Berondong Manisku

Berondong Manisku
Seorang kakak 2


__ADS_3

Tak ayal sebagian dari siswi perempuan itu berteriak memberi dukungan saat Farrel melakukan shooting (Memasukkan bola basket kedalam keranjang lawan) lalu dengan cekatan melakukan three point (Melempar dari jarak jauh)


Membuat Mereka mendengus kasar,


"Astaga ... kalian ini"seloroh nya.


"Kita berasa famous gak sih di lapang gini dilihatin cewe-cewe," ujar Irfan yang tengah men-dribble bola.


"Biasa juga sepi kalau cuma kita yang maen nyet." jawab Jaka sekenanya.


"Buruan Shoot, gegayaan mulu!" seru Andra dari pihak lawan.


"Noh ...abang-abangan nya c Andra yang bikin mata cewe-cewe silau, gak liat cowo bening dikit...melek tuh mata sampe bijinya ikut keluar!"


"Dikit apaan lu, mentereng gitu ya pantas!"


"Kalau mau ngobrol di warung kopi aja tuh! lama banget woy." teriak Andra kembali.


Farrel hanya terkekeh, kembali menggulung kemeja sampai batas lengannya, membuat para siswi perempuan semakin berteriak.


Dia abang nya si Andra percaya gak?


Mana mungkin...


Gue denger begitu.


Obrolan para gadis itu pun menyebar secepat kilatan cahaya, bahkan siswi yang tengah berada di kelas paling ujung pun mendengarnya.


Buruan ke lapangan, katanya ada cowo bening banget.


Membuat Mereka berhambur keluar hanya karena satu kalimat yang membuat penasaran. Siapa cogan itu.


Tak lama bola basket kembali berpindah tangan, Farrel hanya berdiri dengan putaran bola yang dia Dribble saja, membuat sekeliling lapangan itu bergaung, memanggilnya dengan sebutan abang.


Go ...abang


Go ...abang


Go ...abang


Abang siapa namanya


Iya siapa sih namanya.


Farrel menatap sekelilingnya dengan satu sudut bibir yang naik, membentuk senyum simpul sederhana namun mematikan.


Astaga, aye meleleh bang!


May god senyumnya, bikin ngajak ke KUA deh


Bang, senyum lagi dong


Dan banyak celotehan yang membuatnya geli sendiri. Nissa yang ikut berhambur penasaran pun terperanjat saat melihat siapa yang tengah teman-temannya bicarakan.


"Eh... itu sih abang gue!" dengan sombongnya Nissa mengaku pada teman-temannya yang berbuah sogokan berbagai camilan agar dia mau berbagi cerita dan informasi terakurat, dan terpercaya dibandingkan kabar seliweran yang cepat bak kilatan cahaya itu.


Nissa semakin bersemangat bercerita saking banyaknya japrem yang dia terima ( jatah preman)


"Dah lah, kita kalah aja udah." tubuh irfan perlahan melandai, kemudian melambaikan tangan pada para gadis yang bersorak.


Idih...bukan elu


Huuuuuuuhuu

__ADS_1


"Yah payah, sih Fan!" ujar Jaka yang ikut berselonjor kaki.


Sementara Farrel melangkah mengambil jas nya lalu menghampiri teman-teman Andra,


"Udahan nih ceritanya?"


"Dah kita ngalah aja, kalah telak kita kalau sama abang." sungut Irfan.


"Bukan karena permainan lo bang, tapi Si Irfan kalah ganteng, tuh lihat seantero sekolah ini mengelu-elu kan abang." menunjuk Farrel yang saat ini tengah memasangkan jas nya.


Gerakan Farrel yang tengah memakai jasnya pun terlihat menjadi slow motion bagi mereka dan membuat teriakan anak hawa semakin riuh, dengan berbagai Euforia tersendiri bagi mereka.


Irfan menoyor kepala Jaka, "Sialan lu, emang gue doang, lu juga kali, noh playboy cap obat nyamuk juga kalah, apalagi kita berdua!"


Andra terkekeh, begitu juga Farrel yang menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Jadi mau jajan dimana nih kita?" ucap Farrel dengan melirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya.


"Kantin bos,"


Kali ini Jaka yang gantian menoyor temannya, "Gak kantin juga, kerenan dikit napa! mungpung ada yang nanggung kita,"


"Sumpah, kali ini gue nyesel punya temen kayak lu berdua nyet!" Timpal Andra.


"Lah, sekarang aja lu ngomong begitu karena ada abang-abangan lu, ada yang nambah poin hidup lu, besok-besok nyari kita lagi, bener gak Fan!?"


"Hooh... gaya lu sok-sok an nyesel,"


"Abang gue itu, bukan abang-abangan."


Mereka berdua kemudian tergelak hingga saling dorong.


"Udah yuk buruan! katanya mau jajan...." timpal Farrel yang terus melirik jam tangan.


"Gila sih ini, mobil terkeren yang pernah gue naikin ngab (dibalik bang: Bahasa anak sekarang)ucap Jaka saat meringsut masuk kedalam mobil Farrel.


Jaka yang duduk dibelakang, bersama Irfan, sementara Andra disamping Farrel yang kini berada dikemudi.


Mac? Dia mengendarai motor Andra, yang bersikeras kemana pun Farrel pergi, dia wajib ikut. Sesuai mandat yang dia terima dari bosnya. Alan.


Jangan biarkan dia terkena masalah.


Jangan biarkan dia terkena masalah Mac.


Kata-kata Alan yang menjadi acuan selama dia bekerja, yang terngiang-ngiang dikepala.


"Lah, iya biasa nya lu kan naek kopaja, atau nge-BM lu kan biasanya?" Cibir Irfan.


"Sialan, gak gitu juga kali! Tapi pernah juga sih sekali,"


Hahahha....


Mereka bertiga tergelak, kecuali Farrel yang tidak mengerti apa yang mereka katakan.


"Nge-BM ngab, lu gak tahu? Seriusan...." Farrel menggeleng.


"Ya jelas lah, dia gak tahu gimana sih, klaster kita beda sama dia," membuat mereka kembali tergelak.


"Nge-BM itu kita nih ngebajak truk atau pick up yang melintas rame-rame tuh dibelakang. Seru ngab, " jelas Jaka.


"Iya seru, kelindes mati konyol lu," ledek Andra.


Mereka kembali tergelak, Farrel hanya ikut menyunggingkan tipis bibirnya, lalu mengernyit, meski dia pernah juga naik bis namun tidak pernah mengetahui aksi Fenomenal itu.

__ADS_1


Sumpah ... Mereka bikin aku iri, kapan terakhir aku bermain seperti mereka. Bahkan kayaknya belum pernah. Huft....


Mereka tiba disalah satu cafe yang tidak jauh dari sekolahan mereka.


"Gue cuma lewat-lewat doang, belum pernah masuk." bisik Jaka pada Irfan sesaat setelah mereka keluar dari mobil.


"Sama gue juga!"


Andra terlihat lebih kalem, dia memposisikan dirinya dengan baik, ingin terlihat mentereng seperti Farrel yang membuatnya semakin kagum saja.


Hingga mereka masuk dan duduk sembari membulak-balikkan daftar menu yang harga nya mendadak membuat perut mules.


Mac yang datang duluan sudah mengatur tempat yang akan mereka duduki, selebihnya memeriksa semua keamanan bagi Farrel.


"Gila ngab, mie goreng disini harga nya segini, bisa beli setengah dus kalau gue,"


"Nih...nih... kopi nih! kopi bangsawan ini jelas!" tunjuk Jaka yang membuat mereka lagi-lagi tertawa hingga terpingkal.


"Sultan...sultan,"


"Emak gue bisa bikin seteko dengan harga segini mah!"


"Malu-maluin sih lu pada!" Andra yang ikut tercengang melihat harga, namun masih bisa mengontrol diri, agar terlihat seperti Farrel yang tampak biasa saja.


Celotehan teman Andra lambat laun membuat Farrel kesal, tertawa hingga terpingkal sampai mendapat deheman keras dari waiter dan tatapan jengah dari pengunjung yang lain.


Pantesan kakak selalu marah, ternyata gak gampang juga punya adik, gak kebayang kalau aku punya adik seperti mereka ini. Ah aku jadi kangen My Cherry ku.


Hingga ponselnya terus bergetar didalam saku, Farrel merogohnya dan menatap layar yang menyala itu. Farrel tersenyum lalu mengangkat sambungan telepon nya.


"Kamu dimana!? masih di sekolah an?"


"Udah enggak, aku lagi di cafe di jalan x bareng Andra juga teman-temannya, jaka dan juga Irfan," Jelas Farrel agar tidak menimbulkan sangkaan yang membuatnya kesulitan nantinya.


"Kamu bentar lagi ada meeting kan!"


"Udah sama Alan sayang, tenang aja ... aku gak lama kok disini cuma jajan aja, bentar lagi aku kesana."


"Hmmm... bilangin sama Andra kalau udah selesai langsung pulang! jangan lupa jemput Nissa,"


"Iya ... sayang, Miss you."


Tut


Metta menutup teleponnya sebelum dia menjawabnya, sudah dipastikan mereka tengah mendengarkannya, dan ternyata benar saja, ketiga remaja tanggung itu mempertajam telinga mereka agar bisa mendengar percakapan Farrel.


Jaka saling menyikut dengan Irfan yang duduk bersebelahan. "Gimana bang rasanya?" tanya Jaka penasaran.


"Rasa apa?" Farrel mengernyit.


Irfan berdesis, "Ish...itu pacaran sama yang udah usianya lebih diatas abang?"


"Heh, yang lu pada omongin itu kakak gue! Dasar biang rusuh. " Timpal Andra.


Farrel terkekeh, "Iya rasa apanya? pacarannya... atau apanya nih...?"


Membuat Jaka dan Ifran kembali bertatapan.


Rasa apa memangnya?


"Udah ayo pesan, aku harus segera kembali bekerja!"


"Eh ...bang Gimana rasanya bekerja?"

__ADS_1


__ADS_2