
"Aku suka, ini sangat cantik, benarkan kak?" menoleh pada Metta.
Metta mematung, otaknya tidak bisa berfikir. Apalagi Tasya berjalan kearahnya dengan senyuman terukir indah di wajahnya yang cantik, pipi merona dari wajah blasteran ini seakan menyihir Metta hingga tak mampu berkata.
"Sayang, kenapa diam saja? Aku kan bertanya padamu...?" Farrel merangkul bahunya.
Metta menatap tajam, "Kenapa bertanya padaku? tanyakan saja padanya, dia kan yang memakainya!"
Setelah berucap Metta berbalik, dan keluar dari butik. Dengan kemarahan yang membuncah namun ujung matanya menganak, dan Farrel keluar untuk mengejarnya.
Langkah Metta terhenti ketika Farrel mencekal tangannya, "Kakak ini benar-benar bodoh, apa yang kakak fikirkan?"
Metta berontak, "Lepas, aku mau pulang!"
Namun tak disangka Farrel memangku tubuh Metta yang tidak seberapa itu dengan satu tarikan.
"Brengsek, Farrel turunkan aku!" Metta memukul-mukul punggung Farrel.
Namun apalah tenaga seorang gadis jika dibandingkan dengan tenaga pria meskipun pria itu masih tergolong pria tanggung.
"Aku akan menurunkan kakak didalam, jangan mengumpat lagi!" Seru Farrel yang kaget akan reaksi kekasihnya itu.
Farrel membawanya kedalam, setelah mendorong pintu agar tertutup Farrel menurunkan Metta. Sementara ujung menganak itu kini perlahan turun, namun bukan Metta jika tidak bisa menutupinya, dengan cepat dia menyeka bulir bening itu lalu berbalik menatap Farrel dengan tajam.
"Aku mau pulang, kenapa kau memaksaku masuk brengsek!"
"Kak, berhenti mengumpat!" ucap Farrel menarik kursi.
"Duduklah, sepertinya kakak kelelahan karena terus menahan emosi!"
Metta mematung, dia mengabaikan perkataannya Farrel, "Jangan harap aku akan duduk!"
Dengan ragu Tasya mendekat, "Farrel, selesaikan urusanmu, aku keatas dulu." lalu mengangguk ke arah Metta, lalu menghilang dibalik pintu bertuliskan Staff only.
"Thanks Sya..."
Farrel menarik pergelangan tangan Metta, mengarahkannya hingga terduduk, hingga Metta tak punya pilihan, tubuhnya melemah mengikuti arahan, dia kemudian terduduk. Secepat kilat dia membuang wajahnya ke samping, saat Farrel berjongkok menatapnya.
"Apa yang kakak fikirkan hem?"
Metta diam seribu bahasa, lidahnya kelu, hanya batinnya saja yang sibuk berbicara,
"Terserah sajalah, aku tidak akan percaya apapun lagi!"
Farrel menghela nafas, " Apa kakak sedang cemburu padaku, pada Tasya?"
Hei pertanyaan apa itu, terlambat bertanya! Sudah tahu masih saja bertanya.
__ADS_1
Farrel menghela nafasnya lagi, "Dasar bodoh, takut aku diambil orang, sampai pintar membohongi diri sendiri."
Metta tak peduli, dia tetap memalingkan wajahnya kearah lain, enggan menatap Farrel karena takut bulir bening itu terjun bebas saat melihat wajahnya.
"Kak lihat aku!"
Metta tetap tak bergeming.
Dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya, Farrel meraih tangan Metta, "Sayang lihat ke arahku,"
Sayang sayang, aku tidak percaya lagi kata sayang -sayang dari mu.
Farrel menarik dagu Metta, "Kita kesini untuk melihat model pesanan gaun untuk hari pertunangan kita, dan ini butik milik mama nya Tasya, mama nya tidak bisa kesini karena sedang di luar negeri, jadi... Tasya membantu kita untuk memilih model gaun untuk nanti dibuatkan oleh mamanya." Ucap Farrel dengan pelan-pelan bak sedang menjelaskan pada seorang anak kecil agar dapat dimengerti dengan baik.
"Tasya mencoba contoh gaunnya agar kakak bisa melihatnya dan menilainya, karena tidak ada manekin. semua manekin disini tengah dibersihkan, maka gaunnya tidak bisa kakak lihat jika hanya digantung saja."
Metta mengedarkan bola mata hitamnya, Memang benar, disini hanya ada manekin pria, tapi tidak ada untuk wanita, tapi tetap saja kenapa Tasya yang memakainya, kenapa bukan orang lain!
"Sa-yang kenapa hanya diam saja, masih belum percaya juga penjelasan aku yang panjang lebar tadi? Hem...."
Metta menatap lekat manik coklat Farrel, namun masih mengunci mulutnya dan membisu.
Farrel merogoh ponselnya, " Kakak baca sendiri pesanku dan Tasya juga mamanya Tasya." meletakkan ponselnya ditangan Metta.
Metta hanya diam, sangat menguji kesabaran Farrel dengan ego nya yang tinggi itu. Farrel membuka ponselnya. "Baca ... kalau tidak aku akan marah!"
Pesan pertama yang dia baca tertera tanggal 3 hari yang lalu.
Tante Dewi
"Maaf El tante sedang tidak ada ditempat saat ini, mungkin 3 hari lagi tante akan pulang, Tante menyuruh Tasya menghandle gaun untuk calonnya kamu ya. By the way happy engagement, may you always be happy."
Pesan kedua dengan tanggal 2 hari yang lalu.
Tasya.
"El, besok sore bisakah kalian ke butik? aku ingin tahu model yang kalian pilih dengan segera, soalnya mommy sudah sangat cerewet, 1 hari lagi dia balik kesini. Dia akan menahan kartu kredit ku jika tidak bisa menghandle gaun calon mantu sahabatnya."
Pesan lain dari Tasya. 6 jam yang lalu
"Heh, kau ingin menghancurkanku ya, mommy sudah memblokir kartu ku tadi pagi. Kau benar-benar tidak kasian padaku!! cepat kemari, aku tidak bisa mencheck out barang yang sudah ingin dibeli."
Metta pun membaca pesan balasan dari Farrel,
"Oke, aku kesana!"
Metta terus menggulir layar, hingga gulir layar itu berhenti di 1 pesan terbaru, 2 jam yang lalu
__ADS_1
Tasya
"Astaga, kau benar- benar membuatku jatuh miskin, bahkan untuk membayar tagihan ku di cafe tadi, aku harus menyimpan ID Card ku, dan kau belum juga datang kemari."
"On the way"
.
.
Ponsel Farrel dia letakkan begitu saja dipangkuannya, ingin menangis, atau ingin berlari dan bersembunyi karena malu.
"Sebesar itu kakak mencintaiku? Hem...." Farrel menarik bibirnya keatas.
"Ayo mengumpat lagi seperti tadi...." goda Farrel yang masih melihat kekasihnya itu tetap membisu.
"Apa aku harus mencium kakak disini, agar kakak membuka mulut? kenapa... malu yaa."
Metta memukul bahu Farrel, dengan tetap tanpa suara yang keluar.
"Sepertinya setelah bertunangan nanti aku akan belajar menulis surat,"
Rona merah itu tampak jelas di wajah Metta, dengan bulu mata yang mengerlip dan bibir bawahnya yang dia gigit tipis. Membuat Farrel tergelak dan seketika Metta mendorongnya hingga tersungkur kebelakang.
"Iihhhh...."
Farrel masih tertawa, lalu kembali berjongkok dengan bertumpu 1 kaki. Lalu menarik kepala Metta kedalam dekapannya.
"Aku senang kakak menunjukan kalau kakak cemburu padaku,"
Metta masih membisu, tapi tangannya memukul keras dada Farrel. Bodoh, bodoh, bodoh Mettasha bodoh.
Maka terjun bebaslah air bening yang sedari ditahannya, Metta menenggelamkan kepalanya didada Farrel, sedangkan Farrel masih tertawa dengan tingkah gadis yang bertaut usia 6 tahun dengannya.
Farrel meringis," kenapa memukul ku...?" lalu kembali tertawa.
"Jangan tertawa, maafkan aku, aku benar-benar bodoh!" gumam Metta yang masih bersembunyi didada Farrel.
Farrel tidak berhenti terbahak, "Kakak selalu begini kalau malu, lucu sekali. Dan ya...kakak memang bodoh,"
.
.
Up ke 3 hari ini, bonus weekend buat kalian yang selalu setia baca, lope lope deh pokoknya.
✍Siapin vote biar authornya seneng,
__ADS_1