
"Penerbangan apa?" Ujar Metta dengan heran.
Ayu menyenggol lengan Frans, sebagai isyarat untuk diam. Frans yang tidak mengerti malah menggerakkan kepalanya keatas sebanyak 2 kali. Ayu berdecak, "Diam!" dengan mata yang membulat serta bibir yang bergumam.
Semua menatap Farrel menunggu jawaban, terutama Metta yang semakin penasaran karena Farrel hanya diam, memperlihatkan gigi putih yang berjajar rapih kearahnya.
"Permisi, aku harus berbicara berdua dengan tunanganku." ujar Farrel dengan menarik tangan Metta untuk mengikutinya.
Andra terlihat jengah, Kenapa dia menjadi sombong sekali, semua orang juga tahu, tunangan... tunangan. Batin Andra.
"Bang, menurutmu mereka akan berantem apa tidak? kau lihat bagaimana wajah kak Sha barusan?" Bisik Nissa di telinga Andra.
"Kita taruhan, kalau kamu kalah, kamu harus bersihkan kamar abang selama seminggu. Deal?" gumam Andra.
Tanpa berfikir panjang, Nissa menjawab sebelum sang ibu melotot kearahnya. "Deal...."
Sementara Sri hanya menggelengkan kepalanya. Dia menatap punggung anaknya yang berjalan malas mengikuti Farrel.
"Jeng Sri tenang saja, Farrel pasti bisa mengaturnya dengan baik, ah...Astaga aku bahkan masih tidak percaya anak nakal itu kini sudah berubah menjadi semakin dewasa dan bertunangan." Ucap Ayu mengusap lengan Sri.
Sri yang masih belum mengerti, hanya tersenyum tipis, "Memangnya nak El mau kemana Jeng Ayu?"
"Ooh itu, dia mau ke ...."
Flash Back On
"Farrel, apa kamu bisa segera datang ke kampus?" ucap Dosen pembimbing Farrel saat sambungan teleponnya terhubung.
"Maaf pak, aku kan sedang cuti, apa ada hal penting?"
"Tentu saja, untuk itu aku menghubungimu!" jawab Dosen yang terkenal killer dikalangan mahasiswa DKV.
"Baiklah, aku akan kesana."
Setelah menutup sambungan Telepon dari Dosen, Farrel yang tengah dalam perjalanan menuju kantor pun memutar balikkan mobilnya, dia segera ke kampus untuk memenuhi panggilan Dosennya.
Tidak lama kemudian Farrel masuk kedalam ruangan Dosen, yang saat itu terlihat mengerutkan dahinya.
"Aku hanya ingin meminta pendapatmu! apa kamu bisa membantu atau tidak," Tanya Dosen pembimbing itu dengan jelas nafas panjang.
Farrel mengernyit, "Memangnya apa yang bisa aku bantu?"
Dosen itu menyerahkan ipad kepada Farrel, "Bacalah, kau akan mengerti setelahnya."
Farrel mengambil ipad itu dan membacanya, matanya terbelalak tak percaya, dengan menutup mulutnya memakai tangan.
"Are you seriuse ( Apa kau yakin)" ucapnya dengan mata terbelalak.
Dosen itu bersidekap tangannya diatas meja,"Of course, you've read the announcement yourself," (Tentu saja kau sendiri telah membaca pengumumannya)
Farrel bergeleng kepala, "But how is it possible?"(Tapi bagaimana mungkin?)
"Aku sudah mengatakannya padamu! but you insist on leave, they like your design,"(Tapi kamu bersikeras untuk cuti, mereka menyukai rancanganmu!)"
__ADS_1
"Now what do you think about this?"( Sekarang bagaimana pendapatmu tentang hal ini?) imbuh Dosen itu lagi.
"Aku? Entahlah ...!"
"Your father contacted me, and he gave you permission!"(Ayahmu sudah menghubungi aku, dan dia memberimu ijin)
Dosen itu lalu membuka laci, mengambil surat ijin yang telah ditanda tangani Arya, dan menyerahkannya pada Farrel. Farrel mengambilnya, membacanya lalu surat itu dia letakkan diatas meja begitu saja.
Selintas fikirannya teringat pada Metta, bagaimana dia mengatakan hal ini sementara acara pertunangannya akan diadakan bulan depan, sementara acara ini akan diadakan selama 3 bulan kedepan.
"Kau masih punya waktu seharian untuk memikirkannya, jangan sia-siakan kesempatan besar ini. Ini akan menunjang kariermu yang semakin cemerlang ini Mr Farrel." ucap Dosen dengan anggukan kepalanya meyakinkan Farrel.
"Apa aku tidak bisa membatalkannya? Maksudku menggantinya dengan mahasiswa yang mempunyai rancangan hebat lainnya?"
"Kau harus membatalkannya atas persetujuan Rektor! Namun kau tahu sendiri rektor kita tengah menjalani pengobatannya bukan?"
"Faiz... aku harus menemuinya!"
"Tidak bisa Mr Farrel, karena dia yang telah menyetujuinya dari awal."
****... apa dia sengaja melakukannya untuk menjauhkan aku dengan kakak, apa dia masih belum menyerah dan jera. Kenapa selalu menjadi pengganggu hubunganku dengan kakak, apa perlu aku menghancurkannya lagi sampai tidak tersisa. Bajingan.
Farrel keluar dengan perasaan yang campur aduk, dia senang karena gedung pencakar langit miliknya diakui dinegara tetangga. Namun juga ada perasaan was-was dan takut yang timbul bersamaan.
Bagaimana ini, aku tidak bisa diam saja! aku harus melakukan sesuatu.
Farrel melajukan kembali kendaraannya, bukan ke kantor melainkan pulang ke rumahnya, dia akan menemui Arya dengan segera. Waktunya tidak banyak, sementara dia harus segera mengambil keputusan yang sama-sama berat.
Mobil berhenti didepan gerbang, beberapa kali Farrel menekan klakson agar mang ujang membuka gerbang tinggi rumahnya, namun Farrel yang tengah dilanda kepanikan itu segera turun dari mobil, bertepatan dengan terbukanya gerbang.
"Masukkan mobilnya!"serunya sambil melangkah.
Ujang yang gelagapan menangkap kunci itu terheran, melihat Farrel yang datang dengan wajah seriuse dan rahang yang mengeras, lalu mengumpat kepadanya.
"Apa yang membuat den Farrel sebegitu marahnya?"
Farrel membuka pintu dengan keras lalu berteriak memanggil Arya, membuat panik Ayu yang tengah di halaman belakang, dengan tergesa dia masuk kedalam untuk melihat Farrel yang masih berteriak.
"Ada apa sayang? kenapa berteriak seperti itu..."
"Ayah mana bun ... apa dia kekantor hari ini? ada sesuatu hal yang penting yang ingin aku bicarakan."
Arya turun dari atas, menyusuri tangga dengan malas dan juga menguap dengan tenang, "Ada apa mencari ayah?"
"Yah, kita harus bicara ini sangat penting!" ujarnya menghampiri Arya.
"Kau ini kenapa? kenapa panik sekali... seperti mau melahirkan saja."
"Yah, jangan bercanda! Kau tidak lihat anak kita panik seperti ini." imbuh Ayu yang ikut menenangkan Farrel, namun malah ikut panik juga.
"Aku ingin acara pertunanganku dipercepat, kalau bisa hari ini juga aku akan menikahinya!"
Duar
__ADS_1
Arya dan Ayu terbelalak kaget, mereka silih menatap, "Apa yang terjadi Nak?" ucap Ayu.
"Kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan? Sha tidak sedang hamil kan?" Ujar Arya yang langung membantingkan tubuhnya keatas kursi.
"Astaga...."
"Apa yang kalian fikirkan? aku tidak mungkin melakukan hal itu, ini ada hubungannya dengan surat ijin yang Ayah tanda tangani, soal rancangan gedung pencakar langitku, itu artinya aku akan berada dinegara P selama 3 bulan." Farrel ikut mendaratkan tubuhnya disofa disamping ayahnya.
Arya menghela nafas, "Syukur lah bun, aku kira apa? sampai kau sepanik ini hanya karena masalah itu."
"Hanya? ini bukan sekedar hanya Ayaah, ini masalah besar! acara itu diadakan selama 3 bulan, sementara aku akan bertunangan bulan depan bagaimana ini." seru Farrel dengan kesal.
"Lihatlah bun, anakmu! hahaha ...lucu sekali. fikirkan lah dulu, ambil keputusan yang menurutmu paling baik, setelah itu baru katakan pada Ayah. Apapun keputusanmu Ayah dan Bunda akan selalu mendukungmu."
Arya bangkit dan berlalu masuk kedalam ruangan kerja, sementara Ayu mengelus bahu Farrel dan menenangkannnya.
"Fikirkan perkataan Ayah," Ayu kemudian ikut bangkit menyusul Arya.
Flash back Off.
"Kejarlah cita-citamu El ... apa yang kau takutkan?" ucap Metta setelah Farrel berbicara panjang lebar menjelaskan.
"Aku takut kakak berubah!"
"Berubah menjadi spider man? mana mungkin paling menjadi Cat women," Metta terkekeh.
"Apa kakak senang karena aku akan pergi?" Farrel mendelik kearah Metta.
"Ish, kau ini! mana mungkin... Kau lupa kita baru saja bertunangan?" Metta berkacak pinggang.
Membuat Farrel menggaruk kepalanya, "Jadi apa aku boleh pergi?"
Metta mencubit pinggang Farrel dengan keras hingga dia meringis, "Tiket penerbangan bahkan sudah berada ditanganmu, kenapa baru bertanya, menyebalkan!"
"Sakit kak! ish galak sekali tunanganku ini...."
Farrel terkekeh menarik tangan Metta lalu membalikkan tubuh Metta menjadi membelakanginya, dia menempelkan dagunya dibahu Metta.
"Aku pasti akan kembali! Hanya 3 bulan...."
"Kau memang harus kembali, kalau tidak aku akan mengusulmu kesana membawa sapu. Untuk memukulmu," ucap Metta.
"Benarkah kakak akan menyusulku?"
"Tentu saja... Tidak!!"
"Kakak!"
Metta terbahak, namun ada perasaan yang menggantung dalam hatinya.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen, gift dan vote nya.
Terima kasih banyak untuk kalian yang selalu mendukung karya ini. Lope lope dari Author