
2 minggu kemudian
"Sya, kamu tahu Doni tinggal dimana?" Tanya Tiwi saat pintu rumah Tasya baru saja dibuka pemiliknya.
"Kamu tuh datang-datang nanyain Doni, bukannya nanyain aku?" ujar Tasya dengan terkekeh.
"Aku serius Sya, kamu tahu kan?"
Tasya mengangguk, "Rumahnya sih di Yogya, tapi dia disini nge- kost deh kayaknya,"
"Astaga, ya aku nanya alamat lengkap nya yang disini lah, ngapain di Yogya, lagi pula mana mungkin dia pulang pergi dari sana, sementara di kerja disini. Ngaco deh kamu!" ujar Tiwi hang langsung menghempaskan dirinya di sofa.
"Ya terus tiba-tiba nanyain alamat dia? Memangnya kamu ngapain ke rumahnya?"
"Ada sesuatu hal yang harus aku bicarakan padanya, dia menghindari aku semenjak dia berkelahi dengan Eric," ucap Tiwi.
Tasya tersentak, "What ...berkelahi gimana? Kok bisa?"
"Kamu inget terakhir kita ketemu di kafe beberapa minggu yang lalu?"
Tasya mengangguk, "Heeemm...inget, memangnya kenapa?"
"Eric tiba-tiba nyamperin kita dong, terus dia ngomong hal-hal yang udah gak penting banget buat dibahas! Aku udah bilang berkali-kali bahkan sebelum aku memutuskan untuk berpisah dengan nya," Jelas Tiwi.
"Lantas....?"
"Doni memukul Eric duluan, karena Eric bicara hal yang jelek pada Doni, dan dia tidak terima," ucap Tiwi yang menenggak minuman yang ada dimeja.
"Udah deh, cerita dulu sampai beres!" ujar Tasya dengan kedua bola mata nya mengikuti pergerakan dari Tiwi.
Tiwi menyimpan kembali gelas minuman di atas meja, "Jadi intinya, mereka berkelahi karena Eric mengira aku memutuskannya karena lebih memilih Doni dari pada dia, dan Doni sudah tidak mau bertemu denganku lagi."
Tasya menggelengkan kepalanya, "Kamu gak ngomong tentang kehamilan aku kan? Please Wi jangan bilang padanya ya,"
Tiwi menatap Tasya yang tengah resah, "Kalau dia terus mendesakku untuk kembali pada nya, dengan terpaksa aku akan mengatakannya Sya."
Tasya menelan saliva, apa yang akan terjadi jika Eric mengetahui kehamilannya. Apa yang akan dia lakukan? Menerimanya atau menyuruhnya untuk melenyapkannya. Tasya tidsk ingin itu terjadi, namun juga tidak bisa membiarkan Tiwi terus menhindari, ditambah dengan temannya Doni yang memang tidak tahu menahu akan hal ini.
"Lambat laun juga dia harus tahu Sya, supaya dia bisa tanggung jawab. Minimal dia tahu ada benihnya yang tumbuh didalam rahim mu sekarang." tukas Tiwi yang menangkup wajah nya.
Tasya terdiam dan enggan berkomentar apapun, masalah ini terlalu rumit.
"Kalau gitu aku pergi dulu." ujar Tiwi yang langusng bangkit dari duduknya dan keluar dari rumah Tasya.
Sementara Tasya masih tertegun dengan apa yang dikatakan Tiwi, bagaimana jika hal itu terjadi, rencana yang sudah disusun rapi pun mulai berantakan.
.
__ADS_1
.
Tiwi datang ke alamat Doni yang diberikan Tasya, mengetuk pintu kamar bernomor 112 itu. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Bahkan suasana kost-kostan itu tampak sepi. Hanya ada beberapa suara samar-samar yang dia dengar dari ruangan lain.
Tiwi mengedarkan pandangan, namun juga tidak menemukan seseorang yang akan dia tanyai. Hingga Beberapa saat berlalu, seseorang keluar dari kamar sebelah dan tertegun melihat ke arah nya.
"Maaf cari siapa ya?" tanya seorang pria.
"Aku mencari penghuni kamar ini? Doni ... Mungkin anda tahu?" Ujar Tiwi.
"Ohhh... si Doni! Dia sudah pindah sekarang, sudah kaya dia, noh di apartemen di jalan Xx, Dia sudah tidak pernah kesini lagi."
"Ooh baiklah, terima kasih Pak!" ujar Tiwi dengan berlalu pergi.
.
.
Doni tengah berada di Apartemennya bersama teman-teman tim atlet, tampak tengah latihan. Tepatnya hanya terlihat tengah bermain game, saling berteriak satu sama lain.
"Brengsek berisik banget!" ujar Doni pada temannya.
Mereka berjumlah lima orang, memiliki nama-nama panggilan masing-masing, terdiri dari Richard alias choco pie, Ridwan alias panthera, Lusiano alias ono alias jam weker berbunyi, Farhan alias The cooljack, dan Doni sendiri yang memiliki name account black roses.
Mereka berlima tengah mempersiapkan diri untuk turnamen disebuah kota, meskipun didiskualifikasi di ajang turnamen nasional tapi Doni juga bertanggung jawab semuanya, dan dengan bantuan Farrel tentu saja, mereka mengganti turnamen itu dengan turnamen lainnya atas rekomendasi Farrel yang menjadi penyandang dana terbesar.
"Buff, guys ... buff(Peningkatan status player)." seru Doni.
"Yeahh...." Sorak Farhan.
"Panthera wacth your step( perhatikan langkah mu)." ujar Richard kesal.
Yang di susul gelak tawa oleh teman nya yang lain.
Mereka kembali bersorak setelah tim mereka menang, lalu kembali duduk dengan tenang dan memulai kembali ke level selanjutnya.
"Kau push (serang) kiri mu ... itu... ada bocil.. Dam n it!"
Tok
Tok
Terdengar samar-samar suara ketukan dari luar, Doni membuka pintu dan terkejut saat melihat Tiwi yang berada di hadapannya.
"Hai ... " ujar Tiwi dengan tangan yang melambai.
Doni terhenyak, "Kau ... ngapain kesini? Tahu dari mana aku tinggal di sini.
__ADS_1
"Aku mencari tahu, kau tidak menyuruhku masuk kedalam?" ujar Tiwi dengan mengukir senyuman di bibirnya.
"Maaf tidak bisa, kami sedang latihan! Lebih baik kau pergi dan tidak usah kemari lagi." Ucap Doni ketus dan langsung masuk kedalam.
Namun bukan Tiwi namanya jika tidak bisa mendapat apa yang dia inginkan, dia merangsek ikut masuk kedalam apartemen sekalipun Doni menolaknya.
"Ada yang ingin aku bicarakan! Dan ini sangat penting." ujar Tiwi.
Doni mendengus, "Kita bicara di luar saja!"
"Kenapa tidak disini saja? Aku suka tempat tinggal mu yang baru." Ucap Tiwi dengan mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Aku tidak bertanya tentang pendapatmu! Sudahlah ayo, kita bicara ditempat lain." Doni menarik tangan Tiwi, lalu membawanya ke luar apartemen.
Tiwi tampak menebar senyuman, melihat Doni yang masih menggenggam tangannya tanpa sadar hingga mereka sampai di pelataran parkir.
"Kita mau kemana?" Ujar Tiwi.
"Ke tempat lain, asal tidak disini!"
"Ke kantor catatan sipil, aku mau," goda Tiwi dengan menyenggol lengan Doni.
"Ngarep...!"
Tiwi terkikik, dengan terus menyenggol lengan Doni yang merengut.
"Apaan sih, bisa diem gak!" ujar nya saat Tiwi terus menyenggol lengannya.
Doni menaiki motor dan menyerahkan helm pada Tiwi. "Kita naik motor?" Ujarnya dengan mengambil helm dari tangan Doni.
"Memangnya kau melihat aku naik mobil?" Jawab Doni ketus, lalu memasangkan helm full face dikepalanya.
"Galak banget sih," Tiwi mencuil dagunya sesaat Doni memasangkan helm nya.
Doni bergeleng kepala, "Gila kau!! Sudah ayo naik,"
Tiwi pun naik dengan susah payah, karena tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, sementara motor Doni adalah motor sport. Hingga Tiwi harus berpegangan pada bahu Doni.
"Pelan-pelan, kau, ini!!" ujar Doni yang merasa bahunya dicengkeram kuat.
Tiwi langsung merangsek memeluk, melilitkan tangan sampai di perut Doni.
"Lepas!!"
Doni menepis tangan yang melingkar, namun Tiwi semakin merekatkan jemarinya.
"Diam aku takut jatuh!!"
__ADS_1