
Brakk
Farrel membuka pintu apartemen milik Alan dengan keras, membuat Dinda yang tengah berada di meja makan melonjak kaget.
"Mana pacarmu yang bodoh itu?"
"Maaf tapi dia belum kembali sejak pagi!" jawab Dinda.
"Dan Kalian tinggal bersama disini? Bodoh ...."
Dinda menggeleng, "Tidak,"
Ada yang berbeda dari ruangan yang kini Farrel lihat, ruangan yang dulu hanya di dominasi oleh warna abu dan hitam serta hanya beberapa foto Alan yang menggantung, kini di ruangan itu tampak lebih berwarna, hiasan dengan warna beragam yang menggantung. Tak hanya abu dan hitam, disana juga ada pink dan juga gold.
Farrel mengedarkan kedua manik coklat miliknya, dan berakhir pada iris manik coklat milik Dinda yang menelisiknya.
Ada perasaan lega, cemas, penasaran namun juga geli. Dan dipastikan semua itu berasal dari sosok wanita yang berada didepannya.
Alan pasti sudah merasakan kebodohan demi kebodohan bersama dia.
Ceklek
Alan membuka pintu, Farrel menoleh ke arahnya. "Akhirnya si bodoh ini pulang!"
Alan terperangah, melihat wajah datar Farrel yang terpasang dengan jelas, tidak ada tegur sapa dari mereka, terlebih ada Dinda ditengah mereka,
"Aku,"
"Kau,"
Keduanya tampak kikuk tapi
"Ada apa lagi?"
Bugh
Farrel memukul Alan, "Dasar bodoh, pulang kau ke rumah utama!"
"Astaga...." pekik Dinda dengan menutup mulutnya.
Alan yang terkesiap dengan pukulan Farrel hanya meraba rahangnya, "Kau selalu memukul, kau fikir aku tidak bisa membalasmu?"
"Balaslah, aku selalu menunggu hal itu!"
Alan hanya berdecih.
"Pulang sekarang juga ke rumah utama, dan lihat apa yang terjadi sama ayah dan bunda!" ujar Farrel sambil berlalu pergi.
Farrel kembali menoleh, "Hey ... jangan kelamaan tinggal berdua, setan se ibukota akan berkumpul di sini." ujarnya lalu menghilang di balik pintu,
Membuat Alan dan Dinda saling memandang, Alan yang kini terlihat kikuk itu naik ke atas, dia masuk ke dalam kamar, menuju walk in closet dan membawa berapa helai pakaian, sementara Dinda mengekor di belakang, mengikuti kemana pun Alan pergi, tanpa kata, tanpa bicara, dia juga bingung harus mengatakan apa.
Alan menyampirkan tas di punggungnya, "Aku akan ke rumah utama, untuk sementara kau tinggal disini saja."
Dinda mengangguk, Alan berlalu begitu saja meninggalkannya,
Iihhh... kaku banget, cium dulu kek, atau minimal peluk aku gitu....
Alan membuka pintu, namun dirinya sontak kaget saat melihat Farrel berada di depan Flatnya, berdiri dengan bersandar di dinding.
"Kau masih di sini?"
"Menurutmu?" tanya Farrel.
"Ku kira kau sudah pergi!"
Farrel menarik tipis bibirnya, "Aku hanya ingin memastikan kau sudah berada di jalan yang benar!"
"Sialan kau, aku akan pulang!"
"Hm... sudah seharusnya begitu!"
__ADS_1
"Itu yang membuatmu menungguku?"
Mereka berjalan menuju basement, "Aku semalam ke rumah, dan mereka sepertinya merindukanmu, ada sesuatu dari mereka yang aku tidak tahu."
Deg
"Aku akan mengurusnya, kau tenang saja!" ujar Alan.
Tak lama mereka sampai di base ment, namun mobil mereka berada di tempat berbeda,
"Aku pergi dulu."
Farrel menarik bahu Alan dengan keras. "Tunggu."
"Apa lagi, kau mau memukulku lagi?"
Farrel merogoh plester dari saku nya,
"Pakai ini." menyerahkan plester itu pada Alan.
Dia mengernyit, "Tumben banget!"
Farrel membuka pembungkus plester itu dan menempelkannya di pelipis Alan.
"Aku gak mau kehilangan big brother terhebat!" Tukas Farrel.
Alan menarik tipis bibirnya, "Tumben, bisa manis gini! Gak lagi sakit kan?" tangannya terulur menyentuh dahi.
Hingga membuat orang yang kebetulan melintas melirik ke arah mareka, seketika Alan mendorong bahu kekar adiknya, "Sh iiit, kau membuat kita terlihat seperti sepasang Gay."
Farrel tergelak, "Gak apa-apa ... gak apa-apa!"
"Najis...." kata Alan dengan membalikkan tubuhnya membuka pintu mobil, kemudian masuk dan meninggalkan Farrel begitu saja.
Farrel menghembuskan nafas panjangnya, menatap nanar mobil berwarna hitam yang melaju dengan kencang hingga tak terlihat pandangannya lagi.
Dia lantas masuk ke mobil dan melaju pergi dari sana. Dia kembali ke kantor untuk menjemput Metta.
.
.
Hingga sebuah mobil yang dia kenali berhenti tepat di depannya, orang yang dia tunggu-tunggu turun dari mobil dan menghampirinya dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya, kedua tangan menangkup di depan dada.
"Sayang, menunggu lama ya! Maaf...."
"Lumayan, aku bisa menghabiskan satu porsi soto, segelas es jeruk, dan sepiring nasi! Kamu dari mana?"
"Sebanyak itu?"
Metta mengangguk, "Aku makan untuk dua orang, kau ini bagaimana!"
Farrel merangkul bahunya, "Iya ... gak apa-apa! Sekarang mau makan lagi gak?"
Farrel mengangguk pada security yang membuka pintu untuknya, Metta masuk ke dalam lalu dia berlari kecil masuk ke pintu sebelahnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku?"
Farrel mengusap pipi istrinya dengan ibu jari yang bergerak lembut, "Aku gak dari mana-mana, hanya menemui Alan."
Dengan kedua mata yang memicing, "Kamu gak berantem lagi kan El?"
Farrel menggelengkan kepalanya, lalu dia mulai menyalakan mesin mobil dan melaju.
Didalam mobil Farrel terus diam, tidak biasanya yang berisik atau mengatakan lelucon-lelucon yang membuat Metta kesal. Sesekali dia melirik ke arahnya, terasa aneh jika Farrel hanya diam saja.
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?"
Farrel menghela nafas, "Tidak ada, kakak tidak usah khawatir yaa, fokus saja sama anak kita, aku gak mau kakak banyak fikiran."
"Uunncchh...manisnya suami ku!"Menggusel kedua pipinya.
__ADS_1
"Aw...sayang. Aku lagi nyetir,"
Metta terkekeh, "Iya ... maaf!"
Farrel menyetel tape mobil yang disambungkan pada ponselnya, dia mencari lagi-lagi klasik yang dipercaya bisa menenangkan ibu yang tengah hamil.
"Lho... lho ini?" Metta menoleh pada suaminya.
"Aku kan belajar menjadi seorang papa sayang, mulai dari dalam kandungan sekalipun, kata dokter bayi berusia lima bulan juga sudah bisa merespon."
Metta terkikik mendengar penjelasan Farrel, terasa lucu saat seorang pria berusia dua puluh tahun mengetahui tentang kehamilan lebih banyak dari padanya.
Mobil berhenti tepat di sebuah klinik, Metta mengedarkan pandangannya, sebuah klinik bertuliskan klinik kehamilan terpercaya di daerah sana.
"El ... kita ngapain ke klinik, kamu ada keluhan lagi?"
"Aku sudah mendaftar tadi, kakak tinggal masuk saja."
Metta membulatkan kedua maniknya, "Daftar apa?"
"Senam hamil." ujarnya dengan datar.
Dia mengambil paper bag dari kursi belakang, lalu membuka seat belt nya. Sementara Metta masih terperangah.
"Kok senam hamil?"
Farrel yang hendak membuka pintu mobil mengurungkan niatnya, dia menoleh ke arah istrinya, "Usia kandungan kakak sudah cukup untuk mengikuti senam hamil! Aku juga sudah konsultasi sama dokter Mariska mengenai hal itu, walaupun melalui om Frans."Ujarnya terkekeh.
"Ayo turun...."
Metta masih terperangah, dia hanya mengikuti gerakan Farrel yang keluar dari mobil, berjalan mengitarinya dan membuka pintu untuknya.
"Tapi El ..."
"Apa? Baju senam? Nih... udah aku siapain!" mengangkat paper bag ke atas wajah Metta.
Hingga dia tidak lagi dapat berbicara apa pun, senyum sumringah tercetak jelas dari wajahnya.
Cup
Metta berjinjit dan mencium pipi Farrel, "Terima kasih Sayang!"
Farrel mengangkat garis melengkung di bibirnya, "Sama-sama, tumben gak malu di liatin orang orang?"
"Aawww.... sakit sayang," ujarnya meringis karena Metta mencubit pinggangnya.
"Ya udah yuk masuk!" mengulurkan tangan padanya.
Metta mengangguk, mereka masuk dan segera menemui seseorang yang duduk di kursi pendaftaran.
Tak lama kemudian Metta masuk ke dalam ruangan, dengan paper bag ditangannya,
"Kamu ikut masuk gak?"
"Aku akan masuk kalau usia kandungan sudah delapan atau sembilan saja."
"Kenapa?"
"Peran suami dibutuhkan saat itu, kalau sekarang kamu masih bisa sendiri, dan agar kakak bisa menyesuaikan diri dulu. Kalau sama Aku malah nantinya bukan senam," ujarnya dengan alis yang naik turun.
"Iihhh... dasar, bisa-bisanya berfikiran mesum juga disini!"
"Udah aku masuk dulu yaa,"
Farrel mengangguk, Metta membuka pintu ruangan senam. Sementara Farrel masih berdiri ditempatnya.
"Sayang...?"
Farrel menoleh, "Kenapa ...?"
Dia berlari kecil dan mengecup bibir Farrel sekilas lalu berlari kembali dengan tergelak,
__ADS_1
"Astaga, Ibu hamil semakin berani."