
"Tasya, sudahlah lebih baik kita kembali saja, rasa nya menjadi sia-sia bicara padanya." keluh Doni.
"Siapa kau? Kau yang menelepon ku kemarin? Sudah kau habiskan berapa uangmu untuk wanita ja lang itu? Kau ingin meminta kami mengganti rugi?" ujar ayah sambung Tiwi dengan sorot mata menghina.
"Kita kembali saja ke rumah sakit, " ujar Doni tanpa menghiraukan ucapannya, kemudian berlalu begitu saja tanpa berpamitan.
Entah kenapa mendengarnya saja dia muak, sekalipun tidak tahu menahu dengan masalah yang terjadi di antara keluarga yang seharusnya saling menyayangi itu.
Namun dari sorot mata ayah sambungnya, dia tahu, apa yang di katakan oleh Tasya tidak salah.
"Bibi akan menyesal!" ujar Tasya lalu menyusul Doni yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
Brukk
Ayah sambung Tiwi melemparkan sapu pada mobil yang mereka naiki, membuat Doni geram, dan dia hendak turun kembali!
"Apa maksudnya itu?" membuka handle pintu mobil.
Namun Tasya mencegahnya, "Tidak usah kau ladeni, itu memang keinginanya, saat kau turun, dia malah akan senang! Dan kau akan masuk perangkap menjijikannya, percaya padaku Doni!"
Doni menarik tangannya kembali, benar juga apa yang dikatakan Tasya, dia mungkin akan melakukan sesuatu entah apa, jika Doni terpancing.
"Lebih baik kita ke rumah sakit!" ujar Tasya lagi.
"Kamu pulang saja, aku akan memgantarmu pulang, suamimu mungkin akan mencemaskanmu." jawab Doni dengan kedua mata mengarah pada kedua orang tua Tiwi.
Doni pun melajukan kembali mobilnya dari sana, melaju membelah jalanan. Dia menghela nafas, mengingat bagaimana Tiwi tumbuh di tempat seperti itu, membayangkan bagaimana dia menjalani kehidupan nya sebelum akhirnya ibu nya sendiri yang mengusirnya.
Dia tidak bisa menyalahkan sikap Tiwi yang mu rahan, dan juga licik, selalu ada alasan dibalik sikapnya yang seperti itu.
"Sebenarnya Tiwi itu anak baik, dia juga pintar, selalu juara disekolah, namun semua berubah saat ibu nya menikah lagi, mungkin itu yang membuatnya membenci pernikahan,"
"Kau tahu, Erik bahkan mengajaknya menikah berkali- kali, namun selalu di tolaknya. Dia lebih suka menghancurkan hubungan orang lain atau pernikahan orang lain dengan menggoda suaminya," ungkap Tasya dengan helaan nafas,
"Tapi dia perlahan- lahan berubah sejak bertemu denganmu, dia bahkan terus menanyakanmu padaku,"
"Benarkah?"
"Huum ... lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri?"
"Aku tidak tahu, aku dulu sangat membencinya, membenci sikap dan sifatnya, karena aku tidak tahu alasan dia begitu!"
"Dan sekarang aku bersimpati padanya,"
"Kau tidak mencintainya?"
Doni menggelengkan kepalanya, "Tidak, bukan cinta yang itu yang aku maksud, aku memang berencana menikahinya karena rasa tanggung jawa akan anak yang dikandungnya, sampai melakukan segala cara untuk memastikan bahwa itu benar anakku," Menghela nafas.
"Tapi semua berubah, dan aku tidak tahu harus bagaimana kedepannya!"
Tasya mengangguk, "Aku mengerti, kamu pasti kaget, dengan semua yang terjadi."
"Thanks Sya...."
Akhinya Doni mengantarkan Tasya kembali ke rumahnya, sementara dia kembali ke apartemen sebentar untuk membawa beberapa pakaian dan kembali ke rumah sakit.
Entah apa yang dilakukannya ini adalah cinta yang belum dia sadari atau bukan, dia hanya merasa harus bertanggung jawab atas kecelakaan yang di alami oleh Tiwi.
.
.
__ADS_1
Apartemen Golden Sky
Hueekkk
Huekkkk
Huekkkk
Metta yang tengah tertidur itu pun mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, suara orang tengah muntah di kamar mandi membuatnya bangun seketika.
Dia pun beranjak turun dari ranjang dan setengah berlari ke kamar mandi saat sadar siapa yang tengah muntah padahal ini sudah tengah malam.
"El... are you ok?"
"Kakak masih bisa bertanya, sudah jelas aku tidak baik-baik saja!"
Astaga, aku seharusnya tidak bertanya seperti itu, lagi pula kan bukan ingin ku juga begini! Siapa yang hamil, siapa yang sensitif.
"Maaf Sa--sayang! Kamu pasti sakit yaa. Maafkan aku yaa." mengelus punggung Farrel yang tengah membungkuk memuntahkan isi perutnya di wastafel.
"Sudah tidak apa-apa, kakak tidur saja lagi yaa, aku benar-benar tidak apa-apa, aku hanya merasa mual," ujarnya dengan mengambil Tissu dan menyeka bibirnya.
Metta terus mengelus punggung dan memberikan pijatan lembut. Hingga Farrel merasa nyaman dan mereka kembali naik ke atas ranjang.
"Kemari lah," ujar Farrel dengan membawa tubuh Metta kedalam dekapannya. Membuatnya sama-sama nyaman, dan rasa mual yang dirasakan Farrel mulai mereda.
"Apa aku harus terus memeluk kakak seperti ini? Karena hanya dengan begini, mual dan pusingku juga hilang."
"Benarkah?"
"Hm... aneh kan?" tanya Farrel dengan menghirup dalam-dalam rambut Metta, shampo juga sudah diganti, hingga dia tidak begitu merasakan mual,
"Mungkin anak ini terus ingin dekat dengan papanya." Ujar Metta mengulum bibir.
Metta terkekeh, "Kau ini bicara apa? Tentu saja dia mengenalimu, kau kan yang membuatnya."
Farrel tergelak, seraya menyusupkan tangannya kedalam baju tidur istrinya, mengelus lembut perutnya."Kakak mulai mesum yaa!"
"Tidak, aku hanya mengatakan hal itu, mana bisa dikatakan mesum, kau ini!"
"Apa dia tidak akan terganggu jika papa nya ingin menengoknya?" bisik Farrel ditelinga Metta,
Metta mendongkak, membulatkan kedua matanya sempurna, "Tidak, maksudku tentu saja dia akan terganggu."
"Benarkah? Apa kita harus konsultasi pada dokter Mariska?"
"Astaga, itu memalukan El." ujarnya menutup wajah.
Tidak ada lagi suara celotehan dari Farrel, dia sudsh terlelap ke alam mimpi hanya dengan mengusap perut rata Metta. Metta pun menyusulnya. Mereka terlelap dengan saling mendekap.
Tengah malam
Metta terbangun karena merasa kedinginan, meraba kasur disampingnya namun tidak menemukan Farrel, dia mengerjap. Takut jika Farrel kembali muntah-muntah,
"El...." lirihnya dengan suara serak,
Tidak ada jawaban, dia menatap jam dinding, dan melihat waktu sudah jam tiga dini hari. Dan tidak menemukan Farrel dikamar mandi.
"El..." panggilnya lagi.
Metta berjalan merewati pintu ke arah balkon, dan pantas saja dia merasa dingin, itu karens pintu terbuka, dan melihat ke arah luar balkon.
__ADS_1
"El ... sedang apa?" Tanya Metta saat melihat suami kecilnya itu duduk termangu di balkon.
Farrel menoleh, dia merengkuh bahu sang istri dan menjatuhkan kepalanya dibahu Metta.
"Hei ... ada apa?"
Semenjak hamil, Farrel memang lebih sensitif, dia juga yang merasakan gejala-gejala yang biasa timbul saat seorang hamil muda.
Farrel bahkan menitikkan air mata,
"Ih kau ini, bisa tiba-tiba menangis begini!"
Farrel menggelengkan kepalanya, "Aku hanya kasian sama Doni,"
"Astaga tuhan...aku pikir apa? Kau menangis hanya karena kasian pada Doni,"
Farrel mengangguk, "Parah banget kan, aku tiba-tiba menangis seperti ini, emosional banget semenjak kakak hamil, harusnya kan kakak yang mengalaminya, bukan aku!"
Metta terkikik, "Kalau begitu, kamu yang melahirkan saja bagaimana? Kamu hanya merasakan gejala awalnya saja, setelah itu, kamu akan biasa lagi, sedangkan aku?"
"Semakin hari semakin membesar,"
Farrel terkekeh dengan menyeka air bening yang menitik.
"Selama sembilan bulan, badan ku akan berubah,"
Farrel menarik bibirnya tersenyum,
"Tidak apa-apa aku akan tetap cinta,"
"Tubuhku akan gemuk?"
"Tidak apa, sangat sexy aku akan sangat menyukainya." ujar Farrel dengan bermain mata.
Metta tersipu, "Belum nanti menyusui, benda ini akan mengendor." ujarnya dengan tangan kiri memegangnya, dan tangan yang lain menutup mulutnya sendiri dengan terkekeh.
"Kakak sengaja ya menggodaku? Hem...."
"Tidak, kamu kan sedang sedih, aku hanya menghiburmu!"
"Baik...." Farrel mengangguk-anggukan kepalanya,
"Kalau begitu hibur aku sampai aku tidak merasa sedih lagi." ucapnya lagi dengan kedipan mata.
"El...ih! Kau menyebalkan,"
"Ayo, kak ... aku ini suami yang mengalami ngidam." ujarnya merengut.
Astaga, aku menyesal mengatakan aku akan menghibur agar dia tidak sedih lagi.
Metta bangkit dari kursi, "Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa...."
"Kakak ayolah, Kakak kan yang ingin menghiburku, tapi masih bertanya bagaimana?"
"Bagaimana jika kita bersenang-senang?" ujar Metta dengan memasang mata manja.
"Bersenang-senang?" Metta mengangguk pelan.
"Ah, aku tahu itu apa! Yuk...." ujarnya merengkuh bahu Metta.
Mereka masuk kembali ke dalam, Farrel menutup pintu dan juga gordennya. Sementara Metta tergelak dengan menutup mulutnya, melihat tingkah Farrel.
__ADS_1
Farrel menjatuhkan tubuhnya di kasur, sementara Metta masih tergelak, dengan berjalan ke sana kemari.
"Kakak cari apa? Cepatlah...."