
"Papa tampan,"
Farrel terkekeh dengan penuh curiga, pasalnya sang istri tidak akan begitu mudahnya mengatakan hal seperti itu apalagi saat di hadapan orang, kecuali.
"Kakak tenang saja, hidupku sudah lengkap karena kakak, dan calon anak kita! Tidak usah khawatirkan soal gangguan-gangguan murahan seperti tadi, tidak akan mempan!" menohok Metta.
Farrel sangat mengenal istrinya, dia bahkan bisa tahu apa tengah dipikirkan nya, sementara Metta masih selalu bersikap seolah tidak peduli pada Farrel, namun akan memperlihatkan tanduknya jika ada yang berani mendekati suaminya.
Semburat kemerahan kini terlihat di pipi merona miliknya,
Jaka dan Irfan yang melihat mereka dari kejauhan pun saling memandang, "Udah tajir melintir, mentereng, masih muda, cinta banget sama istri, lah kita?"
"Huum ... kita seperti debu di bandingkan dia!"
Jaka menoyor sahabatnya itu, "Lu aja, gue sih gak ngerasa debu ya sorry. Lagian tuh perempuan gatel gak ada kerjaan, di pikir lagi main opera? Mana jago banget lagi aktingnya!"
Irfan mengangguk, "Layak dspat penghargaan Dr**ama queen in the year. Pas banget ssma kelulusan kita, iya gak?" menyenggol lengannya.
Ke empat gadis itu lewat didepan mereka, setelah aksi pura-pura pingsan nya itu, kini mereka harus menanggung malu.
Andra menggelengkan kepalanya, "Untung gue gak kenal mereka,"
"Eh Dra, gue jadi ikut balik ke rumah mu yaa, tapi abis nganterin baba gue ke rumah."
"Huum...." sela Irfan.
Andra merekatkan jarinya, "Oke, langsung saja kerumah!"
"Oke deh!!"
Mereka akhirnya berpisah, Andra menghampiri keluarganya,
"Kak kalau normal nih, harusnya kakak baru menikah besok!"
Farrel sontak menoleh ke arah Andra, dia menajamkan iris mata coklatnya itu. Sementara Metta yang belum paham menatap Andra lalu kembali melihat Farrel.
"Maksudnya?"
"Kalau turnamen itu tidak dipercepat...." ujar Farrel dengan mata membola.
Andra yang keceplosan bicara itu menjentikkan jarinya. "Itu maksudku...."
Andra yang melihat gelagat Farrel mulai tidak bersahabat itu segera menghampiri sang ibu, lalu duduk disampingnya, "Pulang yuk bu, katanya mau masak enak hari ini,"
"Yeeee...." Nissa bersorak.
"Makanan terus yang di otakmu itu Dek!"
Nissa hanya menjulurkan lidah pada kakak laki-lakinya.
Metta yang masih mencoba mencerna apa yang dikatakan Andra, terus menatap suaminya.
"Apa ...?"
"Apa yang kamu sembunyikan?"
"Sayang, udah ah ayo pulang, aku ingin makan masakan ibu." ucapnya dengan mengelus perutnya.
.
.
__ADS_1
Sri, Nissa, dan Andra masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Mac, tentu saja atas perintah Farrel.
Sementara Metta dan juga Farrel baru saja masuk kedalam mobilnya, kendaraan mereka beriringn menuju rumah kediaman Ibu Sri, mereka mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk merayakan kelulusan Andra.
Dreet
Dreet
Ponsel Farrel berbunyi, Metta yang melihat sekilas dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya. Dengan cepat Farrel mengambil ponsel yang diletakkan di atas dashboard itu.
Membuat Metta menatap curiga.
'Hm....'
'Aku sudah sampai sesuai alamst yang diberikan.'
'Oke, sebentar lagi aku juga sampai.'
Ponsel pun terputus, Farrel menarik bibirnya melengkung.
"Ada apa?"
"Tidak ada! Memangnya kenapa?"
"Lantas kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Terus yang nelepon barusan siapa?"
"Oh, dia hanya...."
Belum selesai bicara mereka sudah sampai di rumah. "Kita sampai, ayo turun sayang, nanti kamu tahu sendiri."
Metta pun membuka seat beltnya lalu keluar dari mobil, Farrel yang keluar dan menghampirinya terkekeh melihat wajah Metta yang terperangah.
"El ini apa?"
Dia terperangah menatap mobil sport berwarna biru dengan tife BMW Z4 keluaran terbaru, dengan harga fantastis.
"El ... ini berlebihan sekali! Apa kamu tidak melihat nominal angka saat membelinya?"
Farrel terkikik, "Tidak, aku beli online,"
"Astaga!" pekik Sri yang baru saja turun dari mobil, Nissa sendiri ikut terpana sedangkan Andra hampir tidak percaya saat melihat mobil impiannya yang berada disana.
"Bang...?"
Farrel mengangguk, "Hadiah untuk kelulusan sekolahmu dari kami berdua,"
Metta yang juga baru tahu malah gelagapan, dia tidak bisa menjawab saat Farrel mengatakan hadial itu dari mereka berdua.
Bagaimana dia mengatakan hal ini dari kita berdua, aku saja tidak tahu apa-apa, dasar ... selalu saja konyol.
Andra kemudian berhambur memeluknya tiba-tiba, "Terima kasih kak Sha,"
Wajahnya memerah, dan kedua matanya sudsh menganak. Andra hampir menangis dengan surprise yang diberikan oleh kedua kakaknya.
Metta menepuk punggung Andra, padahal dia sendiri sama kaget dengannya.
"Terima kasih Nak El." ucap Sri mengusap bahu Farrel.
Tidak henti-hentinya Sri bersyukur mempunya menantu seperti Farrel, tidak hanya mencintai anaknya, namun dia juga menyayangi kedua adiknya dengan tulus,
"Huaaaa....bang Andra mobilnya keren!" teriak Nissa yang sedari tadi sudah hebih sendiri melihat mobil yang diberikan Farrel untuk kakaknya.
__ADS_1
"Bang, terima kasih!"
Andra memeluk Farrel, tubuh mereka yang tidak jauh berbeda, hanya saja Farrel lebih tinggi dan juga tegap.
"Sama-sama, sudah sana test drive." tukasnya tanpa basa-basi.
Andra pun mengangguk, dia lantas menarik lengan sang ibu untuk mendekat, dan masuk kedalam mobil untuk melihat-lihat bagian dalamnya. Dengan terpancar wajah kebahagian dari mereka bertiga, Farrel ikut tersenyum.
Metta terperangah saat melihat ponselnya, dengan sengaja, dia mencari harga mobil tersebut di mesin mencarian.
"El... astaga! Kamu membelinya dengan harga hampir dua M. Kau benar-benar konyol!"
Farrel merengkuh pinggangnya, "Tenang saja, kakak akan mencicilnya padaku!" ujarnya kemudian menandatangani dokumen dari orang yang dari tadi hanya berdiam diri.
"Maaf, kami lupa! Saking senangnya."
"Tidak apa, kami setia menanti. Dan ikut berbahagia." ujar pegawai dari dealer resmi itu.
Tak lama mereka pun berlalu pergi, Metta yang masih belum puas dengan jawaban Farrel kembali mendekati suaminya.
Tak lama kemudian Jaka dan Irfan tiba, mereka tak kalah terpana melihat mobil Sport yang bias mereka lihat dari video game,
"Gila sih ini, benar-benar gila! Gue pengen nangis lihatnya." gumam Jaka.
"Lu yakin ini punya Bang Farrel?"
"Siapa lagi bego! Punya elu, bukan kan?"
Mereka masuk keperkarangan rumah, melewati mobil yang terparkir itu. Tiba-tiba saja,
Seeerrrttt
Atap mobil tersebut terbuka, Nissa menyembulkan kepalanya. "Hei ... biang rusuh, kesini juga kalian ternyata."
Mereka berdua semakin terperangah, "Gila, gue hanya bisa lihat mobil begini di game, terbuka sendiri sepertinya biasa, kenapa pas lihat langsung, hati gue rasanya hancur!"
"Kok hancur sih! Harusnya kan ikut seneng! Mobil Bang Andra lho ini." seru Nissa yang masih berdiri di mobil.
"Hah...."
Andra ikut menyembulkan kepalanya, "Yoyoy, hadiah dari abang gue, keren gak tuh!"
Irfan nyaris mencekik Jaka, "Gue pengen juga dapet ipar kayak dia Jak."
"Uhuk-uhuk ... gak bikin gue mati juga kali Fan? Elah!" menepis tangan Irfan dari lehernya.
Mereka kemudian terbahak.
"Bang, mau gak angkat kita jadi adik juga please." ujar Jaka menangkup tangan.
"Ogah...." Jawab Farrel yang membuat Andra dan Nissa tertawa.
"Syukurin!"
Metta yang masih belum puas dengan jawaban Farrel kembali mendekati suaminya.
"Sayang, apa maksudnya dengan aku yang mencicil! Jangan konyol, aku mana bisa mencicilnya setiap bulan dengan harga segitu, gaji ku bekerja diperusahaanmu tidak sebesar itu!"
Farrel tergelak, dengan kedua alis yang bergerak naik turun, "Sayang, kamu kan bisa mencicilnya dengan cara lain?"
"Apa ... cara lain apa?" dengan alus yang bertautan heran.
__ADS_1
"Cicil setiap malam...." bisiknya dengan langsung tergelak lalu masuk kedalam rumah.
"Farrel!!"