
Farrel kembali memasuki kampus, setelah beberapa minggu dia absen dari kelasnya dan hanya mengambil kelas malam, itu pun dia lakukan secara online.
Banyak pasang mata mengarah padanya, melihat Farrel yang datang mengenakan setelan jasnya dengan lengkap.
"Astaga, bos lihat? apa perlu aku hitung mata mereka yang tengah menatap tanpa kecil kearah mu?" Doni terkekeh.
"Panggil aku biasa saja, aku tidak suka kau memanggilku bos seperti itu!" seru Farrel menyenggol lengan sahabatnya itu.
"Aku profesional, tidak ingin mencampur adukkan masalah persahabatan dengan pekerjaan," ucapnya dengan menyibakkan kerah kemejanya.
"Sok- Sok an, dah sana bereskan urusanmu! Aku harus bertemu dengan dosen pembimbingku." ucap Farrel.
Farrel berbelok kearah ruangan Dosen, sementara Doni berjalan kearah ruang administrasi, mengurus biaya yang sempat menunggak beberapa waktu karena kiriman dari keluarganya saat itu tidak cukup.
Namun sekarang Doni merasa bangga, karena dia sudah bisa membayar biaya kuliah dengan uangnya sendiri. Bahkan Farrel membayar penuh gajinya meski Doni baru bekerja beberapa hari.
Sementara Farrel menuju ke ruang Dosen, mencari Dosen pembimbing desain grafisnya. Dengan menghela nafas, Farrel harus memilih salah satunya, karena saat ini dia memang benar-benar tidak bisa mengambil semua kuliahnya dengan kesibukannya yang sekarang.
"Apa kau yakin Farrel?" ucap Dosen pembimbingnya.
Farrel mengangguk, "Aku yakin Pak, karena akhir-akhir ini aku tidak bisa membagi waktu,"
"Padahal sebentar lagi ada kompetisi desain yang akan diikut sertakan dalam pameran nanti, salah satunya desain gedung pencakar langit milikmu," Dosen itu menghela nafas.
"Fikirkan lagi baik-baik, aku sangat menyayangkan talenta luar biasamu itu," ucapnya kemudian.
"Untuk saat ini aku tidak ada jawaban apa-apa Pak, mungkin aku akan mengambil cuti beberapa bulan dulu." jawab Farrel.
Dosen itu mengangguk-ngangguk, "Baiklah, Apa boleh buat. Tapi jika kamu berubah fikiran segera hubungi aku."
Farrel mengangguk, dan berdiri menyalami dosen yang selama ini banyak membantunya.
"Aku sangat bangga padamu, sampaikan salam ku pada Ayahmu."
Kemudian Farrel keluar dari ruangan Dosen, harinya memang berat, apalagi desain grafis adalah cita-citanya, namun hidup adalah pilihan. Dan dia memang harus memilih.
Farrel menuruni tangga menuju kebawah, dia berpapasan dengan Tasya yang baru saja keluar dari kelasnya.
"El ...?" Tasya tersenyum pada Farrel yang tengah melihatnya.
"Hai Sya,"
"Bagaimana kabarmu?" ucapnya dengan canggung.
Farrel mengangguk, " Baik ..."
"Kamu masih saja kaku begitu El, tenang saja aku sudah tidak mau lagi berbuat macam-macam denganmu dan juga mencari masalah dengan kakakmu itu," ucap Tasya lesu.
"Bagaimana hubunganmu dengannya?" Farrel tiba-tiba ingin tahu.
Tasya mendudukkan tubuhnya di kursi panjang, "Hubunganku dengan siapa?"
Farrel menggaruk kepalanya, dia tiba-tiba merasa salah bertanya begitu padanya,
__ADS_1
"Maaf, aku tak berhak mengetahuinya," ucap Farrel kemudian.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, dan akupun tidak berharap apa-apa padanya, itu yang ingin kau tahu kan!" ujar Tasya.
Farrel menoleh, "Kau baik-baik saja?"
"Apa perlu ku jawab? dan itu tidak penting untuk kau tahu," Tasya menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku Sya,"
"Aku yang harusnya minta maaf, karena melakukan hal gila dan juga bodoh."
Tasya memandang sendu kearah Farrel, memang tidaklah mudah untuknya melupakan sosok pria yang ada di hadapannya kini. Tasya menarik nafasnya perlahan, saat hatinya merasa sesak tiba-tiba.
Sekian lama tidak mendengar kabarnya, tak lagi melihat sosoknya, namun tiba-tiba kini dia ada di hadapannya.
"Aku belum siap El kehilangan dirimu, belum sanggup aku menghilangkan rasa ini."
"Apa aku mampu melupakan dirimu dan semua cerita tentangmu."
Tasya menatap lekat ke arah Farrel yang kini duduk disampingnya.
"Apa kau masih mau duduk denganku setelah apa yang aku lakukan?" Tanyanya pada Farrel.
Farrel menggelengkan kepalanya, " Kamu masih temanku, meskipun aku akan sangat menjaga jarak denganmu,"
Tasya terkekeh, " Kamu sungguh terlalu jujur Farrel!"
"Seenggaknya aku akan menyakiti kamu diawal daripada menyakitimu jika kita menjadi dekat kembali,"
"Lupakanlah," Farrel beranjak dari duduknya dan meninggalkan Tasya begitu saja.
"Bagaimana aku bisa melupakanmu dengan cepat El, bahkan aku bisa melihat sesuatu darimu yang tidak dapat dilihat orang lain." Gumam Tasya.
Tasya memandang Farrel yang semakin menjauh hingga menghilang dari penglihatannya, dengan menarik nafas pelan Tasya menyenderkan punggungnya di kursi panjang itu.
Kemudian Tasya merogoh ponsel yang dia simpan di dalam tasnya. Menyalakannya dan membuka galeri fotonya, menggulir beberapa foto dirinya dan juga Farrel yang tengah berdua maupun dengan Doni, sahabatnya.
"Aku memang harus bisa melupakanmu El, dan menata hidupku kembali yang sudah hancur."
Lagi- lagi Tasya menghela nafas, dadanya masih terasa sesak saat melihat kembali Farrel.
kemudian dia menghapus foto-foto itu dan menyisakan 1foto, foto dirinya dan juga Farrel saat masih memakai seragam biru.
"Aku bahkan mampu menyimpan rasa ini semenjak dulu, yang bahkan kamu tak pernah melihatnya El," lirihnya dengan melihat foto.
"Dan rasa ini jugalah yang membuat hidupku hancur!"
Tasya menyimpan ponselnya kembali kedalam tasnya, lalu dia beranjak dari duduknya dan melangkah pergi.
Doni yang memasang wajah berseri menundukkan kepalanya pada celah kaca ruangan Administrasi.
"Apalagi, mau minta tenggang waktu lagi kamu?" ucap petugas Administrasi yang terlihat kesal pada Doni.
__ADS_1
"Wah, jangan sembarangan Bu, justru aku kesini akan melunasi tunggakanku! berapa semuanya? kalau perlu hitung sampai 6 bulan kedepan," ucapnya dengan percaya diri.
"Cih, sombong!jangan berlagak deh, ujung-ujungnya memohon juga!" petugas itu semakin kesal dengan apa yang dikatakan Doni.
"Sudah Bu, hitung saja! aku tidak punya banyak waktu." ucap Doni dengan mengetuk-ngetuk jam di tangannya.
"Awas kau, jangan sampai membuatku semakin marah!" petugas itu memeriksa komputernya, dan memberikan secarik kertas dengan total yang lumayan.
Doni memgangguk-ngangguk, melihat secarik kertas itu, dan mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya.
"Nih, aku bayar lunas!" seru Doni dengan terkikik.
Petugas wanita itu kaget, namun juga menelisik penuh curiga, "Kamu bukan jadi peliharaan tante-tante kan?"
"Astaga, ibu ini! halal Bu ...halal itu," Doni menunjuk tumpukan uang yang masih berada diatas meja.
"Ya kali aja gitu, syukurlah kalau ini halal." ucapnya dengan mengambil uang tersebut lalu dihitungnya.
Doni pun tersenyum dan berbalik.
Bruk
Doni bertabrakan dengan seseorang perempuan,
"Maaf... maaf aku tidak sengaja," ujar Doni sambil mengambil barang yang berserakan di lantai.
Namun perempuan yang dia tabrak itu hanya memandang Doni lalu pergi begitu saja. Doni mengikuti arah kemana perempuan itu pergi,
"Aneh banget, bisu apa ya." gumam Doni.
Lalu Doni berlalu pergi, dia mencari Farrel. Tak lama kemudian mereka bertemu di lorong kampus.
"Rel ... sudah selesai?"
"Hem, kita kembali ke kantor Don," ucapnya dengan tergesa.
"Lah, kita gak ngopi dulu gitu ke kantin? Udah lama aku gak nengok kantin," Doni memegang perutnya.
"Nanti saja, aku sudah ditunggu Ayah," ucap Farrel kemudian.
Doni menoleh kearah Farrel, " Rasanya aku lihat sekertaris ayahmu tadi disini, Apa dia sedang mengambil kuliah lagi?"
"Aku tidak tahu! tidak penting juga." ucap Farrel kemudian.
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi, karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa.
Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini
__ADS_1
Terima kasih buat semua dukungannya