
Aku berjalan sendiri berteman sepi,
Ingin berlari hingga lupa diri,
Meski bayangmu tak juga pergi.
.
.
" Perempuan itu...? Tasya.., " Mata Metta terbelalak saat melihat Tasyalah perempuan yang tengah merangkul Kekasihnya itu.
Perempuan yang memang secara terang terangan mengajak perang namun kini dia yang menang.
"Lo tau perempuan itu Sha?"
Metta mengangguk "Dia Tasya, teman satu kampusnya Farrel"
"Tapi gue rasanya pernah liat, tapi dimana yaa, gue lupa"Dinda menggaruk kepalanya.
"Mereka cocok, serasi dan sepadan."gumam Metta.
"Duh gue bener bener lupa, pernah ketemu tapi dimana?"Dinda menggaruk kepalanya.
Metta menepuk lengan sahabatnya itu "Udah gak usah lo pikirin lagi, lagian udah gak penting lagi sekarang. Gue udah mutusin untuk mundur, dan gue cuma butuh waktu untuk menata hati gue aja."
Dinda berhenti bertanya, dia hanya menatap Metta dengan nanar. Metta kembali menatap lekat ke arah yang tak jauh dari tempatnya, memperhatikan Tasya yang memeluk pinggang Farrel dan sebaliknya Farrel merangkul bahu Tasya. keduanya begitu cocok, dan juga serasi .
"Kakak percaya padaku kan"
"Aku tidak akan menyerah, jadi kakak tunggu aku yaa"
"Aku berjanji, ah tidak.. tidak. Kakak kan tidak mau aku berjanji, jadi aku berjanji pada diriku sendiri" kata kata itu terus berputar di kepala Metta, kata kata yang kerap diucapkan Farrel sampai akhirnya dia mengangguk karena rasa yang sama.
"Calon kakak ipar, dia bahkan menyuruh adik adikku memanggilnya begitu"
Metta menghembuskan nafasnya, meski hal ini menyakitkannya lagi. Kehidupan harus tetap berjalan.
"Ini yang kamu maksud berjuang El, meyakinkan aku lantas membawaku terbang lalu menghempaskan hingga aku jatuh kedasar paling dalam."
"Sha, lo baik baik aja" Metta terhenyak dalam lamunannya.
"Hm..gue baik baik aja kok, udah biasa juga" ucap Metta dengan senyum yang dipaksakan.
"Gue tau lo sedang gak baik baik saja Sha, tapi gue bingung mesti bantu lo gimana?" batin Dinda dengan tangan yang masih dikemudi.
"Kalo gitu kita pergi dari sini ya"
"Ya tentu saja, ayo kita pergi" ucap Metta dengan pandangan yang masih menatap kekasih berondongnya. Hmm ralat mantan kekasih berondongnya itu.
Bohong jika Metta tidak merasa cemburu melihatnya, bahkan ingin sekali mendatanginya dan menjambak rambut perempuan yang merangkul Farrel.
Mobil melaju kembali, kali ini mereka memutuskan pergi ke swalayan, "Kita beli bahan masakan aja Din, terus balik ke apartemen langsung ya, gue bener benr gak mood kemana mana"
__ADS_1
Dinda mengangkat ibu jari yang merekat pada jari telunjuk hingga berbentuk O dengan bibir yang bergumam.
.
Flashback Off
Berkali kali Farrel menatap ke arah pintu kamar Alan, banyak hal yang ingin dia tanyakan, lebih tepatnya ingin memastikan perempuan yang tengah berada di dalam adalah Tasya yang dia kenal.
Alan melihat Farrel terus menerus ke arah kamar, dan memutuskan untuk menceritakan semuanya. Dia akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat, bahkan bukti foto lengkap dengan video yang diberikan anak buahnya.
"Brengsex"Farrel meremas foto foto yang diberikan Alan.
Dalam rasa kalut yang meliputi diri Farrel, beserta kekecewaannya pada sang bunda dan juga Tasya membuat Farrel hilang kendali, berkali kali menenggak wine yang berada diatas meja.
"Lo gila..berhenti El" Alan mengehempaskan gelas yang dipegang Farrel.
Trang..
Gelas wine itu terlempar jatuh kelantai, dan pecah berserakan. Saat suara itulah Tasya keluar dari kamar Alan dengan memakai kemeja milik Alan yang kebesaran.
"Ada apa?"
"Siapa yang menyuruhmu keluar? berhenti disitu." Alan menatap Tasya dengan tajam.
"Aku hanya ingin melihat Farrel."
"Cih, masih saja mencari muka"
"Terserah kamu percaya atau tidak, yang jelas aku akan melihat keadaan Farrel."
"Dia yang mengantarkan dirinya sendiri," batinnya.
Farrel yang tak biasa meminum minuman keras itu mulai meracau, sesekali memanggil Metta dalam racauannya.
"kakak"
"Gue bilang juga apa" ucap Alan datar, dia hanya duduk memperhatikan Farrel.
Tasya melangkah mendekati Farrel yang tengah duduk, berusaha menggapai lengan nya.
"Stop..jangan mendekat"
"Aku hanya ingin membantumu El"
"Aku tidak butuh bantuanmu"
Tasya menatap dengan nanar "Kenapa? kamu benci padaku? merasa jijik setelah kamu melihatku tadi?Benar begitu"
"Tidak, aku hanya tidak menyangka bisa melihatmu dalam keadaan seperti itu" Farrel menyinggungkan bibirnya.
"Ini semua terjadi karena..." Tasya menghentikkan ucapannya sendiri. Dia takut jika Farrel akan bertambah benci padanya jika mengetahuinya yang sebenarnya.
"Kenapa diam..?Ayo lanjutkan.." Kini Alan mengeluarkan suaranya. Menatap jengah ke arah Tasya.
__ADS_1
"Minggir aku mau pulang," Farrel mendorong Tasya.
"Izinkan aku membantumu El"
Farrel mengangkat kedua tangannya"Berhentilah Tasya, aku sudah tau semuanya, Alan kau urus wanitamu ini"
Tasya tersentak, dia tak menyangka rencana jahatnya sudah terbongkar, dan Farrel kini sudah mengetahuinya.
Tasya menggenggam tangan Farrel,"Aku minta maaf, aku menyesal El, maafkan aku"
"Berhentilah Sya, kau hanya akan menghancurkan hidupmu sendiri"
"Aku benar benar menyesal"
Farrel menoleh Alan yang dari tadi hanya duduk tak perduli " Kenapa lo gak kirimkan dia ke tempat anak anak Lan"
Tak ada jawaban dari Alan yang dengan santainya menenggak minumannya.
"Berubahlah, kau gadis yang baik, jangan melakukan segala cara untuk mendapatkan keinginanmu" Farrel melunglai.
Farrel bukan Alan, begitupun sebaliknya. Sikap lembutnya lah yang membuat perempuan menyukainya termasuk Tasya. Namun tidak ada seorang pun bisa masuk kedalam hatinya kecuali satu orang, Metta.
Tasya menatap pria yang selama ini mengacuhkannya, rasa menyesal mendera hatinya.
Dan Farrel masih bersikap baik terhadapnya meski dia sudah mengetahuinya, membuat Tasya semakin merasa bersalah.
"Aku akan menebus kesalahanku El"
"Dan gue akan terus mengawasimu" Alan berdiri dan berlalu ke ruangan dapur.
Tasya menegang, sosok Alan yang dia ketahuinya sebagai kakaknya Farrel sangat berbeda 180 derajat dengan adiknya. Alan begitu tegas, keras dan tidak mau dibantah, sebaliknya Farrel sangat lembut namun juga tegas dalam beberapa hal.
"Apa yang akan dilakukannya lagi, dia bahkan mengurungku disini."
"Sudahlah aku mau pulang," Farrel menyambar jaket dan kunci mobilnya diatas meja.
" Biar gue antar, sekalian ada berkas yang harus gue ambil di rumah." seru Alan dari ruang dapur.
Farrel yang berjalan dengan sempoyongan pun mengangguk, "Jam terbangnya jauh berada di bawah Alan jika berkaitan dengan minuman"
Alan menopang tubuh Farrel dengan memegang bahau dan lengan Farrel, " Berapa banyak Lan yang gue minum tadi"
"Dua gelas, dan bunda akan memarahiku karena hal ini"
"Apa lo menyukai Tasya?" Farrel terkekeh.
.
.
.
Jangan lupa like komen dan Rate 5 buat karya remahan aku ini. Terus dukung aku dengan menjadikan karya ini tetap di Fav supaya tau kelanjutannya.
__ADS_1
Makasih😘