Berondong Manisku

Berondong Manisku
Saranghae...


__ADS_3

Farrel kembali ke dalam kamar, melihat istrinya yang tengah terlelap, wajah damai yang ditemukan saat Metta tertidur, karena jika tidak, maka dia akan terus memarahinya perihal harga mobil yang dibelinya untuk Andra.


Dengan terus menatap wajah, Farrel menyusupkan tangannya di balik baju yang dikenakannya, mengusap perut yang masih terlihat rata itu. Hingga dirinya larut dalam damainya mimpi.


Keesokan pagi


"El ... ayo bangun!" ucap Metta.


"Huum ... peluk dulu!" ujarnya dengan kedua mata yang masih memicing.


"Maaf ya, gara-gara semalam aku ketiduran, jadi kita harus nginep lagi disini deh."


Farrel yang menenggelamkan kepalanya diperut sang istri itu menghujami perut rata dengan ciuman.


"Anak papa ... Muahhh ....muah anak papa!"


"El ih aku lagi ngomong!" ujarnya menahan perut dengan kedua tangannya.


"Sudah hentikan aku geli!"


Farrel mengenadahkan kepalanya, "Kenapa, kakak mau juga?"


Metta berdesis, "Bukan itu maksudku!"


Namun Farrel menarik tubuhnya hingga menjadi terlentang, "El ih aku mau bantu ibu bikin sarapan!"


"Sebentar saja." ujarnya dengan mengedipkan mata.


Membuat Metta tergelak, "Enggak ah, kau tahu kamar ini tidak seperti kamarmu, kau mau membuat semua orang heboh?"


Farrel ikut tergelak, "Aku lupa kalau kakak sangat nakal."


"El...!"


Farrel tertawa, "Berarti kakak harus memneriku doble nanti yaa!"


"Dasar mesum!!"


Lalu Metta bangkit dari kasurnya, "Cepat mandi, aku mau membuat sarapan, kau kan harus ke kantor!"


Farrel mengangguk, namun kembali menenggelamkan kepalanya pada bantal."


.


.


Metta keluar dari kamar, dan mendapati ibunya sedang berada di dapur, Metta pun ikut membantunya.


"Andra bakal semakin sibuk, dia akan ke Kota A lalu seleksi mahasiswa baru. Ibu kasian padanya!"


Metta mengusap bahunya, "Ibu tenang saja, Andra akan baik-baik saja. Dia akan menjalankan semuanya dengan baik."


Tak lama Farrel masuk ke dapur,


"Huum ... ibu tenang saja ya."


"Kalau ibu mau Andra bisa libur dulu kuliah, mungkin setengah semester?" ujar Farrel yang ikut menimbrung.

__ADS_1


"Itu berlebihan sekali El, kau hanya akan membuatnya ketinggalan jauh." ketus Metta.


"Kalau gitu, sehari saja," ujarnya.


.


.


Andra akan segera mendaftar kuliah, dan beruntungnya dia mendapatkan beasiswa jalur prestasi, karena tercatat sebagai Atlet export dengan kemampuan yang tidak dapat diragukan lagi, dan Andra juga di- mentori langsung oleh Doni.


Dan pagi itu Andra mampir ke sekolah, berniat untuk mengurus surat keterangan yang akan dia proses untuk mendapatkan beasiswa dari kampus. Karena Andra tengah sibuk mengikuti tournament.


Tidak ada jeda, untuk sekedar berlibur, Andra bahkan harus ke kota A, bahkan disaat dirinya harus mengikuti proses seleksi mahasiswa baru.


"Udah punya mobil, tapi pergi tetep naik motor, gimana si lu?" ujar Jaka saat Andra memarkirkan motornya.


Andra mengerdikan bahu, seraya membuka helm nya."Nanti saja, kalau gue udah pegang duit banyak!


"Ya tinggal lu minta, abang lu tajir melintir gitu!"


Andra menggelengkan kepalanya.


Sebenarnya, selain mobil, Farrel memberikan satu kartu untuknya, namun kali ini dia menolaknya, selain karena mobil saja sudah luar biasa baginya, dia juga tidak ingin kejadian dulu terulang kembali. Dimana kakaknya sangat marah.


Dreett


Dreett


Ponsel Andra berbunyi, ponsel pemberian dari bunda Ayu beberapa waktu yang lalu. Nama Doni terlihat diponselnya, dia langung menempelkan ponsel di telinganya.


'Kau dimana?'


'Kebetulan, kau jangaan kemana-mana dulu, aku kesana sekarang.'


'Huum.'


Andra melirik jam tangannya, masih ada waktu jika dia menunggu Doni datang. Tak lama kemudian Doni pun tiba, dia turun dari mobil lalu menghampirinya.


"Ada apa?"


"Apa kau sudah selesai?" tanya Doni.


"Huum ... sudah!"


"Baiklah, ayo pergi!" ujarnya,


Membuat Andra mengernyit, "Pergi kemana?"


Jaka yang berada di atas motor pun meloncat karena kaget. "Mau kemana sih!"


"Kalau kau mau, kau juga ikut saja, ajak sekalian temanmu," ujar Doni dengan masuk ke dalam mobil.


Irfan yang baru datang pun terheran, "Woi ... mau pada kemana? Gue baru dateng ini!"


"Kita ikutin Fan, kali aja dia lagi mabok pagi-pagi buta gini!" tukas Jaka yang menyalakan kembali motor sport milik Irfan.


"Kita akan ke puncak! Lusa kan kamu ke kota A, kami tim koordinator memberikan waktu satu hari ini kalian berlibur sebelum turnamen musim kedua dimulai."

__ADS_1


"Hah?"


Doni mengangguk, "Libur sehari Andra!"


"Kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari tadi? Ah ... aku juga harus mempersiapkan diri untuk acara MABA dikampus."


"Kau tenang saja, semua sudah beres! Para tim yang tergabung mendapat hak istimewa, mereka tidak perlu mengikuti kegiatan MABA, mereka punya jalur khusus dikampus, enak bukan? Selain mendapat beasiswa, kau juga mendapat privilege."


Andra menolehkan kepalanya, "Bukankah itu tidak adil untuk yang lain?"


"Tentu tidak, karena apa yang kau dapatkan ini adalah hasil kerja kerasmu, dan kau harus terus bekerja keras agar beasiswa mu tetap kau dapatkan, dan privilege itu akan mengikuti."


"Jadi bekerja keraslah!" ujarnya lagi.


Andra mengangguk, "Kalau begitu, aku harus kasih tahu ibu,"


"Ibu mu sudah tahu, bahkan adikmu juga ikut, adikmu dan teman-temannya." sahut Doni kemudian.


"Hah? serius?"


"Huum ... abangmu yang mengaturnya," Doni mendengus kesal.


Pasalnya, hari ini dia sudah berencana untuk kembali menemui Fara di kantornya, dan mau-tidak mau dia batalkan hanya untuk mengantar Andra dan teman-temannya, bahkan Nissa juga ikut,


"Nissa?"


Doni mengangguk, "Bersama teman-temannya."


"Wow... bahkan bang El mengatur liburan ini buat kita semua?"


Doni menaikkan bahunya, Entahlah , aku curiga dengannya.


"Yah begitu lah dia!"


Tak lama mereka sampai di villa, Jaka dan irfan yang tidak menyangka meteka akan pergi ketempat ini pun berkali-kali berdecak.


"Tahu gini kan kita bawa baju ganti, lah ini, jangankan baju ganti, kolorpun tidak!"


"Jangan banyak bicara! Kalian boleh pilih dua stel pakaian di dalam. Hanya dua!" ujar Doni sesuai perintah yang Farrel berikan.


"Wah ... gila sih ini! Setajir apa abang lu Ndra?" Tanya Jaka saat masuk kedalam villa mewah yang terletak diatas bukit. Dengan keindahan perkebunan yang menjadi pemandangannya.


Satu mobil berisikan Nissa, bening dan juga Renita tiba disana. Mereka lebih mempunyai persiapan dibandingkan para pria, karena saat Farrrl mengatakannya, kedua sahabatnya itu tengah datang ke rumah Ibu mertuanya.


Mereka bertiga turun, mereka langsung masuk kedalam dan saling menyapa satu sama lain.


"Hai ... kak Doni?" sapa Nissa.


Doni menganggukan kepala, "Kalian istirahatlah, kamarnya ada di atas, yang seberang, pintu berwarna coklat." ujarnya menunjuk pintu yang dia sebutkan.


Nissa menghampirinya, "Kak Doni!?"


Doni menoleh, melihat ke arah Nissa yang tengah menatapnya dengan tersenyum.


Dengan jari telunjuk dan jari jempol miliknya yang direkatkan. Sementara ketiga jarinya yang lain dia lipatkan.


Doni mengernyit, lalu terkekeh. "Apa tuh?"

__ADS_1


"Saranghae... kak Doni!"


__ADS_2