
Metta menghela nafas berkali-kali, seharusnya dia bisa istirahat dihari liburnya, malah seharian ini, dirinya sibuk meladeni tetangga yang datang kerumahnya hanya untuk meminta maaf, ada juga yang membawa hantaran makanan sebagai permohonan maafnya.
Begitupun dengan Sri, kepalanya sudah mulai pusing karena terus ditanya dan menjawab hal yang sama, sementara Andra dan Nissa menyaksikan mereka dari meja makannya, dengan suapan demi suapan yang masuk kedalam mulut mereka masing-masing.
"Bang El keren ya, bang?" Andra kali ini mengakuinya dengan cepat.
"Abang juga pasti akan melakukan hal yang sama jika posisinya seperti ini!"
"Cih, mana mungkin!" cibir Nissa yang dibalas toyoran di kepalanya.
Hingga hari berubah menjadi menjadi petang, semua orang sudah kembali kerumah masing-masing. Metta menghempaskan tubuhnya disofa, dengan memegang kepalanya yang berdenyut.
Mac mematikan kameranya dan membereskannya, dua orang yang bertugas membantunya pun tampak kelelahan.
"Mac, lebih baik kau suruh aku mengantarkan paket ke luar kota, cape nya gak akan tanggung seperti ini." Pria itu terkekeh.
"Apa kau tiap hari harus meladeni permintaan Bos mu yang konyol itu? satunya ikut menimpali.
Mac hanya tersenyum kecut," Apa kalian sudah tidak sayang lagi dengan nyawa kalian?" Mereka menggelengkan kepalanya,
"Jangan sampai Alan mendengar kalian membicarakan adiknya seperti ini."imbuhnya lagi.
Kedua orang itu menelan saliva, menyadari perkataan mereka masing-masing dengan silih menatap.
Metta kembali ke kamar saat mendengar ponsel yang dia simpan dikamar berdering. Dia hanya menatap layar putih yang masih menyala itu tanpa ingin mengangkatnya.
"Mac, suruh tunanganku mengangkat teleponnya, atau kau aku habisi saat aku kembali!"
Mac terheran dengan pesan yang baru saja dia baca diponselnya. Kali ini dia setuju dengan kedua rekan yang baru saja membantunya.
Mac mengetuk pintu kamar Metta,
"Mbak...." tak ada suara,
"Mbak...," ujarnya dengan mengetuk lebih keras.
Metta berdecak, dia langung beranjak lalu membuka sedikit pintu kamarnya. " Ada apa Mac? Aku mau istirahat!"
"Angkatlah telepon dari mas Farrel, kalau tidak ...."
Metta langsung menutup pintu kamarnya, dia sudah hapal jika Mac mengatakan hal seperti itu.
El... gemes banget aku sama kamu, sampai aku benar-benar ingin membawa sapu untuk memukulmu.
Dering ponsel berbunyi lagi, dengan malas Metta menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Sa--yang jangan marah, maafkan aku! aku melakukan ini hanya agar mereka tidak menjelek-jelekkanmu sayang,"
Hanya mendengar suaranya saja, kemarahanku seakan mereda dengan sendirinya. Bagaimana aku bisa marah jika tingkah konyolmu itu karena besarnya rasa cintamu padaku. Batin Metta.
"Sayang kau mendengarkanku?" ucap Farrel di ujung sana.
__ADS_1
"Iya aku mendengarkanmu!" Metta menghela nafas.
"Maafkan aku."lirih Farrel.
"Iya, Aku maafkan!"
"Syukurlah,hehe...." Farrel terkekeh.
"Jangan tertawa El ...gak lucu sama sekali!"
"Aku kangen kakak...."
Metta menelan saliva, Sebenarnya aku juga El....
"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan,""
Metta mengernyit, "Apa....?"
"Pagi ini aku akan menyerahkan miniaturku, dan mungkin kita yang ada disini akan berbaur dengan banyak orang dari negara lain, apa kakak tidak keberatan?"
"Kenapa bertanya padaku?Aku bahkan tidak tahu apa yang kamu lakukan disana."
"Apa kakak ingin menemaniku?"
"Astaga El, bagaimana mungkin aku akan kesana, itu sulit meskipun aku ingin!" Metta seketika menutup mulutnya.
Farrel terkekeh, "Jadi benar kakak ingin kesini, Aku akan menyiapkan semua nya jika kakak mau,"
"Sudah sana, kerjakan tugasmu dengan cepat!"
"Kenapa? Apa kakak gak kangen sama aku." goda Farrel.
"Kalau kau bicara seperti itu terus aku akan menutup teleponnya."
"Farrel...."
Metta mendengar seseorang memanggil nama Farrel.
"Yes Miss.... Maaf sayang aku harus menutup teleponnya, nanti aku hubungi lagi yaa."
Tut
Farrel menutup sambungan teleponnya sebelum Metta menjawabnya. "Ih... ngeselin!" Metta melempar ponsel keatas ranjangnya.
Tenang Sha, fokus dia sudah bilang akan bertemu banyak orang dari berbagai negara, dan barusan mungkin salah satu dari mereka. Batin Metta.
Sementara di belahan dunia lain.
Farrel kini tengah berkumpul dengan mahasiswa terpilih dari berbagai negara, dengan membawa miniatur arsitektur masing-masing. Termasuk dia dengan Gedung pencakar langitnya.
Miniatur-Miniatur itu berjejer rapi didalam kotak kaca, satu persatu diberi penilaian. Terlihat dari para juri yang mengangguk-ngangguk dengan dahi yang mengkerut.
__ADS_1
"You look over there, the man in the red flannel shirt."
(Kau lihat kearah sana, pria yang mengenakan kemeja flanel merah itu.)tunjuk seseorang pada temannya.
"Hmm... I saw him! He's handsome...."
(Hmm... aku melihatnya! Dia tampan....)ucap temannya tanpa basa-basi.
"Your man taste is good,"
(Selera pria mu memang bagus,) Timpal temannya yang lain.
"How can I get to know him, it seems he is not easy to approach. He never looked at other people for more than 5 seconds, especially when dealing with women. Even though we've been here for almost 3 weeks, he's never been seen talking to a woman."
(Bagaimana caranya agar aku bisa mengenalnya, sepertinya dia tidak mudah didekati. Dia tidak pernah memandang orang lain lebih dari 5 detik, apalagi kalau berhadapan dengan wanita. Padahal kita sudah berada disini hampir 3 minggu, tapi tidak pernah sedikitpun dia terlihat berbicara dengan wanita.)
Temannya yang pertama bicara berdecak,
"How about we make a bet!"
(Bagaimana kalau kita bertaruh!)
Setelah acara penilaian selesai, mereka terlihat berbincang, begitupun Farrel yang tengah mengobrol dengan seorang pria berkaca mata tebal.
Seorang perempuan mendekat kearah mereka,
"Hi... I want to ask you something."
(Hai...aku ingin bertanya sesuatu padamu,)
Farrel mengernyit, "Ask about what?"
(Bertanya tentang apa)
"Are you free tonight? I want to take you to the club."
(Apa kau ada waktu malam ini? aku ingin mengajakmu ke club)
Farrel menatap pria disampingnya yang juga tengah menatapnya. Hanya mereka berdua yang berasal dari negara yang sama, dan mereka bebas berbicara menggunakan bahasa asal mereka tanpa kesulitan.
"Terima saja, malam ini kita juga tidak ada lagi tugas kan?" bisik pria berkaca mata itu di telinga Farrel.
"Kau saja kalau begitu!" Farrel mengerdikkan bahunya.
"Ayolah...Sekali saja sebelum tugas-tugas kita besok!"
Farrel menimang sejenak, apa yang dikatakan temannya itu ada benarnya. Tugas mereka akan semakin sulit, dan mereka tidak akan punya waktu untuk berleha-leha sedikitpun.
"Bagaimana? gadis berambut merah itu sangat menarik" Tanyanya lagi pada Farrel.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yaa