Berondong Manisku

Berondong Manisku
Kepala Divisi baru 2( Hampir meledak)


__ADS_3

"Aaahkk"


Leguhan itu keluar begitu saja dari bibir tipisnya, dengan berseringai Farrel mengangkat tubuh kecil Metta dan membawanya keatas meja.


Farrel mencondongkan tubuhnya hingga menindih dengan kedua tangan yang saling bertautan. Aroma Vanila yang menyeruak dari tubuh Metta membuat Farrel semakin tak terkendali. Tangannya mulai bergerilya ke berbagai arah.


Tiba-tiba bayangan Ayu yang tengah mencaci berkelebatan di kepala Metta. Seketika Metta melepaskan pagutannya, menahan dada Farrel, dengan mata menyalang, "Ini kantor."


Farrel meraup wajah Metta dengan kedua tangannya, "Aah, hampir saja, terima kasih, kakak selalu mengingatkan aku." mengecup kilat keningnya.


Farrel mengambil botol air mineral dari atas meja, lalu menyerahkannya pada Metta. Sedangkan dia sendiri berbalik menuju kamar mandi yang berada di ruangannya.


"Kau tidak apa-apa?"


"Ya aku tidak apa-apa, aku hanya harus menjinakkan bom yang hampir meledak,"


"Kakak duduklah dulu."


Jawaban Farrel membuat wajah Metta semakin merona bak tomat segar. Dia cukup dewasa untuk mengetahui apa maksud dari ucapan kekasih kecilnya itu.


"Aku harus segera kembali bekerja, El."


Baru melangkah beberapa langkah, pintu kamar mandi terbuka." Kakak membuatku lupa tentang laporan yang aku butuhkan!"


"Kenapa kau menyalahkanku?" Metta berkacak pinggang.


Farrel terkekeh, "Duduklah, tidak baik memarahi manager yang baru sehari bekerja ini,"


Farrel kemudian mengambil laporan yang diberikan Metta 35 menit yang lalu. Membukanya lalu meneliti dengan seksama, sementara Metta menelisik setiap sudut wajah kekasihnya yang tengah serius.


"Aku sudah melihat laporannya, menurutku ini sudah sesuai, kita tinggal memeriksa pengadaan barangnya saja."


Metta terkesima, tidak pernah menyangka kekasih yang berbalut jas kenamaan itu berubah begitu serius dan dewasa.


"Kenapa?" ucap Farrel saat melihat Metta tengah menelisiknya. "Tampan ya..." mengerdipkan mata coklatnya.


"Ga- ga- apa apa," ucap nya menahan malu.


"Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan."


"Mau tanya apa hem?"


Metta berjalan beberapa langkah, dia merapihkan kerah bajunya, "Kenapa tiba-tiba ada disini? bukankah kamu harusnya ada di gedung utama.?"


"Ah itu," Farrel menggaruk tengkuknya.


"Itu semua karena dewan direksi dan para pemegang saham meragukan kinerjaku,"


"Mereka tidak percaya kemampuanku hanya karena aku masih muda dan tampan." Menaik turunkan alis tebalnya.


"Cuma gara-gara itu.?" Farrel mengangguk.


"Mereka memberiku waktu 3 bulan untuk membuktikan kemampuanku."


"Kalau kamu berhasil?"


"Ya, itu artinya aku menang."


Metta mendecak, "Kau ini,"

__ADS_1


"Lalu, kenapa kamu bersikap seolah tidak mengenaliku tadi?"


Farrel memeluk Metta dari belakang, "Bukankah, ini keinginan kakak?"


"Benarkah,? aku bahkan tidak mengingatnya lagi"


Farrel mencubit pelan pipi Kekasihnya, "Kakak, semakin menggemaskan,"


"Bagaimana kalau kita menikah saja?"


Metta membulatkan kedua manik hitamnya, "Kau ini," memukul lengan Farrel.


Farrel terkekeh, "Kata orang menikah itu enak,"


Manik hitam Metta semakin berkedip, "Apa yang kau pikirkan hah! dasar mesum." Farrel tertawa.


Metta berbalik kemudian menghilang dibalik pintu. Sementara Farrel masih setia dengan tawanya.


.


.


"Heh, lo ngapain aja didalam," bisik Dinda saat Metta melewati meja kerjanya.


"Laporan pekerjaan selama pak Bastian yang tiba tiba berhenti."


Dinda mengernyit tak percaya, "Masa sih, kok bisa selama itu? Lo gak berbuat sesuatu yang aneh-aneh kan didalam."


"Apa sih aneh apa, emang gue ngapain." seloroh Metta seraya duduk dimejanya.


Pandangan curiga tak lepas begitu saja di mata Dinda, bak detektif yang tengah mencari pelaku kriminal kelas kakap.


Metta menghela nafas, dia melemparkan senyum pada monitor yang menyala di depannya. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu di kantor, tepatnya bersama atasannya, "Makin gila hidup gue!."


"Apa?"


"Semua orang bakal curiga, lo bahkan menghabiskan waktu hampir 1jam di dalam ruangan dengannya."


"Astaga, lo masih dibahas aja!" Metta terkikik lalu meninggalkan sahabatnya yang masih mematung.


.


.


Sementara Faiz tengah di periksa oleh penyidik, berada diruangan penyidik hampir 8 jam membuat dirinya semakin lelah, dia hanya diam saat penyidik bertanya padanya, tatapan nya kosong dan hanya melihat langit-langit ruangan.


"Faiz, Kau dengar saya,?" Faiz hanya berseringai.


"Kau bisa menjawab pertanyaan saya.?"


"Katakan dengan sejujur-jujurnya, agar hukumanmu dapat diperingan."


Faiz tetap tidak menjawab, membuat penyidik itu bergeleng kepala.


hingga penyidik itu keluar dan berdiskusi dengan para penyidik dan juga Dokter kepolisian,


"Apa tidak ada pilihan lain,?"


"Untuk sementara kita harus mengirimnya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut lagi." Ucap pria yang disinyalir sebagai Dokter kepolisian.

__ADS_1


"Penyidikan ini akan berjalan alot jika dia begitu terus"


"Ya sudah kita bergerak sekarang,"


Faiz pun akhirnya di bawa menuju rumah sakit, beberapa polisi mengawal mobil yang mengangkutnya, ditemani oleh Dokter yang terus saja mengajaknya bicara, meskipun Faiz tidak mengeluarkan satu katapun.


Setelah menjalani pemeriksaan yang mendalam, fisiknya sehat dan kuat, namun hasil pemeriksaan mental kejiwaan yang hasilnya Faiz mengalami depresi, akibat rasa kecewa dan tekanan yang bertimbun sejak lama.


Polisi menghubungi Alan sebagai orang yang melaporkan, namun Alan yang sedang berada diluar kota tentu tidak bisa segera datang melihatnya, hingga Alan menghubungi Farrel.


"El, tidak ada perkembangan dari Faiz, dia sekarang tengah dirawat, dan dokter menyarankan kamu kesana, ajak pacarmu juga."


"Oke, aku kesana. Kapan kamu akan kembali?"


"Mungkin dalam beberapa hari ini, jangan bilang kau merindukanku?" Alan terkekeh.


"Sialan, mana mungkin. Gue normal, gue juga baru saja..." Menghentikan ucapannya, menarik sudut bibirnya keatas mengingat pergulatan yang hampir saja terjadi.


"Baru a- pa...?"


"Ah, tidak, bukan apa apa, ya sudah aku harus pergi."


Farrel keluar dari ruangan, dia menyapu ruangan dengan ujung matanya mencari Metta.


"Cari siapa Pak?"


"Ka- Kak, em maksud saya Mettasha"


Wanita itu beroh ria, dia langsung mengarah pada meja kerja Metta, "Sha lo dicari mermud tuh."


Metta mengernyit, "Mermud?"


"Manager muda," ucapnya dengan terkikik.


"Astaga,"


"Ikut saya sekarang juga." ucap Farrel yang tengah berdiri dibelakang wanita berkaca mata itu, lalu berlalu meninggalkan Metta yang tengah menyambar tas miliknya.


"Menyebalkan, aku tidak bisa bersikap begini padanya." gumam Farrel.


.


.


Tak lama kemudian mereka sampai dirumah sakit, Farrel yang biasa menyebalkan, sekarang terlihat serius. Dengan menggenggam tangan Metta mereka masuk kedalam kamar pasien yang telah diberitahu Alan tadi.


Ranjang kecil yang memuat tubuh tegap dengan wajah yang berantakan, bulu bulu halus yang tumbuh pada dagu dan juga diatas bibirnya, rambut yang dulu selalu rapi kini telah acak-acakan.


Metta mematung melihatnya, dia tak menyangka keadaan mantan calon suami yang meninggalkannya berubah menjadi seperti ini.


Faiz menoleh kan kepalanya kearah pintu,


"Sha..." lirihnya.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa..😉

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya pada karya receh author remahan ini. Dukungan banyak dari kalian membuat aku benar- benar terharu.


lope lope untuk kalian ❤


__ADS_2