
Farrel menautkan jarinya, "Tapi kakak senang kan? Hem...."
"Senang bagaimana? Apa aku punya pilihan." ketus Metta.
Farrel tergelak lalu semakin merekatkan jemari mereka, "Tidak ada pilihan lain, karena memang aku satu-satunya yang menjadi pilihanmu," bisik nya.
Metta memang menyadari pernikahannya memang di adakan sebentar lagi, tapi tidak pernah menyangka juga jika akan secepat ini. Bahkan untuk menghela nafas saja seperti nya tidak bisa.
Namun menikah dengan seseorang yang dicintai dan juga mencintainya bukankah itu kebahagian yang tiada tara? Dengan segala kekonyolan Farrel?
"Kenapa melamun?"
"Tidak, aku hanya tidak pernah menyangka akan secepat ini."
"Kemarilah istriku ...tidak usah memikirkan hal kecil yang sudah tidak penting lagi, yang pasti sekarang kita kan sudah menikah."
"Hal kecil yaa..."Farrel mengangguk.
Metta mencubit keras pinggangnya, " Sakit sayang...."
"Masa sakit, itu hal kecil sayang!" deliknya. "Aku kan gak ada persiapan apa-apa?"
Farrel mengernyit, "Persiapan untuk apa? Semua sudah beres, kita tinggal pergi saja."
"Bukan persiapan itu maksudnya?"
"Lantas apa kak?"
Metta bangkit di kursi, "Sudah kau tidak mengerti urusan wanita, aku ke sana dulu yaa. Menemui Dinda,"
Farrel mengangguk meskipun tidak juga mengerti. Kemudian Metta melangkah menuju kearah ruang makan dimana Dinda tengah duduk bersama Nissa dan juga Andra.
"Shaun ...selamat yaa akhirnya ķamu menikah juga. Dan wow ... pernikahan yang tidak terduga seperti ini."Ujarnya dengan memeluk Metta.
"Makasih yaa, Din... aku juga gak menyangka seperti ini, semua nya bahkan sangat konyol."
Dinda terkekeh dengan sudut mata yang mulai perih, "Semoga kamu selalu bahagia Sha...."
Semua orang terlihat sangat bahagia, gelak tawa keluarga terdengar, semua berbaur sekalipun kabar yang mereka dapatkan juga mendadak.
"Aku kira Sha hamil duluan, jadi menikah mendadak begini." ucap salah satu paman dari Metta.
"Enggak lah Om, mana mungkin...." tukas Farrel yang baru saja ikut bergabung dengan para orang tua.
"Kau memang hebat anak muda!" tukas paman yang lain.
"Terima kasih." jawabnya sambil mendudukkan dirinya.
"Kapan kakakmu itu akan menyusul mu..." ucap Frans yang juga ada disana, dengan mata menunjuk pada Alan yang tengah duduk di kursi diluar dengan ipad diatas pahanya.
"Sedang berpesta begini yang dia urus hanya pekerjaan saja!" tukasnya kembali.
"Anak itu...." gumam Arya,
"Biarkan saja, dia pasti akan segera menyusul. Dan Bunda juga Ayah, jangan coba-coba menjodohkannya."
Bunda Ayu mendengus, "Kalau seperti itu terus terpaksa bunda akan menyuruh nya menikah!" Sambil menyusut air mata yang masih terus menganak.
"Mbak selalu saja berlebihan, sudah jangan terus menangis! Ini pernikahan, bukan pemakaman." ujar Frans.
Bunda Ayu memukul lengannya, "Dasar adik nakal!!"
"Kau seperti tidak tahu saja kakakmu ini!" ujar Arya yang juga mengusap punggung istrinya itu.
Sementara disatu sudut, ibu Sri juga masih menitikkan air matanya, melihat putri pertamanya yang akhirnya menikah, air mata yang dia keluarkan pun adalah kebahagian. Bukan air mata kesedihan seperti 2 tahun yang lalu.
__ADS_1
Sebuah tangan mengusap bahunya. "Bu ..., jangan menangis lagi, kakak akan terus bahagia, aku akan menjaminnya dengan seluruh hidupku,"
Ibu Sri menoleh, melihat menantu gagah nya yang mempesona, "Terima kasih Nak El, ibu yakin kau pria yang tepat untuk nya, sejak pertama kali ini melihatmu yang mengaku supir taxi online,"
"Ah ... ibu kenapa masih mengingat hal itu?" menggaruk belakang kepala.
"Tidak apa-apa nak...."
Nissa yang sedari tadi hanya duduk dengan sepiring makanan di hadapannya pun menghampiri ibu dan kakak iparnya.
"Bang, selamat yaa! Semoga tahan dengan sifat kak Sha," Ujarnya terkekeh.
"Nissa ... gak boleh gitu, masa kakak sendiri dijelek-jelekin," tukas ibu Sri pada anak bungsu nya.
Nissa terkikik, "Gak apa-apa aku kan ngomong sama suaminya. Cie suami cie,"
"Makasih yaa Niss, udah bantuin abang! Hadiahnya nanti bisa kamu ambil, tapi jangan bilang kak Sha." bisik Farrel.
"Apa yang jangan aku?"
Nissa dan Farrel terperanjat karena kedatangan Metta yang tidak mereka sadari, "Apa?" Ucapnya lagi.
Ibu Sri hanya bergeleng kepala, "Ibu gak ikut-ikutan yaa." ujarnya sambil berlalu dan menghampiri bunda Ayu.
"Coba jelaskan ... Nissa?" kedua matanya membulat pada Nissa.
"Kak Sha tenang yah, biar bang Farrel yang jelaskan saja. Nissa lapar mau makan dulu."
Nissa memilih angkat kaki dari sana, berbahaya jika terus berada dekat kak Sha yang emosian.
Setelah Nissa pergi begitu saja, Metta memicingkan kedua matanya pada Farrel, "Kau juga belum menjelaskan apa-apa padaku, sekarang apalagi?"
"Sayang jangan marah-marah, hari ini hari spesial kita. Lebih baik kita makan, yuk! dan mempersiapkan diri untuk nanti malam. Karena pasti akan melelahkan." ujarnya dengan menarik bahu Metta dan mengarah pada stand makanan yang berada di luar.
Apa nanti malam, apa? Aku bahkan belum persiapan apa-apa. Astaga
Dengan musik yang mengalun lembut mereka keluar dari rumah menuju halaman, Farrel menggenggam tangan Metta dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
Betapa bahagianya hatiku
Saat kududuk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku
Sepenggal lagu yang mengiringi mereka yang terus berjalan hingga saling berhadapan, embuat sanak saudara yang tengah menikmati hidangan pun bertepuk tangan ke arah mereka,
"Ini dia raja dan ratu sehari kita," ucap seorang dari mereka yang di diakhiri dengan gelak tawa.
"Aku akan membuatmu ratu setiap hari," bisik Farrel dengan mengecup pipi Metta hingga wajahnya kembali merona.
Astaga, aku kan sedang kesal!! Aku melupakannya begitu saja.
Sorak sorai pun kembali terdengar saat Farrel mengecup pipi Metta, lalu mengarah pada hidangan yang berjajar disana.
"Sayang, mau makan apa? Biar aku yang ambilkan."
"No ... biar aku yang ambilkan!" sergah Metta dengan cepat.
Karena memang itulah sekarang yang menjadi kewajibannya kan? Meskipun dia juga senang karena Farrel yang tak segan memperhatikan hal sekecil apapun untuknya.
"Kamu duduk saja!
Setelah selesai dengan semùa rangkaian akad nikah hari itu, mereka kembali masuk kedalam, berganti baju, dan beristirahat sebelum kembali melanjutkan.
__ADS_1
Pelayan yang datang dari awal hingga akhir acara pun kini tengah membersihkan rumah Metta hingga kembali seperti biasanya. Orang-orang yang di urus oleh Alan dengan cepat namun dengan hasil yang memuaskan.
Farrel kini berada dikamar Metta, duduk ditepi ranjang memperhatikan Metta yang tengah membersihkan sisa make up di wajahnya.
"Jangan keliatan terus iih, gak ada kerjaan lain gitu?" tanya Metta dengan hanya menatap nya dari pantulan cermin.
"Aku memang menunggu pekerjaanku, sebentar lagi akan mulai," ucap nya terkekeh.
Membuat wajah Metta lagi-lagi merona, "Dasar mesum!" ucapnya dengan melempar kapas yang telah kotor ketempat sampah.
"Ya sekarang kan aku mesum nya bareng istriku sendiri!"
Kenapa terdengar geli sekali di telingaku saat dia memanggilku begitu.
Lalu Farrel beranjak dari duduk nya dan memeluk Metta dari belakang, Please jangan sekarang aku belum siap, bahkan aku belum melakukan serangkaian perawatan diri untuk hal itu.
"Apa kakak bahagia?"
"Iiihh ... jangan bertanya hal itu padaku!" wajahnya semakin panas karena malu.
"Sudah jadi suami istri, seharusnya tidak perlu malu lagi kan?"
"Udah ah ... aku belum selesai," mengurai tangan kekar milik Farrel yang melingkari lehernya.
"Kalau begitu aku mau mandi dulu, atau kakak duluan yang mandi!" tanya nya dengan berdiri dibelakang Metta membuka jam tangannya lalu meletakkannya di atas nakas.
"Kamu yakin mau mandi disini? Kamar mandinya pasti berbeda dengan kamar mandi dirumahmu,"
Farrel menggelengkan kepalanya, "Tidak masalah, asal kan bukan di sungai ataupun didepan orang-orang," ucapnya. Lalu melingkarkan handuk dilehernya.
"Begini kan? Seperti pas aku melihat kakak dulu dengan rambut acak-acakan keluar dari kamar mandi!" ujarnya dengan terkekeh.
"Iiihh ... nyebelin! Sudah sana mandi."
Suasana pun sudah tampak sepi, semua sanak saudara sudah diantar ke satu hotel agar semua bisa istirahat sebelum rangkaian selanjutnya.
Hanya Alan, Doni dan Mac yang masih tetap menunggu di rumah Metta. Mereka tengah duduk di luar dengan saling berkelakar, meskipun hanya Doni yang banyak bicara walau dengan takut-takut, sementara Mac hanya memicingkan matanya pada Doni. Dan Alan tidak peduli sama sekali, dia hanya sibuk dengan ipad yang berada di atas pahanya.
"Lagi pada ngapain?" Ucap Farrel yang menggosok rambut basahnya dengan handuk.
Mac dan Doni menoleh, namun Alan tidak sama sekali.
"Cie ... abis ngapain tuh?"
"Diam kau!" ujar Mac menyorot padanya.
"Ngapa-ngapain apa maksud nya!? ujarnya dengan menoyor kepala Doni.
"El ... setengah jam lagi kita berangkat!"
"Baiklah, aku siap-siap dulu." jawab Farrel lalu kembali masuk kedalam kamar.
Farrel masuk dan mendapati Metta tengah memilih baju untuknya, "kamu bisa pakai ini dulu yaa, aku mau mandi."
Farrel tergelak namun dia memakai T-shirt bergambar serigala milik Metta, padahal dia pun sudah menyiapkan baju ganti sendiri. Namun dia tidak ingin mengecewakan istrinya itu.
Tak lama Metta kembali masuk, dengan pakaian yang berbeda yang sengaja dia bawa ke kamar mandi dan memakai nya disana.
"Yuk berangkat." ucap Farrel dengan memakai jam tangannya kembali.
"Kemana?" tanya Metta heran.
"Tempat resepsi kita...." ucapnya dengan mengecup kilas bibir Metta yang masih terkesiap.
Benar-benar konyol kamu EL
__ADS_1