Berondong Manisku

Berondong Manisku
Let's Fight together


__ADS_3

Sebenarnya apa arti bahagia itu?


Bahagia yang didapat seusai air mata yang telah dikeluarkan.


.


.


Metta benar- benar menginap lagi di Apartemen milik Dinda, dia tidak ingin melibatkan ibu serta adik-adiknya dalam masalah. Bahkan tidak pernah memberitahukan ibunya tentang masalah apapun.


Dan kembali pulang setelah 2 hari. Keyakinannya pada Farrel pun tidak berubah, seiring kerja keras Farrel yang begitu meyakinkannya.


"Aku rasa lebih baik kita berpisah saja."


"Apa kakak akan menyerah semudah ini?"


"Keadaan ini terlalu sulit El,"


"Apa yang lebih sulit, berjuang bersama untuk mendapat restu atau berjuang sendirian mengobati luka kakak dulu!"


Metta terdiam, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya. " Ayo berjuang bersama kak, karena aku gak mungkin bisa bertahan jika kakak saja tidak ada,"


Metta memejamkan matanya, lalu menghela nafasnya pelan. "I miss you..."


Sudut bibir Farrel terangkat begitu saja saat mendengar kekasihnya berkata demikian. "I miss you too, don't want anything else."


"Maafkan sikap Ayah dan Bundaku pada kakak!"


"Aku yang harusnya minta maaf karena tidak sopan pada mereka."


"Kakak hebat, itu yang aku suka dari kakak,"


"Meskipun aku ini hanya mengincar harta keluargamu saja?"


"Hahaha...andai Kakak ada di hadapanku, sudah ku cium habis-habisan,"


"Kamu ini....!" Metta tersipu meski Farrel tidak melihatnya.


"Kak... aku mengenal kakak melebihi siapapun."


"Aku percaya kakak melebihi apapun, jadi ..."


"Jadi...?" Metta mengulang perkataan Farrel.


"Let's Fight Together."Metta mengangguk, seolah Farrel ada di hadapannya.


"Sudah, sekarang Kakak istirahat ya. aku masih harus mengerjakan sesuatu,"


"Mau kemana? kamu bahkan tidak masuk kantor 2 hari ini?"


"Pekerjaan aku lakukan dirumah, kakak tenang saja. aku tidak akan nakal." Farrel terkekeh.


.


.


Farrel memang bekerja lebih keras dari biasanya, dan waktu yang diberikan para pemegang saham semakin sedikit. Dia tidak lagi pulang kerumah Utama, tidak juga lari ke Apartement Alan seperti yang biasa dia lakukan dulu.


Meski Farrel kecewa pada kedua orang tuanya, tapi dia tidak gegabah dalam mengambil keputusan, apalagi sampai menghancurkan semua yang dia lakukan selama ini.


"Heh, Rel ta api ... mau sampai kapan lo bersembunyi seperti ini?"


"Cx ...bisa diem gak! lo juga sama gak ngertinya kayak mereka."

__ADS_1


"Nanti lo bakal nyesel sendiri kalau lo terus seperti ini."


Farrel mengernyit, "Gue gak akan pernah nyesel Don, justru gue menghindari dosa kalau gue terus-terusan berada dirumah,"


"Gue gak perlu berdebat dengan bunda, bertengkar dengan Ayah, seenggaknya gue berusaha untuk tidak jadi anak durhaka buat mereka,"


"Dan gue gak bersembunyi ya, gue tetep ngantor dan kuliah seperti biasanya, dan gue panggil lo kesini bukan buat nyeramahin gue!"


Doni menghempaskan tubuhnya disamping sahabatnya itu." Rel ... Rel... hidup lo udah enak, ngapain lo susah payah segitu kerasnya!"


"Gue ingin berdiri sebagai Farrel, berdiri di kaki gue sendiri, bukan berjalan sebagai Adhinata, nama besar dibelakang gue!"


"Jadi lo gak bersyukur dong?"


"Pertanyaan lo kayak pertanyaan anak Tk yang gak mesti gue jawab!"


"Cih, sok dewasa!"


"Jadi sampai sekarang mereka gak tahu lo tinggal disini?" Doni merentangkan tangannya dibantalan Sofa, "Di Apartement mewah yang lo beli pakai duit lo sendiri."


"Bahkan kakak pun gak tahu gue beli tempat ini!"


"Tapi gue yakin, mereka sudah tau!"


"Iyalah, tuh orang plontos tiap hari pasti laporan sama tuannya." Doni terkekeh dengan mendelik pada Mac yang berdiri di ambang pintu.


Dan Mac membalas tatapan nya dengan tajam.


"Dia yang bantuin gue selama ini."


"Jadi gue enggak?"


"Iya lo juga bantuin gue!" Farrel melempar bantal sofa kearah Doni.


"Gue mau lo ngelatih Andra buat pertandingan Esfortnya."


"Andra...?siapa...?"


"Calon adik ipar gue ..."


"Buset lo segitu ngebetnya udah pengen kawin aja!"


"Nikah Bego...!"


"Ya ... ya sama aja."


"Oke ... kapan aja gue bisa,"


"Satu lagi kerjaan lo," Farrel menyerahkan selembar kertas pada Doni.


"Apa nih? lo gak sedang bercanda kan?" Doni membelalakkan matanya saat melihat isi kertas itu.


"Gue mau lo kerja sama gue, jadi asisten gue! lo mau kan...?"


"Tapi ... Gue gak ngerti bisnis Rel!"


"Lo bisa... Lo nya aja gak ada kemauan." Farrel beranjak dari duduknya, dia berjalan menuju dapur dan membawa minuman.


Doni mengikuti sahabatnya ke dapur, matanya sibuk mengamati setiap barang yang ada disana, "Sialan lo..."


"Jadi lo mau gak?"


"Gue boleh berfikir dulu?" mengambil vas antik yang berada di lemari pajangan. lalu diangkatnya untuk diamati.

__ADS_1


Membuat Mac memperhatikannya dengan seksama,


" Gue gak bakal nyuri ini tempat kembang," gumamnya menatap Mac.


"Lagak lo ... tinggal jawab iya atau tidak!"


Doni berbalik menghadap Farrel "Heh, gue bukan cowok murahan yaa. catet!" Farrel hanya mengherdikkan bahunya.


Mac hanya geleng- geleng kepala, "Apa lo ..." lalu kembali menatap Farrel.


"Apa gue bisa beli Apartemen kayak gini kalau gue kerja bareng lo?"


Farrel kembali duduk," lo bisa beli apapun asal lo kerja keras, lo juga masih bisa ikut Esfort seperti biasanya."


"Oke deh kalau gitu ... gue mau,"


"Oke ... mulai besok lo udah bisa kerja."


"Wah, semudah itu Lo sekarang kasih perintah ya ..."


Melihat kearah Mac yang juga tengah menyorotinya,


"Apa lo botak ..."


.


.


Alan berusaha menghubungi Farrel, dari kemarin anak itu tidak mengangkat telponnya. Hanya laporan Mac yang selalu masuk padanya. Kedua orang tuanya pun kelimpungan mencarinya,


"Semua gara-gara Ayah ..." Ayu mulai berteriak.


"Yang Ayah lakukan hanya memperburuk keadaan!"


"Yah, bunda benar! Pembuktian apa lagi yang ingin ayah ketahui dari El,"


"Ayah bahkan sampai melakukan hal sejauh ini?"


Ayu mengangguk dengan apa yang dikatakan Alan.


Arya menghela nafas, "Ayah hanya ingin yang terbaik untuk perusahaan, sama seperti Bunda yang ingin mencari yang terbaik untuk calon menantu. Bukan begitu bun."


" Iya ... tapi Bunda sudah merasa cukup. Ayah yang terus memaksa Bunda mengikuti rencana Ayah."


"Dan sekarang kalian malah saling menyalahkan?Setelah tau reaksi mereka berdua seperti apa, Ayah dan Bunda kaget ...?"


"Mereka berdua memiliki sifat yang sama," Ayu menyerahkan cangkir teh ke hadapan Arya.


Alan membuka ipadnya, "Waktu yang diberikan para pemilik saham semakin sedikit, jangan sampai El bertindak gegabah."


Arya mengambil cangkir berisi air Teh itu dan menghirupnya. "Itu pekerjaanmu boy."


"Aku pastikan El tidak akan berbuat macam-macam, selama ini dia sudah menunjukan kinerjanya dengan bagus, meskipun..." Alan menjeda ucapannya, "Ayah dan Bunda terus menekannya dan ikut campur masalah pribadinya." ucapnya lagi.


Arya hanya diam, dia melirik Istrinya yang kini juga menatapnya.


"Kita akan lakukan peresmian setelah waktu yang diberikan itu habis." ucap Arya.


.


.


Terima kasih atas semua dukungannya..❤❤

__ADS_1


Dari awal sampe hari ini, besok dan semoga seterusnya karya receh author receh ini bisa menemani dikala senggang, tapi jangan sampai bergadang yaa😊


__ADS_2