
Bangkit dari keterpurukan bukan perkara mudah, jatuh, bangun, bahkan berjalan terseok menjadi bumbunya. Begitupun dengan hati, maka perkara waktu lah yang akan menjadi penawar diri.
Bertemu orang yang tepat mungkin bisa menjadi jawaban, namun apa Farrel orang yang tepat untuk Metta, entahlah. Bagi Metta, Farrel adalah orang yang tepat, yang mampu mengobati luka di hatinya, Saat ini.
Meski restu tak kunjung sepenuhnya tiba, namun selalu ada harapan, karena usaha dan kegigihan tak pernah menyerah.
Faiz, satu nama yang sampai sekarang masih bersemayam dihati, ada kisah yang belum selesai disana. Apa Metta masih belum bisa melupakannya? jawaban nya iya.
Meski semua sudah tak bersisa, segala memory yang sengaja dilupakan, harapan yang dihapuskan, asa yang menjadi abu, namun kenangan itu masih ada. Saat indah, bahagia, luka, dan lara melebur jadi satu.
.
.
"Ayo kak pakai ini" Farrel menyerahkan Helm pada Metta yang diam mematung. Helm miliknya dengan warna yang sama pemberian Farrel.
"Cx..ka?..." Farrel mengibarkan tangan tepat diwajah Metta yang tengah melamun.
"Aku tau aku ganteng, tapi gak segitu nya juga kali ngeliatin nya."
Metta mengerjap "Apa sih.." merebut Helm dari tangan Farrel.
"Aku tuh bukan ngeliatin kamu, aku ngeliatin motor nih, gimana aku naik ke atas motor tinggi gini" Metta menepuk jok belakang motor Sport berwarna hitam milik Farrel, sementara dia memakai rok.
"Motor sama yang punya sama sama ganteng yah"
"Sama sama gila" Metta berbalik kemudian melangkah kembali ke dalam rumah.
Farrel mengejarnya " Ka.. jangan marah, aku hanya bercanda, beneran aku bercanda." dengan mencekal tangan Metta.
"Siapa yang marah, aku hanya mau ganti baju, kurasa baju ini tidak cocok" Metta menghempaskan tangan Farrel.
Farrel menggaruk tengkuk nya "Kirain aku kakak marah"
Kemudian Metta mengganti roknya dengan celana blue jeans miliknya, dengan atasan T-shirt putih dan speaker berwarna putih juga. Berpenampilan apa adanya dan simple, yang jelas nyaman ketika memakainya.
"Adik mahasiswi mau kemana?" goda Farrel saat melihat Metta yang berjalan menghampirinya.
"Kenapa..kayak anak kecil ya"
Farrel menggeleng "Kakak tetep cantik pake apapun,"
"Gombal terus.." Farrel terkekeh.
Farrel memasangkan Helm pada Metta, sementara Metta leluasa melihat wajah Farrel yang tepat berada didepan wajahnya.
"Tatap terus, makin ditatap makin cinta" ucap Farrel yang masih berusaha mengunci Helm yang dikenakan Metta.
"Iiih...ngeselin" memukul lengan Farrel.
"Kalo gak ngeselin, kakak gak akan suka" Farrel terkekeh lagi.
Lagi lagi Metta mendaratkan pukulan di lengan Farrel dengan kesal, dan yang dipukul hanya cekikikan.
"Pegangan, nanti kakak bisa jatuh."
" Aku sudah pegangan."
"Bukan disitu," Farrel meraih tangan Metta yang hanya berpegangan pada ujung T-shirt miliknya.
"Disini.." menempelkannya erat melingkar di pinggang nya.
Kemudian Farrel melajukan motor Sport miliknya dengan kecepatan tinggi, dan Metta memeluk pinggangnya dengan erat.
"Kakak tidak takut kalo aku ngebut," Farrel berteriak,
"Tidak..lanjutkan saja"
"Apa kakak menyukainya?"
"Aku belum pernah mengebut seperti ini"
"Baiklah, kita lakukan apa yang belum pernah kakak lakukan"
__ADS_1
Farrel menambah kecepatan motornya, dan Metta pun menikmatinya. Meskipun setiap hari menaiki motor tapi Metta tidak pernah melajukan motornya diatas kecepatan rata rata.
Mereka sampai di suatu tempat yang ramai meskipun ini masih tergolong pagi. Sudah banyak orang berlalu lalang disana, dengan barang bawaan masing masing maupun melenggang dengan tangan kosong.
"Kita ngapain kesini?" Ucap Metta saat turun dari motornya.
"Naik kereta api lah"
Metta melongo."Hah...ngapain..?mau kemana..?"
"Kakak kan sudah periksa daftar misi dari aku semalam, tapi kakak sendiri yang lupa."
"Misi misi kenangan itu..?" Farrel mengangguk.
"Misi Kenangan, kita akan membuat kenangan kita sendiri, dengan tempat baru dan suasana baru belum pernah kita kunjungi sama sekali. Tidak ada orang lain didalam nya, hanya KITA" ucap Farrel lembut.
Mereka memasuki stasiun kereta api, sampai mengantri di loket membeli karcis,
Mereka memasuki stasiun kereta api,
Melenggang begitu saja melewati pembelian tiket kereta,
"Kok kita gak beli tiket, tuh disitu kayaknya" ucap Metta menunjuk tempat pembelian tiket,
"Ah iyaa, kenapa aku lupa tiketnya?"
Mereka menuju tempat pembelian tiket, beruntung jadwal kereta dengan destinasi tujuan belum datang, masih ada waktu 30 menit menunggu kedatangan kereta.
Metta sontak kaget saat Farrel membeli tiket dengan destinasi tujuan ke Bandung. "Hah, kita akan ke bandung?"
Farrel mengangguk " Dia membuka lembar kertas misi yang sudah di tandai oleh Metta.
"Kamu tahu dari mana urutan dari list dikertas ini?"
" Walaupun kakak menceklis semua list disini tapi aku tau, kakak sengaja kan menceklis semua padahal aku sudah bilang kakak tandai saja tempat yang kakak sudah kunjungi" Farrel mencubit ujung hidung Metta hingga kemerahan.
" Awwss..sakit Farrel" Metta menggosok hidungnya namun malah terlihat lebih merah.
" Biarin, itu karena kakak bohong padaku"
"Sudah hentikan, jangan membuat aku kesal."
" Cie yang marah,"
" Tau ah, terserah kakak"
"Astaga ini bocah, gak inget apa kalo dia lebih parah bikin aku kesel"
" Ya udah iya, maaf yaa"
" Sabar Sha..sabar"
Farrel diam membisu, " Dih, yang ngambek segitu nya" Metta menguyel uyel pipi Farrel.
" Kakak, hentikan aku sedang kesal" dengan mulut berbentuk o karena Metta mencapit kedua pipinya.
"Iyaaa udah iya maaf yaa, aku gak akan bohong lagi"
" Janji? Metta mengangguk.
" Cium dulu"
"Farrel.."
Farrel tertawa, sementara Metta masih mengerucutkan bibirnya,
"Jadi berapa lama lagi saya harus menunggu kalian selesai mengobrol?" ucap petugas tiket.
Mereka sontak kaget, menyadari bahwa mereka masih berdiri didepan loket pembelian tiket.
" Maaf mbak,." ucap Farrel kikuk, Metta bersembunyi dibelakang punggung Farrel menahan tawanya.
" Jadi beli tiket kelas yang mana mas?"
__ADS_1
"Kelas Eksekutif aja mbak, dua kursi"
"Kelas ekonomi aja mbak," Metta menyembul dari belakang punggung Farrel hingga Farrel terdorong ke samping nya.
Membuat petugas kebingungan, " Jadi yang benar yang mana,?" petugas itu senyum dengan terpaksa.
"Kelas ekonomi, dua penumpang dengan tujuan Bandung ya mbak" ucap Metta.
"Baik kalau begitu." senyum yang masih terlihat terpaksa.
Kalo bukan karena tuntutan profesi yang mengharuskan ramah mungkin saja petugas itu sudah menggebrak meja karena kesal.
Setelah menyerahkan tiket kereta pada petugas yang mengecek tiket kereta nya, mereka masuk lebih dalam lagi ke tempat tunggu hingga kereta tiba. Tak lama kemudian kereta yang mereka tunggu pun tiba, mereka masuk ke gerbong kereta dan mulai mencari nomor kursi yang tertera di tiket.
Mereka sama sama mengedarkan pandangan saat mereka menemukan nomor kursi, Kereta api kelas ekonomi yang bersih dan lumayan bagus, dengan dua kursi yang saling berhadapan.
Metta duduk di kursi yang dekat dengan kaca agar bisa lebih leluasa melihat pemandangan dalam perjalanan.
Hingga hampir semua penumpang di gerbong itu menempati kursi masing-masing, termasuk penumpang yang sekarang berada di depan berhadapan dengan mereka.
Dengan segala barang bawaan yang terdiri dari beberapa dus, seorang ibu ibu sepantaran bunda duduk bersama seorang anak laki laki berusia sekitar 8 tahun.
"Aawws..." Farrel meringis saat kakinya tertindih dus besar hingga menghimpit kaki mereka menjadi sempit.
" Maaf yaa mas" ucap ibu tersebut, Farrel hanya mengangguk saja.
Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 3 jam, lumayan lama tapi Metta sangat menikmatinya, sejak kecil dia tidak pernah naik kereta, bahkan jarang bisa pergi ke tempat wisata karena keterbatasan biaya.
Metta memandangi pemandangan luar dari kaca, dengan tangan yang digenggam Farrel tentu saja.
"Kenapa keliatin terus?"
Ucap Farrel pada anak laki laki didepannya, sedari tadi hanya memandangi Metta yang tengah melihat pemandangan.
Dia menggelengkan kepalanya, " Punya mata kok" gumamnya.
" Pakai matamu dengan benar" ucap Farrel tidak mau kalah.
Membuat Metta sontak menoleh kearah Farrel lalu beralih pada anak kecil didepannya."Ada apa?"
"Tidak ada, hanya seekor lalat kecil pengganggu" sorot mata Farrel mendelik ke arah anak kecil itu.
"Pria bodoh" gumamnya dengan sinis. lalu beralih pada Metta dengan senyuman manis.
Metta membalas dengan senyum pula, "Udah gak usah diliatin" ucap Farrel.
Anak itu hanya menjulurkan lidahnya ke arah Farrel, lalu bersembunyi dibalik lengan ibunya yang tengah tertidur pulas.
Metta merogoh tasnya mencari sesuatu lalu diberikannya pada anak itu
" Adek mau?"
Dia mengangguk dan meraih permen dari tangan Metta, namun Farrel merebutnya dan hanya memberi 1 permen.
"Jangan banyak banyak tidak baik untuk kesehatan gigimu" Farrel menjulurkan lidahnya.
Anak itu merengut namun tetap mengambil permen yang diberikan Farrel.
"Terima kasih kakak cantik"
"Dia pacarku" ucap Farrel dengan kesal.
" Farrel hentikan, dia hanya anak kecil" ucap Metta.
"Iya dan dia akan tumbuh besar nanti"
.
.
.
Jangan lupa terus dukung aku dengan like, komen dan rate 5 yaa..
__ADS_1
Makasih😘