
Farrel melajukan kembali mobilnya menyusuri jalanan yang sudah ramai, hari sudah menjelang sore, langit sudah terlihat menggelap tertutupi awan hitam, jam kantor pun telah usai, dan mereka tidak mungkin kembali ke kantor, mereka memutuskan langsung pulang saja.
Metta masih terdiam, di pikirannya kini dipenuhi oleh keadaan Faiz yang baru saja dia lihat, sungut tak menyangka, depresi dapat menyerang siapapun tanpa terkecuali. Meskipun Faiz terlihat kuat namun dia juga ternyata hanya korban dari Keegoisan dan keadaan.
Dan Metta juga merasa sangat bersalah, jika saja dia mengetahuinya dari awal, mungkin dia akan mengerti, dan hatinya tidak akan pernah merasakan luka yang mendalam. Dan menjadikan sosok Faiz menjadi orang yang sangat jahat dihidupnya. Tapi jika itu terjadi pun dia mungkin tidak akan pernah mengenal sosok pria yang beranjak dewasa yang sekarang disampingnya, yang dia anggap pengobat luka dihatinya.
Namun inilah skenario Tuhan untuk hidupnya, takdir yang menghubungkan diantara mereka, dan Metta tidak akan dapat merubah apa yang terjadi, sekalipun itu hanya berandai-andai.
Laju kendaraan melambat, seiring banyaknya rentetan kendaraan pada jam pulang kantor, tak sedikit bunyi klakson saling berbalas memekikkan gendang telinga. Menambah rasa lelah tubuh dipenghujung hari. Namun tidak untuk Farrel, suasana hati yang bahagia membuat hari melelahkan itu menjadi indah. Tentu saja karena akan berduaan lama-lama dengan kekasihnya itu. Dengan iringan musik di tape mobilnya, Farrel ikut bersenandung.
"Kau cantik hari ini, dan aku suka." mencolek pelan dagu Metta. "Apaan sih El." Metta mendelik.
"Kau lain sekali," Mencubit pelan ujung hidung Metta. "Dan aku sukaa..aa."
"El, tangan nya bisa diem gak!"
"Enggak sayang." Farrel terkekeh.
"Mulai lagi nyebelin, tadi udah keliatan dewasa banget."
"Aku ini seperti bunglon, akan berubah warna dengan cepat sesuai dengan tempat."
"Iya, tapi selalu menyebalkan saat kita hanya berdua seperti ini, dan orang lain tidak mengetahui seberapa menyebalkannya kamu itu." menarik hidung mancung Farrel, hingga Farrel meringis.
"Aaaa ... sakit kak." Mengelus hidung yang mulai memerah.
"Syukurin ...."
" Tapi kakak suka kan?" Farrel terkikik. lalu meraih tangan Metta, "Aku itu akan menjadi kucing kalau lagi berdua dengan kakak."
Cup
Mencium tangan Metta, dengan alis yang terlihat naik turun.
"Menyebalkan." Ucap Metta namun dengan lengkungan tipis di bibirnya.
"Kita mampir dulu ke swalayan, aku ingin membeli bahan-bahan untuk memasak besok."
"Ayam betutu?" selidik Farrel.
"Hem, karena aku sudah janji, gak apa-apa kan?"
"Gak masalah, toh kakak hanya memberikan masakan bukan hati kan?"
Metta menangkup wajah Farrel dengan kedua tangannya, "Heeemmm, manisnya pacarku yang menyebalkan ini."
"Apa-apaan, manis tapi menyebalkan!"
"Hahaha, iya-iya manisnya gak pake menyebalkan."
Mereka kembali tertawa.
Mereka sampai di swalayan tak jauh dari rumah Metta, Farrel dengan cepat keluar dan berjalan memutar membuka pintu untuk Metta, namun ternyata Metta sudah membukanya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kakak, kenapa tidak menunggu aku membuka pintu."
"kelamaan, hahaha."
"Cx dasar .... "
Mereka masuk kedalam swalayan dan mulai mencari bahan-bahan yang diperlukan. Farrel mendorong troli dengan Metta yang berada disampingnya. Mengambil satu persatu lalu dimasukkan kedalam troli. Farrel pun tak mau kalah, dia memasukkan barang- barang hingga troli pun penuh.
"El, kenapa beli ini?" menunjuk snack kentang berukuran jumbo.
"Itu hadiah untuk Nissa."
"Dan ini untuk Andra, dia kan sedang masa penyembuhan, harus banyak minum susu." memasukkan 1 kotak besar susu sapi.
"Dan ini untuk ibu, susu penguat tulang,"
"Untuk kakak, ambil lah sekalian apa yang kakak mau ya."
"Aku seperti sedang belajar belanja bulanan untuk dirumah kita nanti." gumamnya pelan.
Metta menarik bibirnya hingga melengkung penuh, melihat Farrel yang sudah berjalan mendahuluinya. rasanya semua sumber kebahagiannya terlengkapi dengan hadirnya mahluk menyebalkan ini. Dia begitu memperhatikan keluarganya dari mulai hal kecil sekalipun. Apalagi ditambah restu dari Bunda, mungkin saat ini hidupnya sudah lengkap.
Metta berjalan dengan cepat dan menangkup tubuh Farrel dari belakang. "Makasih sayang."
Farrel terkesiap, dia merasa heran sekaligus bahagia melihat perubahan yang besar dari kekasihnya itu.
"Makasih untuk apa?"
Farrel menggelengkan kepalanya," Dasar ...."
"Aku tunggu hadiahku dari kakak." Ucap Farrel tepat dibelakang telinga Metta.
Metta melonjak, mendengar apa yang diucapkan Farrel yang entah dari kapan berada dibelakangnya.
"Hadiah ....?"
Farrel menaik turunkan alisnya dengan dagu yang menempel dibahu Metta. "Apa maksud dengan hadiah dariku heh." pekiknya.
"Wah-wah bener-bener ini pasangan, ditempat umum saja pamer kemesraan kayak ini."
Farrel dan Metta sontak melihat kearah suara yang tidak asing di telinga. "Eh sialan lo, ngapain disini?"
"Cx, inikan tempat umum, gue bisa kapanpun kesini."
Ucap Dinda.
"Lo pikir lo aja yang boleh belanja!" Dinda mengibaskan rambutnya kebelakang. Membuat Farrel mengernyitkan alisnya.
"Cx, jangan ngada- ngada lo, arah rumah lo bukan kesini, lo ngikutin gue ya."
Dinda terkekeh, "Gue tadinya mau ke rumah lo, nih nganterin Flashdish lo yang masih nancap di komputer lo, tapi gue lihat mobil Pak manager kita disini. Eh ternyata bener ngintilin lo," ucapannya dengan delikan pada Farrel.
"Lagian, kalian tadi kemana? bikin sekantor curiga tahu gak!"
__ADS_1
"Gue abis dirumah sakit," ucap Metta dengan terus berjalan, sementara Farrel mengekor dibelakang kedua perempuan yang tengah mengobrol.
"Siapa yang sakit?"
"Entar deh kapan-kapan gue cerita sama lo. Kalau sekarang kayaknya gak akan cukup waktu."
"Iya deh iya, yang gak mau diganggu waktu pacarannya." Ucap Dinda dengan menyatukan kedua tangannya.
"Apaan sih lo." Dinda lagi-lagi terkikik.
"Ya udah kalau gitu, gue balik duluan ya."
"Pak manager muda, saya permisi." Dinda menganggukkan kepalanya pada Farrel. Sementara Farrel yang masih terheran itu hanya diam saja.
Dindapun melenggang keluar meninggalkan mereka berdua.
"Temen kakak aneh, gak jelas." Ucap Farrel mengherdikkan bahunya.
"Hush, ngomong sembarangan, dia itu sahabatku." menyikut dada Farrel.
"Sahabat yang aneh!" Farrel berlalu meninggalkan Metta dengan troli yang masih di dorongnya menuju kasir.
"Kakak tunggu aja disana, biar aku antri ke kasir sendiri aja." ucap Farrel dengan menunjuk sebuah kursi diluar swalayan dengan gerakan mulutnya.
"Ya sudah, aku tunggu diluar ya."
Metta pun melangkah keluar dan mendaratkan pantatnya pada sebuah kursi. Merogoh ponselnya kemudian mulai berselancar didalamnya.
Tidak lama kemudian Farrel datang dengan dua kantong besar di kedua tangannya. menghampiri Metta yang tengah duduk.
"Sudah?" Farrel mengangguk.
Pandangan Metta beralih pada saku jas Farrel yang terlihat menggemuk, " Apa itu?"
"Oh itu permen, karena kembaliannya kurang, jadi aku ambil permen ini." Farrel menyerahkan kotak kecil berwarna merah yang masih tersegel itu pada Metta.
Seketika Metta terbelalak melihat kotak yang diserahkan Farrel.
"Astaga, kamu bilang ini permen!" Farrel mengangguk,
"Iya, meskipun aneh ya kemasannya, kasir nya juga senyum-senyum pas aku bawa permen itu."
"Kamu benar-benar gak tau!" Metta memejamkan matanya.
.
.
Hai, jangan lupa like dan komen disetiap babnya ya.
Makasih atas semua dukungan dari kalian❤
Selamat beraktifitas.
__ADS_1