
Senandung malam berhias bintang, dengan gemerlapnya melengkapi bahagia satu keluarga yang merasa kebahagian mereka semakin lengkap itu, selain kelulusan Andra, dan juga kehamilan Metta yang menambah rasa haru di hati Sri. Tak bosan ia mengucap syukur atas nikmat yang dia terima, kebahagiaan yang menyelimuti sebagai pengganti setiap tetes air mata dan kesedihannya dahulu.
Sri menatap lekat pada Farrel dan Metta yang tengah debat perihal mobil namun justru mereka terlihat menggemaskan.
"Hayo ibu lagi lihatin apa?"
Nissa yang tidak tahu kapan masuk ke dalam rumah itu mengagetkan nya.
"Ih...kamu itu bikin ibu jantungan! Itu lho ibu lagi lihatin kakak sama abang kamu."
"Nissa juga senang keluarga kita yang sekarang,"
Sri mengelus rambutnya, "Ayo panggil mereka, kita makan dulu."
Sementara sepasang suami istri itu masih terus memperdebatkan perihal cicilan mobil. Farrel yang tak hentinya tertawa karena Metta mengira mobil itu benar-benar harus dicicilnya.
"El ... jangan bikin aku semakin marah!" ketus Metta lalu menghampiri ibunya dimeja makan.
Farrel menyusulnya lalu mendudukan dirinya di samping Sri, seolah mencari perlindungan pada seorang ibu dari kemarahan anaknya.
"Awas kau!"
Farrel terkekeh, "Ibu, anak sulungmu yang cantik itu kenapa semakin cantik saat wajahnya tegang begitu, lihatlah." goda Farrel.
Kedua manik hitam wanita yang tengah hamil itu semakin membola,
Awas kau El, malah mengatakan hal- hal yang konyol pada ibu, mentang-mentang aku tidak bisa mengatakan sesuatu jika didekat ibu. Batin Metta.
"Sayang, sini pindah!" Ucap Metta dengan sedikit malu, pasalnya dia sangat jarang sekali memanggil dengan sebutan 'Sayang' jika dihadapan banyak orang, atau memanggil tanpa sadar.
Farrel tergelak, begitu juga Ibunya, meski Sri tidak mengerti tentang masalah apa yang tengah mereka debatkan itu.
Hueek
Hueeek
Farrel berlari ke arah dapur dan muntah begitu saja di wastafel, mencondongkan kepalanya, lalu membasuh wajahnya, Metta yang menyusulnya pun memijat lembut tengkuk lehernya.
Farrel mematikan air yang berasal dari wastafel, lalu mengelap mulutnya yang masih basah.
"Masih mual?" tanya Metta.
Farrel mengangguk, "Tapi berkurang mualnya kalau aku dekat kakak." Ujarnya dengan menenggelamkan kepalanya di leher Metta.
"Ya udah yuk, istirahat saja dikamar!"
Ibu Sri pun hanya tersenyum saat melihat mereka, membuat Nissa menyembulkan kepalanya di balik bahu Ibunya, melihat ke arah Farrel dan Metta yang berjalan menuju kamar.
"Bu, aku ke kamar dulu!"
"Iya Nak, istirahat sana!"
.
.
__ADS_1
Andra, Irfan dan juga Jaka tengah membuat api untuk acara barbeque, Mac juga membantu mereka, Nissa kembali keluar dan melihat mereka dengan duduk di kursi plastik di depan teras.
"Belum ada yang matang ya bang?" ujarnya.
"Elah ... Non! Kagak lihat apa? Apinya saja belum nyala kok." tukas Jaka.
Setelah menunggu berapa lama akhinya api pun menyala, Nissa yang menunggu dari tadi pun tertidur di kursi dengan kepala yang bersandar pada tembok.
Mobil yang dikemudian Doni berhenti tepat di depan pekarangan rumah, dia memang sengaja datang merasa bosan sendirian di apartementnya.
Dia kemudian masuk kedalam teras, dan menggelengkan kepalanya saat melihat Nissa yang tertidur dengan posisi terduduk.
"Bisa-bisanya nih bocah tidur di luar begini! Mana mulutnya begitu lagi!" Ujarnya saat melihat Mulut nissa sedikit mengangga.
"Eh bang, akhirnya sampai juga!" sapa Andra.
Doni mengangguk, "Abang mu mana kok gak kelihatan?"
"Kalau tadi lagi di dalam, entah kalau sekarang! mungkin di kamar." ucap Andra yamg mengundang tawa Irfan dan Jaka.
"Mac, kau sedang apa?"
"Kau tidak lihat apa?" jawabnya datar.
"Dasar lampu taman, aku bertanya baik-baik juga!" ujarnya kesal.
Doni kemudian memilih masuk kedalam rumah dan menyapa ibu Sri, setelah itu kembali keluar dan mendudukan dirinya di kursi di samping Nissa.
Dia kemudian memilih bermain ponsel miliknya dengan sesekali melihat Nissa yang tertidur dengan kepala yang kerap terjatuh.
"Tanganku kotor kak, bangunin saja, tuh bocah emang pe llor, alias nempel molor." jawab Andra.
Irfan menyingsingkan baju lengannya, "Gue aja yang pindahin yaa, ke kamarnya kan?"
Pluk
Andra menimpuk kepalanya menggunakan capitan. "Enak aja lu."
"Elah, baru juga ada niat, kali kita bisa menjadi ipar, Dra. Iya gak Jak?"
"Au ah ... males gue jawab," tukas Jaka tak peduli.
Sedangkan Doni berusaha membangunkan Nissa, namun Nissa tak juga bangun.
Benar- benar pe llor nih anak!
Dugh
Kepala Nissa hampir terbentur pinggiran tembok, untung saja Doni menahan Kepalanya menggunakan kedua tangannya, bahkan Ponselnya malah yang terjatuh.
"Dra ... adik lu!" teriaknya. Namun Andra sepertinya tidak mendengar seruannya.
"Astaga, nih anak malah tidur disini!" kata Sri yang muncul dari arah pintu belakang.
"Iya bu, susah sekali dibangunin!"
__ADS_1
"Dia susah bangun kalau udah tidur begini nak Doni!"
Sri memanggil Andra untuk memindahkan Nissa terlebih dahulu, namun Andra berkilah, dan malah menyuruh Doni untuk memindahkan Nissa, setelah itu Sri kembali masuk kedalam.
"Udah sih bang, tinggal pindahin aja!"
"Tanggung ini!"
Mac menatap Doni, lalu mengangguk setuju. Membuat Doni mendengus kesal.
.
Akhirnya dengan terpaksa, Doni menggendong Nissa ala bridal style, dan menuju kamar Nissa sesuai dari arahan yang tadi Andra beritahukan padanya.
Doni dengan susah payah membuka pintu kamar, tubuh Nissa memang tidak besar, namun cukup berat juga. Setelah pintu terbuka lebar, Doni masuk dan membaringkan Nissa di atas ranjangnya dengan perlahan.
Doni kebingungan saat menarik lengannya dari kepala Nissa, beberapa saat Doni menatap wajah polosnya yang tengah terlelap itu dan pertanyaan konyolnya kembali terbersit.
'Bang, Nissa boleh tanya sesuatu?'
'Bagaimana rasanya berciuman?'
Doni menarik sudut bibirnya saat mengingat hal itu, lalu menggelengkan kepalanya. Dengkuran halus darinya membuat Doni betah berlama-lama hanya dengan memandangi wajah polos tanpa make up sama sekali itu.
"Dasar bocah!"gumamnya.
Takut membuat Nissa terbangun, Doni menarik perlahan lengannya, tiba-tiba Nissa mengeliat, semakin membuat lengan Doni tertindih. Astaga
"Bang udah belum?" gumam Nissa.
Doni mengernyit, "Sepertinya mengigau," ujarnya menjadi bingung.
Bagaimana ini, aku tidak bisa menarik tanganku, duh.
"Bang..."
Doni terkekeh, wajah polos yang tengah terlelap itu sungguh menggemaskan, bulu mata lengik yang berkumpul, hidung kecil yang lancip dan bibir?
Doni apa yang kau fikirkan.
Tiba-tiba Nissa kembali membalikan tubuhnya dengan merentangkan tangan hingga Doni terjungkal. Dan bibirnya jatuh tepat dibibir Nissa yang dia bayangkan baru saja.
Cup
Bebarapa saat benda itu menempel satu sama lain. Nissa yang mengerjap membulatkan matanya saat menangkap wajah seseorang berada di depannya. Sesuatu yang hangat mas terus menempel.
"KKYAAAA...."
Doni langsung membekap bibir Nissa dengan tangannya.
"Jangan berteriak, kamu ingin semua orang mengira kak Doni berbuat yang tidak-tidak padamu?"
Nissa melepaskan tangan Doni yang membekap mulutnya.
"Kak Doni ngapain di kamar Nissa?"
__ADS_1