Berondong Manisku

Berondong Manisku
Saran Bunda menyesatkan


__ADS_3

Farrel terlihat memalingkan wajahnya, melihat sosok tamu yang kedua orang tuanya undang untuk makan malam bersama.


"Sini duduk, Kenapa malah diam saja?"ucap Arya heran.


"Sha sayang, kenapa? sini duduk." Ayu melihat heran pada putranya yang hanya diam saja.


"El, ayo ajak duduk! kenapa kalian ini ..." ucap Ayu lagi.


Dengan ragu Metta mendaratkan tubuhnya di kursi disamping Farrel, jantungnya terasa begitu berpacu kencang, namun Farrel seakan enggan melihat kearahnya.


"Astaga, dia masih marah!"


"Bagaimana kabarmu sayang?" sapa Ayu.


"Baik Bunda,"


"Kalau ibumu bagaimana? juga kedua adik mu yang menggemaskan itu." lanjutnya lagi.


"Gak usah ditanya Bun, kita tidak punya hak untuk bertanya!" sela Farrel dengan kesal.


"Astaga, dia mau membahasnya didepan orang tuanya."


Ayu dan Arya tampak mengernyit melihat keduanya yang saling merengut.


"Sepertinya mereka sedang bertengkar," bisik Ayu di telinga Arya.


Arya mengangguk,"Sudah ku duga, pantas anak itu uring-uringan terus,"


"Menggemaskan sekali mereka ini," gumam Ayu kembali.


Arya hanya menggelengkan kepalanya.


"Sudah kita makan terlebih dahulu sekarang." ucap Arya kemudian.


Mereka pun makan dengan khidmat, hanya denting sendok yang beradu dengan piring, sesekali Ayu dan Arya saling melontarkan candaan. Atau saling menggoda satu sama lain dengan kompak.


Namun Farrel maupun Metta hanya diam, meskipun sesekali Metta melirik kearah Farrel yang tampak acuh dan dingin padanya.


"Bagaimana ini yah, mereka tetap saling mendiamkan begitu,"


"Biarkan saja, nanti juga mereka berbaikan." ucap Arya menenangkan istrinya.


"Gemas sekali bunda sama mereka." ucapnya lagi.


Metta menyantap makan malam alakadarnya saja, dia hanya menggerak-gerakan sendoknya tanpa menyuapkan hidangannya.


"Makan yang benar! jangan begitu ..." sentak Farrel tiba-tiba.


Metta melonjak kaget, dia menolehkan kepalanya kearah Farrel lalu membuang wajahnya kearah lain.


"Yah, sepertinya mereka mempunyai sifat yang sama-sama egois," bisik Ayu dan dibalas dengan anggukan oleh Arya.


"Hm, benar!"


"El, katanya kamu lapar, kenapa makannya begitu!Ayo makan yang benar, kamu juga sayang!" menyentuh lengan Metta.


"Makan yang benar,"


Metta hanya mengangguk dan menyuap sedikit-sedikit. Selera makannya memburuk saat melihat Farrel yang dingin kepadanya.


Kedua orang tuanya malah sesibuk memperhatikan sepasang kekasih yang tengah saling mendiamkan itu, saling mempertahankan egonya masing-masing.


Hingga hidangan dikedua piring orang tuanya tandas pun mereka tetap saling diam. Farrel melirik kearah Metta yang juga meliriknya, namun akan kembali membuang mukanya kearah lain.


Pelayan datang untuk membereskan hidangan diatas meja mereka dan menggantinya dengan makanan penutup.


Metta memilih cake coklat dengan krim diatasnya. Sementara Farrel hanya menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan melihat kekasihnya dari belakang.

__ADS_1


Rambut yang terurai itu kini terombang-ambing terbawa angin, menghasilkan wangi khas shampo yang menyeruak langsung kedalam hidung Farrel yang tepat samping belakangnya.


Menampilkan bahu dan ceruk leher bagian belakang yang mulus, membuat Farrel yang sebenarnya tengah menahan rindu itu harus memejamkan matanya berkali-kali.


Farrel beranjak dari duduknya, mengambil secangkir kopi lalu berdiri diatas pembatas roof top. Hingga dia menyandarkan tubuhnya melihat view yang sangat indah itu.


"Ayah, temani El disana! Bunda takut dia lompat." Ayu menyenggol lengan suaminya.


Arya menggeleng tak percaya, "Bunda ini sembarangan saja kalau bicara!"


"Udah sana,"


Arya mendecak, dengan kesal dia menuruti permintaan sang Istri,


"Iya, iya..." sungutnya sambil berdiri dan melangkah menghampiri Farrel.


Metta hanya memandang sendu kearah Farrel yang meninggalkan nya, tampaknya memang kekasihnya itu masih marah padanya.


Ayu memegang tangan Metta, "Sayang ada apa Nak? kamu boleh cerita sama Bunda,"


Metta tersenyum, namun dia ragu mengatakan apa yang tengah terjadi padanya dan Farrel.


"Ayo jangan ragu, cerita saja! anggap Bunda seperti ibumu,"


Metta menghela nafas, "Sama ibu sendiri saja aku tidak berani bercerita, apalagi sama Bunda,"


"Ada kalanya kita memang harus berbagi, agar hati kita sedikit lega." Ayu mengusap bahu Metta.


"Farrel marah Bun, sama aku," ucapnya dengan ragu.


"Awalnya aku yang langsung marah tanpa menjelaskan," Metta memainkan ujung kuku dijari- jari lentiknya.


Ayu menarik bibirnya keatas, "Kalian jadi sama-sama tidak mau mengalah!"


"Aku sudah mencoba meminta maaf, tapi dia masih terus marah!"


Metta mengernyit, "Ya sampai sekarang, dia terus marah begitu."


"Pria itu memang selalu begitu, tidak bisa dikasarin. Maunya diperhatiin, perlihatkan kalau kita itu membutuhkannya." ucap Ayu.


"Sekali-kali mengalahlah, ambil hatinya kalau perlu bersikap manjalah padanya. Tunjukan kelemahan kita,"


Metta mengernyit, dia tak mengerti apa yang dikatakan oleh Ayu.


"Maksud Bunda?"


Ayu beranjak dari duduknya, "Kamu lihat bagaimana caranya Bunda meluluhkan Ayah yang tadi tengah kesal sama Bunda,"


Ayu kemudian melangkah dengan anggun, namun baru beberapa langkah dia membalikkan tubuhnya kearah Metta.


"Perhatikan! jangan ada yang terlewat satu pun."ucapnya lalu berbalik kembali dan melangkah mendekati Farrel dan suaminya yang tengah mengobrol.


Terlihat Ayu memegang lembut bahu suaminya, "Yah, El, sedang ngobrolin apa?"


Arya menjawab namun terlihat kesal. "Urusan Pria!" ucapnya ketus.


Sementara Farrel hanya diam saja. Masih dengan melirik Metta dari jauh.


"Maafin Bunda yah, membuat Ayah kesal tadi!" Ayu bergelayut dengan manja.


"Astaga akupun melakukan itu kemarin, walaupun rasanya bukan aku banget,"


Metta kembali memperhatikan Ayu,


"Sudahlah bun, ada El,"


"Ayaaah, udah jangan kesel terus," suara Ayu terdengar merengek bak anak kecil.

__ADS_1


"Astaga.. apa aku harus begitu juga!"


"Bunda, hentikan!"


Metta menggelengkan kepalanya, "Jawabannya pun sama seperti Ayahnya,"


Ayu terus bergelayut manja pada tangan suaminya, sesekali menyenderkan kepalanya pada bahu Arya.


"Ayaaah, maafin Bundaa..." suara Ayu terdengar sangat manja.


lalu memperlihatkan wajah yang menggemaskan hingga Arya pun tergelak pada akhirnya.


"Bunda, menggemaskan sekali!" gumam Metta.


"Tapi rasanya aku jijik kalau melakukannya begitu,"


Metta mengerdikkan bahunya.


"Ayah maafin Bunda kan!"


Ayu bersikap seperti anak kecil yang manja dihadapan suaminya.


"Iya, sudah! Ayah gak marah kok, Ayah hanya kesal sedikit sama Bunda."


"Maaaaf...." Ayu menatap lekat wajah suaminya itu.


"Bunda janji gak bikin kesel Ayah lagiii," Ayu menaikkan tangan telunjuk dan jari tengahnya berbentuk huruf V, dengan tersenyum menatap lelakinya itu.


"Jadi bicaranya harus manja-manja seperti itu juga? Astaga..."


"Bunda selalu saja berjanji, tapi bikin kesel lagi dan lagi" ucap Arya mencubit pelan hidung istrinya.


Metta melihat tanpa berkedip, "Aku bahkan tidak suka dengan janji-janji," gumamnya.


"Hehe, maafin bunda yah sayaang..."


Sementara Farrel menggelengkan kepalanya kearah mereka. Dia duduk di sofa yang terdapat di sudut Roof top itu. Sesekali melirik kearah Metta.


Ayu menghampiri Metta, lalu duduk kembali disampingnya.


"Kamu sudah lihat? bersikaplah manja sekali- kali."


"Aku gak bisa begitu-begitu Bun,"


"Cobalah, perlihatkan kamu memang membutuhkannya, katakan dan perlihatkan padanya!"


Ayu menggelengkan kepalanya, "Dia juga egois, kalian sama-sama tidak ada yang mau mengalah."


Metta terdiam, lalu melirik Farrel yang juga tengah meliriknya.


"Saran Bunda menyesatkan" gumamnya pelan.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi, karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Hayo siapa yang belum like sana ulangi lagi.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.


Selamat berhari minggu, selamat berlibur bersama keluarga, dan tentunya selamat menghalu. hehe


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2