Berondong Manisku

Berondong Manisku
Bisa jadi Jodoh


__ADS_3

Sementara Di kota A, Doni yang baru saja keluar dari studio, sementara Andra berserta timnya masih berada didalam, malam ini turnamen terakhir, dan besok mereka bisa kembali pulang.


Doni berjalan menuju menuju ke arah lift, dia hendak pergi ke swalayan yang berada di lantai satu gedung studio itu.


Namun sesaat ujung mata nya menangkap seseorang dari kejauhan,


"Tiwi ... Ehmm Fara?"


Doni hendak mendekat, namun langkahnya terhenti saat melihat seorang pria datang dan merengkuh pinggangnya, dengan menggendong seorang anak laki-laki.


Jadi dia benar-benar bukan Tiwi? Dia orang yang berbeda walaupun memiliki wajah yang mirip.


Doni terpaku dalam diamnya, menatap Fara yang sedang tertawa dengan pria yang menggendong anak yang kira-kira berusia tiga tahun.


"Nama nya Antonio, sedangkan anaknya berusia tiga tahun, mereka sudah menikah selama lima tahun, dan sebelumnya mereka tinggal di negara B, baru tiga bulan yang lalu kembali ke sini. Dan sudah ku bilang, dia itu Fara, bukan wanita yang kamu harapkan!" Tukas Tia yang sudah berada disamping Doni,


Doni menoleh ke arah samping, dan mendengus saat melihat Tia.


"Dasar tukang ikut campur!" ujar Doni dengan membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan.


"Hei apa maksudmu tukang ikut campur!" sentaknya dengan menyusul Doni.


Doni kembali mendengus, "Kau tahu maksud ku ķan?"


Tia tidak menerima apa yang dikatakan Doni, dia melangkah menyamai langkah Doni,


"Jangan asal bicara yaa, aku bisa menuntutmu!"


Doni berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Tia, "Memang begitu lah orang yang suka ikut campur tapi tidak menyadarinya! Mengancam pula, silahkan tuntut gue, loe pikir gue takut?"


Doni kembali berjalan, sementara Tia membatu di tempatnya.


"Sialan! Dasar cowok aneh!" ujarnya dengan menatap tajam punggung Doni.


Doni masuk ke dalam lift, meski merasa sedikit kecewa karena ternyata wanita yang di fikir adalah Tiwi, namun ternyata bukan, dia bahkan sudah mempunyai anak dan juga suami.


Doni menghela nafas, saatnya untuk menerima keadaan bahwa Tiwi sudah tidak ada lagi.


Doni lantas keluar lift, dia masuk ke dalam swalayan dan mulai mencari apa yang dia butuhkaan saat ini.


Tia kembali menemui Fara, dia menunggu atasannya itu selesai, mereka ada wawancara dari salah satu program televisi. Fara menghampiri Tia yang masih merengut dengan tatapan kosong di depannya,


"Tia ... Ti ayo!" ujar Fara dengan mengibas-ngibaakan tangan di wajahnya.


Kedua matanya mengerjap, dan bari sadar orang yang ditunggunya ternyata audah selesai, "Astaga ... maaf bu!"


"Kamu melamun apaan sih? Serius banget!" Ucap Fara terkekeh.

__ADS_1


"Ah ... enggak bu, Tia hanya sedang kesal dengan seseorang."


"Ya sudah, ayo kita masuk! Kita sudah ditunggu."


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam studio yang tak jauh dari sana, setelah memastikan keperluan Fara, Tia kembali keluar.


Brukk


Tia menabrak seseorang hingga kantong belanjaannya terjatuh,


"Maaf saya tidak sengaja."


"Memang bener ya, orang yang selalu ikut campur itu pasti ada dimana-mana, ngapain sih masih nongol aja di depan gue!"


Tia yang hendak mengambil kantong yang terjatuh itu kembali mendongkak.


"Heh... jaga mulut lemes lo itu, yang selalu muncul dihadapan gue itu lo, ngapain jalan sini, noh, jalan masih lebar kali. Sengaja kan lo cari gara-gara sama gue, lo masih mau kejar-kejar bu Fara?"


Doni mendorong Tia hingga terhimpit di tembok. Dengan kedua tangan yang mencengkeram lengan Tia kuat.


"Kalau iya emang nya kenapa? Gak usah nyolot lo sama gue, sok cantik!"


Tia terbisu, wajah Doni yang terlalu dekat itu membuat dadanya bergemuruh, hingga nafaa Doni terasa hangat mengenai wajahnya. Namun sejurus kemudian dia mendorong dadanya hingga kebelakang.


"Emang gue cantik, udah sana jauh-jauh sama gue, dan ingat sebelum lo deketin Bu Fara, lo langkahin gue dulu." ujarnya dengan mengibaskan rambutnya, lalu pergi begitu saja.


Tia berbalik dan mengacungkan jari tengah ke arahnya, membuat Doni semakin geram. Dia mendengus kesal, lalu mengambil barang-barang yang berserakan, tidak ada waktu untuk meladeni Tia, dia harus segera masuk, karena jam turnamen pasti sebentar lagi selesai.


Doni pun memilih untuk kembali ke studio turnamen, dia menghela nafas, Untung saja, acara belum selesai.


Lalu meletakan kantung yang dia bawa di kursi kosong tim mereka.


Doni bersandar di kursi, dengan menatap monitor besar di depan nya.


Nama nya Antonio, sedangkan anaknya berusia tiga tahun, mereka sudah menikah selama lima tahun, dan sebelumnya mereka tinggal di negara B, baru tiga bulan yang lalu kembali ke sini. Dan sudah ku bilang, dia itu Fara, bukan wanita yang kamu harapkan!


Penjelasan lengkap mengenai Fara yang dia dengar dari Tia kembali mengiang, bagaimana mungkin di dunia ini ada orang yang memiliki kemiripan hampir sempurna, yang membedakan hanya sifatnya saja.


Doni mendengus dengan nafas kasar.


Lamunan Doni terhenti oleh riuh tepuk tangan para penonton dan juga panitia, tim Andra telah menang.


"Selamat Ndra, kita menang lagi!"


Andra berdecak, "Telat lo bang, kasih selamat paling akhir."


Doni menggaruk kepalanya, "Gue kasih kesempatan buat yang lain dulu."

__ADS_1


"Alasan lo, gue lihat dari tadi lo melamun terus!" ujar Andra dengan melengos meninggalkan Doni.


Keesokan Hari


"Siap-siap kita pulang sekarang," seru Doni pada tim nya.


Tak lama kemudian mobil jemputan untuk mereka sampai, dan akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil itu.


Sementara Doni keluar paling akhir, setelah memastikan tidak ada yang ketinggalan, dia pun keluar dari hotel.


Brukk


Doni berdecak, "Lo ... lagi, lo lagi!" ujarnya saat Tia menabrak dirinya di pintu keluar.


"Satu juta orang yang menginap di hotel ini, kenapa harus bertabrakan sama lo terus! Menyebalkan!"


"Heh ... yang ada juga gue yang sebel, apalagi lihat muka lo yang itu, pengen muntah gue lihatnya."


Tia bergidik, "Apalagi gue!"


Doni mendorong tubuh Tia, "Awas minggir, gue mau lewat."


"Iihh ... dasar orang aneh!"


Doni berlalu dan masuk ke dalam mobil, sementara Tia masih mendumel melihat ke arahnya.


"Bisa-bisa nya terus ketemu orang aneh macam dia!"


Tia masuk dan menemui Fara di kamarnya.


"Kenapa lagi tuh muka?" tanyanya saat membuka pintu.


"Gak apa-apa bu, cuma kesel aja! Bisa-bisanya ketemu orang aneh dari kemarin,"


"Jodoh kali...."


"Amit-amit ... jangan sampai bu, jodohku kayak dia, bisa-bisa suram masa depanku," ucapnya dengan mengetuk-ngetuk meja sebanyak tiga kali,


Fara terkekeh, "Orang kamu nya juga aneh, kan. Bisa jadi jodoh."


"Bu Fara ih apaan!"


.


.


Semangat author lagi turun nih, butuh dorongan yang kuat kalau bisa sampe ngejebur (Hiks) gara-gara RL yang tidak bisa ditinggalkan. Huft.

__ADS_1


__ADS_2