Berondong Manisku

Berondong Manisku
Tidak boleh dapet yang baik?


__ADS_3

Brian yang menjadi ketua panitia menatap jengah pada temannya, dia lantas menghubungi Doni, untuk menanyakan apa Farrel akan tetap menjadi donatur acara meraka.


'Kalian tenang saja, dia tidak akan berubah fikiran, kalau sudah mengatakan dia akan menjadi donatur, dia tidak akan ingkar.' ucap Doni saat Brian menanyakan hal itu.


Ponsel pun dia tutup, setelah itu mereka keluar dari sana.


3 hari kemudian


"Lho katanya kalian mau reuni?" tanya Metta pada saat masuk ke dalam ruangan.


"Males, aku gak ikut Sayang!"


"Kamu juga Don?"


Doni pun mengangguk, "Reuni itu ajang pamer, males, gak ada yang bisa aku pamerin!"


"Kalau ada berarti mau?"


"Bisa di fikir-fikir dulu lah!" kilahnya dengan terkekeh.


"Dia tidak pernah berubah, kemarin-kemarin galau, eh sekarang balik lagi jadi Doni si berengsekk."


"El ... ngomongnya ih!"


Farrel merengkuh pinggangnya, "Maaf Sayang, aku tidak bisa menahan diri jika sama dia!"


Doni hanya mendengus kasar.


"Hari ini kita kemana Don?"


"Memantau proyek, meeting bareng ...." Ada jeda disana, saat Doni memeriksa kembali agenda yang dia susun sendiri itu.


"Fara?" tebak Metta.


Doni mengangguk cepat, dia lantas menutup agendanya.


"Bisa?" tanya Farrel.


"Bisa."


"Yakin? Kali ini tanpa ada drama-drama yang akan mengacaukan, dan membuat Fara tidak nyaman lagi."


Doni mengangguk lagi, "Yakin ... kali ini aku tidak akan berbuat masalah."


"Sayang aku pergi dulu, inget jangan terlalu cape, tidak usah mengerjakan apa-apa, diem saja! Suruh orang untuk membantu."


"Iya ih. .. bawel banget, berangkat juga belum."tukas Metta.


Akhirnya mereka berdua keluar dari kantor, beberapa hari ini kantor terasa lebih sepi, karena untuk beberapa hari ini Alan mengirim ARR corps, dan Dinda sekretaris nya pun mengambil cuti kerja.


Beberapa orang karyawannya mengangguk saat berpapasan dengannya,


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat mereka melakukan meeting.


Fara dan Tia sudah berada di sana, menunggu mereka.


"Maaf kami terlambat," ujar Farrel.


"Tidak apa, kita juga baru saja sampai."


Tia menatap Doni yang hanya terdiam, bahkan dia lebih banyak menundukkan kepalanya.


Hingga meeting selesai pun Doni hanya terdiam.


"Baiklah, kami permisi dulu!" Ujar Fara disertai anggukan dari Tia.


Mereka lantas berlalu begitu saja meninggalkan ruangan, sementara Farrel dan Doni masih disana, "Tumben banget diam mulu!"


"Aku sudah di fase berdamai dengan masa lalu, jangan jadi kompor, bikin serba salah aja!" ungkap Doni.


Farrel menepuk bahu Doni dengan keras, dia lantas berdiri "Itu baru temenku, ayo Kita kembali!"


Dreet


Dreet


Doni merogoh ponsel di dalam celananya, dan melihat nama Brian yang muncul di layar ponselnya.

__ADS_1


'Halo Bri?'


'Lo gak kesini sih? buruan sini, ajak Farrel ke sini juga.'


'Duh Sorry, kita masih ada kerjaan, takutnya kita gak sempet datang, lanjut aja lanjut!'


'Pokoknya kita tungguin kalian datang, mau sampai jam berapa pun gue tunggu.'


Bip


Sambungan telepon terputus begitu saja, membuat Farrel mengernyit menatapnya, "Ada apa?"


"Mereka nungguin kita datang, lebih tepatnya nunggu kamu Rel."


"Malas ah, kamu saja yang kesana, aku mau pulang, nemenin istri saja dirumah."


"Ayolah, bentar doang! Masa donatur gak hadir, istrimu juga gak bakal apa-apa kok."


"Ayolah Rel! Bentar, daripada si Brian terus neror aku nih!"


Doni memperlihatkan ponselnya yang terus berdering.


"Oke, aku ijin dulu sama kakak, kalau boleh, Aku pergi, kalau enggak, kamu sendiri aja!"


Doni akhirnya mengangguk, berharap Metta memberikan ijin pada Farrel.


Eh...pake minta ijin segala,


Farrel menelepon Metta, terlihat mengatakan sesuatu lalu tak lama dia menutup ponselnya.


"Gimana? Di bolehin?"


Farrel mengangguk, "Baik banget kan istriku!"


Doni memutar bola matanya malas, "Iya ... iya terserah lah."


.


.


Beberapa dari mereka menghampiri dan menyalaminya, termasuk para wanita yang berdandan se-perpect mungkin dalam ajang pamer itu.


Semua mata tertuju pada Farrel saat Brian menyuruhnya untuk memberikan sepatah dua patah, membuatnya malas dan menyuruh Doni menjadi wakilnya.


Jujur saja, dia tidak terlalu suka jika namanya terlalu di elu-elu kan karena masalah seperti itu,


Hingga acara kembali berlanjut dengan penampilan memukau dari suara seorang wanita yang bernyanyi sambil bermain piano.


Farrel menyenggol lengan Doni, "Kayaknya kita kenal?"


"Tia ... memangnya kita satu sekolah dengannya?"


"Entahlah, aku lupa,"


Brian datang menghampiri Farrel, "Thanks ya Farrel, berkat lo acara ini sukses,"


"Lo ngundang quest star?" menunjuk ke panggung dengan dagunya.


"Tia maksud lo?"


"Huum..."


"Ya ampun, dia kan sekelas sama lo, sama Doni juga! Tapi jelas saja kalian tidak ingat, orang dia berubah banget!"


Farrel terperangah, begitupun dengan Doni, "Masa sih? Memangnya ada?"


"Tia ... Tia...!" gumam Doni mencoba mengingat.


"Ah, entahlah aku tidak bisa ingat!"


"Gadis berkaca mata, kutu buku, yang tidak pernah mau bicara sama siapa pun, yang duduk paling belakang, dan selalu membawa bekal makan siang, dan lo yang suka ngambilin bekalnya, sampai dia nangis!" ujar Tia dari belakang.


Membuat Doni dan Farrel menoleh dan menatap Tia dari atas sampai bawah.


"Gak mungkin banget! Lo jangan ngada-ngada!"


Tia mengeluarkan kaca mata tebalnya dari tas, lalu memakainya, kemudian mengunci rambutnya menjadi dua bagian.

__ADS_1


"See ... you remember me?"


Farrel terkikik menutup mulutnya, sementara Doni terhenyak, "Dia mau bales dendam kayaknya Don!"


"Kaget...?"


"Biasa saja!" Doni mengedikkan bahu.


"Lo fikir gue akan terpesona setelah melihat perubahan lo? Enggak sama sekali."


Doni beranjak meninggalkan meja mereka dan berjalan ke arah meja hidangan, sementara Tia menggelengkan kepalanya ambil membuka kembali kaca mata yang bertengker disangkal hidungnya, lalu membuka ikatan rambutnya.


"Sebenarnya ada masalah apa sih kalian? Sampai- sampai tiap bertemu ribut mulu," pungkas Farrel.


Brian menyenggol lengannya, "Definisi jodoh, berawal dari benci lama-lama jadi cinta, ya gak bro?"


Mereka berdua tergelak.


Tak lama kemudian Farrel memilih untuk pulang duluan, dia tidak tega meninggalkan Metta yang sudah sampai ke rumah terlebih dahulu. Sementara Doni masih berada di sana.


"Jadi benaran Farrel itu sudah nikah?" tanya wanita berambut coklat itu pada Tia.


"Tanyain saja pada Doni, dia kan asistennya di kantor."


"Kenapa juga Farrel mencari asisten laki-laki, gue juga mau deh kalau jadi asistennya dia."


"Ngarep lo!" ujar temannya yang memakai kerudung.


"Ti... tanyain lah, lo kan kenal mereka dibanding gue! Ya ... ya... please."


"Apaan sih, gak penting banget!"


"Please lah Ti, tolongin gue!"


Tia menghembuskan nafas, lalu mengangguk dengan berat, "Gue gak janji yaa, gue takut mereka marah."


"Pokoknya lo harus berusaha,"


.


.


"Ekhem...." Tia berdehem.


"Ngapain sih!"


"Aku mau minta maaf, perkataanku tempo hari membuatmu tidak nyaman. Maaf yaa!"


"Udah gak penting buat gue!" jawabnya datar.


"Udah sana ganggu gue aja,"


"Gue cuma mau nanya, apa benar Farrel sudsh menikah?"


Doni mengedarkan pandangannya dan berhenti di dua gadis yang tengah melihat mereka, "Lo disuruh mereka?"


"Lo tinggal jawab saja,"


"Lo mau-mau nya disuruh-suruh!"


"Ayolah, apa susahnya tinggal jawab saja!"


Doni mendengus, " Iya ... sudah menikah, dan katakan juga pada mereka, tidak usah berharap apa-apa pada Farrel. Atau mereka akan kecewa."


Tia mengangguk, "Beruntung banget jadi istrinya Farrel,"


"Kenapa lo juga suka sama dia?"


Tia mengibaskan tangannya di depan dada, "Tidak... tidak, aku tidak menyukainya, mana mungkin lah, Aku tahu diri."


"Metta, lo tahu dia kan, dia istrinya!"


Tia terperangah, "Benarkah? wah tidak heran sih, dia baik, cantik pula. Emangnya kalau orang baik dapetin jodoh yang baik pula,"


Doni kembali mendengus,


"Memangnya orang yang buruk, tidak boleh dapet yang baik?"

__ADS_1


__ADS_2