Berondong Manisku

Berondong Manisku
Mimisan


__ADS_3

Farrel mengusap bahu Metta, "Sayang, jangan marah! Nanti anak kita kebangun."


Metta terbelalak kearahnya, Farrel tergelak, berlari menghampiri Sri yang tengah duduk dimeja makan.


Sri ikut terbelalak dengan penuturan Farrel, "Nak El, Sha?"


"Uhuk...."


Nissa tersedak, "Kakak hamil!?"


Pandangan Nissa beralih pada ibunya, begitupun sebaliknya. Mereka bingung dan juga penasaran.


"Enggak bu... ih tuh anak nyebelin!" Metta berlari mengejar Farrel yang sudah melarikan diri ke dapur.


"Awas yah..., ih nyebelin banget sih!" Metta memukul-mukul Farrel dengan membabi buta, namun sosok yang dipukul semakin terbahak.


"Aku hanya bercanda sayang, habisnya lihat wajah kakak yang merengut begitu dari tadi kenapa hem?" Farrel merangkul bahu Metta.


"Tahu, kamu nyebelin banget si. Bagaimana bisa hal seperti itu dijadikan candaan, ih ... nyebelin ... nyebelin."


Metta terus menyerang Farrel dengan pukulan bertubi-tubi, cubitan dia arahkan kesemua sisi tubuh Farrel dengan kesal.


"Aku menjaga imageku sedemikian rupa diluar sana, tapi tetep kalah sama kakak!? Awwss... udah kak sakit sekali ini!" ringis Farrel melipat tangannya yang mulai perih.


"Kalian ini, kenapa malah main-main, ini bagaimana!" Sri tampak kebingungan dengan makanan yang sebegitu banyaknya.


Nissa kembali fokus, dia hanyut dalam kubangan makanan diatas piringnya. Andra yang baru keluar dari kamar menoyor kepala adiknya.


"Kira-kira aja, kayak gak pernah dikasih makan!"


"Abang...!?" teriaknya.


"Bu, mereka kenapa?" Tanya Andra menunjuk Metta dan Farrel dengan dagunya.


"Kakak hamil bang!?" ucap Nissa dengan mulut penuh makanan.


Andra terbelalak, "What?"


Dengan kesal Andra mendorong kursi yang dia duduki dengan kakinya, lantas menghampiri Metta dan juga Farrel yang tengah ribut di dapur.


Bugh


"Dasar biadab, kau apakan kakakku hah!" Andra yang kesal menarik kerah kemeja Farrel dan mendaratkan pukulan pada wajahnya.


Farrel meringis, pukulan tiba-tiba dari Andra membuat Mac berhambur lalu menarik Andra dan mendorongnya hingga tersungkur.


"Mac, hentikan!" seru Farrel.


"Andra ..." pekik Metta lalu menghampiri adik laki-lakinya.


"Kamu gak apa-apa?"


Sri dan Nissa ikut berhambur kearah suara benturan yang lumayan keras. " Ada apa ribut-ri--."


Namun Andra menepis tangan kakaknya, "Kau sama saja, kenapa tidak bisa menjaga diri dengan baik!" Andra bangkit lalu pergi begitu saja menuju kamarnya, dan menutup pintu dengan keras.


Mereka kini saling berpandangan, terlebih Metta menyorot pada Farrel, "Biar aku yang bicara!" ucap nya.


Namun tangan Farrel dicekal oleh Metta, "Lebih baik aku saja yang bicara!"


Metta berlalu meninggalkan Farrel yang berdiri ditempatnya.

__ADS_1


"Sialan kenapa jadi begini!"


.


.


Tok


Tok


Metta mengetuk pintu kamar Andra, namun Andra tidak berniat menyahutinya, dia terlihat duduk ditepi ranjang, dengan menatap kearah jendela dengan kesal.


"Ndra, kakak boleh masuk?" Metta sudah berada ambang pintu.


Sementara Andra mendengus kasar, "Tadinya aku bangga padanya, aku ingin seperti dia, namun aku ternyata salah, bajingan!"


"Ndra..., dengarkan dulu penjelasan kakak,"


Metta ikut terduduk disampingnya, namun Andra beringsut menjauhinya.


"Sudahlah kak, tidak usah membelanya! Untuk apa, dia bahkan tidak bisa menghormati kakak, cih ... berlagak sok, nyatanya apa ....!"


Metta menghela nafas, "Bukan seperti ii--tu Ndra!"


"Sudahlah kak, lebih baik kakak keluar sekarang, aku ingin sendiri! dan aku akan membatalkan pelatihanku ke negara M atau apapun bantuan dari dia," lagi-lagi Andra mendengus kasar.


Metta kehilangan kesabaran, dia mendongkakkan tubuhnya, menoyor kepala Andra,


"Heh bego, dengerin dulu! Siapa yang hamil, siapa yang tidak bisa menjaga diri? Siapa yang bajingan?"


Lalu Metta bangkit dan berkacak pinggang, "Kamu sudah salah sangka, dia itu hanya menggodaku, hanya bercanda!" nafasnya terengah-engah.


Andra ikut bangkit, "Jadi kakak tidak hamil?" Metta menggeleng,


"Memangnya kau mau aku hamil?" Andra pun menggeleng dan menghambur memeluk kakak perempuannya.


"Aku sudah takut kak, aku tidak bisa menjaga kakak, seperti amanat Ayah," Manik Andra menganak.


"Jangan nangis, udah gede! Kakak udah gak bisa gendong kamu sekarang kalau kamu nangis!" kedua bola matanya pun ikut perih.


Andra menahan, satu kali kedipan lagi mungkin air yang menganak itu akan jatuh, "Jangan kelewatan becanda, bagaimana kalau beneran kejadian!"


"Berarti kamu jadi Om Andra!" Metta terkekeh.


Andra mengurai pelukannya, "Lama-lama kakak jadi seperti bang Farrel!" Metta merengut.


Metta menarik tangan Andra, "Udah yuk keluar dan minta maaf, kamu sudah memukul hidungnya sampai berdarah."


Andra mengangguk, lalu mereka keluar dari kamar Andra.


Farrel tengah duduk bersandar disofa, dengan kepala mengenadah keatas mencoba menghentikan darah yang keluar dari hidungnya, Mac mencoba membantunya dengan memasangkan es batu, namun tetap darah menetes.


"Bang, aku minta maaf! aku kira kakak benaran hamil!"


"Aku bisa membuatnya hamil jika aku mau!" ucap Farrel masih dengan posisinya.


Metta menendang mata kakinya, membuat Farrel meringis, dan Mac maju untuk mencegah.


"Jangan terus bercanda, perkataanmu membuat orang salah faham!"


"Mba, tahan emosi, Mas Farrel sedang kesakitan,"

__ADS_1


"Dia pasti berpura-pura kesakitan!" Metta mencebikkan bibirnya.


"Gak apa-apa Mac!" sergah Farrel.


Farrel mendongkakkan kepalanya, "Aku sudah memaafkanmu Ndra, maafkan ku juga!"


"Astaga, itu darahmu semakin banyak! kau ini kenapa...."


"Aku tak apa-apa nanti juga sembuh! pukulan Andra sangat kuat bagi hidungku yang mancung ini,"


"Ibu sudah menyiapkan obat alami untuk dia meminumnya, suruh dia istirahat dikamar Sha!" ucap Sri lalu kembali ke dapur.


"Mas, saya hubungi Alan!"


"Tidak usah, hal kecil beginipun kau tidak harus melaporkan padanya!" Farrel kembali mencondongkan kepalanya.


"Sudah ayo istirahat!" Metta memapah Farrel,


"Tapi ingat kau disini tidak bisa manja seperti di rumahmu!"


Farrel mengangguk, kepalanya tiba-tiba pusing. Metta membawa Farrel ke kamarnya, Dia berbaring di ranjang milik Metta.


"Istirahatlah," ucap Metta.


"Kak...." Farrel menarik tangannya hingga dia ikut tersungkur kedalam ranjang.


Brug


"Iih, kau ini!" Metta memukul dada Farrel.


"Sakit kak!"


"Ini hanya akal-akalan kamu saja kan?"


Farrel menggeleng, "Hidungku sensitif, sedikit saja terluka pasti akan mimisan seperti ini!"


"Penyakit orang kaya memang aneh!" gumam Metta


Farrel menarik sudut bibirnya sebelah, "Memangnya ada perbedaan penyakit orang kaya dan bukan orang kaya."


Metta menarik tubuhnya, "Sudahlah istirhatlah... Jangan sampai aku disalahkan karena tidak bisa menjagamu!"


Farrel ikut bangkit, "Sayang, seharusnya aku yang bilang begitu!" menyelipkan rambut Metta dibelakang telinganya.


Kini jantung Metta yang tiba-tiba berdebar dengan kencang, Mereka beradu pandang. Farrel menarik dagu Metta, dengan perlahan dia menariknya hingga semakin mendekat dengan tak melepaskan tatapannya, lalu menempelkan bibir yang manis merona itu dengan lembut.


Desiran hebat kini terasa dikeduanya, gelanyar aneh itu melesat dengan cepat, secepat deru nafas keduanya, saling menghembus dengan hangat, sentuhan lembut itu kini berubah jadi lu'matan, saling membelit dengan irama decakan, Farrel menarik tubuh Metta hingga lebih mendekat, mencumbu ceruk putih hingga Metta melenguh menelan saliva.


Dengan menyelipkan tangannya diceruk belakang, membuat bulu halus di tubuh Metta meremang. Farrel menyentuh cupingnya membuat Metta semakin menggelinjang, hembusan nafas Farrel di telinganya membuat Metta semakin melandai, terbaring dengan Farrel berada diatasnya. bertumpu pada satu tangan.


Bibirnya terus menyusuri leher Metta, hingga sesekali menggigit gemas, tangannya ikut bergerak sesuai naluri, bergerak dari pinggang hingga keatas, menyentuh gumpalan kenyal dengan ragu. Dada Metta semakin naik turun, ada sesuatu yang menagih didalam sana.


Tiba-tiba tangan Farrel berhenti bergerak, dia menatap kekasihnya itu dengan lekat, hembusan nafasnya pun semakin berat, Farrel tersenyum.


"Kita teruskan nanti ..."


.


.


Jangan lupa like dan komen yaa

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2