Berondong Manisku

Berondong Manisku
Ke sekolah Andra


__ADS_3

"Sayang, ayo cepat! Nanti bisa terlambat," seru Farrel yang menunggu Metta di ruang tamu.


Metta menyembulkan kepalanya, "Sebentar lagi!"


Kenapa dia antusias sekali acara kelulusan Andra, seharusnya kan aku yang benar-benar kakak kandung Andra. Mencurigakan. batin Metta seraya memoles tipis-tipis lipstik di bibirnya.


Tak lama kemudian Metta keluar dari kamar. Membuat pupil coklat Farrel melebar.


"Sayang, kenapa memakai pakaian seperti itu, bagaimana jika anak kita merasa sempit! Sesak, ganti cepat! Pake yang longgar."


Metta menatap pakaiannya sendiri dari bawah, "El ... please jangan berlebihan, ini sama sekali tidak ketat!" ujarnya dengan menarik bagian perutnya.


"Pokoknya ganti, terlihat seperti kakak yang baru lulus disekolah itu!"


Metta merengut, dia kembali ke kamar dana masuk ke dalam walk in closed untuk berganti pakaian.


Astaga, ini gak boleh, itu gak boleh, sekalian saja aku memakai kain sarung, Menyebalkan.


Metta terus menggerutu, namun dia juga tetap mengganti pakaiaannya yang lebih resmi, agar tidak terlihat lebih muda.


"Sayang, jangan terus ditekuk begitu dong wajahnya." ucap Farrel yang tiba-tiba sudah berada dibelakangnya.


"Habisnya kamu nyebelin, aku sudah tiga kali berganti pakaian, sedangkan kamu terus mengajak buru-buru! Membuatku pusing."


Farrel menjumput hidungnya, "Itu karena kakak sangat cantik, bahkan kehamilan kakak membuat semakin cantik saja, aku tidak mau berbagi dengan orang lain yang akan melihat kakak dengan matanya seperti ini," ucap Farrel dengan mulut menganga dan mata yang sengata dia lebarkan.


Membuat Metta tertawa melihatnya. "Mana ada yang begitu! Itu sih bukan melihat aku, tapi karena cacingan!"


Metta keluar dari walk in closed dan merapikan riasannya.


.


.


Semua sudah berkumpul, Ibu Sri, Nissa dan juga Andra yang berangkat bersama Mac. Sementara Farrel dan Metta datang tidak lama setelah mereka.


"Kak Sha, bang El...." sapa Nissa menyalami mereka.


Metta mendekat pada ibunya, "Apa sudah mulai?"


Sri menepuk kursi disamping nya, Metta kemudian duduk, "Baru mulai Sha."


Akhirnya mereka duduk berjajar, sementara Andra sudah berada di depan. Berkumpul dengan teman-temannya untuk kemudian naik ke panggung. Selain mendapat tanda kelulusan, mereka juga diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesan selama mereka bersekolah di sana.


Satu persatu dari mereka naik ke atas podium, begitu juga dengan duo rusuh, Irfan dan juga Jaka, mereka saling menyenggol saat melihat Farrel yang sudah terlihat dari kejauhan paling mentereng.


"Tambang emas datang!" gumam Jaka dengan mengedip-ngedipkan matanya pada Irfan.


"Yoyoy ... habis selesai acara kita samperin Jak, siapa tahu modal buat party nanti malem cair melimpah." tukas Irfan.

__ADS_1


"Ributin apaan sih kalian pada? Rame banget!" sela Andra yang duduk paling ujung.


"Gak...gak ngomongin apa-apa!" ujar mereka dengan kompak.


Masih dengan saling menyenggol, kali ini mereka memperhatikan teman-teman mereka yang tengah cekikikan melihat ke arah Farrel.


"Perhatiin deh tuh, dasar wanita! Tidak pernah puas hanya dengan melihatku saja, eeh ada abang mentereng, mata nya loncat dah tuh pada melotot." tukas Jaka berkelakar.


"Emang lu mentereng, pake mereka puas sama muka dibawah rata-rata begitu?" timpal Irfan lalu tergelak.


"Coba saja, lu lihat gue nanti duduk disampingnya, lu bandingin deh, muka gue sama bang Farrel dah kayak pinang dibelah dua. Gini niiih," ucapnya dengan jari telunjuk yang dikaitkan dengan jari tengah.


Irfan kembali tergelak, "Huum ... bak pinang dibelah dua, lu bagian yang busuknya tapi."


"Sialan lu...." ucap jaka dengan menoyor sahabatnya.


Andra menggelengkan kepalanya, "Heh, bisa serius gak sih kalian? Ini lagi acara, berisik tahu gak."


"Kapan lagi ya kan kita berisik, besok-besok kan kita gak bisa berisik lagi di mari!" kilah jaka yang di dukung anggukan Irfan.


"Eh ... Dra abis ini, kita jadikan ikut party bareng anak-anak?" tanya Jaka.


"Gak bisa gue, dirumah bakal kumpul semua, masa gue pergi! Kalian aja yang ke rumah gue,"


Kedua mata Irfan dan Jaka tiba-tiba berbinar, "Abang lu ada juga gak?"


Andra mengernyit, "Ngapain nanyain abang gue?"


"Gue juga."


.


.


Setelah acara selesai, Metta yang ditemani oleh Nissa masuk kedalam toilet siswa, bawaaan hamil, Metta sering kali bulak balik ke toilet hanya untuk buang kecil.


"Eeh ... kalian lihat tidak tadi cowok ganteng yang duduk dideretan kursi tengah."


"Astaga, ganteng banget kan! Dia kan abangnya Andra."


"Really ...."


"Huum...,"


Seorang gadis berparas cantik tengah bersenandung riang dengan merapikan riasan diwajahnya.


Sementara Metta yang mendengarkan dari balik bilik toilet hanya menggelengkan kepalanya saja.


Apa yang mereka bicarakan adalah suami ku? Lucu sekali, Farrel bahkan masih disukai di sekolah ini, pantas saja dia sangat antusias sekali saat akan pergi, dan menyuruhku untuk tidak berpakaian seperti tadi.

__ADS_1


Tak lama kemudian Metta keluar dari bilik, namun tidak melihat siapa pun berada di toilet itu selain Nissa yang baru saja masuk.


"Kak Sha, lama banget sih! Aku sampai pegel nungguin didepan pintu, udah kayak penjaga toilet saja." Gerutu Nissa.


Metta tidak menjawab pertanyaan Nissa, yang dia fikirkan hanya tentang para gadis yang terdengar suaranya saja.


"Eeh Dek, tadi ada yang keluar dari toilet ini?"


Nissa terheran, "Ya banyak lah kak, tapi gak ada yang aku perhatiin."


"Kamu kenal gak sama mereka yang tadi keluar?" ujarnya dengan merapikan rambutnya di kaca.


"Mereka kakel famaous, (Kakak kelas) siapa yang tidak kenal dengan mereka, tanya saja bang Andra," ujar Nissa kemudian.


Akhirnya mereka keluar setelah selesai, dan kaget saat melihat kerumunan di dekat lapangan.


"Ada apa Nis?"


"Gak tahu kak!"


Metta mendekat ke arah kerumunan, dan melihat Farrel tengah berada disana, bersama Andra, Jaka dan juga Irfan.


"Ada apa?" tanyanya pada Farrel.


"Hanya pingsan!" ujar Farrel yang mengerdikkan bahu.


Nissa mendekati kakaknya, "Ini yang Nissa bilang tadi, kakel famaous yang keluar dari toilet tadi."


"Benarkah?" Gumam Metta.


Farrel kembali berjalan, mengapit tangannya dan meninggalkan kerumunan.


"El ... kok gak ikut nolongin?"


"Aku bukan paramedis, aku gak bisa nolongin! Aku juga gak bisa kasih pertolongan pertama, aku bukan anak PMR." ucap Farrel yang menggiring sang istri kembali duduk.


"Bu kita pulang," ajak Metta.


Sri mengangguk, tak lama kemudian Nissa kembali menghampiri mereka dengan tertawa.


"Kak, ternyata hanya akting saja," ujarnya.


Metta mengernyit, "Dari mana jamu tahu itu akting?"


Nissa duduk dikursi, "Karena tadi mau dikasih nafas buatan tuh sama si Jaka, eeh malah kabur duluan."


Metta menggelengkan kepalanya, seraya menatap Farrel, Apa suatu hari nanti kamu akan tergoda dengan salah satu gadis yang mencoba mencari perhatianmu?


"Sayang kenapa terus melihatku seperti itu?"

__ADS_1


Metta gelagapan, namun dia menjumput hidung mancungnya saat ketahuan.


"Papa tampan."


__ADS_2