Berondong Manisku

Berondong Manisku
F&M Empire


__ADS_3

Keesokan pagi


"Sayang, ayo bangun! Kita mesti siap-siap," Farrel menggoyang-goyangkan bahu Metta yang masih tertidur pulas.


"El ... pagi sekali! Mau kemana?"


"Acara peresmian sayang, masa lupa!"


Metta mengerjapkan matanya, namun tetap saja, kelopak matanya masih saja rapat.


"Tapi aku masih ngantuk,"


Farrel mengecup wajahnya bertubi-tubi agar dia bisa membuka matanya sempurna, kemudian menyibakkan selimut tebal yang membungkus tubuh istrinya itu.


"Sayang, aku tidak mau terlambat!"


Metta menginjakkan kakinya di lantai yang terasa dingin itu, dengan terus menguap namun kedua matanya memicing sesuai pergerakan Farrel. Masuk ke dalam walk in closed, keluar dengan handuk kecil yang tersemat di lehernya, masuk ke dalam kamar mandi, namun sedetik kemudian keluar dengan handuk yang melilit hanya sebatas pinggang, lalu masuk ke dalam walk in closed.


"Sayang, mandilah! Biar aku yang menyiapkan pakaianmu, sibuk sekali, udah kayak kamu aja yang akan gunting pita."


"Karena ini yang aku tunggu-tunggu sayang," ujarnya lalu masuk kembali ke kamar mandi.


"Mencurigakan banget, kenapa di harus menunggu-nunggu, apa karena ... atau jangan-jangan dia yang mendesainnya bangunan itu!"


Ceklek


Tak lama aroma shampo dan sabun menyeruak bersama tubuh Farrel yang semakin berisi, otot-otot di badannya tumbuh sempurna, dengan postur hanger yang dimilikinya. Memakai baju apa pun pasti terlihat keren, seperti hanger yang dipakai untuk pakaian apapun.


"Sayang, ayo mandi! Aku mau ke bawah dulu,"


"Mau apa?"


"Bikin susu lah, kakak mandi saja oke!"


Metta mengangguk lemah, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


.


.


"Kak cepetan!"


"Ya ampun, El gak sabaran banget sih! Tumben tahu gak, seantusias ini sama acara orang! Biasanya juga biasa aja."


Farrel menggaruk kepalanya, "Ini beda sayang!"


"Biar kau tebak, apa kamu yang mendesain gedungnya?"


Farrel menjumput hidungnya, "Tepat sekali, yuk udah selesai kan?"


"Pantesan, pasti kamu degdegan yaa, makanya pengen cepat-cepet kesana."


Mereka akhirnya keluar dari Flat, berjalan beriringan menuju basement, "Tentu saja, ini desain ku yang aku perlihatkan pada orang Lain, tentu saja aku sangat bersemangat."


Kedua tangan Metta menangkup pipinya, "Uuuu... pasti keren!"


Farrel terkekeh, dia lantas membuka pintu mobil dan Metta masuk ke dalamnya.


"Perhatikan kepalamu sayang!" ujarnya dengan memegangi kepalanya saat istrinya masuk.


Lalu Farrel berjalan ke arah kemudi dan masuk.


"Kakak siap?"


"Kebalik, harusnya aku yang bilang begitu!"

__ADS_1


"Tentu saja aku siap."


.


.


Mobil berhenti di gedung yang selama ini selalu Metta lihat ketika berangkat ke kantor. Dengan wajah mengenadah ke atas dia melihat gedung tinggi itu.


Walau tangannya sudah memegang seat belt, dia tak juga menekan nya agar terlepas,


"Sayang, ini ...."


"Ayo turun...." jawab Farrel yang terlebih dahulu membuka seat beltnya, lalu membuka pintu dan keluar.


Kilatan demi kilatan dari kamera para pencari berita silih bergantian, Farrel berjalan memutar dan membuka pintu untuk Metta.


Wanita yang tengah hamil itu masih terperangah, tak percaya pada apa yangdulihatnya sendiri, berkali-kali dia melirik suaminya yang tersenyum ke arahnya dengan sumringah.


"Ini kamu yang mendesain? Kok gak bilang, padahal kita setiap hari melewati gedung ini!"


"Aku menunggu saat yang tepat saja, dan sekaranglah waktu yang tepatnya."


Farrel menggenggam tangan Metta yang tiba-tiba terasa dingin itu, berkeringat saking tidak percayanya.


Cekrek


Cekrek


Beberapa kali bunyi kamera terarah pada mereka berdua, membuat Metta semakin resah. "Kenapa mereka hanya fokus pada kita."


Sementara Farrel hanya tersenyum.


Tak sampai situ, Farrel yang terus menggenggam Metta masuk ke dalam ball room mewah hasil desainnya itu semakin terperangah saat kedua matanya melihat ibu serta kedua adiknya berada disana,


"Ibu .. Nissa, Andra? Mereka di undang juga?"


Mereka semua menyambutnya, sibuk bercipika-cipiki dan mengusap perut Metta.


Alan dan Dinda juga ada disana, tamu-tamu undangan juga telah hadir, walau pun acaranya belum dimulai.


"Kok mereka ada semua disini? Mereka juga. mengenal pemilik gedung yang kamu rancangin ini?"


Farrel terkekeh, "Tentu saja, mereka mengenalnya, kakak juga mengenalnya, bahkan setiap malam tidur dengannya, bersembunyi dibawah ketiaknya kalau kakak malu."


"Iih... apaan sih!"


Ayu dan Arya tergelak, begitu juga dengan ibunya sendiri. "Benar itu sayang? Suka banget nyiumin ketek suami, persis bunda saat hamil dulu ya yah! kelakar Ayu yang membuat semua semakin tergelak.


Para tamu undangan menghampiri Farrel dan mengucapkan selamat padanya, disana juga ada Fara dan Tia, Erik serta Tasya. Leon tentu saja sebagai perwakilan dari ARR. corps yang tengah diawasi langsung oleh Arya, Alan yang hanya membantu saat mendapat perintah dari Arya saja.


"Apa maksudnya? Kenapa mereka mengucapkan selamat padamu, mana pemilik perusahaan nya?"


Farrel membawa Metta ke tengah-tengah, saat seorang MC kondang mempersilakan mereka untuk membuka logo perusahaan yang masih tertutup kain hitam.


Metta tampak ragu, kenapa dia harus ikut ke tengah, Farrel hanya mendesain rancangan, bukan pemilik gedung,


Pemilik gedung


Pemilik gedung


Dua kata yang terus dia ucapkan di dalam hatinya, membuatnya memicingkan kedua matanya ke arah pria terkonyol yang masih bisa tertawa bebas di sampingnya.


"Kamu pemilik gedung? Rancanganmu sendiri?"


"Dasar kakak lambat sekali, kenapa baru menyadari nya sekarang, menyebalkan."

__ADS_1


"El ... jangan bercanda!" mencubit pinggang suaminya dengan kencang.


"Tidak ada yang bercanda. Kita adalah pemiliknya!"


"Kita?"


"Huum... ini akan menjadi langkah awal kita, keluarga kita dan anak-anak kita, penggabungan dari Adhinata juga, hanya sahamku saja!" Jelas Farrel.


Buka


Buka


Buka


Riuh tamu undangan yang ingin segera melihat logo perusahaan pun membuat mereka berdua menghentikan obrolannya.


"Nanti aku jelaskan sayang, setelah kita membuka membuka peresmian ini.


MC sudah mempersilakan mereka untuk membukanya, kedua tangan mereka sudah memegang ujung kain yang akan mereka buka bersamaan.


Satu


Dua


Ti.... tiga


Sreeet


Kain penutup itu jatuh begitu saja lantai, logo perusahaan itu membuat Metta terperangah dengan menutup mulutnya.


...F&M Empire...


Dengan goresan emas di batu hitam sebesar kepala orang dewasa, dan dikelilingi oleh kaca yang membentuk sebuah kotak.


"Konon kabarnya goresan emas pada nama logo sengaja dibuat dari emas murni,"


"Dan F&M adalah inisial nama dari pemilik perusahaan ini."


"Inilah mereka Mr Farrel dan Mrs Mettasha, tepuk tangan yang paling meriah."


Tepuk tangan dan kilatan kamera saling berlomba, bergemuruh di ballroom peresmian yang apik ini. Metta tak kuasa menahan haru, setitik hadir dipelupuk mata.


"Hei ... jangan menangis!"


"Kamu jahat banget sih, konyol banget tahu gak!" ujarnya dengan mencubit pinggang suaminya.


"Ini janjiku pada kakak, saat aku kembali meraih impianku di negara P, jauh sebelum menikah, aku akan membuat rancangan desain pertamaku menjadi perusahaanku sendiri, bersamamu."


"F&M Empire aku pilih menjadi nama perusahaan, karena aku selalu yakin, ketika kita berusaha sekuat tenaga dengan kemauan kita, semua mimpi akan menjadi nyata, seperti aku yang akhirnya menikahimu."


"Begitu juga dengan perusahaan ini, akan menjadi awal dari mimpi-mimpi kita."


"Aku gak tahu harus ngomong apa! Kamu selalu mengejutkan ku sayang!"


"Terima kasih, kamu sudah berusaha dengan sekuat tenaga! Aku bangga padamu El."


"Tetaplah jadi pelengkap di hidupku, aku tidak akan berada si posisi ini tanpa kamu sayang!"


Suara riuh tepuk tangan kembali bergemuruh saat Farrel mencium kening Metta, lama dan dalam. Sementara Metta sudah memegang ujung Jas yang dikenakan suaminya itu.


"Tenang saja, aku tidak ingin mereka tahu seberapa nakal kakak sebenarnya, jadi cukup kening saja, yang lainnya kita lakukan di rumah." ucap Farrel kemudian tergelak.


Metta membulatkan matanya sempurna, hari ini benar- benar konyol, Farrel selalu bisa membuat kejutan istimewa untuknya, yang tidak pernah terpikir sebelumnya, bahkan membayangkan nya saja tidak.


Seseorang mendekat ke arah mereka, dengan di apit oleh kedua orang.

__ADS_1


"Jadi ini sebabnya kau tidak mau menjual rancangannya padaku?"


__ADS_2