
"Ekhem...."
Suara deheman menghentikan tawanya seketika.
Dinda menoleh kearah suara, Farrel terlihat berdiri dibelakangnya. Dia kembali duduk dikursi kerjanya, pura-pura sibuk namun telinganya dipertajam. Metta mendongkak, kemudian memutar kedua bola mata pertanda malas, kembali berkutat dengan pekerjaannya.
Aku lupa, pacarku yang menyebalkan ini bisa melakukan hal yang tidak diduga, bagaimana jika dia melakukannya hal itu disini, mati aku! Seharusnya aku dapat menahan diri, kenapa juga aku langsung ke ruangannya dan harus terlihat kesal seperti tadi.
Semua karyawan mulai melihat kearah manager mereka, biasanya Farrel akan mendekati kubik-kubik karyawan jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan pekerjaannya. Mereka saling menatap heran siapa kira-kira saat ini yang tengah berada dalam masalah.
Farrel mendekati kubik Metta, wajahnya terlihat serius, Dinda takut-takut melihat dengan ujung matanya, menampilkan sedikit rambut dibelakang telinga untuk memperlancar informasi yang akan dia dengar.
"Mettasha, ikut aku! kita ada meeting diluar, bawa berkasnya diruanganku." ujar Farrel berlalu begitu saja ke luar dari gedung.
Metta mendecak kesal, dia berjalan masuk kedalam ruangan Farrel dan kembali keluar dengan membawa berkas di tangannya.
Dinda menghampiri sahabatnya yang tengah membereskan meja kerjanya, dan memasukan ponsel kedalam tasnya.
"Sha, ada apa dengan kalian?" selidik Dinda penasaran.
"Gak tahu, aku sedang kesal padanya! Sudah aku pergi dulu. Aku titip berkas yang ini yah, sebentar lagi orang dari gudang mengambilnya kesini." Metta bangkit dari duduknya.
Dinda mengangguk, "Hati-hati..."
"Hem ..."
Metta keluar dari gedung lalu mengedarkan pandangannya mencari Farrel, dia melihat mobil Farrel melintas dan berhenti tepat di depannya. Mobil terbuka, Metta masuk lalu dengan wajah yang masih ditekuk tanpa melihat kearah Farrel.
"Pasang sabuk pengamannya," ucap Farrel kemudian menghela nafas.
Metta menurut, dia menarik seat belt dan memasangkan nya di tubuhnya.
"Masih kesal? Hem..."
"Tidak, kenapa harus kesal!"
"Terus itu apa?"
"Apa memangnya...? aku baik-baik saja,"
Farrel menggelengkan kepalanya, lalu melajukan kendaraannya membelah jalanan yang cukup ramai siang itu. Namun tak ada perbincangan didalam mobil, mereka larut dalam fikiran masing-masing.
Kan, dia mendiamkanku! seperti tengah melakukan sesuatu, biasanya dia akan selalu menggodaku saat aku kesal begini, sekarang tidak.
Kakak masih saja bilang tidak apa-apa, sudah jelas jelas dia sedang kesal begitu.
Tak berapa lama akhirnya mereka sampai disebuah cafe. Farrel menghentikan mobilnya, membuka seat beltnya.
"Kakak duluan saja masuk, nanti aku menyusul,"
__ADS_1
"Hmm..." Metta menjawab hanya dengan gumaman.
Tuh kan, sikapnya mulai mencurigakan lagi! bagaimana aku bisa tidak berfikir macam-macam.
Metta membuka pintu mobil kemudian keluar dan menutup pintu mobil dengan keras.
Astaga, kakak.
Farrel menarik bibirnya keatas saat Metta yang mencebikkan bibirnya begitu kesal masuk kedalam cafe. Farrel terlihat mengotak ngatik ponselnya. Lalu keluar dari mobil setelah menyelesaikan urusannya.
"Farrel ...?" suara perempuan memanggilnya.
Farrel menoleh, "Hai Sya, disini juga?"
"Hem, aku mau ketemu klien disini! kamu sendiri?"
Sepasang mata melihat kearah nya dengan tajam dari balik kaca.
Mereka sangat akrab, tunggu itu kan c rubah! Mau ngapain, oh pantas dia menyuruhku masuk duluan, ternyata dia menemui Tasya.
Metta melihatnya dari dalam Cafe, sedari masuk Metta tak pernah mengalihkan pandangannya pada mobil Farrel, dengan sengaja dia duduk paling dekat pintu masuk agar dapat dengan mudah melihat keluar.
Cukup lama Farrel dan Tasya mengobrol, terlihat mereka tertawa lepas membicarakan sesuatu. Membuat Metta semakin geram dan mengepalkan tangannya di bawah meja.
Dia pun sampai mengabaikan waiters yang menghampirinya.
Metta gelagapan, dia bahkan lupa kalau sebelumnya dia yang memesan tempat ini untuk meeting.
"Ah, maaf aku sudah reservasi atas nama Farrel Adhinata."
"Oh maaf Nona, reservasi atas nama Farrel Adhinata berada di ruangan Vip disebelah sana," ucap waiters perempuan itu.
Aku tahu, bahkan aku yang melakukan reservasi itu.
"Hem, aku duduk disini karena menunggu atasanku yang masih sibuk dengan urusannya, bisa kan?" ucap Metta dengan penuh penekanan,
Seolah tengah membicarakan kekesalannya, Metta mendelik kearah Farrel yang belum juga selesai. Membuat waiters itu heran, dia mengangguk dengan tersenyum lalu melenggang pergi.
Lama banget, mereka sedang membicarakan apa? apa mereka kembali dekat? tidak Sha ...buang fikiran kotormu, kenapa kamu jadi begini, biasanya juga kamu tidak akan peduli.
Tak berselang lama klien yang akan meeting bersamaan datang, menanyakan informasi reservasi kepada waiters, lalu terlihat waiters itu menunjuk kearah Metta yang masih melihat Farrel.
"Nona Mettasha?" ucapnya berdiri disamping Metta.
Metta menoleh, "Iya....?"
"Bagaimana, apa meeting kita akan dimulai?" ujarnya kemudian.
Metta menarik nafas, hampir saja dia melupakan rencananya datang kesini untuk meeting.
__ADS_1
Gara-gara dia, aku melupakan tugasku. Sedangkan dia malah asyik dengan URUSANNYA.
Metta beranjak dari duduknya, "Mari Pak ... kita akan menunggu didalam." ucapnya dengan melangkah kearah ruangan Vip yang sudah dia pesan sebelumnya.
Farrel dan Tasya masuk bersamaan tepat saat Metta membuka pintu ruangan Vip.
Mereka bahkan masuk setelah aku masuk kesini, mereka fikir mereka membodohiku apa? mereka sengaja mengulur waktu, memastikan aku masuk dan tidak melihatnya, tapi salah... aku bahkan melihat semuanya.
"Ya, sudah aku tunggu nanti sore ya, jangan lupa pesanan ku," ucap Tasya.
Farrel terkekeh. "Siap ... kalau gitu sampai jumpa nanti sore Sya."
Mereka berpisah, Tasya melangkah terlebih dahulu setelah melihat seseorang melambaikan tangan padanya. Sedangkan Farrel melangkah menuju waiters dan menanyakan tempat yang hendaknya tuju. Kemudian terlihat waiters itu mengantarkan Farrel keruangan Vip.
"Ini Pak ruangannya, tamunya baru saja masuk." ucap waiters itu.
"Terima kasih."
Waiters itu mengangguk lalu kembali ke tempatnya bekerja. Farrel mengetuk pintu tanda sopan lalu masuk kedalam.
Metta melihatnya dengan mata tajam yang sulit diartikan Farrel. Sedangkan klien mereka bangkit dan menyambut Farrel dengan uluran tangannya.
"Mas Farrel yang tersohor," kelakarnya saat ukuran tangan nya disambut hangat oleh Farrel.
"Om bisa saja, silahkan Om duduk,"
"Aku sudah duduk malah dari tadi!" ujarnya sambil tertawa.
Sementara Metta terlihat merengut, dia semakin menekukkan bibirnya kebawah, andai saja mereka tidak sedang rapat, mungkin dia akan segera pergi dari sana dengan marah.
Kakak kenapa? Apa dia melihatku dengan Tasya dan berfikiran yang bukan-bukan.
Disela meeting nya Farrel melirik kearah Metta yang fokus mencatat poin-poin yang penting dari keduanya, namun kali ini tidak ada senyuman yang terbit dari bibirnya yang biasa dilakukannya saat meeting.
Metta lebih banyak diam, menganggukkan kepala, atau tertawa dengan terpaksa. Hingga beberapa lama akhirnya meeting selesai, dengan hasil memuaskan, dan pria yang Farrel panggil om itupun keluar setelah berpamitan.
Metta beranjak dari duduknya, menyambar tasnya dengan kasar.
"Sayang, tunggu! Kamu kenapa...." Farrel mencekal lengan Metta saat dia hendak keluar.
"Menurutmu...."
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak jika sudah membaca, agar Author tahu karya ini masih enak dibaca.hihi
Terima kasih.
__ADS_1