Berondong Manisku

Berondong Manisku
Dia tidak akan berhenti


__ADS_3

"Hah...kok tanya aku, aku gak tahu apa-apa sayang!"


"Tapi kan kamu yang mendanainya? Memang nya kamu gak rugi? Enggak hah...."


Glek


Mac melirik Doni dengan ujung matanya, dan Doni melirik Farrel dari spion dalam mobilnya. Sementara Metta masih menunggu jawaban pasti.


"Doni aku sedang bertanya padamu, kenapa diam saja?"


"Ya--ya itu karena tim inti kami memang tidak bisa mengikuti turnamen itu karena berbenturan ... ya jadwalnya berbenturan hingga kami harus memilih salah satunya."


Metta yang masih mengelus- ngelus kepala Farrel menatap tak percaya, "Masa sih? Kok bisa jadwal bertabrakan gitu, sepertinya juga para pengurusnya profesional kok, masa begitu."


"Sayang, udah lah itukan urusan managemen mereka. Berarti memang manajemennya yang tidak bisa bekerja sama dengan baik, kacau jadinya kan," ungkap Farrel.


Cih ... dan kau yang jadi biang pengacau nya! merusak image managemen lagi, dasar menyebalkan. Batin Doni dengan tatapan sinis pada Farrel.


"Hm...kau benar! Tapi kalau begitu, masa kamu tidak tahu apa-apa? Seharusnya mereka mengubah jadwal atas sepengetahuanmu kan? Atau jangan-jangan kamu terlibat?" Ucap nya dengan menoleh pada Farrel.


Farrel mencubit pelan pipinya, "Aku gak tahu apa-apa, kalau pun iya. Pasti aku kan mengijinkannya kok."


Iya dan aku bego, gara-gara tugas yang kau berikan itu membuat tim ku sendiri di diskualifikasi. dan benar-benar harus digantikan, dan aku harus kehilangan honor ku 3 bulan kedepan. Awas saja kalau dia tidak menggantinya. Akan aku bongkar.


"Hm...persis seperti yang dikatakan suamimu, dia memang tidak tahu apa-apa, dan jika dia tahu pun dia akan mengijinkannya. Bukan begitu bos?" ledek Doni.


Membuat Farrel kembali gelagapan, Ingin sekali aku bungkam mulut kompor mu itu.


"Kenapa juga kamu mengijinkannya?" tanya Metta terheran.


"Ya jelas lah dia mengijinkan, secara dia udah tidak sabar untuk menikah, iyaa bos? Bukan begitu." Doni menaik turunkan alis kearah spion.


"Banyak ngomong!" gerutu Farrel padanya.


Sementara Mac hanya menjadi pendengar, namun juga merekam setiap pembicaraan mereka. Dan sudah pasti akan melapor pada Alan. Sang Assistant.


.


.


Mereka tiba di bandara, Farrel menggenggam tangan Metta dan masuk kedalam, sementara Mac berjalan di belakang Farrel dengan Doni di sampingnya dengan menggeret dua koper milik sahabat sekaligus bosnya itu.


"Mac kau tidak ingin membantu sama sekali?" ujar Doni yang terlihat kesulitan.

__ADS_1


Mac hanya menoleh lalu kembali menatap Jalan di depannya. Tidak peduli. Hingga mereka sampai di gerbang yang menuju ruang tunggu, dan Mac juga Doni hanya bisa mengantarkan mereka sampai tempat itu saja.


Doni merangkul sahabatnya, "Ternyata kau pandai mewarnai yah!" ujarnya dengan alis yang turun naik.


Farrel mengernyit, namun sedetik kemudian Doni menunjuk kearah Metta dengan ujung matanya,


"Sialan, yang pasti kita melakukannya halal bro! Gak kayak situ." tukas Farrel terkekeh


"Sialan ...itu juga karena kau! Ah brengsek aku jadi ingat kan!!" Doni menggaruk kepalanya.


"Sekali lagi thanks yaa Don."


"Mac, awasi dia! Jangan sampai membawa hal-hal yang aneh!" Farrel terkikik.


"Sialan ..." Doni mendorong bahu Farrel hingga tergelak.


"Kak, selalu waspada yaa dia tidak akan berhenti! ujar Doni pada Metta.


Lalu Doni mengulurkan tangannya namun dengan cepat Farrel menepisnya, membuat Doni berdecak. Sementara Metta menggelengkan kepalanya.


"Cukup berpamitan, tidak usah berjabat tangan."


Doni melengos, dengan menggaruk kepalanya lagi, "Cuma tangan, juga gak boleh! Rel ta api dasar...."


"Iya ...iya sorry keceplosan, kebiasan lama susah ilang."


"Mac, Don, kami pergi dulu yaa." Ujar Metta dengan tersenyum.


Mereka berdua mengangguk, "Safe flight."


Lalu dengan merengkuh bahu Metta mereka masuk kedalam gerbang pemeriksaan. Tak lama setelah itu mereka masuk guna menunggu pesawat yang akan membawa mereka ke negara B.


"Are you happy?" tanya Farrel saat mereka duduk.


"Hmm...I'm happy but...."


"Kamu belum jawab pertanyaanku!!" Tukas Metta dengan cepat.


Farrel mengenyit, meraih tangan Metta dan menautkannya, "Pertanyaan yang mana?"


"Kamu memberikan apa pada Doni? Apartemen? Apa ini ada hubungannya dengan seseorang yang ada dibalik kepulangan Andra yang mendadak? Dan juga ada hubungan nya dengan pernikahan yang juga mendadak?"


"Ya ...ampun Sayang, yang mana dulu yang mesti aku jawab, pertanyaan nya banyak banget!" ucapnya mencubit pipi Metta.

__ADS_1


Metta memicingkan kepalanya. "Jawab saja, aku akan mendengarnya dengan jelas,"


Glek


"Bagaimana jika kita mencari sesuatu untuk diminum?" Ujar Farrel yang menghindar.


"El...jawab saja dulu!"


"Seperti yang dikatakan Doni! Seperti itulah, Apartemen itu sengaja aku berikan pada Doni karena selama ini dia bekerja keras. Dan aku menghargai profesi nya. Selama ini dia juga hanya mengandalkan kiriman dari kedua orang tuanya. Sampai dia harus tinggal di kost-kostan kecil." Jelas Farrel.


"Kau yakin cuma itu? Gak ada yang lain,"


Glek


"Katakan kalau tidak aku tidak jadi ikut, kau saja sendiri yang bulan madu!" Metta mengeratkan tangan lalu membuat aku


Lagian kenapa mesti melakukan bulan madu lagi, rasanya juga akan sama, ujung-ujungnya juga berakhir di ranjang.


Farrel menautkan kembali jemarinya, "Kok gitu,"


"Katakan kalau gak, aku pulang!"


"Galak banget sih istrinya aku." ucapnya pada Metta yang masih menyalang padanya.


"Katakan!!"


"Iya...iya... aku akan bilang tapi jangan marah oke! Janji?"


Bertepatan dengan itu, pengeras suara yang mengumumkan pesawat yang akan mereka naiki telah tiba.


"Itu pesawat kita, yuk berangkat dulu! Nanti pertanyaan kakak akan aku jawab setelah kita take off, aku janji." ujar Farrel dengan jari telunjuk dan jari manis yang mengacung berbentuk V.


Metta menghela nafas, "Kali ini aku akan menagih janjimu! Jadi tepati lah, kalau enggak...."


Farrel mengangguk namun juga menelan saliva dengan susah payah.


Semoga tidak akan menjadi masalah besar nantinya, jika Kakak mengetahui apa yang sebenarnya.


"Kenapa kamu diam saja? Benarkan ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" Ujar Metta dengan kesal.


Farrel menangkup wajahnya, "Sayang, kita lagi honeymoon lho!!Hem... Masa mukanya ditekuk terus,"


.

__ADS_1


__ADS_2