
Farrel menjambak rambutnya sendiri dengan kasar, pasalnya semua rencana yang telah dia susun rapi bersama Doni, kini malah membuat rencananya berhasil namun juga terkena masalah baru.
Farrel keluar dari kamar mandi, dia langsung menghampiri Doni yang tengah mengelap luka di bibirnya,
Bugh
Farrel mendaratkan pukulan keras di bahunya, Doni meringis, tiga kali pukulan dari tiga orang berbeda, membuat dirinya cukup kesakitan.
"Kenapa semua menyalahkanku? Sialan, apes banget jadi gue!"
Farrel mendengus kasar, "Semua gara -gara kamu, kenapa terlambat datang, aku sudah peringatkan obat itu bekerja hanya lima belas menit, seharusnya kau tepat waktu."
Doni yang merasa tidak bersalah itu mengerdikkan bahu, "Mana aku tahu istrimu datang kesini, dan bertanya segala macam pertanyaan, sampai membuatku terlambat."
"Tuh salahkan Mac, dia yang membawa istri tercintamu kesini."
Metta berkacak pinggang, "Kenapa jadi saling menyalahkan, semua jelas salah kamu," tunjuknya pada Farrel.
Farrel menghampirinya, "Sayang, aku minta maaf! Aku janji gak bakal melakukan kesalahan seperti ini lagi."
"Kau fikir ini main- main? Kau fikir semudah itu meminta maaf?"
"Bagaimana jika tidak ada yang datang tepat waktu, kau akan merendahkan dirimu sendiri! Aku benci sama kamu!" imbuhnya lagi.
Farrel memegang kedua tangan nya, "Kakak , Aku minta maaf. aku benar-benar minta maaf! Tapi semua ini memang sudah aku rencanakan, agar apa? kedok Chaira terbongkar, dan ayah nya bisa tahu sebejad apa anak nya itu,"
"Dan Fernand juga akan berhenti mengganggu keluarga kita, kakak mengerti kan?"
"Itu sebab nya aku melarang kakak ikut, karena sudah pasti kakak akan emosional melihatnya,"
"Kalau kakak tidak percaya, aku punya rekamannya, itu akan aku simpan untuk berjaga-jaga agar dia tidak lagi datang dan Fernand pun tidak terus memaksa membeli rancangan ku." lanjutnya lagi dengan panjang lebar.
Metta menepis tangan Farrel, "Tetap saja, kau melakukan hal konyol, bagaimana jika aku tidak datang? Kau akan menikmatinya? atau apa? hem..."
"Jadi begini kak ---" sela Doni.
Telunjuk Metta mengarah padanya dengan tatapan tajam menusuk ulu hati, "Diam kau!! Aku sedang tidak bertanya padamu! Aku bertanya pada temanmu!"
Doni menghela nafas, "Baiklah aku diam saja! Sorry Rel urus sendiri buat yang satu ini!"
"Sayang, udah dong jangan marah!" Farrel melangkah maju mendekati Metta.
"Diam disitu, siapa suruh kamu maju."
Farrel menghentikan langkahnya, "Kakak, udah ayo pulang, aku lapar!"
"Jangan merayuku!"
"Sayang, aku minta maaf!"
"Kau memang harus minta maaf, tapi aku belum memaafkan kekonyolan mu ayang sayu ini."
"Apa kakak sedang cemburu?"
__ADS_1
"Farrel, kau benar-benar menyebalkan!"
"Mac, antarkan aku pulang ke rumah ibu."
"Kak, kita pulang ke rumah kita, kenapa ke rumah ibu?"
"Terserah! Tapi aku mau pulang ke rumah ibu."
"Tapi kak...."
Metta berbalik, "Jangan menyusulku!"
Metta yang masih di kuasai amarah pergi begitu saja dari kamar itu, membuat Farrel merutuki diri nya sendiri,
Dia pergi bersama Mac keluar dari kamar hotel itu, dengan tersungut, pasal nya Metta kecewa karena Farrel melakukan hal konyol yang akan mempertaruhkan harga dirinya sendiri, Bagaimana jika tadi rencana Chaira yang justru berhasil. benar-benar bodoh. Kau suami ku, tidak ada yang boleh menyentuhmu, sekalipun itu rencana bodohmu itu.
Mac melajukan mobilnya ke rumah Ibu Sri, tak banyak makan waktu, mereka tiba di rumah. Setidaknya sampai amarah nya mereda.
Metta masuk ke dalam rumah, setelah Andra membuka pintu nya, "Kakak? sendirian, mana bang Farrel."
"Ke laut...." ujarnya dengan mulut yang mengerucut.
"Lho Sha? kapan datang?"
Metta menghampiri ibunya dan menyalaminya,
"Baru saja tiba bu!"
"Ke laut katanya bu!" seru Andra.
Ibu Sri menggelengkan kepalanya, "Tidak baik sayang, meninggalkan rumah tanpa izin suami. Apapun yang terjadi, sekalipun kita sedang bertengkar."
"Aku benar-benar gak faham dengan cara berpikirnya dia yang konyol itu bu! Tidak kali ini... Dia sudah keterlaluan!" ujarnya tanpa menceritakan hal itu sedetail-detailnya.
"Bagaimanapun juga dia suamimu, yang wajib kamu patuhi dan taati Sha, sekalipun dia jauh lebih muda darimu!" ujar Ibu Sri.
"Iya bu, nanti juga aku akan pulang, tapi aku mau disini dulu sebentar, boleh yaa!"
Sri mengangguk, "Sebentar saja, kabari suamimu!"
Tak lama kemudian Farrel datang bersama Doni, dia terlihat masih mengenakan bathtube hotel, berjalan masuk dan mengetuk-ngetuk pintu.
Metta menyuruh kedua adiknya serta ibunya untuk tidak membukakan pintu untuk Farrel.
"Kak, bang Farrel kasian, mana hanya pake bathrobe pula." ucap Nissa yang mendadak membuka tirai.
"Tega sekali kakak padanya, gak kebayang aku kalau punya istri seperti kakak ini." gidik Andra.
"Diam kalian, sama saja! kenapa malah embel dia sih! Kalian mau nemenin dia diluar?"
"Enggak kak, tapi kasian bang El," ujar Nissa.
"Biarkan saja, suruh siapa berbuat hal yang konyol. Biar tahu rasa!"
__ADS_1
"Tapi kak--"
"Siapa pun yang membiarkannya masuk, akan menggantikan hukumanya."ujarnya kesal, lalu masuk kedalam kamarnya.
Sementara Nissa dan Andra hanya silih memandang dan mengerdikkan bahu. "Aku gak ikut-ikutan ah!"
Ibu Sri hanya menggelengkan kepalanya.
Farrel yang tengah diluar pun menghela nafas, dia harus menunggu berapa lama, agar bisa masuk ke dalam. Kemarahan Istri nya kali ini sulit sekali.
"Bagaimana ini Rel?" tanya Doni yang ikut merapatkan dirinya di tembok.
"Pulanglah, biar aku mengurusnya sendiri." ujar Farrel pada Doni.
"Kau yakin?"
"Kau juga tidak bisa membantuku! Lebih baik kau pulang saja."
"Kau juga Mac, pulanglah!" ujarnya lagi.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan Farrel yang hanya mengenakan bathrobe hotel itu sendirian, Farrel tidak ada pergi sebelum istrinya memaafkannya.
Ibu Sri yang menjadi penengahnya pun tidak bisa berbuat banyak,
"Tidak apa-apa bu, biar aku tunggu Kakak disini saja."
"Maafin anak ibu yaa Nak!"
Nissa menyembulkan kepala nya dari celah jendela, "Aku bilang juga apa? Jangan membuat Kak Sha marah, dia suka lama kalau marah!"
"Nissa masuk, kau ingin di luar juga!" seru Metta dari dalam kamar.
Membuat Farrel merengut, Nissa pun memilih mundur dari pada kena imbas kakak perempuannya yang tengah emosi.
"Selamat berjuang bang! Semangat...." ujar Nissa dengan tangan mengepal ke udara.
Hingga malam semakin larut, Metta tak juga kunjung keluar, Farrel yang tidak mengenakan pakaian lengkap pun harus menahan dinginnya udara malam dan juga gigitan nyamuk.
"Sayang, maafin Aku!" ujarnya mengetuk kaca jendela Kamar Metta.
Namun Metta yang menyembunyikan kepalanya di bawah selimut berpura-pura tidak mendengarnya.
"Aku tidak akan pergi, sebelum kakak memaafkanku, sekalipun badanku gatal-gatal digigit nyamuk." ujarnya lagi.
Aku tak peduli, pokoknya aku masih marah,
"Sayang... maafkan aku!" suara Farrel melemah sendirinya.
Diam- diam Metta menyibakkan tirai penutup jendela, matanya mengedar mencari sosok suami yang menyebalkannya itu, namun tidak menemukan nya.
Metta lantas keluar kamar dan menyibakkan tirai yang berada diruang tamu, namun juga tidak menemukannya.
"Kemana anak itu! Menyebalkan, berani-beraninya dia pergi dari sini."
__ADS_1