Berondong Manisku

Berondong Manisku
Hadiah Doni


__ADS_3

"Dasar wanita aneh! Bisa-bisa nya dia mengelabuimu sepertinya itu." tukas Mac dengan kembali melajukan mobilnya.


Doni hanya mendengus kasar.


"Jujur saja, sejak pertama melihatnya aku tidak suka dengan wanita itu! Sikapnya terlalu agresif, tidak baik untukmu!"


"Mac, sejak kapan kau peduli dengan hidupku?" tukas Doni dengan ketus.


"Sejak kau hidup tidak karu-karuan! Dan hidup dalam penyesalan." tukas Mac menohok.


"Sialan kau Mac!"


Mac kembali memasang datar wajahnya, dia memang kurang menyukai sikap Tia yang terlalu agresif dan melakukan sesuatu dengan berlebihan. Namun bagaimanapun juga, dia menghargai keputusan Doni, dan tidak ingin ikut campur masalah pribadinya.


Tak lama kemudian mereka sampai di apartemen,


"Beristirahat lah, pekerjaan menumpuk besok pagi." ujar Mac yang masuk terlebih dahulu.


"Huh ... bukannya kejutan penyambutan untukku malah pekerjaan yang menyambutku!" ujarnya dengan membuka pintu apartemennya.


"Don!" panggil Mac.


Doni menoleh, dia terkesiap menangkap bucket yang dibuat dari uang.


"Selamat atas keberhasilanmu! Itu hadiah dari ku!"


Doni menatap bucket uang pecahan 100 ribuan sebanyak lima puluh lembar. "Terima kaaih Mac."


Mac melambaikan tangannya, "Maaf sedikit, aku tidak punya banyak uang!" ujarnya tergelak lalu menghilang dibalik pintu.


"Tidak apa-apa Mac!" lirihnya walaupun Mac sudah tidak dapat mendengarnya.


"Akhirnya ada juga yang peduli dengan keberhasilan diriku! Walaupun hanya Mac."


Sementara itu.


"Sayang ayolah, aku tidak mau meninggalkan kamu dirumah sendirian!" Ujar Farrel.


"Gak apa-apa El ... aku akan baik-baik saja! Sudah sana, pergi ke tempat Doni! Kasian dia."


Farrel menarik kursi meja makan dan mendsrstkan bokongnya, "Kakak kasian pads Doni, tapi tidak kasian pada ku."


"Kamu bicara apa sih, untuk apa aku mengasihanimu?" Metta ikut mendaratkan pantatnya dikursi samping Farrel.


"Tidak ada rasa kasian untukmu, yang ada hanya rasa sayang dan cinta." ucapnya lagi dengan jari jempol dan telunjuk membentuk kata cinta yang berasal dari korea. Seperti yang dia sering lihat digunakan anak-anak remaja.

__ADS_1


Farrel menjumput hidungnya lembut, "Hem ... istriku sudah pintar merayu...."


Cup


Cup


Cup


Farrel mencium kening, pipi kanan dan kiri sang istri, membuat Metta mendorongnya agar menjauh.


"Sayang ... hentikan! Geli...."


"Aku sangat senang malam ini! Ayo kita rayakan!" ujar Farrel bangkit dari duduknya.


Farrel menarik ujung bajunya, "Sayang, ke rumah Doni dulu! Mengerti...."


Farrel yang menolehpun akhirnya mengangguk, "Baiklah sayang, aku akan pergi!"


Sesuai keinginan sang istri, Farrel menemui Doni, hanya untuk memberinya selamat atas keberhasilannya. Namun bukan Farrel namanya kalau tidak berbuat konyol.


Dia keluar dari apartemen nya, dan dan berdiam diri di lobby untuk beberapa saat.


Dia sudah menghubungi Mac untuk membawa Doni datang.


Mac menggedor pintu Apartemen milik Doni, beberapa saat, Doni pun membuka pintu dengan wajah yang ditekuk.


"Ganti pakaian mu, aku diperintahkan untuk membawamu menemui bosmu!"


"Farrel?"


"Memang siapa lagi yang mau mempekerjakanmu selain dia!"


Doni berdecak, "Sialan kau Mac ... kau baru saja memberiku selamat, tapi sekarang kau menghinaku!" Ujarnya dengan menutup pintu.


Tak lama mereka keluar dari apartemen, Mac melajukan mobil ke apartemen milik Farrel.


"Kenapa dia menyuruh kita ke sana Mac?"


Mac mengerdikkan bahu, "Entahlah ... kau tanyakan saja padanya nanti."


.


.


Mereka sampai di lobby Apartement, menemui Farrel yang telah menunggunya. Dia sengaja duduk dikursi paling belakang, dan berada disudut ruangan, berjaga-jaga agar Metta tidak mengetahuinya, bukan dia yang datang ke tempat Doni, namun dia lah yang menyuruh Doni yang datang.

__ADS_1


"Itu dia Mac!" tunjuk Doni.


"Hem ... ayo pergi!"


"Dasar lampu taman, maen pergi begitu saja!"


Farrel duduk di sofa single, sementara Doni dan Mac duduk bersampingan.


"Ada apa Rel?"


"Bawa semua hadiah ini pulang, dan ini juga, bawa semua! Ini semua dari Istriku, dia memberikan hadiah-hadiah ini untukmu."


Doni tertegun melihat semua hadiah, kedua matanya berkaca- kaca, " Terima kasih!"


"Dan mulai besok, kamu kembalikan mobil kantor, jangan dipakai lagi! Kamu faham kan?"


Doni tertunduk lemah, dan tidak dapat menolak perintahnya.


"Hey ...!"


Doni mendongkak ke arah Farrel,


"Kunci mobil baru mu, mobilnya sudah ada di depan."


Kedua mata Doni menganak, dia tidak menyangka dengan apa yang Farrel katakan, sementara tangan Farrel masih menggantung di udara. Mac tersenyum melihatnya, ingin sekali dia memeluk Doni karena ikut terharu, namun tentu saja tidak akan dia lakukan.


"Tanganku sudah pegel ini! Cepatlah, aku tidak mau ketahuan istriku."


"Istrimu tidak tahu kau memberiku mobil?" tanya Doni dengan meraih kunci mobil dari tangan Farrel.


"Bukan itu be go, tapi dia menyuruhku ke apartemenmu, mengantarkan semua hadiah ini, tapi aku malas!" ujarnya dengan bahu yang mengerdik.


"Dasar, kalau ketahuan berbohong! Jangan bawa-bawa aku lagi!"


"Cari perkara saja!!" ujar Doni kemudian.


"Tenang tidak akan ketahuan, selama tidak ada yang bicara padanya." ungkap Farrel percaya diri.


"Seperti sebelum-sebelumnya? Motor, pernikahan, honeymoon, apartement, dan Andra!" seloroh Doni.


Farrel tergelak, sementara Mac menggelengkan kepalanya, "Benar-benar cari perkara ... hati-hati, kalau mba Sha tahu semua!"


"Maka hidupnya kelar saat itu juga Mac!" timpal Doni yang kemudian disusul oleh tawa ketiganya.


Tiba-tiba saja mereka dikagetkan lleh suara deheman,

__ADS_1


"Ekhem ...Ekhem ..."


__ADS_2