
Sementara Farrel murka pada teman nya itu, dia menendangnya hingga pria yang kembali meracau itu terjerembab ke lantai.
"Sayang, lihat lah dia hanya temanku yang sedang mabuk, yang memelukku tiba-tiba dari belakang. Menjijikan!" Farrel menggidikkan bahunya.
Metta hanya diam, dia hanya menatap Farrel yang tengah berbicara dan sesekali mengumpat pada temannya yang masih saja meracau tidak jelas.
"Sialan, kau fikir aku pria macam apa? sudah sana kembali ke asrama." ujarnya dengan melemparkan bantal.
"Hey, tadi sedang berada di Surga, kenapa sekarang seperti dineraka, kenapa kau marah-marah!" ucapnya dengan kaca mata yang hampir lepas.
Farrel mengambil ponsel dan keluar dari kamar, "Kenapa kakak hanya diam saja? Kakak marah, sungguh dia temanku yang gak jelas."
Farrel terus mengoceh, tentang temannya yang kini berada di kamarnya, namun Metta hanya diam.
"Percaya padaku kak, dia sedang mabuk! makanya seperti itu."
Metta menggelengkan kepalanya, "Memang aku marah? enggak, kamu kenapa?"
Farrel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kakak hanya diam saja, jadi aku fikir kakak marah."
"Enggak, El aku gak marah!" ucap nya dengan mengukir senyum.
Aku hanya merindukanmu... bahkan sangat merindukanmu, 2 bulan berasa lama sekali. batin Metta.
------------
.
.
Hari terus berjalan, minggu telah berganti. Farrel telah berhasil menyelesaikan tugasnya lebih awal, dia berhasil membuat para juri terpukau dengan karyanya, hingga rancangan nya ditaksir dengan sangat harga yang sangat Fantastis oleh orang terkaya di negara itu.
Namun Farrel enggan melepaskannya, seberapa tinggi pun orang yang mengajukan penawaran. Bagaimanapun juga dia akan membawa pulang sendiri rancangan nya.
Semua perwakilan mahasiswa berkumpul untuk penutupan, namun Farrel tidak terlihat ada disana.
Dia memilih untuk pulang terlebih dahulu. Hingga ponselnya harus berdering berkali-kali, teman-teman serta dosen pembimbingnya mencoba menghubunginya namun nihil. Farrel sama sekali tidak menghiraukannya.
Farrel berdiri disebuah pembangunan gedung, sejak mendarat dari pesawat 1 jam lalu dia segera meninjau lokasi pembangunan yang hampir 70 %.
"Lambat sekali mereka bekerja? Waktu yang kuberikan padahal sangat lama." gumamnya.
"Lama apanya kau memberi mereka waktu 3 bulan, itu sangat mustahil. Kau kira mereka robot. Berpikirlah pakai logika, dasar bodoh," umpat Alan yang berdiri disampingnya.
"Kau sama lambatnya!" ketus Farrel kemudian berbalik kembali kedalam mobil.
Alan menyusulnya masuk, "Gila aja, pekerjaan semakin banyak, sementara kau hanya sibuk pacaran!"
Farrel terkekeh, "Aku tidak sabar memberinya kejutan, kakak tidak tahu aku pulang hari ini?"
"Terserah, Aku tidak peduli!"
"Siapa juga yang memintamu pendapatmu," Farrel mengerdikkan bahunya.
Sementara Alan kembali melajukan mobilnya, menyusuri jalan.
"Kau akan ke kantor?"
"Aku mau ke Apartement saja, lagipula ayah dan bunda juga tidak ada dirumah."
__ADS_1
Alan berdecak, "Hmm, mereka pergi berbulan madu entah keberapa kalinya."
"Menyalahkanmu yang tidak pernah sama sekali bukan?" Farrel terkekeh.
"Sialan...."
Tak lama mereka sampai di apartemen milik Farrel, Mereka masuk kedalam gedung Apartement itu, Farrel menekan pasword pintunya. Alan mengernyit,
Mereka kemudian masuk, "Apartemenmu bagus juga, kau mempunyai selera yang bagus!"
"Aku sudah tahu, kau tidak usah mengatakannya pun!"
"Cih aku menyesal mengatakannya tadi." Farrel terkekeh.
"Kalau begitu aku akan langsung pulang, kau istirahatlah!" ucap Alan yang langsung keluar dari Apartement milik Farrel.
Farrel merebahkan dirinya di ranjang, sesaat kemudian dia masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan ritual bersih-bersihnya.
Sementara itu Metta yang tengah berada disebuah cafe, dirinya baru saja selesai mengadakan meeting lanjutan bersama klien.
"Don, aku harus kembali ke kantor." ucap Metta dengan membereskan berkasnya.
"Sebentar lagi saja kak, ada yang ingin aku diskusikan dengan mu!"
Metta mengernyit, "Tentang apa? pekerjaan...."
"Bu-bukan, sesuatu yang lain!"
"Tentang apa? Tunggu sebentar aku ke toilet dulu."
Doni mengangguk.
Metta kembali memasuki toilet, sementara Doni masih menunggu dimeja dengan mengutak ngatik ponselnya.
Sesaat Metta kembali dari toilet, dia kembali duduk bersama Doni, "Gimana... sudah ke toiletnya?" Metta mengangguk.
"Kamu tadi mau bicara apa Don?"
"Enggak jadi, sepertinya aku harus pergi sekarang juga!" Doni pun membereskan berkas nya.
Metta berdecak, "Aneh banget sih! Dasar bocah...."
Doni terkekeh, "Apa bedanya aku dengan tunanganmu, kami sama- sama bocah!"
"Jelas beda, kau sama sekali tidak sama dengannya," pungkas Metta.
Doni terkekeh, " Dia itu hanya bayi, pekerjaan nya hanya merepotkan saja!"
"Hei, kenapa kau membicarakan hal jelek tentangnya!"
"Begitulah kenyataannya. Dia itu tidak ada apa-apanya!"
Metta menggebrak meja, "Jangan sekali-sekali kau mengatakan hal yang jelek tentang tunanganku," tunjuknya pada Doni.
Doni hanya terkekeh, "Begitu yah...memang Kau mau apa jika aku menjelek-jelekkan nya?"
Bugh
Metta menonjok hidung Doni hingga Doni meringis, "Ah... sakit sekali!"
__ADS_1
"Rasakan!" ucap Metta beranjak.
Grep
Seketika seseorang memeluknya dari belakang, Metta tersentak hingga dia menyikut dadanya hingga orang itu meringis. "Sayang ini aku...."
Metta menoleh seketika, dia benar-benar melihat Farrel berada dihadapannya. Kedua manik hitamnya melebar tak percaya,
"El... kau ada disini?"
"Tentu saja... aku sudah pulang!"
Farrel menarik tubuh Metta ke dalam pelukannya."Aku sangat merindukan mu."
Namun Metta mendorong dadanya, "Kau ada disini?benar-benar ada disini?" ulangnya masih tidak percaya.
"Hei, kalian jangan lupa, aku masih ada disini melihat kalian," sela Doni.
"Thanks Don...." Ucap Farrel padanya.
"Kau harus membayar biaya perawatan hidungku ini, tunangan anda benar- benar membuat tulang hidung ku patah." Ucap Doni kesal.
"Kau tahu dia ada disini?"
"Bahkan dia yang menyuruhku mengulur waktu, dasar sialan,"
Farrel terkekeh, lalu menatap Metta dengan binar.
"Ini aku kak, kemarilah aku benar-benar pulang!"
Farrel kembali menarik tubuh Metta yang masih terpaku ditempatnya. "Aku merindukanmu!" ucapnya lirih.
"Aku tahu...."
"Terima kasih, kalian sudah bertemu kan? Kalau begitu aku pergi dulu!" ucap Doni.
"Pergilah, kau hanya akan menganggu saja jika ada disini!" Farrel terkekeh.
" Cih, awas saja kalau kau meminta bantuanku lagi! ancam Doni dengan mendelik.
Ruangan Vip itu memudahkan Farrel kembali leluasa memeluk Metta, "Aku sangat, sangat merindukan kakak,"
"Benarkah? bukankah kau selalu berdua dengan pasanganmu itu," cibir Metta terkikik mengingat kejadian terakhir.
"Sa-yang, kenapa masih inget terus. Aku selalu muak dengan temanku itu! Dia sangat payah... gak kenapa malah membahasnya," sementara Metta semakin tergelak.
"Aku merindukanmu El, sangat." Farrel menarik bibirnya keatas.
"Aku tahu...."
.
.
Maaf author hari ini agak ngalor ngidul gak jelas.
Efek kehujanan terus, maaf ya.
❤❤
__ADS_1