
Hati-hati area terlarang, author tidak bertanggung jawab atas segala macam fikiran😂
Semua orang kembali pulang termasuk para sanak keluarga, tamu undangan dan semua rekan bisnis Arya. Pesta pun telah usai, namun babak baru dalam kehidupan Farrel dan Metta baru saja akan dimulai.
Mereka berjalan bergandengan tangan, saling melempar senyum bertanda kebahagian. Genggaman tangan pun semakin mengerat, namun detak jantung mereka sebenarnya sama-sama berkecambuk, bak genderang perang yang bertalu-talu kian kencang.
Mereka masuk kedalam lift yang akan mengantarkan mereka ke tempat dimana mereka akan melewatkan penghujung malam bersama. Masih dengan saling melempar senyum, dengan fikiran yang melanglang buana entah kemana,
Apa yang akan di lakukan setelah ini, mandi terlebih dahulu, atau makan. Kalau makan sih sudah, mandi ya mandi saja dulu. Lalu...? Metta.
Aku akan menghabiskan rasa penasaran yang selama ini menyiksa, mimpi bodoh itu akan menjadi kenyataan. Farrel.
Hingga keduanya mulai memandang angka lift yang berkedip yang terdapat di atas pintu, angka-angka itu berkedip itu sudah mereka lewati.
"Sayang kenapa?" tanya Farrel yang merasa tangan yang digenggamnya itu semakin hangat dan berkeringat.
"Tidak apa-apa, memangnya kenapa?"
"Tanganmu basah, panik yaa?" Ucap Farrel dengan alis yang turun naik.
Metta membuang muka dengan bibir yang sedikit melengkung. "Apaan sih...."
Lift kembali hening
Mereka melihat kearah atas pintu kembali, hingga 1 lantai lagi mereka akan sampai. Saling pandang lalu melempar senyum kembali.
Hening
Semakin dekat dengan kamar yang akan ditempati, semakin mereka mengalami serangan panik tiba-tiba, Astaga.
Ting
Pintu lift terbuka, mereka berjalan melambat. Saat pelayan hotel menyambut mereka, memberikan ucapan selamat atas pernikahan dan lain-lain sebagai pelayanan yang diberikan pada penghuni Royal suite di hotel itu.
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap salah satu dari mereka yang berseragam paling berbeda diantara yang lain. Sementara yang lainnya ikut mengangguk dngan kedua tangan yang menangkup di dada.
Pelayan itu mengantarkan mereka sampai kedepan pintu, menempelkan kartu kunci lalu membukanya.
"Silahkan, dan ini kuncinya." ucap nya menyerahkan kartu pada Farrel.
"Terima kasih." ucap Farrel dengan memberikan tips padanya. Pria itu mengangguk lantas keluar dan menutup pintu.
Mereka berdua saling pandang kembali, Metta dengan cepat membuang muka dan memilih untuk room tour, sedangkan Farrel menggaruk tengkuknya.
"Aku mau mandi dulu ya." ujarnya dengan berlalu ke kamar mandi.
Metta yang tidak mendengar Farrel itu berjalan, mengedarkan kedua manik hitamnya keseluruh ruangan mewah yang baru kali ini dilihatnya.
Royal Suite room, kamar hotel berfasilitas paling lengkap, kamar dan ruang tamu yang terpisah serta dapur dan juga mini bar.
Ini sih segede rumahku. batinnya bicara.
Melewati kamar menuju ruangan lainnya, Astaga bahkan ada kolam renang pribadi.
Metta berkali-kali berdecak kagum, dia beralih menuju kamar, ranjang berukuran king size dengan penuh taburan bunga mawar berwarna merah diatasnya, gemericik air terdengar di sudut ruangan.
Farrel sedang mandi, membuat detak jantung Metta bergemuruh berkali lipat, dia membalikkan tubuhnya hendak keluar, bertepatan suara pintu kamar mandi terbuka.
"Kak, mau mandi sekarang? Air panasnya akan aku siapkan." ujar Farrel.
Metta membalikkan kembali tubuhnya hingga berhadapan dengan Farrel.
Glek
Metta menelan saliva, manatap malu-malu tubuh Farrel yang hanya terbalut handuk sebatas pinggang, tubuh kekar dengan otot yang membuat jantungnya semakin berirama. Tak lupa kotak-kotak kubus diarea perut, yang baru kali ini dia lihat.
"Aa--ku, y--ya tentu saja aku mau mandi!" ujar Metta
Berjalan mendekat kearah kamar mandi, sementara Farrel yang masih berada di depan kamar mandi memasang senyum yang langsung menghunus hati di bibirnya. Ya ampun.
Metta masuk kedalam kamar mandi yang luasnya sama dengan dapur di rumah nya, dengan bathtube berisi air hangat penuh dan wangi aroma terapi yang menenangkan, dia duduk ditepi bathtube guna memeriksa suhu panas dengan menyelipkan tangannya.
"Sayang," samar-samar dia mendengar suara memanggilnya.
__ADS_1
Metta mematikan air, tapi suara itu tidak ada. "Astaga, kamar mandi ini membuatku takut." gumamnya.
"Sayang...."
Terdengar lagi suara samar-samar memanggilnya.
karena tak terbiasa, dan juga merasa takut dia dengan cepat menyelesaikan ritual bersih-bersih nya, namun malah kebingungan setelahnya, pasalnya tidak ada handuk maupun benda yang lainnya, selain gaun yang dia pakai sebelumnya.
Astaga, mana mungkin aku kembali keluar dengan menggunakan gaun itu kembali..
Sementara Farrel mengetuk kembali kamar mandi, karena Metta yang tak kunjung keluar juga. "Sayang, kau lupa handukmu!" lalu terkekeh.
"Mati aku, ternyata dia yang memanggil, berarti suara-suara yang tadi itu benar-benar nyata." gumamnya.
Metta membuka pintu kamar mandinya dengan ragu, bersembunyi dibelakang pintu dengan membuka celah yang amat sedikit dan mengulurkan tangannya, menggapai handuk dari tangan Farrel.
Farrel tergelak melihat tangan Metta namun kemudian menelan saliva karena melihat bahu putih miliknya.
"Cepetan ih mana handuknya!" ujar Metta dengan menyembulkan wajahnya.
Farrel kembali terkekeh, "Nih... maju sedikit,"
"Ih, cepet jangan main-main! Aku sudah kedinginan,"
"Kakak mau aku masuk kedalam dan menghangatkan?" Farrel kembali terkekeh.
"Astaga El ayolah, perkara handuk! Lama begini." gumamnya.
Farrel mendekati pintu dan menyodorkan handuk, namun saat Metta meraihnya Farrel justru maju dan mengecup pipinya.
Cup
Lalu dia tergelak dan pergi dari sana, Metta yang terkesiap pun hanya menggelengkan kepalanya, lalu menutup kembali pintunya.
Tak lama kemudian dia keluar, namun Farrel tidak ada disana, membuatnya leluasa berganti pakaian. Setelah itu dia keluar dan melihat Farrel yang tengah duduk.
"Sayang sudah selesai?" Metta mengangguk.
Tak lama suara ketukan dari pintu kamarnya, Farrel membukanya dan seorang pelayan masuk mendorong troly penuh makanan.
Setelah memberikan tips, dia menutup pintu dan menarik troly hingga mendekat kearah sofa, sedangkan Metta hanya diam mengamati gerak-gerik Farrel.
"Kenapa?"
Metta menggelengkan kepalanya."Tidak...."
"Kita makan dulu."
Akhirnya mereka berdua makan, sesekali Metta melirik Farrel yang hanya diam, makan dengan tenang dan tidak seheboh biasanya. Dia pun kembali makan.
Hening
Farrel yang sebenarnya salah tingkah, dia tidak tahu apa yang harus di lakukan setelah ini. Mandi sudah, makan malam udah terus apa? Astaga apa aku harus mencari tahu lewat media sosial.
Dia lantas berjalan ke dapur dan mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air dan kembali duduk. Metta mengernyitkan dahi.
"El, kenapa membawa air minum lagi, ini kan sudah ada?" ujarnya dengan menunjuk 2 botol mineral yang dibawa pelayan.
"Ah iya, aku lupa sayang, lantas dia kembali ke dapur dan membuang air didalam gelas. Lalu menghembuskan nafas nya perlahan.
Lalu membuka lemari es dan melihat buah-buahan ada buah apel dan jeruk, "Sayang kau mau apel atau jeruk?"
"Apel saja."
Farrel kemudian mengambil buah itu lalu kembali duduk, "Mau dipotong?"
"Nanti saja...."
Farrel mengangguk, tapi dia meraih pisau dan memotong buah apel. Sementara Metta terheran dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah itu.
"El kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan." pertanyaan nya kembali dia ulang.
Jangan-jangan dia juga panik seperti ku. Batin Metta
__ADS_1
Farrel hanya menggaruk kepalanya, Ah, bodoh sekali.
Ternyata tidak segampang mimpiku yang bodoh itu, ini sulit sekali, bagaimana memulainya?
Farrel tidak seperti Metta yang memang pintar berpura-pura, dia terlihat panik hingga bertingkah seperti itu.
"Kak...."
"He em."
"Bagaimana kalau kita tidur sekarang." menggaruk kepala belakangnya.
Metta menelan saliva dengan susah payah, lalu mengangguk dan seketika bangkit dari duduknya bertepatan dengan Farrel yang juga bangkit hingga lutut mereka berbenturan,
"Awss...."
Metta meringis karena membentur lutut Farrel yang keras, dan kembali terduduk dikursinya, begitu juga Farrel yang tidak jadi bangkit dan langsung memegang lutut milik Metta.
"Maaf sayang." ujarnya dengan tangan yang sudah berada dilututnya.
Membuat pakaian Metta tersibak, dengan paha yang kini terlihat, putih dan mulus, Farrel hanya menelan saliva berkali-kali hingga Metta menyadari dan langsung membenarkan pakaiannya kembali.
"Sakit gak?" Farrel memijat pelan.
Metta terkekeh dan menggeleng "Udah enggak, tapi lututmu keras sekali."
Darah nya mendesir hebat, dengan pijatan lembut dilututnya, begitupun dengan Farrel. Mereka beradu pandang, dan entah siapa yang memulainya duluan mereka kini saling mencecap indera perasa-nya, lembut bahkan begitu lembut.
Perlahan Farrel merengkuh tengkuk Metta semakin dalam, sensor alami dalam tubuhnya lah yang bekerja, tanpa memikirkan logika yang berpusat pada akal. Proses belajar tanpa materi, mengalir begitu saja mengalahkan seluruh tingkah bodohnya.
Semakin lama semakin dalam, saling bertukar saliva dan membelit dengan seluruh rasa, detak jantung kian bertalu seiring decakan yang menciptakan irama begitu indah. Bahkan ribuan malaikat mengucapkan selamat dan berdoa untuk mereka.
Farrel mengangkat tubuh Metta, membawanya ke kamar tanpa melepaskan tautannya, sementara Metta melingkarkan tangan pada lehernya.
Dia membaringkan Metta perlahan diatas ranjang, menyisir wajahnya menggunakan bibir dengan lembut, turun pada leher yang membuat Metta melenguh dan mere mas lembut rambutnya
Aaaaahhhkkk
Suara lenguhan indah lolos begitu saja, saat Farrel mulai menyisir lehernya dengan sedikit memberikan tanda kepemilikan. Yang membuat sesuatu dibawah sana semakin menggeliat dengan hebat.
Kini dia semakin turun, dengan bertumpu pada satu tangannya, Farrel membuka perlahan jubah baju tidur Metta, hingga dada putih mulus itu terbuka begitu saja, dengan ragu tangannya bergerak menyusuri, lalu menatap Metta seolah meminta ijin.
Metta mengangguk, hingga dia kembali beraksi, menyisir lekukan tubuh dengan ciuman yang lembut. Belum puas bermain di dua benda bulat miliknya, Farrel turun menyusuri perut rata miliknya, memberikan kecupan-kecupan yang membuat darahnya semakin mendidih.
Farrel terus memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang membuatnya melayang, mengombang-ambingnya di antara tingginya cakrawala, Farrel melepaskan bajunya dan melemparkannya begitu saja, hingga lekukan tubuh mulus itu terpangpang nyata, persis seperti mimpinya dulu.
Aaaaahhhkkk
Metta kembali melenguh, saat Farrel mencecap benda bulat miliknya, dan memilin ujung benda bulat disebelahnya. Mere masnya begitu lembut, hingga kembali melayang. Tangan Metta menyusuri punggung Farrel, mereka saling mendekap.
Farrel membuka pakaiannya dan melemparkannya juga, Metta tertawa kecil namun tak berlangsung lama, karena sesuatu yang keras menekan perutnya, membuatnya kaget namun penasaran ingin melihatnya, Farrel tersenyum simpul dan kembali melu mat bibirnya dengan lebih dalam, menekan tengkuknya hingga suara decakan dari kedua benda kenyal itu menggema diseluruh ruangan.
Metta mengerang, lalu saling beradu nafas yang mendera semakin hebat, perlahan namun pasti tangan Farrel semakin lihai bergerak kesana kemari, membuat tubuh Metta memanas, begitupun dengan tubuhnya, tangan itu turun kebawah, menyusuri gerbang mahkota dan mulai menyentuhnya dengan lembut.
Berkali-kali Metta mengerang, melenguh dengan tubuh yang menggelinjang, kedua manik hitam itu terus mengikuti pergerakan dari Farrel dengan remasan di rambutnya yang kian mengeras.
Hingga akhirnya Farrel mengarahkan benda keras miliknya ke tempat semestinya, perlahan namun pasti benda keras itu melesak masuk. Merobek lapisan tipis yang melindunginya, dan perlahan namun pasti juga mahkota itu menjadi miliknya.
Aaaaaahhhkkkk
Keduanya kini mengerang, mencecap berbagai rasa didalamnya, Metta meringis. Perlahan sudut matanya menitik.
"Apa ini sakit?" bisik Farrel dengan suara berat.
Metta mengangguk namun tersenyum, "Sedikit."
"Apa kita berhenti saja?" masih dengan mengerang dan bersuara serak.
Metta yang berada dibawah kungkungannya menggelengkan kepalanya, "Aaahkkkk ...mmmp."
"Apa kau yakin sayang? Aaaahhhhkkk...uuuhhhmmm." sedikit menggeram.
"Hmmm...aaahh."
__ADS_1
Farrel semakin bergerak, "Katakan jika sakit,"
Metta mengangguk, "Pe...pelan aaahh"