Berondong Manisku

Berondong Manisku
Perjanjian (Tia & Doni)


__ADS_3

Doni meraup wajahnya kasar, melihat punggung Tia yang semakin jauh, dia tidak ingin membuat Tia kecewa, tapi juga tidak ingin mendengar Nissa marah.


"Ya ... tuhan, andai saja Tiwi masih ada, gue tidak mungkin sebingung ini! Tapi gue juga tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu, gue juga tidak ingin membuat mereka sakit hati." gumam Doni.


Tia terus saja berjalan, hingga dia masuk ke dalam mobil dan menunggu Doni di sana.


Kenapa aku harus semarah ini, dia menganggapku pacar bohongan, apa yang lo harapkan Tia. Batin Tia.


Doni masuk ke dalam kemudi, melirik sebentar ke arah Tia lalu menghidupkan mesin mobil, tanpa berkata apapun.


"Sorry, tidak seharusnya gue marah sama lo, dan seharusnya gue tidak ikut campur masalah hati lo." gumam Tia pada akhirnya.


"Its ok... lo gak salah!"


Doni melajukan mobilnya kembali ke kantor sementara, tidak ada pembicaraan apapun lagi di antara mereka, rasa canggung kembali menyerang,


"Lo ..."


"Lo...."


Ucap mereka berbarengan.


"Lo duluan, mau ngomong apa?"


"Lo aja duluan ... gue gak penting!" jawab Tia.

__ADS_1


Doni menghela nafas, "Gue bukan pria baik, gue punya masa lalu kelam, gue juga brengsekk, dan gue gak mau ngecewaain lo, lo berhak dapet pria yang lebih baik dari gue."


Tia menoleh ke arahnya, "Gue gak cari pria baik, gue tahu diri juga, pria baik untuk wanita baik, sedangkan gue?"


"Seenggaknya lo masih lebih baik dari gue!"


Tia menghembuskan nafas panjang, "Kalau gue berniat cari pria baik, gue bakal pergi ke pesantren, gue bakal minta di cariin jodoh yang baik dunia akhirat, gue gak mungkin ada di sini."


"Ta--tapi...!"


"Enggak ada tapi, lo gak akan tahu kalau lo gak nyoba, gue udah tahu masa lalu apa yang lo alami, dan bukankah manusia berhak mendapat kesempatan? Gue mau lo ambil kesempatan itu, lo juga berhak bahagia." ujarnya dengan menatap pria disampingnya itu dengan lekat.


"Gue gak mau lo nyesel, karena gue bukanlah pria sempurna,"


"Udah gue bilang, gue gak nyari yang sempurna, Karena gue pun bukan wanita sempurna." tukas Tia.


"Gue gak mesti bilang mau gue apa kan? Secara lo udah tahu, foto lo aja masih gue save sampai hari ini? Dan lo gak faham juga mau gue apa?"


Doni terdiam, dia tidak mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Pandangannya bahkan tidak berubah dari ruas jalan yang tengah mereka lewati. Dia mencengkeram kemudi dengan erat.


Sementara Tia masih menatapnya lekat, dadanya bergemuruh hebat, hal berani yang dia lakukan secara tidak langsung mengakui perasaannya pada pria yang telah mencuri hatinya dari sejak sama-sama duduk di bangku sekolah.


"Gue ... gak yakin, gue bisa bikin lo nyaman dengan diri gue sekarang! Tapi lo bener, kesempatan orang untuk berubah pasti ada,"


Tia mengangguk, "Let's try, jika dalam waktu 3 bulan lo masih belum bisa buka hati lo buat gue, gue yang bakal pergi dari hidup lo! Deal?"ucap Tia dengan tangan yang menggantung menunggu.

__ADS_1


"Deal...!" ucap Doni menyambut tangan Tia.


"So ... kita jadian?" tanya Tia memastikan.


Doni hanya mengangguk, "Seperti kata lo, kita harus mencobanya, kalau tidak di coba, kita tidak akan pernah tahu."


"3 bulan! Hanya sampai 3 bulan," ucap Tia


dengan menganggukan kepalanya.


Gue akan pastikan, dalam waktu 3 bulan, gue bisa bikin lo jatuh cinta sama gue. Gue pastikan itu, Doni. Dan kehadiran gue perlahan-lahan akan menggeser posisi perempuan yang sudah bikin lo seperti ini. Batin Tia.


Doni kembali melajukan kembali mobilnya, kali ini dia memperlambat laju kendaraannya, enyah kenapa hatinya menjadi risau, keputusan yang dia ambil saat ini apa benar atau hanya akan kembali menyakiti seorang perempuan yang menyukainya dari lama.


Perlahan Doni menghembuskan nafasnya,


Semoga ini memang jalan yang terbaik, dan perlahan hati ku terbuka sepenuhnya untuk seseorang lagi.


Keduanya kembali hening, mereka sibuk dalam fikirannya masing-masing. Hingga mereka sampai ke kantor cabang.


"Aku cabut duluan! Aku mau langsung ke hotel, Kamu ke kantor duluan saja,"


"Aku?" tanya Doni.


"Iya aku ...kamu? bukankah seharusnya kita merubah panggilan dari gue lo, jadi aku dan kamu?"

__ADS_1


"Oh ...!." Doni hanya beroh ria.


Tia pun keluar dari mobil, dan masuk ke dalam kantor, dada yang bergemuruh itu terlepas begitu semua yang dia rasakan terucap. Namun tentu saja membuatnya takut.


__ADS_2