nah dengar kan? Jadi aku tidak khawatir." ujar Farrel mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Terserah lah...." gumam Metta kesal.
Setelah semua berkas dipersiapkan, Farrel kembali bangkit dari duduknya, serta Doni yang siap dengan berkas di tangannya.
"Sayang, aku pergi dulu yaa," Ucap Farrel dengan melingkarkan tangannya dipinggang.
Metta mengangguk dengan sedikit menaikkan bahu. "Udah sana, nanti terlambat!"
"Cium dulu, biar meeting nya lancar, agar aku bisa cepat kembali." merengkuh bahu Metta.
"Ya tuhan, haruskah setiap saat aku melihat hal ini?" gumam Doni dengan menggelengkan kepalanya.
Mac menunduk lalu berbalik kearah pintu, "Doni aku tunggu di luar!"
"Hih ...Aku juga duluan!" ujarnya menyusul Mac.
"Mana mungkin aku tahan melihat mereka berdua yang pamer kemesraan!" imbuhnya dengan menutup pintu.
"Itu karena kakak tidak langsung menciumku, jadinya malah semakin lama kan," Farrel terkekeh.
"Sudah tidak usah dihiraukan!" ujarnya dengan mengecup pipi Metta berulang kali.
Akhirnya sepasang suami istri itu berpisah di koridor, Metta berjalan dengan Mac ke arah ruangan Alan, sementara Farrel dan Doni berbelok menuju ruangan Meeting.
Setelah berjalan melewati lorong panjang, mereka berbelok hingga akhirnya sampai di ruangan Alan, yang didepannya terdapat ruang kerja khusus sekretaris nya. Metta menghampiri meja kerja milik Dinda, papan bertuliskan secretaris terpasang jelas di sana, namun sosok Dinda tidak terlihat batang hidungnya, entah kemana dia saat jam kerja berlangsung.
"Lho si Sardin kemana?" Ujarnya dengan merogoh ponsel dari dalam tasnya.
"Barangkali sedang berada di dalam?" celetuk Mac dari arah belakang.
Metta menoleh pada Mac, "Benar juga, Mac kau bisa kan melihatnya kedalam?"
Mac mengangguk, lalu mengetuk pintu ruangan Alan, namun tidak ada jawaban dari dalam.
Metta mendial nomor kontak sahabatnya itu tapi tidak ada nada tersambung. "Nomornya juga tidak aktif."
"Bagaimana kalau menunggu saja di dalam ruangan Mas Farrel, jika teman anda sudah kembali, aku akan menyuruhnya kesana." ucap Mac kemudian.
"Baik Mac kalau begitu, maaf sudah merepotkan."
Metta kembali berjalan ke ruangan suaminya, sementara Mac mendial nomor Alan, namun tidak juga di angkatnya. Hingga dia menunggu Alan di kursi yang terdapat di depan ruangannya.
Metta sengaja berjalan memutar, melewati jembatan penghubung antara gedung, setelah hampir 3 minggu mengambil cuti. Akhirnya dia bisa menginjakkan kaki nya lagi di kantornya.
__ADS_1
Cuti perpanjang yang pernah di ambil nya selama 5 tahun bekerja, suasana kantor yang tidak pernah membuatnya bosan, Mettapun berjalan menuju kantor divisi umum, ingin menyapa rekan-rekannya dsn memberikan souvenir yang sengaja dia beli untuk oleh-oleh.
"Shaun...."
Suara dengan teriakan melengking dari Dinda mengagetkannya. "Astaga, ternyata dia disini."
Dinda berhambur memeluk Metta, begitu juga Metta. "Kapan kembali, kau tidak bilang hari ini masuk kerja! Gimana kabar mu, suamimu? Aku benar-benar merindukkanmu Sha. Tahu gitu aku tadi ke divisi,"
"Banyak banget pertanyaanmu, yang mana dulu yang harus aku jawab,"
Keduanya terkekeh, lalu mereka berjalan dengan saling melingkarkan tangan, "Kenapa kau ada disini? Bukankah seharusnya kau diatas."
Dinda menggelengkan kepalanya, "Aku malas berada disana!"
"Memangnya kenapa?"
Dinda menghela nafas dengan berat, " Entahlah, yang jelas aku malas melihat dia."
Metta mengerdikkan bahunya, "Dasar orang aneh, pasti kamu masih so egois kan?"
"Udah ah gak penting dibahas, gimana honeymoon mu?Apa suamimu menakjubkan?" Dinda menaik turunkan kedua alisnya.
Metta tersipu malu, "Apaan sih..."
Dinda menyenggol lengannya berulang kali, "Cie ... yang udah di unboxing."
Metta membulatkan mata, "Sardin....!!"
Dinda tertawa hingga terpingkal, lalu meringis karena Metta mencubit keras lengannya, "Gak bisa aku bayangin."
"Iihh...dasar bego! Gak usah dibayangin juga."
.
.
Sementara di ruang Meeting
"Heh ... Rel, aku risih lama-lama melihat kalian berdua yang sedang pamer!"
"Aku tidak menyuruhmu melihatnya! Sudah ayo cepat, aku ingin semuanya kelar hari ini!" ujar Farrel dengan semangat.
Sementara Doni berdecak, mereka akhirnya duduk didalam ruangan Meeting, beberapa orang sudah hadir disana, menunggunya.
"Baik kita mulai."
Farrel memulai Meeting nya, dia menjelaskan beberapa kendala beserta solusi yang harus dihadapi perusahan,
Hingga dering ponsel milik Doni mengganggu jalannya meeting.
"Lebih baik kau keluar dan angkat teleponmu!" ujar Farrel kesal.
"Tidak usah, nanti saja!" Doni mematikan ponselnya.
Namun kembali lagi berdering meskipun suaranya tidak menyaring tadi, karena dia mengecilkan volumenya.
Farrel duduk dan mendengarkan beberapa staf yang berbicara, lalu menoleh pada Doni yang sibuk mengotak-ngatik ponselnya.
"kalau itu masalah penting, pergilah kau urus lah dulu!"
__ADS_1
"Tidak, ini tidak terlalu penting, dia hanya merengek. Membuatku pusing saja!" ujar Doni mematikan daya ponselnya, lalu dia masukkan kedalam saku celananya.
"Siapa?"