Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kak Doni ngapain 2


__ADS_3

"Kak Doni ngapain di kamar Nissa?"


Doni berangsur dari ranjang, dia membalikkan tubuhnya membelakangi, "Maaf ... barusan kak Doni tidak sengaja!"


"Memangnya kak Doni kenapa?" gumamnya dengan menyentuh bibirnya sendiri.


Apaan ... gak ada rasanya sama sekali.


Doni berdiri, "Kamu tadi tidur di depan, kak Doni disuruh nganterin kamu, lagian bisa-bisa nya kamu tidur seperti itu!"


Nissa mengernyit, "Kenapa kak Doni kesel, aku juga gak minta di pindahin, weee!"


Nissa turun dari ranjang dan kembali ke luar, Meninggalkan Doni yang masih terpaku karena kejadian tak sengaja yang baru saja terjadi pada mereka, namun Nissa terlihat biasa saja. Sedangkan Doni jadi salah tingkah sendiri.


Dirinya yang mulai terbiasa dalam kesendirian itu menjaga jarak, lagi pula, mana mungkin dia punya perasaan pada Nissa. Perasaan yang di miliki hanya perasaan seorang kakak pada adiknya sendiri.


Tak lama kemudian Nissa membuka pintu dan menyembulkan kepalanya.


"Kak Doni gak ada niat buat tidur di kamar Nissa kan? Nanti Nissa tidur dimana?"


Membuat Doni gelagapan dan keluar begitu saja. Sementara Nissa terkikik.


"Kak Doni jadi aneh semenjak pacarnya meninggal." gumamnya.


Doni kembali ke luar melihat Andra, Jaka dan Irfan yang tengah menyantap barbeque yamg sudah matang. Nissa berlari dari dalam dan nyaris menabrak Doni hingga terhuyung, untung saja Doni sempat memegang pergelangan tangannya.


"Kamu ini malah lari-lari! Sudah seperti dikejar setan saja."


"Maaf kak, soalnya aku lapar," ujar Nissa yang kembali berlari ke arah Andra yang tengah daging barbeque, membuat Doni menggelengkan kepalanya, lalu ikut keluar.


Si bayi kemana lagi tuh, gak keluar-keluar.


Dia menatap Jaka yang tengah bermain gitar, lalu Doni duduk berselonjor kaki disampingnya.


Sesungguhnya aku ingin memilikimu


Tapi kenyataannya berbeda


Sejak kau tinggalkanku


Hati tak menentu


Biarkanlah semua jadi mimpi semata


Andaikan aku bisa


Merubah semua rasa hatiku


Tapi tak semudah tuk


Menghapuskan cintaku padamu


Jaka menyanyikan satu lagu yang membuat Doni menghela nafas, mengingat kisah percintaan nya yang tidak pernah berhasil. Ditambah kepergian Tiwi dan anak yang dikandungnya yang masih menyisakan penyesalan dan rasa bersalah teramat besar.


Sepertinya aku sudah takut untuk jatuh cinta lagi, walaupun aku tahu, perasaan ku pada Tiwi jelas bukan cinta, namun caraku memperlakukannya membuat ku hanyut dalam penyesalan dan takut jika aku melukai perasaan orang lain lagi.

__ADS_1


Doni menghela nafasnya panjang.


Nissa yang tengah menikmati barbeque itu berhenti mengunyah, dan diam-diam memperhatikan nya dari jauh, dia mengambil satu tusuk berisi potongan sosis dan juga paprika hijau dari pembakaran,


Lalu membawanya pada Doni.


"Ekkhhem...." ujarnya dengan menggoyang-goyangkan potongan sosis itu dihadapannya.


Doni mendongakkan kepalanya, lalu mengambilnya.


"Kak Doni mikirin apa? Yang tadi yaa, lagian Nissa juga gak tahu rasanya begitu." ujarnya polos.


Doni membelalakkan matanya lalu beranjak bangun, dengan cepat dia menarik tangan Nissa beberapa langkah dari tempat duduk Jaka.


"Kak Doni ih apaan?"


"Suuttth...." ujarnya dengan terus menarik pergelangan tangannya.


"Dengar, Kak Doni minta maaf atas apa yang terjadi tadi, dan sebaiknya Nissa lupakan rasa penasaran Nissa itu, itu bukan hal yang baik!"


"Nissa gak yakin bisa lupakan, kalau malah tambah penasaran bagaimana? Temen Nissa aja banyak yang udah pernah berciu--"


Blepp


Doni membekap mulutnya, "Jangan terlalu kencang, itu bukan hal yang boleh dibicarakan terang-terangan begitu! Pokoknya Nissa tidak boleh dulu mikirin hal begitu, atau kak Doni bilang sama kakaknya Nissa,"


Krek


Nissa menggigit telapak tangan Doni, hingga dia menariknya dengan cepat, "Aaw ... Nissa!"


"Kalau kak Doni aduin Nissa, Nissa juga akan aduin kalau kak Doni tadi mencium Nissa."


"Nissa juga bakal aduin kak Doni biar kak Doni yang kena marah!"


"Nissa, yang tadi itu tidak sengaja, lagipula itu hanya menempel saja, mana bisa disebut berciuman!"


Nissa mengernyitkan alisnya, mana bisa disebut berciuman.


"Iih ... kak Doni malah bikin Nissa makin penasaran tahu gak! Tanggung jawab nanti."


Kedua pupil Doni melebar seketika, dia saja baru sadar apa yang diucapkannya itu malah semakin membuat penasaran. Celaka.


"Siapa yang bertanggung jawab apa?" seru Farrel dari arah belakang.


Membuat mereka berdua terkejut, Nissa berbalik dan melihat ke arahnya.


"Bang El ... ngagetin aja sih!" ujarnya dengan mengurut dada.


Doni meraup kasar wajahnya.


Farrel terkekeh, "Hayo, kalian ngapain?"


Nissa menoleh ke arah belakang, begitu juga Doni yang melihatnya, "Kita gak ngapa-ngapain ya kan kak?"


"Huum ... lagian kemana aja sih! Aku cariin dari tadi!"

__ADS_1


Farrel mendudukkan dirinya di kursi plastik, "Biasa urusan Alam yang tidak bisa ditunda, lagi pula ada Mac dan teman- teman Andra juga kan yang bisa diajak ngobrol."


Nissa menguap beberapa kali, "Nissa ngantuk ah!"


"Sana tidur langsung di kamarmu, jangan tidur dimana aja!" ucap Doni dengan mendorong kedua bahu Nissa sampai diambang pintu.


"Iih ... kak Doni, terserah Nissa dong mau tidur dimana saja, kenapa kak Doni yang sewot!" menghentakkan kakinya dan berlalu menuju kamarnya dengan tersungut.


Doni menghela nafasnya berat, "Berasa jagain anak TK."


Farrel tergelak melihat wajah kesal dari sahabat sekaligus asistennya itu.


"Jangan ketawa, semua gara-garamu!"


Farrel menunjuk hidungnya, "Aku? Memangnya apa yang aku lakuin?"


"Kamu ingat gak saat dia melihat mu sedang...." merekatkan kedua tangan yang dikerucutkan kemudian di tempelkan.


Farrel mengernyit, lalu mengangguk, dan tersenyum " Memangnya kenapa?"


"Dia sangat penasaran, saking penasarannya, dia ingin tahu bagaimana rasanya berciuman. Bukankah itu hal gila? Dan dia menanyakan nya padaku."


Farrel terkekeh, "Bukankah itu bagus? Kamu jadi bisa melupakan kesedihanmu, cobalah mulai membuka hatimu kembali."


Doni memukul bahunya, "Apa kau sudah gila? Bagaimana mungkin kau berfikiran seperti itu? Kau ingin orang- orang menganggap ku sebagai fe do fil!"


Doni tampak geram dengan apa yang baru saja Farrel katakan, sementara Farrel hanya terkekeh, melihat ke arah Doni.


"Kau fikir adik ipar mu itu berapa usianya?"


"Baru Lima belas tahun, astaga Farrel!"


Farrel semakin tergelak, "Santai, kau bisa menunggunya dengan sabar."


Doni menggelengkan kepalanya berulang kali, "Kalau bukan bos ku sendiri! Aku pasti sudah menendang mu!"


Farrel terus menggoda Doni yang semakin kesal itu, membuat Mac menghampirinya.


"Mac, apa kau bisa membuat bos mu ini berhenti membuat ku kesal?"


"Tidak bisa!" Mac menjawab datar, membuat Farrel semakin terbahak.


Bahkan Jaka dan juga Irfan melihat ke arah mereka, membuat Doni sangat geram.


"Rel ta api!!?"


"Ayolah, bukankah apa yang aku katakan itu benar? Luka hati harus di sembuhkan, salah satunya dengan kembali membuka hati. Benar begitu Mac?" tergelak Kembali.


"Terserah kau saja, asal kau bahagia!" gumam Doni yang akhirnya menyerah.


Percuma saja, bos selalu benar. Ujung - ujung nya bawahan hanya bisa mengalah saja.


"Tapi aku serius, Tiwi dan anakmu sudah bahagia disana, sudah saatnya kau juga bahagia Doni! Cobalah dari merelakan mereka dulu."


Doni pun menundukkan kepalanya sesaat,

__ADS_1


"Kau tidak tahu rasanya jadi aku! Bagaimana aku hidup dalam penyesalan, kau bahkan tidak tahu apa- apa Rel. Jadi tidak usah mengajari ku tentang hal itu, kau tidak akan paham!"


Farrel menepuk bahu Doni, "Kuncinya ada pada dirimu sendiri, jangan pernah minta orang lain untuk memahami, sedangkan kau menyiksa diri sendiri."


__ADS_2