
Membuat Metta menelan ludah. El, apa yang kau akan lakukan kali ini.
"Jangan melakukan hal-hal aneh lagi El, bunda tidak mau kau terlibat lebih jauh lagi."
"Enggak bun, aku tidak akan melakukan apa-apa," ujarnya terkekeh.
"Kau membuatku takut," gumam Metta.
Farrel menyelipkan anak rambut milik Metta kebelakang telinganya, "Enggak sayang, tidak usah khawatir. Aku tidak akan berbuat hal yang aneh-aneh."
"Aku hanya akan membuat hal yang menyenangkan saja." ucapnya lagi dengan terkekeh.
Bunda Ayu berdecak, "Sudah, kalian tidak usah pulang ya, malam ini kalian menginap saja di sini."
Metta melirik Farrel, begitu juga Farrel, " Baiklah, tapi besok pagi, kita harus ke kantor bun, kakak juga besok masuk kerja kan?"
Metta mengangguk, "Iya bunda, besok aku masuk kerja."
"Kalian ini, kapan memberikan cucu pada bunda, baru menikah saja sudah kembali sibuk bekerja."
Arya menggelengkan kan kepalanya, "Bunda, mau kemana sih buru-buru, tadi memaksa Alan, sekarang memaksa mereka lagi."
"Sudah, biarkan mereka menikmati masa-masa pernikahan, baru juga sebulan mereka menikah." lanjutnya lagi, Sementara bunda Ayu sudah mencebikkan bibirnya.
"Ayo lebih baik, kita istirahat," Arya bangkit dari kursi dan menarik tangan Ayu,
Bunda Ayu berdecak, "Ya sudah, bunda istirahat dulu ya sayang." ucapnya dengan mengelus bahu Metta.
"Sama aku enggak bun?"
"Enggak!" ujarnya sambil berlalu.
Farrel terkekeh, "Bunda lebih sayang kakak sekarang dari pada aku."
Metta menjumput pipi suaminya, "Sama bunda sendiri begitu, bukankah kamu juga lebih disayang sama ibu aku sekarang hem?"
Farrel mengangguk, "Iya sih, tapi aku ingin kakak yang lebih menyayangiku,"
Metta bangkit, "Iihh kau ini aneh,"
"Ayo katakan kakak sayang aku gak!"
"Tidak mau."
"Kak, ayolah aku ingin mendengarnya sekali saja! Susah sekali padahal apa susahnya bicara hal itu." Menyusul Istri nya yang sudah lebih dulu bangkit.
Dengan sekali hentakan Farrel menggendong Metta, dan membawanya ke kamarnya.
Metta memukul keras punggungnya."Aaaa. ... El...turunkan aku, kebiasaanmu gak ilang-ilang deh, nanti di lihat bunda,"
"Tidak, bunda sudah tidur!"
"Ayah...itu Ayah, ayo turun kan aku, itu ayah melihat kita!"
"Ayah juga sudah tidur."
"Iiihh... Kau ini!!" Memukul kembali punggung nya.
Hingga anak tangga terakhir,
"Aku yang melihat kalian! Dasar tidak tahu malu." ujar Alan yang kembali turun dengan membawa gelas kosong di tangannya.
Farrel terkekeh, "Cie iri ... cie, mending langsung bilang sama bunda, biar nanti di lamarin, biar tahu seberapa bodoh dirimu saat nanti Al."
"Aku tidak sabar melihatnya!" kata Farrel lagi.
__ADS_1
"El, Jangan bicara begitu pada kakakmu!"
Alan tak menggubrisnya, "Banyak bicara kau!" gumamnya.
Sedangkan Metta memilih menutup wajahnya, rambutnya yang berhamburan dia tarik menutupi wajah nya sendiri.
"Aku tadi bilang apa? Ada yang melihat kita."
"Biarin, dia tidak akan terpengaruh, tidak normal ini!" jawabnya terkekeh.
"Farrel, aku mendengarmu!!"
Farrel tergelak lalu mendorong pintu kamar dengan kakinya, "Lebih baik kita bersenang-senang saja! Memberi cucu buat Bunda."
"Farrel...." pekik Metta.
.
.
Keesokan pagi
Sinar pagi menerobos bebas melalui celah jendela, menyilaukan dua pasang manik yang masih bergelung didalam selimut. Farrel yang memeluk tubuh Metta dari belakang, masih mendengkur halus, sementara Metta mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.
Metta menoleh ke arah belakang, lalu membalikan tubuhnya menghadap belakang. Dia menarik bibir nya ke atas, seraya mencubit pelan pipi Farrel yang jauh terlelap.
Farrel mengerjap, "Pagi sayang!" ujarnya dengan suar serak.
"Pagi...."
"Ayo bangun, kita harus ke kantor hari ini."
Namun Farrel malah menaikkan kakinya menindih Metta, "Sebentar lagi."
"Iihh... nanti kesiangan."
Muah
Muah
Muah
Metta mencium pipi, pipi dan kening Farrel. "Sudah ayo,"
Dengan cepat, Metta menyibak selimut dan turun dari ranjangnya, lalu masuk kedalam kamar mandi. Sementara Farrel terkekeh melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.
"Dia pasti melakukannya karena ingin cepat saja. Dasar!" ujar Farrel dengan kembali memeluk guling.
.
.
Farrel masuk kedalam ruangan kerjanya, dan Chaira sudah berada disana. Dia tengah duduk membelakangi Farrel, dia tersentak,
"Siapa yang mengijinkanmu masuk?"
Chaira berseringai, "Aku tidak butuh ijin siapapun untuk masuk kemana pun aku ingin."
Farrel mencondongkan tubuhnya, dengan tangan yang bertumpu pada meja, dia mendekatkan wajahnya.
"Kau pintar, tapi sayang tidak tahu sopan santun."
"Farrel-Farrel... Kau ini terlalu emosi, kau tahu, aku kesini untuk memberikan penawaran terakhir padamu."
Farrel menghela nafas, "Kenapa kau sangat menginginkan rancangan gedung milikku? Atau kau begitu terobsesi menjadi yang kedua?"
__ADS_1
Chaira tertawa, dia berdiri membelakangi Farrel, "Kau tahu, aku iri pada pada istrimu, pada keluargamu, keluarga yang menyayangi menantu mereka, padamu yang begitu mencintai istrimu itu."
Farrel mengernyit, "Kau sudah gila, kenapa kau iri pada istriku, iri melihat keluarga ku?"
"Harusnya semua itu milikku, andai saja dulu kau memilihku!"
"Kau benar-benar sudah sudah gila, Jangan memakai itu sebagai alibi, menjijikan, aku bahkan tidak tertarik padamu, baik dulu maupun sekarang."
"Benarkah?"
chaira mendekati Farrel, menarik dasi Farrel lembut lalu berjalan mundur, tangannya terulur menyentuh kancing kemeja Farrel lalu dia mainkan.
"Apa yang kau inginkan Aira?"
"Aku ingin mengajakmu bersenang-senang, sekali saja." ujarnya dengan bermain kancing kemeja Farrel.
Farrel berdecak, "Apa kau tidak tahu malu?bukankah dulu aku menolakmu? Dan kau masih punya muka untuk bertemu dengan ku?
"Sekali saja, Sebelum aku pergi, aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini." ucapnya dengan menggigit bibir bagian bawahnya sedikit.
"Apa Kau begitu penasaran padaku?" ujar Farrel.
"Heem, aku menginginkanmu," ujarnya dengan suara berat.
Farrel berseringai, "Apa yang aku dapatkan jika aku menurutimu?"
"Semuanya."
"Semuanya?
"Sangat menarik!" Ujar Farrel kembali.
"Temui aku malam ini." Bisik nya dengan menyelipkan kartu sebuah pintu hotel kedalam saku jas yang dikenakan oleh Farrel.
"Boleh aku ...." ucapnya dengan menatap bibir Farrel.
Farrel menarik tangan Chaira dari kancingnya, "Nanti malam saja!"
"Baiklah, aku akan menunggu mu!"
Cup
Chaira mengecup pipi Farrel, lalu beranjak dan keluar dari ruangan Farrel, dengan senyuman yang merekah.
Chaira berjalan keluar dengan penuh percaya diri. Lalu masuk kedalam Lift yang terbuka.
Namun dia urung kan saat melihat Metta yang berjalan tak jauh dari sana. Dia menarik tipis bibirnya dan mengikuti Metta.
Metta yang masuk kedalam toilet karyawan sontak kaget saat melihat Chaira yang menutup pintu toilet.
"Kau? Sedang apa kau disini?"
"Aku ada sedikit urusan dengan suamimu!"
"Oh...." Metta hanya beroh- ria.
"Aku akan Memberi mu hadiah saat aku pulang ke negara ku. Kau harus menerimanya." ucap Chaira.
Metta mengangguk, "Terima kasih, tapi lebih baik tidak usah saja!"
"Bagaimana kalau suamimu yang menerimanya?" tanya Chaira.
"Benarkah? Kau beruntung sekali kalau begitu! Biasanya dia tidak sembarangan menerima hadiah,"
Hm... tentu saja aku beruntung, kau akan lihat suami mu saat bersamaku nanti malam.
__ADS_1
.