Berondong Manisku

Berondong Manisku
Password ponsel


__ADS_3

Farrel tidak berhenti terbahak, "Kakak selalu begini kalau malu, lucu sekali. Dan ya...kakak memang bodoh."


Metta masih membenamkan wajahnya didada Farrel, dengan hati yang kembali lega, dan fikiran yang tiba-tiba se ringan kapas, namun urat malu kian menebal, dia tak mampu memperlihatkan wajahnya saat ini.


Bodoh sekali kamu Mettasha, benar-benar bodoh lebih dari seekor keledai. Ibu tolong aku....


"Sudah ayo, kita kembali melihat gaun untuk mu ya,"


Metta semakin mengencangkan tangannya memeluk Farrel, bahkan tidak mau memperlihatkan wajahnya yang basah, sampai Farrel harus menangkup kepalanya.


"Mana coba aku mau lihat wajah sayangku ini, sayangnya aku yang galak tapi pemalu ini."


"Tidak mau...."


"Ayo sayang jasku sudah basah sekali, kita lihat sebentar gaunnya lalu kita segera pulang ya...."


Entahlah aku sepertinya tidak lagi berminat melihat gaun, aku ingin terus bersembunyi saja, apalagi c rubah itu melihatku seperti ini, hais mau di taro dimana mukaku ini.


"Sayang ayo dong," Farrel menatap wajah Metta yang penuh dengan anak rambut.


Dia merapikan rambutnya dan menyeka bulir-bulir yang masih tergenang,


"Jangan selalu berfikiran buruk, kalau ada sesuatu yang mengganjal lebih baik kakak tanyakan langsung padaku yaa... Apa lagi sampai mengendap-ngendap untuk mencariku ke gedung utama, jika aku tidak sempat memberi kabar, kakak tanyakan pada Mac."


Metta mengangguk, "Maaf ... sepertinya aku jadi bodoh sekali hari ini."


"Itu karena kakak takut kehilangan aku yang tampan ini kan, hem?" goda Farrel kembali dengan tawanya masih tersisa.


Metta menggigit kembali bibirnya tipis."Karena kamu tidak memberi kabar, makanya aku berfikiran buruk!"


"Jadi semua ini gara-gara aku ya?" Metta mengangguk.


"Baiklah aku minta maaf sayang ...."


Cup


Cup


Cup


Farrel mencium kening, pipi kedua pipi, hidung dan terakhir bibir Metta yang kini mengembang. Lalu menarik kembali kepalanya kedalam pelukannya.


.


.


Akhirnya setelah drama selesai, mereka melanjutkan kembali memilih gaun, Tasya keluar setelah Farrel mengiriminya pesan. Tidak pernah terbayang bagaimana malunya Metta berhadapan dengan Tasya.


Metta menggenggam tangan Farrel dengan erat, wajahnya kembali datar membuat Farrel heran, juga tersenyum simpul. Melihat Tasya yang melangkah dengan anggun kearahnya.


"Farrel, urusanmu sudah selesai?" Ucapnya dengan lembut.

__ADS_1


Farrel mengangguk, "Maaf telah membuatmu tidak nyaman, bisakah kita lanjutkan nanti saja? Aku akan hubungi tante Dewi untuk membuka blokiran kartumu."


"Kenapa? apa tidak ada gaun yang bagus, yang aku pakai ini model yang cocok untuk kamu kak!"


"Bukan begitu, tapi kami harus pergi dulu mengurus sesuatu yang mendesak!" ucap Farrel.


"Baiklah kalau begitu, hubungi aku kalau kalian ingin kemari lagi." Ucap Tasya yang menyingkap gaun bagian bawah yang menjuntai.


"Hem, kami pergi dulu, terima kasih Sya."


"Beruntung sekali kau kakak, dicintai dengan sebegitu besarnya oleh Farrel. " Gumam Tasya dari sebuah celah kaca menatap mereka dari dalam.


Farrel menarik tangan Metta dengan lembut, mereka keluar dari butik itu, bak mendapat angin segar, Metta menarik nafasnya panjang setelah keluar dari sana. Farrel terkekeh.


"Sudah ku katakan, kalau ada yang mengganjal itu bilang!" mencubit pelan hidung Metta.


"El ... sakit!" Metta menggosok hidungnya.


Farrel terkekeh, "Kita pergi melihat gaunnya ditempat lain!"


"Kenapa tidak jadi ditempat Tasya," gumam Metta.


Farrel membuka pintu mobil, "Masuklah dulu ...."


Metta masuk kedalam mobil, menghempaskan tubuhnya yang lelah, memasang seat beltnya llau menyandarkan kepalanya. F arrel berjalan memutar dan masuk kedalam mobil.


Farrel membelai kepala Metta yang tengah memejamkan matanya, "Istirahatlah, kita fikirkan masalah gaunnya nanti saja."


Senja mulai menampakan dirinya, cahaya orange itu menebarkan warna indahnya di atas langit, menghiasi hari yang mulai berganti pergantian malam.


Dua insan yang masih terduduk didalam mobil, tidak bosan Farrel menatap lekat kekasih yang tengah tertidur karena lelahnya menangis itu. Dengan senyum yang tak dia lepaskan dari bibirnya.


"Kakak lucu sekali, bahkan orang akan menyangka kita seumuran jika melihat tingkah kakak tadi." membelai kepala Metta dengan lembut.


"Meskipun kakak tidak mengatakannya padaku, aku tahu kakak tidak nyaman disana, melihat Tasya apalagi harus memilih gaun yang dikenakan Tasya terlebih duhulu, Dasar kakak bodoh ... seharusnya bilang saja padaku langsung."


"Dasar gadis berego tinggi, dan aku semakin menyukai kakak." mengecup tangan Metta.


Setelah berapa saat akhirnya Metta terbangun, mata yang menyipit itu semakin membulat sempurna karena gelapnya awan.


"Apa aku ketiduran El?" tanya Metta gelagapan


Farrel terkekeh, meletakkan ponsel yang sedari tadi dimainkannya diatas dasboard mobil. Lalu menolehkan kepalanya, "Seelaluu...."


Metta menggaruk kepalanya, "Maaf yaa ..."


Farrel menggelengkan kepalanya, "Cium aku, karena kakak membuatku kalah!" menunjuk pipinya sendiri.


"Ish, selalu saja begitu. Aku tidak mau!"


"Aku kalah bertanding dengan adikmu, dan kakak tahu dia minta apa dariku karena telah memenangkan game online barusan! hem...."

__ADS_1


"Mana aku tahu, aku kan tidur! lagian aku gak tahu kamu main game online bareng Andra. Memangnya dia minta apa sama kamu?"


Awas aja minta yang aneh-aneh! Tidak punya malu, sudsh ku katakan untuk tidak meminta-minta sama orang lain.


"Andra minta aku menjaga kakak dengan baik," Farrel meraih ponsel dan membuka salah satu pesan dari Andra.


"Jaga kakak dengan baik, jangan pernah menyakitinya, atau aku akan menghancurkanmu jika kau berani melakukannya sedikitpun!!"


Ucap Farrel membacakan pesan dari Andra, membuat Metta menaikkan alisnya sebelah,


"Masa, dia bilang begitu?"


Farrel menunjukan pesan dibenda pipih itu, "Ih... kakak memang tidak percayaan, nih! Baca sendiri, aku mau nyetir lagi. Kita makan dulu, udah laper dari tadi."


Farrel kembali menyetir, melajukan kembali mobilnya, sementara Metta memegang ponsel miliknya,


"Memang aku boleh melihat ponselmu! ini kan barang privasimu,"


"Kenapa tidak, aku tidak keberatan! Aku juga tidak menyembunyikan sesuatu dari kakak."


El ... kenapa semua sikap mu itu sungguh manis, bagaimana aku tidak makin suka coba? Batin Metta berbicara, sedang tanganya mengotak-atik ponsel Farrel.


"Sayang, ponselnya terkunci!" menyodorkan ponsel untuk Farrel buka passwordnya.


"Buka saja, aku lagi nyetir! Kakak ingin kita kecelakaan!" Farrel terkekeh mengulang perkataan Metta tadi siang.


"Ish, kau ini masih dibahas! Bagaimana membukanya, aku bahkan tidak tahu!" mengerdikkan bahunya, lalu meletakkan ponselnya kembali di dasboard mobil.


"Mettasha...."


Metta menoleh, "Kenapa!? kau memanggilku begitu? enggak sedang marah kan...."


Farrel mendecak, tanpa mengalihkan pandangannya, "Bukan tapi password ponselnya."


Metta mengernyit, senyuman tipis mengembang di bibir yang merona. Walaupun make up nya entah seperti apa sekarang.


"Kenapa malah senyum-senyum,"


"Kenapa memakai namaku untuk password ponselmu?"


"Memangnya kenapa? dari pada memakai namanya Tasya kan...Nanti ada yang salah faham lagi!" goda Farrel dengan terkikik.


"El ... ih!! nyebelin lagi kan."


.


.


Jangan lupa terus dukung karya receh ini yaa, Terima kasih yang udah kasih aku vote, gift serta dukungan yang full power. makasih semua


✍Maaf suka telat balas koment.

__ADS_1


__ADS_2