Berondong Manisku

Berondong Manisku
Masih tidak percaya.


__ADS_3

Sinar pagi menerobos masuk melalui celah jendela, menyilau dua tubuh yang masih sama-sama polos dibawah selimut tebal. Sisa-sisa percintaan semalam masih sangat kental tercium, aroma kulit yang bercampur peluh masih terasa harum dengan ciri khasnya.


Farrel terus menciumi bahu polos istrinya yang kelelahan karena gempuran bertubi-tubi dari nya.


Sesekali gigitan kecil menggemaskan dia arahkan di ceruk putih dengan tangan yang bergerilya di benda bulat yang semakin kencang.


"Sayang ...!"


Dengan suara serak khas bangun tidur, dia ingin mengulang dan terus mengulang.


"Kamu tidak ada lelahnya?" gumam Metta dengan mata terpejam.


"Enggak, tenagaku masih kuat walaupun empat kali lagi."


Metta membalikkan tubuhnya, "Aku lelah sayang! Perutku juga mual ... "


Farrel bangkit dari ranjang, dia menyambar bathrobe dan memakainya asal,


"Aku akan siapkan mobil, kita ke dokter!"


Metta menyandarkan punggungnya di tepian ranjang, dengan menarik selimut sampai ke atas menutupi dadanya.


"Hei ... aku gak apa-apa! Aku hanya mual sedikit, istirahat sebentar juga sembuh!"


Farrel menghampirinya, menyematkan anak rambut yang berantakan, "Benar tidak apa-apa?"


"Huum..., aku hanya ingin tidur!"


"Hm, baiklah! Aku tidak akan mengganggu lagi, tidurlah. Aku akan keluar sebentar."


Metta mengangguk, lalu menutupi dirinya dengan selimut kembali.


Sementara Farrel masuk ke dalam kamar mandi, setelah ritual bersih-bersihnya selesai, dia keluar dan menuju walk in closet, berpakain casual santai, yang hanya memakai T-shirt dan celana denim serta sepatu putih dengan merek ternama.


Seerrt


Serrt


Farrel menyemprotkan farpum pada tubuhnya, membuat Metta meliriknya dari bawah selimut.


"Ganteng banget, mau kemana?"


"Mau ketemu temen kak, mereka ngajak reuni sekolah."


Metta langsung membuka selimut yang menutupi wajahnya, "Reuni yaa? Kok gak bilang sebelumnya?"


"Bukan reuni nya, masih dalam rencana, Aku mau bertemu dengan ketua panitia nya."


"Ketua panitia nya laki-laki atau perempuan?"


Farrel membalikkan tubuhnya menghadap Metta, "Dua-duanya sayang, mereka yang dulunya aktif di organisasi."


Metta merengut, dia kembali menutup wajahnya dengan selimut. Farrel sendiri menggelengkan kepala melihatnya.


"Sayang, Aku pergi dulu yaa! Deket kok di kafe xx, aku juga tidak akan lama." ujarnya dengan mencium kening dan pipi Metta.


"Jangan nakal El ...!"

__ADS_1


Menggusel pipi istrinya, "Mana mungkin,"


Akhirnya dia keluar dari kamar, namun sebelum pergi keluar, Farrel sempatkan untuk membuat susu kehamilan rasa vanila. Membawanya naik kembali ke kamar.


"Minumlah dulu, setelah itu baru aku pergi."


.


.


Metta berguling ke kiri, lalu ke kanan, fikirannya melayang pada Farrel yang tengah bertemu teman-teman sekolahnya.


"Gak kebayang deh, gimana jadinya Farrel dilirik banyak gadis seumuran dengannya. Apa dia akan merespon apa tidak." gumamnya sendiri.


Hingga dia memutuskan untuk menyusul nya.


"Aku ingin melihatnya sendiri."


Metta menyambar bathrobe lalu masuk ke dalam kamar mandi, melakukan ritual bersih-bersihnya. Setelah selesai, dia masuk ke dalam walk in closet, memilik dress mini floral berwarna biru langit, sangat cocok di badannya dengan sepatu kets berwarna senada.


Rambutnya digerai begitu saja, dengan memoles sedikit riasan untuk wajahnya, dan lipstik tipis dibibirnya.


Setelah selesai, dia akhirnya keluar dari kamar, menuju dapur untuk menyimpan gelas kotor, lalu menyambar tas selempangnya kemudian keluar dari kamar.


"Kafe xx kan! Aku akan kesana."


.


Tak lama kemudian taxi yang ditumpanginya berhenti tepat di depan kafe xx yang dia tuju. Setelah memberikan beberapa lembar uang, dia keluar. Lalu masuk ke dalam kafe tersebut. Kedua manik hitamnya menyapu seluruh ruangan, namun tidak menemukan di mana Farrel berada.


Karena tidak menemukannya, akhirnya Metta memilih duduk dan memesan minuman serta camilan. Dengan hati yang bertanya-tanya.


Kemana Farrel, dia tidak ada disini, atau jangan-jangan dia berbohong. Mengatakan disini padahal ke tempat lain.


Beberapa saat berada di sana membuat Metta kesal, karena tidak juga menemukan Farrel. Karena merasa mual dia akhirnya masuk ke toilet, saat di toilet itulah terdengar dua orang gadis berambut coklat, dengan yang satu memakai jilbab.


"Lo yakin kalau Farrel sudah menikah, atau jangan-jangan dia hanya membual."


"Lo kan tadi denger sendiri, dia yang bilang sendiri juga kan!"


"Sudah gak ada kesempatan buat gue dong!"


"Pepet saja terus, siapa tahu dia juga demen sama lo, secara dari zaman sekolah lo terang-terangan ngejar-ngejar dia."


"Sialan, entar gue jadi yang kedua dong,"


Terlihat temannya tertawa. "Dia kan suka cewe berambut coklat, sampai lo berubah warna rambut lo itu hanya untuk cari perhatiannya."


Metta menyentuh rambut nya yang berwarna hitam lurus, walaupun dia merubahnya, dia hanya akan merubah bentuk, bukan warna, sesekali dia meng-curly rambutnya.


Farrel menyukai gadis dengan rambut coklat, dia tidak pernah mengatakan hal itu, dia juga tidak pernah meminta ku mengubah warna rambutku. Kecuali Dinda yang memiliki rambut asli berwarna coklat, apa dia juga menyukainya. Haiss... apa yang aku fikirkan.


Kedua gadis itu keluar dari toilet, dan Metta pun ikut keluar dari bilik toilet lalu mencuci tangan nya di wastafel.


Setelah selesai dengan urusannya Metta keluar dari toilet dan kembali duduk, matanya beredar. mencari kedua gadis. Sepertinya mereka di ruangan Vip.


Benar saja, kedua gadis itu masuk lebih ke dalam dimana ruangan Vip berada di sana. Ada sedikit rasa tenang karena Farrel mengatakan hal yang jujur pada mereka, dia bahkan terang-terangan mengatakan sudah menikah pada mereka.

__ADS_1


Akhirnya Metta memilih untuk menunggu Farrel selesai, walau beberapa kali merasa bosan. Tapi dia tetap berada di sana.


Tak lama kemudian Farrel keluar dari ruangan VIP itu sendirian. Seorang gadis berambut panjang itu pun berlari menyusul nya.


"Farrel ... tunggu!"


"Kenapa?"


"Aku hanya ingin memastikan kamu pulang dengan selamat."


"Terima kasih sudah mengingatkan suami saya," Ucap Metta yang melingkarkan tangannya di lengan Farrel.


Membuat gadis itu tercengang, begitu juga Farrel.


"Sayang, kamu kok gak bilang ingin kesini? Tahu gitu kan tadi kita pergi sama-sama."


"Gak apa-apa, lagi pula kamu kan mesti ketemu dengan teman-temanmu dulu."


Gadis itu memutar mata malasnya, "Farrel gue masuk lagi!"


Farrel mengangguk, sementara gadis itu kembali masuk dengan bibir mencebik.


"Kamu gak nakal kan El,"


"Enggak Sayang, ngapain juga nakal?"


"Itu temanmu sepertinya tidak suka melihat ku!"


"Tidak usah pedulikan mereka, yang paling penting aku tetap suka...suka ... suka," ujarnya menusuk-nusuk pipi Metta tiga kali.


"Ihh ... El," ujarnya dengan tersipu.


"Kenapa, masih tidak percaya? Kalau aku tidak mudah tergoda?"


Metta mengangguk, "Percaya kok percaya," dengan terkekeh.


"Iih... sayang jangan nyebelin deh,"


"Enggak El... benaran percaya kok! Sumpah."


"Ya sudah, kita pulang!"


Akhirnya mereka pun kembali ke apartemen,


.


"Gak ada harapan gue,"


Temannya yang memakai kerudung mengernyit, "Kenapa? Kalah sebelum bertanding,"


"Istrinya cantik banget!? Dia tidak akan tergoda begitu saja."


"Lagian kayak gak ada lagi cowok lain saja, malah pengen ngembat yang udah punya gandengan. Sakit lo," ujar teman mereka yang laki-laki.


"Kalau gitu caranya, lo bikin dia gak nyaman, dan gak mau jadi donatur acara, lo tanggung jawab yaa, cari dana buat acara."


"Kok gitu sih Bri, nyebelin banget!"

__ADS_1


__ADS_2