
Farrel menimang sejenak, apa yang dikatakan temannya itu ada benarnya. Tugas mereka akan semakin sulit, dan mereka tidak akan punya waktu untuk berleha-leha sedikitpun.
"Bagaimana? gadis berambut merah itu sangat menarik" Tanyanya lagi pada Farrel.
Farrel mengangguk, "Baiklah...."
Melihat kepala Farrel yang terangguk, gadis berambut merah itu menarik tipis bibirnya.
Oke, ini terlalu mudah.
Siapa yang tidak tahu dengan kota paling romantis didunia, kota dengan segala gemerlapnya sepanjang malam, pusat kota yang menjadi destinasi paling dicari oleh pasangan-pasangan dari belahan dunia manapun. Negara eksotis yang tidak ada bandingannya. Dari bangunan mewah bak istana yang memanjakan mata dan juga pelayanan bak raja.
Mereka tiba disebuah klub malam paling terkenal disana, tempat anak muda menghabiskan malam saat waktu senggang atau pelarian dari rutinitas yang padat.
Kedua manik coklat milik Farrel menyapu seluruh ruangan klub yang mulai dipenuhi oleh pasangan-pasangan yang terlihat tengah beradu kemesraan. Juga wanita-wanita yang hilir mudik dengan memakai baju yang kekurangan bahan.
Astaga ....
Batin Farrel berkecamuk, sebagai pria tanggung yang normal tubuhnya bereaksi, urat-urat mulai menegang. Begitu pula dengan temannya yang memakai kaca mata tebal. Tak ayal terlihat pupilnya dua kali lipat melebar jika dilihat dari depan.
"El ... cubit aku! Apa aku tengah berada di surga?" bisiknya di telinga Farrel.
"Damn, this is not heaven but this is hell!!"
[Sialan, ini bukan surga tapi ini neraka.] gumam Farrel kemudian.
"Neraka terindah," gumam temannya.
"Terserah!"
Farrel mendudukan tubuhnya disatu meja yang berada di paling ujung. Disusul teman-temannya yang mulai menenggak minuman.
"El, this is for you," meletakkan segelas wine diatas meja.
"Thanks you."ucap Farrel tanpa melihat gadis yang memberikannya.
Gadis berambut merah itu duduk disamping Farrel,
"Have a drink, I specially ordered it for you,"
[Minumlah, aku khusus memesannya untukmu]
Namun Farrel tetap diam, dia mengotak ngatik sesuatu di ponselnya. Dengan beraninya gadis itu menyentuh lengan Farrel, dengan sedikit meremasnya, dengan tatapan menggoda ke arah Farrel.
"Jangan sentuh aku!" sentak Farrel.
Gadis perancis berparas cantik itu terlihat mengernyitkan dahinya.
"Come with me tonight, we have fun."
[Temani aku malam ini, kita bersenang-senang]
Farrel menyingkirkan tangan gadis itu dari lengannya, " Memangnya kau kenapa? kenapa aku harus menemanimu? Hem...."
Mereka saling beradu pandang, namun dengan sirat yang berbeda.
"Apa kau tertarik padaku? Tanya Farrel dengan berseringai.
"Hmm ...Kau bisa melihatnya di mataku!"
Farrel menatap netra cantik dengan warna Hazel berkerlip dihadapannya, lalu dia menarik senyumnya tipis.
"Ya, aku bisa melihatnya jelas di matamu!"
__ADS_1
Gadis berambut merah tersenyum, tangannya mulai menyusuri rahang Farrel, "Apa kau juga menginginkannya?"
Farrel tersenyum, "Kalau iya....?
"Aku harap begitu,"
"Siapa namamu?"
"Chaira...." Farrel mengangguk-ngangguk.
"Kau tampan...."
Farrel menyunggingkan bibirnya, "Aku tahu," dia menarik tangan Chaira dari wajahnya,
"Jangan memancing, kau akan menyesal jika memancingku!"bisik Farrel ditelinganya, tak melepaskan senyum di bibirnya, membuat hati Chaira semakin melambung tinggi.
"Aku suka jika kau terpancing, dan aku juga tidak akan menyesal."
"Benarkah?"
"Hmmm...."
"Tapi aku sudah bertunangan!" ucap Farrel dengan memperlihatkan cincin di jari manisnya.
"Itu tidak terlalu penting disini, kita bisa bermain aman,"
Farrel mengakak, "Benarkah? sepertinya akan menyenangkan, apa kau sering melakukannya?"
"Hanya denganmu!" Chaira menyematkan sedikit rambutnya dibalik telinganya.
"Baiklah aku percaya," ucap Farrel kemudian.
"Bagaimana kalau kita lanjutkan di Apartemenku saja?" Chaira menarik tangan Farrel.
Chaira mencondongkan tubuhnya kembali "Kita akan memesannya disana," bisiknya.
Farrel tergelak kembali, " Kau terlalu nakal!"
Farrel membuat gadis yang sudah dikuasai nafsu itu semakin melambung dengan pesonanya. Dia menarik dagunya dan mendekatkan wajahnya didepan gadis itu,
"Maaf tapi kau bukan tife ku,"ucapnya lalu menepiskan dagunya hingga Chaira tersentak.
"Apa yang kau...."
Farrel bangkit dari duduknya, "Semua tagihan malam ini aku yang bayar, nikmatilah sepuasnya. Anggap saja ini menganti rugi taruhanmu dengan mereka."
Farrel berjalan kearah temannya yang berkaca mata yang sudah terlihat mabuk parah, dia memapah pria itu dan pergi dari sana.
"Kau payah...!"gumamnya.
Sementara Chaira memukul sofa dengan marah, "Sialan...."
Teman-teman Chaira menghampirinya dengan tertawa,
"Bagaimana? kau kalah bukan... aku tunggu kunci mobil mu besok pagi,"
Mereka tertawa meninggalkannya, sementara Chaira semakin marah. Lalu seseorang menghampirinya,
Farrel tiba di Apartementnya, dia membawa serta temannya, lalu menghempaskan pria yang meracau itu di lantai begitu saja.
Bruk
Pria berkaca mata tebal itu meringis, lalu terduduk membenarkan kaca mata tebalnya, "Apa pesta sudah berakhir?" matanya mengerjap menyapu ruangan.
__ADS_1
"Kau merepotkan." ucapnya dengan memijat pelan bahunya yang pegal.
"Kenapa aku dibawa kesini, pesta belum berakhir, kau bodoh sekali!" Racau nya.
"Sudah untung kau aku bawa pulang, jangan mudah percaya pada orang lain apalagi ini negara orang,"
"Aku tadi berada di Surga!" Pria itu menggaruk kepalanya.
"Neraka bego,"
"Apa gadis itu sudah pergi?" tanya nya dengan bola mata yang masih bergerak ke segala arah.
"Si kursi maksudmu?"
"Kursi? entahlah aku tidak sedang duduk dikursi, kau menghempaskan aku begitu saja dilantai."
"Bicara dengan orang yang sedang mabuk sama seperti bicara dengan orang gila,"
Farrel masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak lama dia keluar dengan tubuh yang segar.
"Sialan, sejak kapan kau berada diranjangku?" ucap Farrel yang melihat temannya sudah terlelap diatas ranjangnya.
"Aku tadi melihatmu hampir saja mencium gadis dengan rambut menyala itu, hahah" kelakar pria teman Farrel.
"Memangnya kau fikir aku pria murahan, yang akan tergoda hanya karena suara yang dibuat-buat seperti itu, tubuh meliuk liuk seperti cacing kepanasan, aku hanya akan memurahkan diriku sendiri hanya pada kakak seorang, yang galak, yang curigaan, sedikit sombong, tapi pemalu. Ah jadi kangen. "
Gumam Farrel merogoh ponsel dari sakunya, lalu mengelus foto Metta dengan ibu jarinya.
"Kakak sedang apa ya?"
Farrel merebahkan dirinya diatas ranjang, dengan membuka galeri foto diponselnya, melihat wajah Metta dengan tersenyum,
"Gak ada yang bisa seperti kakak, dimanapun aku berada."
Farrel lalu mendial nomor telepon Metta, tak lama kemudian Metta mengangkat panggilan Video nya, kini wajah cantiknya terlihat memenuhi layar ponsel,
"Hai sayang, lagi apa?"
Tiba- tiba satu tangan dari belakang tubuh Farrel melayang, melingkar pada pinggang nya. Membuat Metta sontak kaget, begitu juga Farrel.
"Itu siapa El?"
Farrel melemparkan bantal padanya,
"Iya sayangnya aku!"racau pria itu. Membuat Metta semakin menohok dengan ucapannya.
.
.
Prolog
Metta tengah disibukkan oleh celotehan kedua adiknya, yang selalu ribut dengan hal-hal yang tidak penting.
"Bang kembalikan ponselku!" ujar Nissa yang menarik baju Andra.
"Diem dulu kakak mau lihat postingamu yang kamu sembunyikan itu!" timpal Andra.
Nissa merengut, "Ih, abang pengen tahu saja sih, cepat kembalikan."
Saat itu ponsel berdering, Metta menyunggingkan senyum di bibirnya. Lalu dengan segera dia masuk ke dalam kamarnya. Lalu diangkatnya panggilan Video itu, namun Metta malah tersentak saat ada tangan yang melingkar di pinggang Farrel.
"Siapa itu El? ucap nya penasaran.
__ADS_1